Bel berdenting berulag kali dengan nada memaksa, hingga terpaksa aku bangun dari tidur dan beranjak menuju pintu dengan langkah tertatih yang sedikit dipaksa. Ketika pintu terbuka, Adri sudah berdiri di hadapanku dengan wajah kesal disertai tatapan tak ramah. Ia bahkan merangsek masuk begitu saja tanpa sempat mengatakan alasan dan maksud mengapa ia datang di pagi buta begini. "Apa-apaan kamu ini?" bentaknya setengah berteriak hingga aku terperangah heran dengan sikapnya yang berubah tiba-tiba tanpa alasan jelas. Kucoba tetap menghadapinya dengan tenang dan kepala dingin, tak mau ikut terbawa sikap tempramentalnya yang menjengkelkan. "Ada apa, apa maksud kamu. Kenapa kamu harus datang sepagi ini hanya untuk marah?" ia melemparkan selembar tabloid padaku dengan kasar. "Marah, ya, tentu a

