#9 Kedatangan Tuan Umar

1184 Kata
Tuan Abizar hanya bisa mematung di tempat saat sebuah mobil panjang yang berkilat indah berhenti tepat di halaman depan rumahnya. Seorang lelaki yang mirip dengannya menurunkan diri dari kendaraan tersebut, aku bisa menyaksikan kegugupan Tuan Abizar membuatku ikut menelan ludah. Lelaki dengan wajah penuh kerutan akibat penuaan, melangkah mendekat lalu ... PLAK! Aku spontan terdorong ke belakang. Tuan Abizar ditampar telak oleh ayahnya. Tuan Abizar diam, pipinya kelu. PLAK! Tamparan kedua, membuatku meringis ngilu. Kasihan kepada Tuan Abizar yang bahkan tidak bisa berkutik. Baru saja hendak melayangkan tamparan ketiga, Tuan Abizar menyela. "Makam ibu ... apakah Abi tidak mau menziarahinya?" Benar saja, ayahnya berhenti memberikan pelajaran. Tangannya jatuh ke samping paha, ayahnya Tuan Abizar seperti menahan perih dan rasa sakit. "Untuk apa aku menziarahi makam seorang wanita yang dimakamkan di satu liang yang sama bersama suami barunya?" Pertanyaan tersebut membuat Tuan Abizar menyeringai penuh arti. Seperti sadar, ayahnya ... cemburu berat. "Apa kabar, Abi?" Tuan Abizar bertanya luwes. Ayahnya, yang awalnya marah dan kesal siap membuat Tuan Abizar babak-belur kini Tuan Abizar berhasil memutar-balik suasana hati ayahnya, menjadi penuh ratapan, cemburu, sedih, menyesal alias 'tidak berdaya'. Sudah tak ada kekuatan dan selera untuk menghakimi atau menghajar Tuan Abizar lagi. Takjub untukmu, Tuan. Anda cerdas sekali mempermainkan ayah sendiri. "Tidak baik semenjak kamu menalak Ulfa, dan lagi-lagi menolak wanita yang akan dinikahkan denganmu. Setidaknya, Abizar. Hargai sedikit keluarga kita." "Aku akan balik menghargai, jika kalian menghargai keputusanku ... yang menolak pernikahan ini." Tuan Abizar tersenyum. Yang jujur saja akan terlihat menjengkelkan di mata ayah dan saudara-saudaranya yang lain yang ikut serta. Hanya saja, senyumannya terlihat keren di mataku. "Setelah ini, akan diadakan pertemuan." Ayahnya Tuan Abizar yang bernama Omar tersebut berkata, dia terlihat berusaha mengontrol diri karena menyadari—anaknya lebih menjengkelkan daripada terakhir kali mereka bertemu. "Terima kehadiran mereka dengan baik, Abizar. Calon istrimu dan keluarganya jauh-jauh dari Arab Saudi ke Indonesia untuk menemui dan memperkenalkan anak gadis mereka padamu. Kali ini saja, jangan membuat kerusuhan di antara pertemuan keluarga. Maupun dari perkataanmu, terlebih tindakanmu." Saat itu juga wajah Tuan Abizar pias. Mobil ke selanjutnya memasuki pekarangan rumahnya. Sepasang suami-istri yang sudah menua turun, bersama anak gadis mereka. Aku terpana melihat bidadari yang mereka datangkan. Tuan Abizar seperti kesal saat melihatku menganga. Seharusnya Tuan Abizar ikut terpesona! Seorang bidadari—maksudku gadis, terlihat begitu anggun saat menurunkan diri dari mobil. Pahatan wajahnya begitu sempurna, dengan lengkungan mata indah dan bulu-bulu lentik yang tumbuh dan membingkai sepasang matanya. Hasil curi dengar sebelumnya, dia keluarga yang nasabnya terhubung dengan ulama terkenal di masa lampau. Agak aneh, saat mendapatinya tidak memakai hijab. Bukan berarti tidak ada, mungkin selama ini sudah banyak pihak yang menjudgenya seperti itu. Salam dikatakan secara sahut-sahutan. Aku memundurkan langkah, ingin menjauh dari mereka. Tuan Abizar mendelik melihat langkahku yang menjauhi, dia menggusar rambutnya. Sepertinya untuk ke berikutnya, suasana hati Tuan Abizar tidak akan pernah terasa damai. >><< Sebuah pertemuan keluarga, mereka melakukan pengenalan. Dari sudut ruangan yang amat berjauhan, aku memerhatikan mereka, terutama Tuan Abizar yang raut wajahnya tidak pernah ceria. Seharusnya dia senang satu ruangan dengan gadis cantik. Dari percakapan tersebut, saat kedua orang tua gadis itu berusaha mengenalkan anak gadisnya pada Tuan Abizar terutama dari nama panjangnya, proses studinya, pekerjaannya, dan semuanya. Saat keluarga pihak wanita terlalu bersemangat menyebutkan kelebihan anak mereka, Tuan Abizar nyaris tidak mendengarkan. Dan tidak pernah membuka mulut, untuk balik 'mempromosikan' diri. Kelakuan itu seperti dimaklumi oleh mereka. Sedangkan aku hanya bisa menerka-nerka apa yang mereka bahas. "Bagaimana dengan pernikahan? Apakah kalian butuh waktu untuk saling mengenal, jika begitu, Layla harus lebih lama menetap di Indonesia." Suara calon mertuanya, Tuan Abizar tidak membalas. "Mungkin mereka butuh waktu, masih harus melakukan proses taaruf agar di kedepannya bisa lebih langgeng." Tuan Omar berkata ramah dan penuh keyakinan. Kata 'langgeng' membuat mereka satu keluarga meringis diam-diam, Tuan Omar, Tuan Akmal, saudara-saudaranya dan termasuk aku—jika aku mengerti arti dari bahasa mereka. "Kalau begitu, kami akan mencari penginapan lain atau rumah sewa yang berdekatan dengan rumah ini. Jika ditempatkan dalam satu rumah, sekalipun beda bangunan tentu saja sekalipun tidak berbuat serong bisa jadi mendatangkan fitnah. Semoga proses pengenalan ini tidak berlangsung lama, karena kami sekeluarga tidak sabar untuk menjadikan Abizar sebagai menantu kami, suami dari satu-satunya anak gadis kami—" "Saya mohon," Tuan Abizar menyela sembarangan. "Dengan segenap jiwa kepada kalian." Satu ruangan tertuju ke arahnya, termasuk aku. Yang ingin tahu apa yang terjadi. "Pulanglah ke Arab Saudi, bawa anak gadis kalian kembali. Saya bukan tidak menghargai, tapi saya tidak mau anak gadis kalian yang berharga mendapatkan lelaki seperti saya. Kalian tentu saja tahu, reputasi saya selama ini sudah buruk. Jadi jauhkan anak kalian dari saya, saya mohon ... kembalilah ke Arab Saudi." Tuan Abizar menunduk, dia merendahkan diri dengan menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, bertekuk di depan kedua orang tua gadis itu termasuk sang gadis yang menatapnya penuh rasa kecewa. Tuan Omar seperti hendak menghajarnya, tapi selalu menjunjung tata-krama sehingga itulah selagi tamunya masih ada, Tuan Omar tidak akan marah sekarang, tapi mungkin nanti. "Terlebih Anda, Nona ...." Tuan Abizar menatap Layla. "Kembalilah ke Arab Saudi, jangan dambakan saya." "Abizar!" Tuan Omar yang kehilangan kendali membentak, "apa-apaan? Mana sopan-santunmu?" "Saya sudah menjunjung tinggi tingkat kesantunan saya, Abi." Tuan Abizar berkata rendah, sikap yang tidak pernah kulihat selama ini. Satu ruangan mulai riuh, terlebih saat Layla ikut menurunkan diri dari sofa, menirut Tuan Abizar wanita itu duduk di lantai, berhadapan dengan Tuan Abizar yang menundukkan kepala. Aku tahu isi hatinya berbeda dari kesantunan yang beliau perlihatkan, di dalam hati beliua menggerutu kenapa gadis itu harus ikut duduk di lantai dan menghadapnya. "Ada kesempatan untuk merubah reputasi Anda tersebut, Tuan Abizar ... setidaknya, kupikir pernikahan kita kelak ada hikmahnya, aku akan berusaha melengkapi apa yang kurang di matamu hingga banyak wanita kamu talak selama ini dalam waktu singkat ...." Nada suaranya begitu halus, seperti berempati kepada Tuan Abizar yang begitu merendah. Mungkin sifat merendah mendadak Tuan Abizar tersebut membuat hati wanita itu terketuk dan muncul tekad baru dalam dirinya, kalau dia bisa merubah Tuan Abizar menjadi lebih baik dan membuat Tuan Abizar memiliki alasan untuk mempertahankannya? Aku tidak menyalahkan rasa percaya diri setiap wanita yang merasa istimewa dengan berpikir kelak dia akan memiliki kemampuan untuk itu, aku hanya teringat dengan Nyonya Ulfa yang sehari sebelum pernikahan berpikir seperti tapi setelah sehari sesudah pernikahan kita tahu akhirnya seperti apa. "Saya mohon, kembalilah ke Arab Saudi .... Saya bukan calon suami yang baik." Tuan Abizar kembali berkata, mengabaikan kalimat sebelumnya. "Tuan, mungkin kita bisa menjalaninya terlebih dahulu kelak—" "Saya bilang, kembalilah ke ARAB SAUDI!" Tuan Abizar seperti kehilangan kesabaran, di depan wanita itu dia membentak. Napasnya terhembus kasar, wajah merendahnya berubah kesal. "Sekalipun saya memiliki kesempatan untuk merubah reputasi, yang menjadi masalahnya yang saya inginkan kalian enyah dan kembali ke rumah kalian. Jangan temui saya lagi." Saat wanita itu masuk bersimpuh di lantai, Tuan Abizar yang tidak mau mereka melakukan satu hal yang sama dalam bersamaan membangkitkan kedua tungkai kaki. Dia memunggungi wanita itu yang duduk di belakang kakinya. Suara Tuan Abizar kembali pelan, "saya mohon, kembalilah ke Arab Saudi ...." Entah kenapa, setiap orang bebal sehingga tidak langsung patuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN