Bab 4

2764 Kata
Aku berjalan di depan jendela, meraba juntaian gorden putih yang mengayun terkena alunan dari angin. Bolak balik langkahku demikian, merasai kain lembut itu menyentuh kulitku sambil mengatup mata. Menghitung dari satu hingga seratus dan berharap ketika mataku membuka semua hanyalah mimpi dan aku mampu menapaki esok pagi tanpa beban. Tapi sekali lagi, aku lupa bila membuka mata berarti menghadapi kenyataan, dan kenyataan ini teramat menyakitkan. Aku tahu seseorang yang memilih meninggalkan akan selalu memiliki kemampuan menghadapi, meski kadang ada rasa goyah dan gentar karena rindu. Benar, kata-kata demikian pantas aku sematkan bagiku di hari ini. Kemarin aku telah resmi melepas status sebagai 'simpanan'. Entah haruskah aku bersorak gembira atau menangis sedu, karena aku juga meninggalkan seorang pria yang kucintai. Haruskah kuberitakan ini pada Maya dan berkata kalau aku telah sadar karena petuah perempuan yang begitu lantang ia orasikan di depan mukaku, ataukah aku biarkan saja ia diam, terus marah dan hanya kembali ketika ia perlu? Aku tak tahu. Tubuhku lelah, hingga duduk berjongkok di depan jendela, melihat matahari siang, dan ramai orang di jalanan. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, ketika tak menemukan sesuatu untuk kulakukan atau seseorang untuk kutuju, aku merasa hampa. Tapi siapa yang dipunya diriku di muka bumi? Tak ada, semua telah pergi dan sekali lagi aku sendiri. Tatapanku berpaling ke arah lemari yang kubiarkan terbuka sejak tadi. Ada beberapa pakaian Adri terlipat rapi di sana. Haruskah aku mengambilnya lalu menjadikannya alasan untuk bertemu atau membuangnya karena tak ada alasan lagi untuk jumpa. Aku menuju ke sana, mencium bau parum dan wangi tubuhnya dalam seberkas ingatan dulu dan kemarin. Aku goyah lagi, dan membuangnya ke lantai. Kucari sebuah kardus bekas di dapur dan mengambil semua pakaian itu, memasukkannya ke sana untuk dibuang. Masa lalu tak boleh dikenang, hanya untuk dijadikan sampah tanpa menyayangkan. Di depan lift aku menunggu dengan sabar, sampai kedua pintunya membuka. Ketika lift menganga yang kutemukan muka Adri seorang diri dengan sebaris senyum ramah. Aku menimbang sebentar sebelum memutuskan masuk. Suasan bersamanya sedikit kaku, aku tak bertegur sapa dan berupaya anggap ia tak ada. "Aku datang untuk menemui Brian! Kau mau ke mana?" kutekan tombol menuju lantai dasar. "Siapa?" tukasku kemudian. Ia berpaling dengan senyum lebar. "Aku?" "Tanya!" Adri bergumam, berdehem bersama senyumnya yang berganti kesal. Ia melirik lagi ke arahku. "Kamu bawa apa, mau aku bantu membawanya?" aku melirik pintu atas lift, angkanya berganti cepat, dari satu lantai ke lantai lain tanpa memedulikan ucapan Adri. Pria di sampingku itu menyapu keningnya lalu berdehem lagi. Ponselku tiba-tiba berdering, sebuah panggilan dari produser film yang aku ikut bermain dalam filmya, membuatku buru-buru mengangkatnya. Meletakkan kardus dalam pelukanku ke lantai lift. "Selemat sore bang!" "Ya, sore! Abang cuma mau mengingatkan kalau syuting pertama minggu depan di kawasan Senayan City dekat gedung TV2. Kamu tahu 'kan?" Alisku mengerut mendengar nama stasiun televisi itu disebut, "Iya tahu tapi, kenapa tiba-tiba ada perubahan. Bukannya di infokan di Kebun Jeruk?" "Ini rahasia, jangan bilang-bilang! Yang punya stasiun tv mau jadi sponsor film, kalau lokasinya di ambil dalam gedung kantornya. Aneh 'kan pemiliknya kelewat baik, mau meminjamkan gedungnya untuk syuting adegan action kita dan sekaligus jadi sponsor" aku melirik ke arah Adri yang malah membuka kardus bawaanku tadi, seperti anjing kecil sedang mencari sisa makanan. "Raina, benar kamu tidak ada Manager lagi? saya telpon Maya tapi dia bilang bukan manager kamu lagi!" aku mengulurkan