Bab 7. Sebuah insiden

1469 Kata
pluk Nuri langsung terlonjak kaget begitu pundaknya ada yang menepuk dari belakang, ia langsung berbalik badan dan mendapati seorang tukang bersih-bersih berdiri di belakangnya dengan pandangan curiga. "Maaf, Mbak lagi ngapain di sini?" Tukang bersih-bersih itu bertanya, ikut melihat ke depan di mana tadi ada Gani dan Luly berada. "Mbak lagi ngintip?" "Eh, enggak Mas." Nuri menggeleng sedikit panik, kedua telapak tangannya ikut digerakkan ke kanan dan kiri, berharap tukang bersih-bersih di depannya percaya. "Saya hanya lagi berdiri saja, tidak mengintip kok." "Masa sih?" Tukang bersih-bersih itu menyipitkan mata, jelas saja tidak mempercayai ucapan atau pembelaan Nuri barusan. Mendengar ada sedikit keributan di belakang tembok dekat dengannya, Gani berjalan perlahan mendekati. Ia menyipitkan mata, menajamkan penglihatan saat melihat baju orang yang membelakangi dirinya serasa kenal. Mendengar langkah kaki semakin mendekat, Nuri membolakan mata. Ia menelan ludah gugup, takut Gani benar-benar mendekat dan mempergoki dirinya. Langkah Gani semakin dekat, dekat dan hampir sampai. Namun, begitu Gani akan menepuk pundak orang di depannya, orang itu keburu lari dan pada akhirnya tangan Gani hanya terangkat di udara. Gani hanya dapat melihat sekilas tubuh keseluruhan orang di balik tembok itu, membuatnya penasaran akan siapa sosok itu. "Mas, siapa orang yang tadi berbicara dengan Mas?" Gani bertanya pada tukang bersih-bersih, tapi tatapan matanya tetap mengarah pada kepergian Nuri. "Tidak tahu, Mas. Hanya saja saya mengiranya mbak itu mengintip, jadi saya tegur saja." Sang tukang bersih-bersih memberitahukan apa yang menjadi kecurigaannya pada Gani. "Dia perempuan?" Gani bertanya untuk memastikan. Mendapati anggukan dari sang tukang bersih-bersih, Gani mencurigai Nuri yang tadi dia lihat. Kalau benar orang yang tadi membelakangi tembok adalah Nuri, celakalah dia. Gani mendadak khawatir dalam hatinya, hatinya kini sama sekali tidak tenang. "Iya, Mas. Kalau begitu permisi, saya mau lanjut bersih-bersih lagi." Tukang bersih-bersih undur diri, setelah mendapati anggukan dari Gani ia melipir dan mengambil kembali gagang sapu dan pel. "Siapa?" Luly datang menyusul, ia juga cukup penasaran tentang siapa yang tadi sedikit bersisik dari tempatnya berdiri. Gani menoleh pada sang ibu, menggeleng sambil mendorong pelan pundaknya. "Tidak ada siapa-siapa, ayo kita kembali ke kursi tunggu." Sedangkan di dalam lift Nuri mendumel sendiri, kesal karena tidak dapat tahu siapa perempuan yang melahirkan itu. Ia teramat ingin tahu, kalau ia melihat wajahnya pastilah ia tahu perempuan itu adalah Perempuan sama dengan yang waktu itu Vanny perlihatakan padanya atau bukan. Mungkin lain waktu aku akan datang diam-diam ke sini, Nuri bertekad dalam hatinya. Begitu Nuri sampai di parkiran, ia langsung memesan taksi online. Menunggu sebentar pikirnya di bawah pohon rindang yang ada di depan rumah sakit pasti adem, Nuri memutuskan begitu. Tanpa tahu begitu sampai di depan pohon, satu dahan roboh dan jatuh ke bawah. Semua orang yang menyaksikan terkejut. Ada yang menjerit, terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa, tapi tidak ada yang datang menolong Nuri. Nuri sendiri yang mendengar suara kretek dari atas kepalanya mendongak, langsung shok begitu melihat batang pohon yang roboh akan menimpa dirinya. Kaki Nuri terpaku, seolah menyatu dengan tanah. Ia tidak bisa berlari ataupun berteriak, terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat. Nuri hanya bisa pasrah, memejamkan mata bersiap menerima dahan yang sekiranya dapat menghancurkan kepalanya. Tepat sebelum dahan menyentuh kepala Nuri, seseorang sudah lebih dulu menyambar tubuh Nuri. Keduanya berguling hingga beberapa meter, menghindari dahan yang siap mengoyak tubuh karena memang ukurannya yang lumayan berat. Semua orang yang melihat kejadian cepat di depannya otomatis bernapas lega, sebab seseorang yang mereka perkirakan pastinya akan mendapat luka cukup berat itu nyatanya selamat. Kini mereka bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan super Hero yang rela menyelamatkan orang lain dengan hampir saja mengorbankan dirinya sendiri itu? Nuri sendiri yang masih belum pulih dari rasa terkejutnya hanya bisa terdiam, tanpa sadar kini dirinya berada dalam pelukan posesif seseorang. Hembusan napas cepat di atas kepala menyadarkannya, berkat itu kini Nuri dapat tahu kalau ada seseorang yang sudah rela menyelamatkannya. Mata bergetar Nuri perlahan bergerak, seiring wajahnya yang mendongak ke atas. Nuri tahu seseorang kini tengah memeluknya, memberikan rasa nyaman dan terlindungi dari marabahaya. "Terima kasih, Mas." Nuri berucap serak dengan berbisik. Matan Nuri berembun, tapi sekuat tenaga ia menahan cairan bening itu agar tidak tumpah. Memangnya siapa yang tidak akan shok di saat hampir saja terkena musibah? Nuri tidak se kuat itu agar terlihat baik-baik saja, ok. Mata setajam elang dengan bulu mata lentik itu memindai setiap jengkal wajah Nuri yang berada tepat di bawah dagunya, memastikan tidak ada yang terluka. Setelah tahu bagian kepala Nuri tidak terkena dahan yang tadi jatuh, barulah dia meneliti tubuh Nuri. Tahu perempaun dalam dekapannya baik-baik saja, segera ia melepas pelukannya. Laki-laki itu mengangguk, mengiyakan perkataan Nuri barusan. Ia berdiri, menepuki celana bahannya yang tertempel debu dan daun kering. Wajah yang setengah tertutup masker itu ia palingkan begitu mata Nuri menatapnya penasaran, mungkin ingin tahu keseluruhan wajahnya. Melihat mata tajam dengan bulu mata lentik, laki-laki yang menolongnya ini mengingatkan Nuri pada mantan majikannya saat di Singapura. Danu juga memiliki mata yang tajam dengan bulu mata lentik nan lebat. Entah kenapa pikirannya bisa langsung tertuju pada Danu, padahal tidak mungkin sekali Danu ada di Indonesia. Buat apa coba? Tidak sengaja tatapan Nuri tertuju pada lengan kanan orang yang menolongnya. Ia melihat ada darah yang merembes ke luar dari balik kemeja yang dikenakannya, luka cukup besar ada di sana. Nuri sontak menutup mulut, terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. "Tunggu!" Nuri langsung berseru, memanggil kembali seseorang yang sudah menolongnya. Ia bangun berdiri, memaksakan berjalan walau langkah pada kakinya masih bergetar. Nuri menunjuk lengan kanan laki-laki di depannya dengan ringisan pada ekspresi wajahnya, "kamu terluka, ijinkan saya mengobatinya sebagai bentuk rasa terima kasih. Kalau tidak ada kamu dan tentunya Allah SWT. yang menentukan, pastinya saya sudah tertimpa dahan pohon itu. Bagaimana? Apa kamu memperbolehkan saya untu mengobati luka kamu?" Tapi sebuah gelengan kepala yang Nuri dapatkan, membuatnya menghela napas kecewa. Namun, walau begitu, Nuri tetap mengangguk karena memang dirinya tahu tidak bisa memaksa. "Kalau begitu sekali lagi saya ucapkan terima kasih," Nuri menundukkan sedikit kepalanya, sebagai bentuk rasa