Aku kembali ke dalam dan melihat Brian sudah datang. Ia tak sendiri, bersamanya seorang pria berambut sedikit keriting yang rasanya familiar sedang tersenyum sambil mengangkat gelas minuman. Aku tersadar jika dia adalah Galih, seorang Photographer yang pernah kutemui dua minggu lalu. Kubalas senyumnya sepintas sampai kemudian Anggi datang merangkul tangannya dengan mesra. Kualihkan perhatian dan menemukan suami Caroline, Adnand Atmaja menatapku lekat. Aku masih ingat sisa obrolan kami beberapa hari lalu, dan mungkin dia tak menduga jika aku sungguh akan datang.
"Ayo, makan malam sudah siap!" ucap Caroline menyilahkan pada semua orang.
Muncul Adri dari belakangku yang meraih lengan istrinya. Aku berjalan seorang diri, melintas beberapa pintu menuju sebuah ruang makan luas, mewah bergaya modern dengan meja dihias lilin-lilin besar, piring-piring keramik, gelas kristal dan kursi dari kayu jepara yang diukir, mengilat terkena cahaya lampu benderang. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar, jika tak ada yang menyapa selama aku berada di sini, selain Anggi yang menyambut ketika baru tiba barusan.
Aku duduk di salah satu kursi berhadapan dengan Caroline yang duduk bersama suaminya. Aku mengalihkan tatap muka jauh dari mereka dan lebih memusat pandangan pada makanan yang tersaji di atas meja seperti, steak, sosis, aneka salad, buah-buahan dan minuman. Meski nampak lezat aku tak yakin bisa makan dengan baik, karena muka mengesalkan Caroline membuat selera makan di tenggorokanku hilang.
Suasana hening, semua orang sibuk menyantap makanan. Aku yang telah kehilangan selera makan hanya meminum bergelas-gelas air putih dan segera menyambar wine putih yang baru saja disajikan pelayan untuk menghilangkan dahaga. Aku terus memintanya sampai menghabiskan tiga gelas minuman beralkohol terus menerus, sampai mata semua orang melirikku. Kuletakkan gelas wine itu ke meja sambil bersikap biasa.
"Aku kira kau tidak akan datang, hampir saja aku tidak melihatmu kalau kau tidak duduk di depanku!" aku tersenyum melihat Caroline mulai membuka mulutnya yang bergincu merah dengan omongan tajam. Aku bersandar ke belakang kursi, mencoba membuat diriku nyaman.
"Jadwal syutingku sedang kosong. Aku menghormati undangan kalian walaupun aku pikir kau mungkin sedikit terpaksa mengundangku!" sambil meraih gelas wine ia tersenyum tipis.
"I'm not sure when every people thoose worked for art indusrties is a bad person. They have own sanse to created any brilliant idea. Maked biggest film's and wonderful book. Do you think how could this happen if they have lack education, and bad manners. I always think you're class isn't enought for us! How do you think, could you know what i mean?"
Aku mengerti kenapa ia melontarkan omongan dalam bahasa asing, Caroline tahu betul cara mempermalukanku, karena di matanya seseorang yang hanya berpendidikan setingkat SMP tak akan mampu mengalahkan pesona kecerdasan yang dimilikinya dan keluarganya yang lulusan sekolah luar negeri dengan tempelan gelar c*m Laud, yang akan membuat mereka terlihat pantas menjadi angkuh.
"Mam... kita lagi makan malam" Caroline melirik Anggi yang keberatan. Aku mengambil gelas wineku sendiri yang masih bersisa beberapa teguk dan menngangkatnya di depan Caroline.
"I learn a lot doesn't like you think mam... let's cheers for our dinner tonight!" ia tersenyum dengan muka masam.
"Hmmm, kamu belajar cukup keras! Boleh aku tahu pendidikan terakhir kamu? Kita pasti akan senang mendengar bincang eksklusif seorang seleberitis ..."
"Kita makan malam untuk membahas rencana pertunangan Anggi dan Galih! Kenapa membahas hal tidak perlu di meja makan!" ucap suaminya dengan tatapan mata tajam pada Caroline yang menelan ludah. Kami semua diam dalam kekakuan. Aku tahu suasana jadi terasa canggung selama beberapa saat akibat ulahnya.
"Saya baru tahu kalau ada rencana pertunangan Anggi dan Galih, ini kejutan!" kata Adri dengan senyum merekah, memecah sunyi yang hambar sesaat tadi. Istrinya yang berbalut gaun putih berlengan pendeka tersenyum simpul dari bibirnya yang tipis.
"Bukan kejutan sayang, kamu yang sibuk jadi tidak ada waktu untuk menceritakannya pada kamu. Iya 'kan Galih?"
"Mbak Adya benar!" ucap Galih sumringah. Dan baru pertama kali ini aku tahu nama istrinya adalah Adya.
"Kawanku sibuk ikut kongkow di luar!" tukas Brian.
"Apa dia nakal Brian? Kamu harus membocorkannya kalau Adri macam-macam di luar" sambung Adya.
"Setahuku dia cuma akan selingkuh dengan map dan berkas! Wanita cantik itu bisnis bernilai jutaan dolar..." semua orang tertawa geli, sedangkan aku meneguk cepat minuman di tanganku.
Caroline dengan mata jalang menatapku lagi. Aku akan jadi sasaran selama duduk di sini, bukan karena pakaian maupun perhiasanku, tapi karena aku sendiri. Seharusnya dari awal aku tahu alasan kenapa diundang dan bodohnya seperti ikan kecil, aku memakan umpan itu habis hingga tertangkap tak berdaya.
"Tentu Adya, kamu harus berhati-hati menjaga suamimu. Ada beberapa orang yang dilahirkan dengan gen perusak hubungan orang lain. Menurut kamu apa yang dipikirkan para perempuan murahan seperti mereka? kasihan sekali ..." hardiknya dengan muka ditekuk nyinyir.
"Tante, aku yakin Adri setia"
"Tapi perempuan penggoda selalu ada di jalan, Adya!" ia melirik Adya dengan senyum picik.
Aku berdehem, meneguk segelas air untuk menghilangkan nyalang dalam hatiku, "Perselingkuhan, perempuan lain ... menurut kalian kenapa laki-laki bisa berselingkuh? Apa karena ada banyak perempuan?" aku melirik wajah Adri sekilas, ia menatapku tajam "Tidak, kenapa perempuan senang sekali menyalahkan perempuan lain? Karena mereka tidak pernah berada di posisi yang sama. Penghinaan yang diterima simpanan berkali-kali lipat dari cinta yang bisa mereka dapat, cinta yang isinya sisa dan tidak bisa diperjuangkan seorang laki-laki. Lalu kenapa ada perempuan bisa menjadi simpanan, karena ada laki-laki yang mau menyembunyikannya! Menyembunyikan kelemahan istri mereka dengan hiburan dari perempuan yang lebih memuaskan!" segelas cairan dingin disiramkan Caroline ke pakaianku. Aku berpaling padanya setelah menikmati wajah Anggi dan istri Adri yang tertegun.
"Permisi, aku mewakili perempuan lain yang tidak sependapat dengan kamu Raina. Sepertinya kehidupan kota Jakarta sedikit merusak pola pikirmu" sebuah senyum kuberikan untuk tindakannya.
"Tidak masalah, warna merah tidak bisa mengotori warna hitam. Karena hitam selalu berduka!" suasana hening kembali, sedangkan aku menyantap steak di depanku tanpa beban. Setelah suasana kembali tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, aku berdiri dari kursiku dan meminta izin untuk pulang. Aku butuh beristirahat untuk syuringku nanti, begitulah alasan yang terlontar dari bibirku dan semua orang seolah tak ada peduli dengan kepergianku. Keberadaanku selalu mengacaukan situasi dan aku tak keberatan dengan pandangan demikian.
Aku berjalan sedikit oleng, terhenti sambil berpegang pada pagar hitam rumah itu, yang berhadapan rentetan rumah mewah lain. Di sana aku terisak, menarik napas karena tersedak oleh kesakitan. Kata-kata yang kuutarakan barusan saja menghina diriku sendiri. Aku mengutarakan diri sambil merendahkan harkat untuk dijadikan lelucon. Aku menyedihkan, bersama kenyataan ini aku lebur berulang kali.
Aku menelpon taksi, menungguinya selama beberapa lama di depan rumah itu, namun tak ada satu pun kendaraaan yang lewat. Kuberanikan diri berjalan seorang diri melewati komplek perumahan lengang, yang hanya diterangi lampu dari beranda perumahan sekitar. Sepatu hak tinggi yang kukenakan membuat keseimbanganku menghilang, hingga kuputuskan berjalan tanpa mengenakan alas kaki, terpaku pada aspal abu-abu gelap.
Sebuah mobil alphard melaju kencang di sebelahku. Ya, mobil itu selalu dikenderai Adri tapi, malam ini ia tak sendiri, melainkan dengan istrinya. Apa yang akan dia pedulikan dariku sekarang? Aku teruskan berjalan dengan mengabaikan pemandangan itu. Tak kusangka mobil berwarna hitam itu mundur ke arahku. Aku melongo ketika kaca mobil itu terbuka, dengan wajah istri Adri yang dihias senyum ramah menyambar.
"Sepertinya tidak ada taksi, apa mau ikut dengan kami?" aku diam, berpikir beberapa detik.
"Di sini sulit mendapatkan taksi, naiklah kami akan mengantar!" ucap Adri menyambung perkataan istrinya tanpa berani menatapku. Sambil tersenyum sedikit terpaksa aku masuk ke dalam mobil itu, melihat mereka berdua duduk di depanku.
"Aku lihat film kamu, ceritanya bagus!" buka istri Adri dengan percakapan yang menurutku basa-basi di tengah kebisuan. Aku tidak yakin dugaanku benar atau salah, mereka kelihatannya tak mau membahas pertikaian di meja makan tadi.
"Terimakasih! Film itu hampir tidak jadi tayang karena banyak adegan kekerasan" wanita berlesung pipi itu menengok ke belakang.
"Tema utamanya kekerasan terhadap perempuan 'kan? Tapi biar begitu filmnya tetap diputar di Busan International Film Festival beberapa bulan lalu. Aku lihat di berita, kamu beruntung berfoto bareng Song Jong Ki!"
"Tidak begitu berunntung, dia tampan, senyumnya manis, kulitnya sangat putih. Lebih tampan dari yang bisa dilihat di televisi" istri Adri tersenyum sumringah.
"Sayang ya, coba saya juga bisa ke sana minta tanda tangan!"
"Kamu mengidolakan dia?"
"Sangat, sejak drama Nice Guy... Kamu tahu?"
"Ah, cerita balas dendam pada mantan kekasih itu?"
"Kamu tahu juga! Oh, ya, kita belum kenalan. Namaku Adya!" ia mengulurkan jemarinya yang melingkar sebuah cincin perkawinan dari emas putih yang mengilap. Aku meraih sambil menyebut namaku.
"Raina!"
"Kamu kenal Galih?"
"Kami pernah bekerja dalam satu proyek penggalangan dana untuk keperluan amal!" Adya mengangguk antusias, sedangkan Adri diam sejak tadi, terpaku pada jalan di depannya.
"Pantas saja! Karena Galih masih sibuk mengobrol di sana jadi kami pulang lebih dulu. Di depan rumah dia minta kami memberi tumpangan, buat temannya kata dia! Sebenarnya saya juga masih belum mau pulang, tapi suami saya malas menunggu di sana lama-lama"
"Ah, begitu... tapi pertemanan saya dan Galih belum terlalu lama, hanya sebatas kerjasama proyek"
"Tidak masalah, semua bisa jadi teman 'kan lama-lama"
"Benar!" tukasku.
Aku kembali terdiam, sedangkan mereka berdua saling bincang.
"Sayang kamu ingat 'kan nanti kamu ada janji jalan-jalan sama Jane. Dia selalu nagih ke aku kapan papa punya waktu katanya. Harusnya kamu bicara sama Jane 'kan sayang kalau kamu sibuk!"
"Besok aku free, nanti aku ajak dia jalan-jalan!"
"Jangan sampai dia marah lagi sama kamu!"
"Iya, aku tahu..."
"Oh, ya, Raina kamu tinggal di mana?"
"Kemang"
"Kalau begitu, kita antar Raina dulu baru pulang 'kan sayang?" Adri hanya bergumam.
Tiba di depan gedung apartemenku, aku berpamitan pada mereka berdua. Memasang senyum manis pada istrinya dan menyorot Adri lebih lama, tapi dia tak memandang balik. Aku tahu hubungan kami sudah berakhir tapi entah kenapa, aku masih saja berharap sesuatu. Aku seharusnya sudah melepaskan dia dan tidak perlu merasa begini lagi.
Begitu tiba di kamar, aku langsung mencari botol wine. Mendadak aku frustasi karena baru ingat belum membelinya, selain bir kalengan yang ada dalam kulkas. Aku tak begitu suka pada bir murah itu, namun karena tak ada pilihan lain, aku meneguknya berkaleng-kaleng untuk menghilangkan rasa jengkel, sampai tanpa sadar mataku memejam.
Ponselku berdering, aku meraba tas yang kuletakkan di atas meja. Masih setengah mengantuk didera sakit kepala, aku mengangkatnya tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Kamu sedang minum?" kata itu yang keluar pertama kali dari penelpon itu, yang membutku bangun, menyenderkan diri ke belakang sofa.
"Siapa ini?" aku menatap layar ponsel yang membuat mataku sedikit peraih, sebab sinarnya yang teramat silau. Tak ada nama yang tertera, selain keterangan sebagai nomor pribadi.
"Kalau kamu mau tahu siapa saya, kenapa kamu tidak buka pintu?"
Adri berdiri di depan pintu dengan sebuah telpon menempel di telinganya. Ketika aku hendak menutup pintu itu lagi, ia menahanku dengan tangannya. Jauh lebih kuat dari kekuatan yang kupunyai ia berhasil menerobos masuk dalam rumahku. Mendekapku, lalu menetapku begitu menawan dari sepasang matanya yang bersiar tajam. Aku tidak mampu berbuat apa pun, selain sedikit hanyut lantaran masih setengah mabuk.
Aku diam, meresapi hembus napasnya di atas hidung dan bibirku.
"Pulanglah Adri, istri dan anak kamu menunggu!" ucapku mencoba melepas dekapan tangannya.
"Saya akan pergi kalau kamu bilang, tidak cinta padaku lagi"
"Aku tidak mencintai kamu lagi Adri, kita sudah berpish! Berpisah!" bibirnya yang lembut menyentuh kelopak mataku, lalu menuruni daun telingaku.
"Tatap mataku dan bilang kamu tidak pernah cinta lagi" aku menahan napas, mencoba mengumpulkan kekuatan dan menatap sepasang mata Adri seperti yang ia kehendaki.
Jantungku berdebar kencang, "Saya tidak pernah cinta kamu lagi, hari ini, besok dan setelahnya!"
"Kamu berbohong!" ia berdecak begitu yakin, menahan daguku dengan jemarinya hingga mata kami saling bertemu lebih lama.
"Aku tidak bohong!"
"Kamu bohong, mata kamu berbohong. Kamu tetap dan akan terus mencintai saya Raina!"
Aku berusaha mendorong tubuh Adri, namun wajahnya justru mendekat dengan bau napas hangat dan tatapan lembut yang melelehkan. Aku tidak bisa menolak perasaan yang memberondong jantung dan hatiku. Aku menyerah untuk menolak dan membiarkan ciuman lembutnya menyapu mulutku. Tubuhku berbenturan kursi, kami saling menatap. Jemari Adri yang lebar menyapu bibirku, meletakkan ibu jarinya dalam mulutku. Aku diam melihat ketampanannya.
"Aku merindukan kamu" ucapnya begitu sendu, sambil mengecup lengkungan leherku. Aku hampir kehilangan kontrol diri.
"Ini salah dan kamu harus pulang Adri, kamu harus kembali!"
"Kalau ini salah, maka ini akan jadi salah saya!" ia mengangkat tubuku ke atas tempat tidur.
Sambil bertumpu di antara lutut dan kedua sikunya, ia menatapku, menyapu helai rambut dan mukaku dengan hangat. Kami beradu ciuman. Aku melepaskan kancing kemeja yang membalut tubuhnya, hingga badan berotot dengan kulit bersih itu bertemu dengan mataku. Kucium lengannya, ia membalik tubuhku, melepaskan resleting gaun hitam yang kukenakan dan membuhuhi lengkungan punggungku dengan ciuman tak terputus. Aku mendesah, menggeliat hanyut dalam sentuhannya.
Kulit punggung Adri menempel di belakang punggungku, kedua lengannya membalut dadaku sambil memberi kecupan lembut di belakang telingaku. Aku diam tak mengatakan apa pun.
"Sayang diam saja, kenapa? Kamu masih marah?"
Air mataku tiba-tiba saja menetes, "Ini salah, kita sudah terlalu jauh Adri! Aku sudah mengingatkan kamu!" suaraku tercekat di ujung tenggorokan, bersama rembesan air mata.
"Raina sayang, dengarkan saya! Sudah berapa lama kita bersama-sama?" ia mengelusi rambutku, "hampir satu tahun dan kenapa baru sekarang kamu takut, mengeluh? Saya sudah bilang ini akan jadi tanggung jawab saya, saya tidak bisa hidup tanpa kamu Raina. Bagaimana saya bisa meyankinkan kamu?"
Aku melepaskan pelukan Adri dan duduk sejenak, "Kita sudah membuat batas dalam hubungan kita, tapi lihat aku terlalu bodoh dan melanggarnya! Sebaiknya kamu keluar sekarang juga Adri!" pria itu bangkit dengan kesal yang coba ditahan.
"What's wrong with you? Kamu pikir kita ini remaja, yang hanya pegangan tangan? You kidding me " Adri mencengkram kedua bahuku, memberikan sorot mata nyalang penuh intimidasi dan peringatan "Hear me Raina, ini akan menjadi pertama dan terakhir kali saya mendengar kamu menangis, memberontak, marah, dan membentak saya! Kalau kamu tidak patuh pada perintah saya, saya bisa menghancurkan kamu dalam sekejap mata sebelum kamu sadar. Jadi patuhi saya!" Adri berdiri lalu mengenakan pakaian. Aku menahan isak tangis agar tak melonjak keluar dari bibirku. Sebelum pergi ia berbalik ke arahku "Pastikan besok kamu datang untuk syuting hari pertama! Orang yang saya kirim akan mempersiapkan semua keperluan dan jadwal kamu. Jangan beran-berani lagi kamu mengusirnya" Adri membanting pintu dengan keras, meninggalkan aku seorang.
**
Aku terbangun lebih pagi karena meminum obat tidur agar bisa memejamkan mata, ada jadwal syuting yang harus aku lakukan pagi ini. Ketika meraba ponsel di samping tempat tidur aku masih berharap jika Maya menelpon atau mengirim pesan, tapi sepertinya dia masih masih marah dan belum mau bertegur sapa denganku. Aku duduk di tepi ranjang, dan ingatan mengenai kejadian semalam memberondongi kepalaku. Aku menuju kamar mandi, membasuh tubuh dengan air penuh rasa benci pada diri sendiri. Bagaimana bisa aku begitu mudah menyerah pada Adri dan bertekuk lutut padanya, seharusnya aku tidak pernah membiarkan hasrat membutakan mataku dan akhirnya, aku tenggelam dalam penyesalan. Aku bersiap di depan cermin, mengenakan pakaian ternyaman yang aku mau. Celana jenas, baju kaos putih dan blazer biru. Suara bel dari pintu membuatku bertanya-tanya, aku bahkan belum sarapan tapi seseorang sudah datang lebih dulu mengetuki pintu.
Pak Arofik menyambut dengan senyum ramahnya lagi. Aku ingat Adri pasti mengirimnya.
"Selamat pagi Mbak, saya datang untuk menjalankan tugas sebagai manager Mbak. Untuk hari ini Mbak ada jadwal bertemu seseorang?"
"Seseorang?" kataku heran, menyapu helaian rambutku, "Bukannya jadwal syuting masih jam 09.00 nanti?"
Pak Arofik mengeceki ponselnya "Pak Adri sudah menunggu!" aku membuang napas tanpa selera.
"Ya, saya mengerti!" aku masuk ke dalam rumah, mengambil tas berisi ponsel alat makeup dan charger ponsel. Setelah itu beranjak mengikuti Pak Arofik, menuju ke tempat parkir di samping apartemen dengan membawa kunci mobil. Setelah melaju beberapa meter dari apartemen, mobil Adri nampak sudah menunggu di tempat parkir sebuah minimarket. Aku turun di sana, memasuki mobil yang ia kendarai sendiri.
Aku tidak menyapa tapi, dia menyambut dengan senyum sambil membelai keningku.
"Tidur kamu nyenyak?" aku bergumam setengah terpaksa, "kamu tidak mau memberikan pelukan pada saya?" aku berpaling memandangi Adri yang mengenakan kemeja hitam, blazer keemasan dan celana kain hitam. Aku memeluk pria ber-rahang tegas dengan sorot mata membenamkan itu "I miss you!" tukasnya lagi. Aku melepas pelukan dan membalas dengan senyum simpul.
Adri mengambil sesuatu dari jok belakang, sebuah kotak makan yang terbungkus kantong kresek berwarna putih.
"Saya memasak makanan kesukkaan kamu, nasi goreng! Kamu belum makan 'kan? Saya buru-buru mau ketemu kamu!" aku meraihnya dan tersenyum tipis.
"Terima kasih"
"Kamu mau ke suatu tempat dengan saya" aku melirik pada Adri yang sejak tadi selalu tersenyum, tak pernah sekalipun ada kesuraman menghias wajah tampannya.
"Kemana?"
"Lihat saja!"
Adri membawaku ke sebuah hotel. Hotel dan kamar yang sama ketika kami terakhir kali bertemu dan aku memutuskan hubungan dengannya di sana. Ketika pintu terbuka aku tahu kami tidak berdua, dua orang pria berumur masing-masing 50, dan 60-an tahun sudah menunggu. Pria berkopiah dengan mengenakan jas berwarna hijau menyambar menyalami tangan Adri.
"Selamat pagi Pak!"
"Selamat pagi, yang mana yang akan jadi penghulu?" aku melirik ke arah Adri heran.
"Kebetulan saya, sedangkan teman saya yang satu lagi akan menjadi wali nikah. Mbaknya sudah tidak punya wali dalam satu nasab lagi 'kan Pak?"
Adri melirik perlahan, "Kelihatannya begitu!"
"Tapi kita belum ada saksi?"
Pak Arofik muncul dari balik pintu dengan sebuah kotak cincin, "Saya akan jadi saksi, Pak!" aku tertegun melihat apa yang terjadi. Antara senang atau merasa benci. Pernikahan ini seperti sebuah permainan petak umpet, sekali lagi aku berakhir dengan disembunyikan.
Sepasang tangan Adri menepuk, "kalau begitu, apa pernikahan bisa dilakukan sekarang? Saya tidak punya banyak waktu.
"Iya Pak, silahkan kemari!"
Setelah Ijab Qabul, Adri mengenakan sebuah cincin putih sederhana ke jariku dengan bersama kecupan lembut. Aku masih tak begitu antusias karena selalu berpikir bukan begini pernikahan impianku, toh pada akhirnya cincin yang melingkari jarinya adalah cincin pertama yang dia sematkan bersama istrinya, bukan denganku.
Saran dan kritiknya readers, terima kasih!