kaki, menjauhkan benda itu dari Adri. Pria itu memasang muka kesal lagi. "Iya, cuma selisih paham. Nanti dia akan kembali" "Ya, sudah selesaikan urusan kalian, nanti malah repot kalau tidak ada asisten dan manager. Saya menelpon untuk menyampaikan ini saja. Ingat pelajari skripnya lagi ya!" "Baik bang, selamat siang!" Pintu lift membuka, aku mengambil barang bawaanku dengan buru-buru, meninggalkan Adri di tengah kerumunan. Di depan lobi aku mencari tempat sampah terdekat yang berada di muka pintu keluar. Kuletakkan benda itu di sana dan kembali ke atas. Setelah membuang beberapa pakaian milik Adri aku merasa sedikit lega. Pertemuan kami tadi membuatku terpengaruh sekaligus kesal. Belum lagi perubahan lokasi syuting itu mungkin saja adalah ulah Adri. Gedung TV2 adalah miliknya, sekaligus pusat dari segala bisnis yang ia jalankan. Dia ikut campur dan aku tidak bisa mundur. Adri yang adalah seorang pemilik stasiun televisi sudah pasti ia dekat dan memiliki koneksi dengan beberapa rumah produksi. Mencari sponsor dalam syuting sebuah film tidak mudah, jadi wajar saja semua disetujui tanpa curiga, sedang aku tak bisa melakukan apa-apa karena sudah menandatangani kontrak. Kontrak yang apabila kulanggar akan membuatku terkena denda dan nama buruk di dunia film. Aku membuang napas, bersama sedikit beban yang menumpuk dalam dadaku. Denting bel memalingkanku dari acara tivi yang bahkan tak kulihat karena terlalu sibuk berpikir. Ketika pintu terbuka, kardus yang tadinya sudah kubuang malah berada di depanku. Kulirik sekitar tak mendapati siapa pun. Akhirnya dengan acuh kutendang saja benda itu jauh dari depan pintu apartemenku. Telponku berdering, panggilan dari pemilik pakaian itu. Aku mematikannya tapi, telpon berbunyi lagi dari dalam rumah dan ponselku. Adri jauh lebih hebat dalam hal memaksa. Kujawab telponnya tanpa bicara. "Itu bajuku 'kan, kenapa di buang di tempat sampah? Kamu tidak tahu harganya mahal! Pakaia itu saya beli di Prancis, dijahitnya saja pakai tangan, kamu tidak percaya?" "Kalau tidak ada yang penting sebaiknya matikan saja, silahkan ambil pakaian kamu!" dari sikut tembok dekat tangga darurat. Adri muncul melambaikan tangan. Aku diam melihat tingkahnya. "Jakarta panas ya, tadi aku ke tempat Brian tapi dia tidak ada rumah. Boleh pinjam toilet?" lelaki berbalut kaos longgar putih dan celana kain hitam itu mendekati pintu. "Toliletku rusak!" "Kalau begitu pinjam charger ponsel? Aku lupa bawa!" "Charger ponselku juga rusak!" "Ah, wajan! Boleh pinjam wajan? Wajanku bolong!" aku tertegun melihat senyum lebar yang ia perlihatkan dengan memaksa. "Kamu gila?" "I love you!" kuinjak kakinya hingga ia mengerang kesakitan, lalu menutup pintu tepat di depan muka Adri. Ketukan berulang dengan namaku menggema beberapa kali tak kugubris dan lebih memilih diam di dalam rumah sambil membesarkan volume tivi. Keesokan paginya sebuket besar bunga sudah tergeletak di depan pintu, sebelum aku beranjak untuk berolahraga pagi. Sebuah kartu yang tersemat di antara tangkai mawar itu mengungkap kata cinta seperti kemarin. Aku membawanya turun dan membuangnya ke tempat sampah, berharap tak ada lagi benda-benda apa pun ketika aku kembali nanti. Aku menengok jam ponselku yang menunjuk jam delapan tepat. Aku kembali ke apartemenku yang berada dekat dengan tempat di mana aku menghabiskan waktu, dengan berlari pagi sambil melintasi taman hijau yang tak begitu rimbun. Di depan lobi aku berpapasan dengan Brian, tak seorang diri dia bersama dengan lelaki berumur 60-an tahun. Bertubuh setinggi dirinya dengan muka bulat dan kulit kuning terang, mengenakan sebuah topi menutupi wajahnya. Kami saling berpapasan ketika ia merintangi jalanku untuk membuang sebuah botol air minum bekas. Dari tampilannya mereka berdua kelihatannya habis pulang dari bermain tenis, dengan raket yang di tenteng bahu Brian. Brian menatapi kami, tapi aku pura-pura tidak melihat dan berjalan segera menuju ke lift, mengabaikan keberadaan mereka. Meski nampak tak peduli ketika tiba di depan ruanganku sendiri, aku masih sempat melongo memegangi dadaku. Sudah berapa lama aku sengaja menghindarinya dan hari ini kami bertemu lagi karena Brian. Sudah beruntung aku tidak begitu sering bertemu dengannya, tapi kenapa ketika kami berpapasan dia selalu bersama-sama orang-orang yang tak mau kutemui? Apakah aku harus meninggalkan apartemen ini dan mencari tempat tinggal lain? Aku tidak merasa bisa melakukannya segera, karena mencari apartemen maupun rumah untuk di sewa dengan harga yang murah bukan hal yang mudah. Walaupun tak akan buruk jika aku harus mencari dari sekarang.Bunyi lift terbuka, aku berbalik melihat Brian dan laki-laki tua itu berada beberapa langkah dariku. "Masuklah!" panggil Brian. Aku diam saja tak tahu akan menolak atau ikut, sampai dia menahan lift dan menarikku ikut dengannya. Aku tak mengatakan apa-apa ketika mendengar mereka berbincang ringan mengenai gedung apartemen yang kami tinggali. "Ayo, Pi, Raina. Silahkan masuk ke tempatku!" ucap Brian riang ketika pintu lift membuka. "Kita tidak ada urusan Brian, silahkan kalian habiskan waktu bersama-sama!" kataku tegas, membuat pria tua di depanku berbalik dengan sikap kaku. "Kamu tidak pernah memberi saya kesempatan untuk menjelaskan segalanya!" aku menekan tombol lift untuk turun ke lantai 11. Tak mau peduli dengan penjelasan apa pun yang kemudian meluncur dari mulutnya. Brian yang melihatku bersikap tak pantas, membalas dengan nada tinggi melengking, "Apa kamu pura-pura tuli pada apa yang Papi bilang ke kamu?" "Brian!" kata suara bersahaja itu di tengah susana yang membuatku tercekat. "Apa yang harus didengarkan setelah 14 tahun berlalu. Apa kita bisa kembali memutar waktu dan berkata tidak terjadi apa-apa? Tidak, kalian bisa lupa dan menyesali segalanya tapi, saya tidak!" aku memandang lekat pada mereka berdua dengan sikap berani, "Dan Brian, kalau kita bertemu, pura-pura saja kita tidak saling kenal! Saya melakukan hal itu, tapi keluarga kalian tidak. Mamimu tidak, Papimu juga tidak... kita tidak pernah jadi keluarga secara utuh!" "Pulang duluan saja Brian, Papi harus bicara dengan adikmu!" Mendengar ucapan laki-laki tua itu, membuatku protes, "Saya tidak pernah bilang menerima kunjungan satu dari keluarga kalian!" "Diam! Saya masih Ayah kamu!" bentaknya membuatku diam. Dua orang berdiri di depan lift menatap kami bertiga. Aku berjalan ke luar dengan kaku sambil membuka pintu apartemenku, menyusul kemudian pria tua itu. Kami duduk saling berhadapan. Aku sengaja tak menghidangkan apa pun agar ia sadar dengan tempatnya dan segera pergi dari hadapanku. "Sudah bertahun-tahun dan kamu selalu mencegah Ayah menemui kamu! Apa kamu masih memendam dendam? Ayah tidak bermaksud seperti itu karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi setelah hari itu kamu memusuhi semua orang" ujarnya setelah diam beberapa lama. "Ayah saya baru meninggal empat hari yang lalu!" mendengar ucapanku, bibirnya membuat senyum kecil. "Kamu menganggap orang lain sebagai orangtua mu dan mengabaikan ayahmu sendiri! Jika ibumu mendengar ini, dia pasti sangat sedih!" "Jangan bicara seperti Anda mengenal ibu saya. Kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi pada dia 'kan?" "Karena kamu tidak mau memberitahu! Saya sudah mencari kabar kemana-mana soal ibumu tapi tidak ada yang memberitahu!" Aku berdecak sinis, "Untuk apa kamu mencarinya, untuk membuat dia sakit hati, untuk dipermalukan lagi? Kamu gagal melindungi orang yang kamu cintai dan sekarang kamu datang kemari meminta dihormati? Rasa hormat itu tidak pernah ada lagi!" "Ya," ucapnya hambar tanpa tenaga, "sayangnya saya tidak bisa menunjukkan penyesalan di awal. Begitu saya menyesal pun kamu sudah menolak untuk memberi maaf!" Aku berdiri dari dudukku, tak mau melanjutkan bincang ini lagi, "Seharusnya memang tak ada penyesalan jadi tidak perlu ada maaf. Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan, pintu ke luar ada di sana!" aku berlalu menuju ke kamarku. Beberapa lama ketika ia sudah pergi aku menyambangi meja. Sudah tergeletak sebuah undangan makan malam untuk hari Sabtu nanti. Ya, ini seperti yang dikatakan Brian tempo hari, sebuah undangan makan malam tanpa aku mengerti untuk apa lagi aku menginjakkan kaki di rumah itu. Sekarang aku bimbang untuk menimbang lebih jauh. ** Awalnya aku pikir tidak akan datang tapi lihat, sekarang aku yang berkaca dengan sebuah gaun hitam selutut tanpa lengan. Kubuka laci, meraih berlian paling mahal yang kupunya dan menghiasnya di leherku. Sudah berapa lama aku ingin mempertontonkan semua hal yang kupunya, pakaian, tas, sepatu, perhiasan. Bukankah hari ini aku juga sudah memiliki segalanya seperti yang pernah mereka sombongkan di depan mataku. Benar, aku juga ingin mereka melihat ini, meski dengan begitu harus membedah rasa sakit yang dulu sudah menutup sedikit. Aku berdiri di depan sebuah rumah berlantai dua dengan halaman, pagar, taman pintu, tembok dan semuanya yang sama seperti empat belas tahun yang lalu. Aku menapaki halamannya, membayangkan anak kecil berusia sepuluh tahun dengan tubuh lelah, melangkah dengan begitu banyak sikap naif dan mengharap pada belas kasih. Namun di balik pintu merah tempat di mana seharusnya seluruh harapan itu menemukan pengabulan, yang dia temui adalah rasa sakit. Aku berada di sebuah ruang tamu mewah dengan lampu kristal menyala terang. Aku juga masih ingat jika berkas cahaya itu menemaniku menangis. Mereka semua, Caroline, Brian, dan Anand berdiri di sini, di depanku sedang aku sendiri menggigil mencoba menjangkau ayahku yang sebenarnya hanya beberapa langkah dariku tapi, dia membuat batas begitu besar seperti jurang yang apabila aku melangkah, aku akan jatuh. 'Kau tidak akan pernah jadi bagian dari keluarga ini, karena kamu adalah anak haram yang seharusnya tidak lahir!' 'Kehadiranmu membuatku menyesal, kembalilah kita bukan lagi ayah dan anak!.' aku tercekat, mendengar ucapan Caroline yang dibenarkan oleh suami yang dia cintai dengan seluruh hati. Ingatan yang kembali ini membuat luka lama itu menganga lagi. Aku tidak berpikir sanggup melanjutkan langkahku menemui mereka, dan menghadapi semuanya seolah tak pernah ada benci dan dosa yang mereka tindakkan padaku. Aku berbalik hendak pergi dari sana, tapi kedatangan Adri dengan menggandeng istrinya membuatku tak mampu melangkahkan kaki. "Ah, kalian sudah datang!" kata suara riang yang terdengar dari belakang. Aku melirik Caroline menyambut mereka berdua, sedangkan aku yang terkurung oleh sengsara tak bisa bergeming dalam ketidak berdayaan dan kesendirian. Sesekali aku melihat tatapan Adri ia tujukan ke arahku, aku tidak tahu apa yang seharusnya aku perbuat. Seseorang menepuki pundakku, aku menelan ludah. Menghirup udara untuk bisa bernapas lagi. Ketika berpaling senyum ramah Anggi menyambut dengan pelukan. "Raina! Aku kira kamu tidak datang!" Aku berdehem mencoba berpura-pura sebaik mungkin karena pura-pura adalah keahlianku berahun-tahun, "Aku tentu harus datang, bagaimana kabar kamu?" Anggi melepas pelukannya. "Baik! Ayo masuk, makan malamnya sebentar lagi. Tinggal menunggu Brian sama satu orang lagi!" kata Anggi disertai senyum merona. Aku mengangguk, berpaling pada Adri dan istri cantiknya. Caroline melirik sinis padakui dengan muka kecut dan tak mau lagi menganggap