terima kasih atas kebaikan orang di depannya. Untuk sekali lagi, orang itu menganggukkan kepala. Tidak ada suara yang ke luar, hanya isyarat tubuh sebagai bentuk jawaban atas perkataan dari Nuri. Setelah itu ia pergi dengan langkah cepat, seolah terburu-buru memburu sesuatu yang sulit ia tinggal. "Aneh sekali, kenapa dari tadi ucapanku hanya dibalas oleh isyarat tubuh?" Nuri berucap pada dirinya sendiri. "Dia mengingatkan aku pada mas Danu yang jarang bicara, aneh-aneh saja." "Mbak tidak apa-apa?" Beberapa orang-orang datang mengerumuni Nuri setelah orang yang menyelamatkannya itu pergi, sebagian orang lagi mengamankan Daha pohon yang tumbang agar tidak menghalangi jalan. Nuri tersenyum sopan pada orang-orang, mengangguk mengiyakan karena memang dirinya tidak apa-apa. "Saya baik-baik saja." "Syukurlah, tadi kami sangat terkejut." Orang-orang yang mengerumuni Nuri mengusap d**a lega, setelah tahu perempuan yang hampir mendapat musibah itu tidak terluka sama sekali sebagian dari mereka langsung membubarkan diri. "Alhamdulillah saya masih selamat, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya." Nuri menjawab diiringi senyuman kecil yang tampak tulus. Tidak lama sebuah mobil datang, itu adalah mobil taksi online yang Nuri pesan. Setelah beramah tamah pada orang-orang yang masih mengerubunginua, Nuri pamit undur dan masuk ke dalam taksi. Saat Nuri berada di dalam mobil, tatapannya jatuh pada laki-laki bermasker yang tadi menolongnya. Laki-laki itu tengah membuka kemeja, menyisakan kaos putih yang membalut tubuh tinggi tegapnya. Karena mobil yang terus berjalan, Nuri tidak lagi dapat melihat laki-laki itu. Ia menyayangkan karena tidak sempat mengucapkan rasa terima kasih dengan layak, hanya ucapan saja atas penyelamatan nyawanya. "Semoga dilain waktu kami bertemu," Nuri berdoa dengan diiringi ketulusan hati. "Aku tidak ingin punya balas Budi pada orang lain, rasanya itu seperti hutang. Apa lagi ini menyangkut masalah nyawa." Begitu sampai rumah kontrakan, Nuri langsung menata semua barang belanjaannya. Tidak lama ponselnya berdering, mengangkat panggilan sambil duduk di depan tv. "Mas Danu?" Nuri berucap saat melihat nama orang yang menelpon. "Ya, Hallo. Assalamualaikum." Nuri menjawab sambil diiringi salam. "Kakak sehat?" Suara menggemaskan Lio terdengar khawatir, membuat Nuri langsung mengangkat satu alisnya heran. "Kakak gak terluka bukan?" "Maksud Lio?" Nuri bertanya tidak paham. Jelas Nuri tidak paham, sebab bagaimana bisa ini secara kebetulan Lio langsung menanyakan keadaannya kalau tidak mengetahui kejadian tadi? Benar bukan, seseorang menelpon selalu menjawab salam atau sekedar say hello, tapi Lio malah terburu menanyakan kabarnya. Aneh, sesutu membuat Nuri curiga. "Balas salam kakak dulu, Lio." Teguran pelan dari suara Danu terdengar oleh Nuri dari sambungan telponnya. "Eh," Lio berucap lupa. "Waalaikumsalam kakak." Terdengar suara Lio yang menjawab salam seperti tidak enak. "Sekarang bagaimana kabar kakak? Kakak sehat dan tidak ada yang terluka bukan?" "Kakak sehat kok," Nuri menjawab santai. Ia menggantikan channel TV, mencari tontonan yang enak dilihat. Sesaat setelahnya sesuatu mulai masuk ke dalam pikirannya, jangan-jangan laki-laki yang tadi di rumah sakit menolong dirinya memang benar adalah Danu? "Lio kenapa tiba-tiba tanya kakak terluka apa tidak? Lio dan papa gak lagi di Indonesia 'kan? Kita tidak bertemu di jalan hari ini?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN