Suasana sementara hening saat dokter meninggalkan ruangan. Aku terpaku melihat ke arah selimut yang menutup kakiku. Kubayangkan operasi akan terjadi dan tak pelak membuat ketakutan dan cemas terlintas di dalam benakku. Aku tidak tahu, berapa lama aku akan hidup jika operasi ini berhasil maupun gagal. Bayangan yang mengerikan melambung tinggi dalam benakku lebih daripada pemikiran keberhasilan yang mampu kuraih. Suara kursi berderit bersinggungan lantai mengejutkan lamunanku. Brian berdiri setelah ia pun tak mengatakan apa-apa dalam kekakuannya tadi. Aku tak tahu apa yang mengisi benaknya. "Aku akan pergi sebentar untuk mengambil beberapa barang di rumah kamu" ia beranjak, memalingkan tubuhnya. Sebelum ia benar-benar pergi, tanpa sadar tanganku menariknya. Ia terpaku mengamatiku. A