keberadaanku sesudahnya. Sambil beranjak ke sofa, diam-diam aku curi pandang pada istri Adri. Perempuan bertubuh lumayan tinggi dengan rambut hitam yang diikat rapi. Mukanya cantik, berkulit putih bersih, mata besar, hidung tinggi, senyum manis dengan lesung pipi menawan. Ia membuatku cemburu hingga hatiku terbakar dan sebentar lagi mungkin akan habis jadi arang. Aku tidak tahu kenapa aku merasa begini, sedangkan kami sudah putuskan untuk berpisah. Bukan kami, tapi akulah yang putuskan dan aku jugalah yang merana melihat kedekatan mereka. Aku, Anggi, Adri, Caroline, istrinya dan pemilik rumah duduk berpencar dalam sebuah ruang santai. Sementara aku menyenderkan punggung ke sebuah sofa beludru cokelat, menikmati kudapan kecil sambil menunggu makan malam yang katanya menunggu kedatangan Brian dan seorang lagi yang aku tak tahu siapa tamu tersebut. Anggi di sebelahku sedang sibuk dengan ponselnya. Ketika menyadari aku menatapnya ia hanya tersenyum. Nampak sekali rona bahagia tak terputus dari gadis seumuranku itu. "Tamu yang seorang lagi selain Brian siapa?" Anggi tersipu malu. "Ada deh, nanti kamu juga ketemu!" aku hanya mengangguk menimpali dan tak ada obrolan lagi antara kami berdua, karena aku dan Anggi tak begitu dekat sekalipun dia bersikap baik dan cukup ramah jika dibandingkan keluarganya yang lain. Aku membuang napas karena terjebak dalam keramaian yang asing, tanpa bisa berbuat banyak selain diam saja melihat sekeliling yang sumpek. Sebuah hantaran minuman lewat di depanku dibawa seorang pelayan. Aku mengambil satu dari gelas itu dan menyesal setelah meneguknya karena isinya bukanlah wine merah seperti yang kuharapkan melainkan jus rasa strawberry. Aku mendesah karena benar-benar perlu alkohol agar bisa mengabaikan semua hal dalam ruangan ini. Kututup mata, menghitung satu sampai seratus dan berharap semua akan baik-baik saja tapi sialnya, yang aku dapati adalah pemandangan sama saja dengan tadi sampai membuat kepalaku cenung dan sakit. Seluruh ruangan nampak berputar-putar hingga dadaku sesak seperti ditekan. Aku melihat tawa Caroline, suaminya dan Anggi yang begitu dekat, hangat lagi bahagia. Semua orang tertawa termasuk Adri sedangkan aku, menahan perih dan marah di dadaku. Bagaimana bisa orang lain hidup bahagia sedang 'kan aku sendirian. Kuletakkan gelas minuman ke meja dan mencari toilet dengan sedikit limbung. Aku butuh tempat untuk bernapas dan melarikan diri, butuh tempat melihat jumlah kebahagiaan yang sedikit dan tak akan sampai membuatku marah juga iri pada apa yang tidak pernah kupunyai. Langkahku berhenti di halaman belakang, setelah tidak menemukan pintu manapun menuju ke toilet yang aku cari. Tak mengapa ini sudah cukup. Tempat ini cukup untuk membutku melepas beban. Aku memandang langit lalu melirik ke arah kolam kecil yang mengalirkan air jernih tanpa henti, dari sebuah patung batu berwarna abu-abu. Suara aliran air di tengah keheningan membuatku merasa lebih baik, setelah ini aku bisa kembali ke dalam dan melanjutkan sandiwara kecilku lagi. "Kamu baik-baik saja?" aku berpaling, Adri berdiri di sampingku. Kutatap ia beberapa detik. "Kamu yang kelihatan baik" kataku dengan sebaris senyum tipis. "Cukup baik, aku kira kamu tidak datang" "Kenapa?" tatap mata pria sipit itu lebih tajam. "Aku kemari supaya bisa melihat kamu! Kamu selalu menghindari saya!" Aku berdehem. Entah kenapa mendengar jawaban itu membuat hatiku lega, "Acara sudah akan dimulai, sebaiknya kamu masuk. Istri kamu akan mencari!" kakiku beranjak beberapa langkah, lalu berbalik memandangi Adri. "Istri kamu cantik" "Kamu selau cantik!" aku diam saja tak tahu harus mengatakan apa pada pria itu.        "Istri kamu jauh lebih cantik!" kataku sambil lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN