Lift terbuka lebar. Mataku terpana melihat Brian sedang bersdiri di depan pintu kamarku sambil berjalan mondar-mandir. Langkahnya terhenti, ia berpaling ketika tersadar seseorang baru saja keluar dari lift. Bibirnya mengerucut, mungkin dia hanya sedang menahan maksudnya untuk tersenyum. Dengan lambat aku berjalan menghampiri sambil menenteng kantong belanja. "Apa yang kamu lakukan di sini?" ia menengok sesaar ke belakang pintu. "Teman kamu bilang kamu sudah pulang. Apa sekarang kamu yakin untuk malanjutkan pengobatan?" aku mengangguk. "Tidak ada jalan lain. Aku pikir sekarang aku harus hidup lebih lama untuk menjaga Ibu" Jemarinya menunjuk ke dalam, "Apa Ibu kamu ada di dalam?" aku menggeleng lalu berjalan menuju pintu. "Ibu masih di rumah kami yang dulu, di Surabaya. Dia tidak

