"Kemarin Lio sama papa ke Indonesia, jadi sekarang Lio memang sudah ada Indonesia Kak dan kita gak ketemu hari ini." Lio menjawab polos dan ceria, khas anak kecil bercerita pada orang yang ia rasa nyaman. "sekarang Kak Nuri jawab pertanyaan Lio tadi, Kak Nuri baik-baik saja 'kan?"
"Memangnya Kakak kenapa?" Nuri menjawab main-main, ia ingin tahu sejauh mana Lio menginginkan kabar tentang keadaannya sekarang. Lagi pula dengan Lio dan Danu yang sekarang berada di Indonesia, bukankah memperkuat keyakinannya tentang orang yang menolong Nuri tadi adalah Danu? Benar bukan?
Terdengar krasak-krusuk dari sambungan telponnya, Nuri menatap layar ponsel yang sinyalnya tetap bagus. Ia tidak tahu apa yang Lio dan Danu lakukan diseberang sana, tapi jelas mereka tengah melakukan sesuatu.
"Lio kangen, semalam mimpi buruk, jadi sekarang Lio kepikiran sama kakak." Lio menjawab setelah bunyi krasak-krusuk itu mereda.
Jawaban Lio yang terkesan polos membuat Nuri menukik kedua alisnya heran. Jadi bukan karena Danu mengatakan Nuri hampir kecelakaan pada Lio, tapi Lio yang bermimpi buruk tentang dirinya semalam.
Sekali lagi Nuri terlalu banyak menyimpulkan hal yang memang tidak mungkin.
Nuri tersenyum lucu, merasa gemas dengan tingkah gemoy seorang anak laki-laki yang menjadi anak asuhnya selama di Singapura. Lio bukan hanya tampan, tapi ia juga perhatian. Nuri yang tidak punya ikatan batin pun dengam Lio sangat menyayangi anak itu, apa lagi yang menjadi orang tuanya.
"Kak Nuri baik-baik saja kok, Lio hanya mimpi. Mimpi itu bunga tidur, makanya sebelum tidur kan sudah kak Nuri kasih tahu harus baca do'a dulu." Nuri mengingatkan dengan nada halus, berbicara lemah lembut demi menjaga perasaan Lio.
"Iya, kakak, Lio akan ingat kata kakak. Maaf ya, Lio lupa gak baca doa sebelum tidurnya. " Lio menjawab patuh.
Lihatlah bagaimana lucunya anak ini, sangat menggelitik hati siapa saja yang mengenalnya. Lio mengatakan kesal padanya tempo hari, tapi sekarang malah menelpon dengan lucunya menanyakan keadaan diri Nuri. Siapa yang tidak akan tersentuh diberikan perhatian segemas ini?
Lio adalah seorang anak dengan pipi berlemak, kulit putih, rambut sedikit pirang, pokonya Lio adalah gambaran anak laki-laki yang tampan dan lucu. Lio juga tidak banyak permintaan, selalu menurut apa kata orang dewasa.
Memikirkan Lio, Nuri sendiri sebenarnya belum tahu siapa ibu kandung Lio. Kalau dari wajahnya Lio memang mirip dengan Danu, tapi dari segi rambut dan warna bola mata yang biru sepertinya ibu kandung Lio adalah orang dengan kewarganegaraan asing.
"Oke, gak masalah, asal jangan diulang lagi!" Nuri berucap ceria. "Oh iya, Lio ada urusan apa ke Indonesia?" Mengingat Lio dan Danu yang saat ini ada di Indonesia, Nuri penasaran akan urusan mereka di Indonesia. Selama Nuri bekerja di Singapura, tidak sekalipun Danu ke Indonesia. Danu memang orang Indonesia asli, tapi ia sudah lama tidak pulang karena kesibukannya di Singapura.
"Papa yang ngajak--,"
"Hah?" Nuri bertanya bingung, sebab perkataan Lio langsung terputus begitu saja. Nuri mengernyit bingung saat tidak mendengar suara dari sambungan ponselnya, tapi yang jelas ia yakin sambungan telpon masih menyambung.
"Lio terus menanyakan kamu, sekalian juga saya ada kerjaan di Indonesia, jadi kami pulang ke Indonesia." Danu menjawab sekaligus melanjutkan perkataan Lio tadi, menjelaskan alasan dirinya dan Lio saat ini berada di Indonesia.
Nuri langsung mengerjapkan mata begitu mendengar perkataan Danu. Sungguh Nuri baru kali ini mendengar Danu berbicara sangat panjang, Nuri bahkan sangat yakin baru saja Danu berucap sedikit terburu dan gelisah.
"Iya, Mas. Jadi sekarang kalian ada di mana?" Nuri bertanya kembali, sebab ia penasaran juga sedikit kangen pada anak dengan pipi berlemak itu. Rasa sayang Nuri pada Lio sudah melekat, tidak terpaku pada anak majikan dan pengasuh saja.
"Kirim alamat rumah kamu!" Danu berucap datar kembali, tidak nyambung dengan pertanyaan Nuri barusan.
Dua tahun bekerja di bawah majikan seorang yang kaku, lambat laun Nuri paham dengan maksud ucapan singkat dan tidak nyambung sang majikan. Danu menanyakan alamat rumahnya pastinya untuk didatangi, tapi bagaimana dengan tanggapan orang lain bila mereka melihat Danu dan Lio bertamu ke rumahnya? Apa lagi saat ini tidak ada siapa-siapa di kontrakan ini, Gani pun belum ia kasih tahu alamatnya. Mau bagaimanapun di sini tidak menutup kemungkinan akan ada orang yang mengenali dirinya sebagai istri dari seorang Gani Mahendra.
"Mas Danu mau bertamu?" Nuri memutuskan untuk bertanya lebih jelas dulu.
Setelah terdiam beberapa saat, Danu kembali bersuara. "Tidak, saya hanya akan menitipkan Lio saja."
Nuri menghembuskan napas dengan lega, ternyata Danu hanya ingin menitipkan Lio saja. Kalau begitu tidak akan ada masalah, Nuri mengangguk walau tahu Danu tidak akan melihat wajahnya.
"Saya kirim lewat chat, Mas Danu."
"Baik, assalamualaikum."
tut
Danu langsung mengakhiri panggilannya, membuat Nuri sedikit menganga. Ada senyum samar pada bibir Nuri, membayangkan dirinya akan bertemu lagi dengan Lio. Akh, rasanya Nuri sudah tidak sabar bertemu dengan bocah sok marah, tapi tetap perhatian itu.
Tidak ingat kah Lio pernah mengatakan dirinya jahat tempo hari? Dasar anak kecil, Nuri menggelengkan kepala dengan pelan.
Setelah mengetikkan alamat kontrakannya dan mengirimkan pada Danu, Nuri menyimpan ponsel di atas nakas. Ia mengabaikan panggilan tak terjawab dari Gani, terlalu malas berurusan dalam waktu dekat ini dengan laki-laki yang masih menjadi suami sahnya itu.
Ada begitu banyak pertanyaan yang mengganjal dalam hatinya tentang Gani, tapi Nuri tidak tahu harus bertanya pada siapa. Nuri serasa hidup sendiri di negaranya sendiri, tidak seperti saat dirinya berada di Singapura karena ada Lio yang lucu dan Danu yang diam-diam perhatian.
Nuri sadar dirinya tidak boleh terbawa perasaan pada Danu, sebab ada suami yang mengikat dirinya dai batasan pada laki-laki lain. Kalau seperti ini, Nuri selalu mengingat ayahnya. Dulu setiap kali dirinya punya masalah, ia akan lari pada pelukan hangat laki-laki tua itu.
"Menyedihkan," Nuri berucap nyaris berbisik. "Hidupku kenapa seperti ini?"
Satu jam kemudian pintu rumahnya diketuk, bergegas Nuri berjalan ke arah pintu. Begitu membuka pintu, Nuri terpaku karena tidak menyangka yang datang bukan Danu dan Lio.
"Ma-mas Gani?"
Gani melipat tangan di depan d**a, menatap marah ke arah Nuri. Tatapan matanya begitu tajam, ia merasa seolah harga dirinya sudah diinjak-injak oleh wanita yang harusnya menghormati dirinya.
"Kamu terkejut Mas tahu alamat tempat tinggal kamu yang sekarang bukan?" Gani berucap sinis, salah satu bibirnya terangkat menciptakan seringaian puas. Riak penuh kekesalan jelas tergambar pada raut wajahnya, tapi kalau diperhatikan lagi ada jejak takut juga pada raut wajah Gani. Tentu saja rasa takut dalam hatinya akan ia tutupi sebisa mungkin, sebab ia terlalu meninggikan ego sebagai seorang suami yang harus dijunjung harga martabat dirinya.
Nuri menormalkan kembali raut wajahnya, melengos pergi masuk lagi ke dalam rumah. Sejujurnya ia penasaran dari mana Gani tahu alamat kontrakannya yang sekarang, sebab tidak ada yang ia beri tahu kecuali Danu tadi satu jam yang lalu.
Gani ikut masuk ke dalam kontrakan, ia menaikan salah satu alisnya begitu melihat begitu lengkapnya perabotan dalam rumah ini. Sekelebat pikiran muncul di kepala Gani, jangan-jangan Nuri sudah membelanjakan uang hasil kerjanya di luar negri pada perabotan yang ada ini. Raut tak suka tiba-tiba nampak pada wajahnya, ia menatap punggung Nuri yang tengah berkutat di dapur dengan kesal.
"Kenapa kamu membelanjakan uang untuk hal yang tak berguna seperti ini? Semua perabot rumah sudah Mas lengkapi di rumah kita, Dek. Harusnya uang yang dibelikan perabot ini kamu kasih sama Mas saja, tentunya Mas lebih tahu uang itu mau digunakan buat apa yang lebih bermanfaat." Gani berucap kesal dengan nada sedikit sewot dan nyolot.
Nuri yang hendak menyeduh s**u jahe langsung menghentikan aktivitasnya, ia berbalik badan dan menoleh ke arah Gani. Tatapan Nuri menyipit, jelas ia tersinggung dengan ucapan Gani barusan. Seketika rasa ingin menghangatkan badan dari aroma jahe menguar, Nuri memutuskan untuk meninggalkan keinginannya itu.
Nuri berjalan ke arah Gani, berhenti saat sudah berhadapan dengan suaminya ini. Makin lama Gani makin membuatnya tidak habis pikir, Nuri merasa sikap Gani ini terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah keuangan yang dimiliki dirinya.
"Uang itu milikku, kenapa pula Mas Gani yang sewot? Mau dibelikan apapun, itu terserah aku dong." Nuri menjawab dengan menekan nada suaranya agar tidak meninggi, bagaimanapun Nuri masihlah harus menghormati Gani karena ada kewajiban dari ikatan pernikahan.
Gani berdecak sebal, ia menjatuhkan Bobot tubuhnya di atas kursi. Pandangan Gani mendongak, menatap ke arah Nuri yang masih berdiri. "Jelas Mas sewot, Dek. Kamu ini istri Mas, kenapa main ambil keputusan tanpa berunding? Kamu sudah tidak menghargai Mas sebagai suamimu, begitu?"
"Maksud--,"
"Juga kenapa kamu main pindah kontrakan seenak jidat?" Gani sengaja memotong perkataan Nuri, tidak membiarkannya berucap karena tidak ingin ada pembelaan apa-apa dari Nuri. "Harusnya sebagai istri kamu ijin dulu setiap ingin berpergian atau melakukan ini itu. Ini malah pindah kontrakan seenaknya, apa lagi dengan tidak tahu dirinya kamu merahasiakan tempat tinggal kamu sekarang pada Mas."
Nuri menggigit pipi bagian dalamnya, rasa sakit hati saat ini tengah mendominasi hatinya. Sekuat-kuatnya Nuri, ia masihlah seorang perempuan yang gampang terluka bila dibentak seperti itu.
"Perlukah Mas mendisiplinkan kamu, Dek?" Gani menatap Nuri berang, kepuasan jelas terpancar dai sorot matanya tatkala mendapati Nuri terdiam. Gani menyangka Nuri kini mulai takut padanya, bukankah itu sangat bagus? Pikir Gani.
Walau benar perempuan yang ada di rumah sakit itu Nuri, sepertinnya Gani merasa dirinya tidak perlu takut lagi. Lihatlah Nuri yang akan ia disiplinkan dan dibuat patuh akan kehendaknya, seorang suami memang perlu dan berhak mendidik istri pembangkang seperti Nuri. Masalah di rumah sakit Gani tidak lagi risau, toh Nuri juga tidak aka berani berbuat apa-apa padanya. Gani tertawa bahagia dalam hati, tidak sia-sia ajaran sang ibu ia terapkan sekarang.
"Sudah bicaranya?" Nuri bertanya setelah ia dapat menguasai diri kembali. Tatapan dingin ia layangkan pada Gani, tatapan yang tidak bisa Gani baca walau ia sudah beberapa tahun menjadi suami dari Nuri.
Gani menelan ludah, mendadak perasaan gugup menyelimuti dirinya. Ia berdehem pelan, melegakan tenggorokannya yang mendadak tersangkut. Bagaimanapun Gani tetaplah seorang suami yang bergantung pada istri, Nuri marah maka habislah sudah dirinya tidak akan perna bisa mencicipi uang Nuri lagi.
Gani membuang muka, menyembunyikan wajah gugupnya agar tidak terpergok oleh Nuri. Namun, walau begitu Gani masih melirik Nuri melapui ujung matanya, memastikan bahwa Nuri masih memasang wajah dinginnya atau sudah mereda.
"Mas Gani tahu apa yang paling aku benci di dunia ini?" Nuri bertanya sambil melangkah kecil ke arah Gani, mendekati suaminya itu dengan pandangan menghunus tajam. Nuri berucap pelan nyaris berbisik, "sebuah pengkhianatan."
Mendengar kata pengkhianatan, tubuh Gani menegang otomatis. Ia menelan Saliva susah payah, paranoid dengan kelanjutan ucapan Nuri selanjutnya.
"Sampai terbukti Mas Gani mengkhianati aku, maka aku tidak akan segan bertindak yang akan membuat tali pernikahan ini putus. Ingat Mas, sebuah kepercayaan akan hilang bila salah satu dari kita tidak menjaganya dengan baik. Jangan Mas Gani kira aku akan takut dengan gertakan kamu tadi, aku lebih baik berpisah dari pada harus hidup dalam duri."
Gani menoleh ke arah Nuri, mencoba berani dalam ketegasan. "Maksud kamu apa Dek bicara masalah pengkhianatan pada Mas? Seolah kamu ini menuduh Mas sudah berkhianat saja."
"Memangnya Mas Gani gak merasa menyembunyikan sesuatu dari aku?" Nuri menatap Gani dengan sorot sinis.
***