POV Author
Mereka tidak mau mendengarkannya.
Hal itu yang membuat Abizar begitu kesal. Seharusnya Layla mendengarkannya, lalu membujuk kedua orangtuanya untuk pulang ke Arab Saudi. Padahal Abizar sudah terang-terangan, dia menolak pernikahan dan perjodohan ini! Dia tidak mau diganggu ataupun berurusan dengan mereka. Tapi apa? Mereka bebal. Tetap pada rencana pertama, terus melakukan pengenalan. Wanita itu bersama keluarganya menyewa sebuah rumah yang tidak berjauhan dari sini. Abizar geram setengah mati, mulai hari ini sampai mereka pergi, pasti dia akan diganggu setiap hari. Wanita itu pasti sering berkunjung dengan berbagai alasannya.
"Ada yang perlu saya buatkan, Tuan?"
Suara Mawar, berhasil menyejukkan hati Abizar yang sempat memanas. Abizar menghembuskan napas, lalu berkata. "Tak perlu buatkan apa-apa, cukup duduk di sini, temani aku."
Mawar menganggukkan kepala, mengambil kursi dan duduk di sebelah Abizar. Di mata Mawar Abizar terlihat begitu frustrasi, sebelah tangannya tidak berhenti mengurut kening dan pangkal hidung, helaan napasnya terdengar begitu berat.
"Apa salahnya menerima perempuan cantik itu, Tuan?"
Abizar menoleh geram, "tentu saja salah! Kamu tahu 'kan jika dia menjadi istriku nasib apa yang menantinya! Ayolah, Mawar apakah kamu tidak cemburu melihat aku akan dinikahkan dengan perempuan lain?" Abizar menatapnya penuh harap, berharap Mawar mengangguk tapi wanita itu malah diam, mengerjap cepat lalu tersenyum tanpa kata.
"Kamu benar-benar membuatku kesal," Abizar meringis. "Meskipun berbohong kenapa tidak iya 'kan saja, biar mood-ku membaik hari ini." Tangan besarnya mengacak rambut. "Argh, rasanya aku ingin meremukmu. Menyebalkan, dasar!"
Lelaki itu mengeluarkan diri dari ruangan. Mawar ditinggalkan sendiri, lalu diam-diam mengikuti langkah tuannya. Mulut Mawar melongo saat Abizar masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci diri dari dalam. "Tuan, apa yang Anda lakukan di kamar saya?" Mawar menjerit parau sambil menepuk pintu kayu.
"Numpang tidur!" Abizar menyahut parau.
"Anda bisa tidur di kamar pribadi Anda 'kan?"
"Nanti Abi mudah menemukanku, aku tahu dia akan marah-marah setelah pulang dari rumah sewa perempuan itu dan orang tuanya."
"Tuan—"
"Lagian ini 'kan kamarku, siapa bilang kamarmu? Karena kamu bekerja di sini, kupinjamkan untukmu."
Mawar bungkam karena disudutkan.
"Ck, ck, ck. Kamarmu berantakan sekali, Mawar."
Wajah Mawar memerah malu, "saya sibuk kemaren, Tuan! Bersih-bersih seluruh rumah atas suruhan Tuan Akmal dan harus mengurusi Anda mana ada waktu untuk merapikan kamar! Ini semua salah Anda kenapa tidak merekrut pembantu lain untuk membantu saya!"
"Satu lagi, kenapa kamu tidak memajang fotoku di dindingmu?" Abizar berdecak kecewa.
Pertanyaan Abizar membuat Mawar gemas, "untuk apa, Tuan?"
"Kamu hanya memajang fotomu dan keluargamu—tak ada fotoku di sini. Kamu lupa aku tuanmu? Ck, kamu malah memajang foto cowok lain! Siapa dia? Cowokmu di kampung? Kamu berani pacaran? Jangan memacari orang jika bekerja di rumahku!"
"Dia bukan pacar saya, Tuan!" Dari luar Mawar menjerit. Sedangkan Abizar yang katanya menumpang tidur semakin menjelajahi kamar Mawar. "Lalu siapa?" Suara Abizar terdengar ketus, dia menarik paksa foto seorang lelaki yang tertempel di dinding lalu merobek-robeknya.
"Mantan saya ...."
Abizar berdecak. Kenyataannya itu lebih buruk. "Kamu belum move on?"
"Setengah udah, setengah belum."
"Apa aku kurang tampan sehingga kamu belum sepenuhnya berpindah hati? Mantanmu itu, jujur saja jelek sekali."
"Jangan menjelekkan mantan saya! Dia tidak seburuk itu, Tuan ...." Suara melengking Mawar berusaha diubahnya dengan nada rendah. Lama-kelamaan, Abizar membuatnya semakin kesal. Sepertinya mood Abizar yang buruk hari ini membuat Abizar butuh pelampiasan agar emosinya teralihkan, yaitu mengomeli dan mengerjai Mawar.
"Tuan, jika Anda tidur di kamar saya ... saya tidur dimana?"
"Banyak kamar lain, hari ini tak bisa dibantah aku pinjam kamarmu. Atau kamu boleh memakai kamarku, agar kepergok keluargaku. Lalu mereka memfitnah macam-macam, karena malu mereka mengasingkanku, tidak menganggapku sebagai keluarga, aku terbebaskan dari jeratan mereka dan kita dinikahkan di tempat pengasingan, mereka juga tidak akan ikut campur dalam urusanku lagi karena namaku sudah dicoret dari daftar keluarga. Terdengar indah 'kan? Aku harap benar-benar terjadi." Abizar tersenyum setelah membeberkan khayalannya. Kini dia sudah memposisikan diri di atas kasur, merapikan bantal, memeluk guling dan bersiap tidur tapi Mawar di luar sana belum berhenti mengeluh.
"Tuan ... ayolah."
Abizar berdecak, "kamu mau tidur berdua di sini? Seranjang? Begitu?"
Akhirnya Mawar bungkam. Setelah wanita itu pergi, Abizar mulai terlelap.
Benar saja dugaan Abizar, Omar mencarinya di kamarnya. Mawar yang melewati ayahnya Abizar sedikit merinding melihat raut geram lelaki tua itu. Tidak menemukan sang anak sulung di dalam kamarnya, Omar membanting pintu dan keluar dari sana. Melihat Mawar dia bertanya, "ayn Abizar—dimana Abizar?" Mawar yang tidak mengerti hanya menggeleng-gelengkan kepala. Omar mendengus, lalu pergi lagi menjelajahi rumah untuk mencari Abizar.
Entah apa nasib Abizar jika dia ditemukan, mungkin dihajar. Paling ringan yaitu ditampar tapi tidak mungkin akan seringan itu. Setidaknya sebagai seorang Ayah Omar harus tegas, tapi Abizar selalu berhasil membuatnya luluh. Seperti mengungkit almarhumah ibunya atau mengalihkan pembicaraan ke masa lalu, membuat suasana hati Omar benar-benar berubah. Dari marah menjadi sedih atau menyesal.
Untuk beristirahat Mawar memilih kamar kecil yang paling ujung. Di sana ada kasur dan kamar mandi. Setelah mengambil pakaiannya di jemuran, Mawar membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian bersih. Mawar merapikan dan membersihkan kasur kecil tersebut yang cukup berdebu, lalu menaikinya. Menepuk-nepuknya sekali lagi dan membenarkan posisi kepalanya di bantal.
>><<
Subuh Mawar bangun, tidak makan semalam—karena Abizar tidak mengungkit soal makanan—tentu saja besoknya Mawar kelaparan. Setelah mandi dan salat—semenjak bekerja di rumah Abizar, Mawar selalu rutin salat lima waktu sesuai peraturan—Mawar bersiap hendak membuat sarapan. Mawar tidak akan hanya masak karena Abizar menyuruh, dia harus memasak tanpa diperintah rutin dari pagi, siang dan malam karena di rumah ini bukan hanya dia berdua saja dengan Abizar, ada Omar, Akmal dan saudara-saudara Abizar yang lain.
Setelah memutar kuncinya, Mawar kesusahan mendorong pintu. Dia mengernyit, seperti ada penghalang besar di luar sana. Sekuat tenaga Mawar berusaha mendorong pintunya lagi, lalu terdengar suara tubuh tergeletak ke lantai. Setelah berhasil membuka pintu kamarnya, Mawar terperanjat mendapati Abizar yang tertidur di depan pintu kamar kecil yang dia tempati. Semalam Abizar terbangun tengah malam dan berkeliling rumah untuk mencari di mana Mawar tidur. Setelah mendapatkannya, Abizar bersender di pintu tersebut lalu mulai terlelap. Setelah dimarahi Omar habis-habisan sempat dihajar juga Abizar tidak bisa tidur, tapi setelah mendapatkan lokasi di mana Mawar berada dan tidur di depan pintunya, Abizar berhasil melelapkan diri.
Wajah Abizar sedikit pucat, berikut bibirnya. Akibat tidur di ruangan terbuka tanpa bantal ataupun selimut. Mawar menatapnya teduh, takut Abizar demam. Dirabanya dahi Abizar, ternyata sedikit panas. Mawar ingin menggendong tubuh Abizar untuk menaikkannya ke atas kasur. Tentu saja mustahil, Mawar mengalah. Memilih membangunkan Abizar. Tepukan tangan Mawar di kedua pipi Abizar secara bersamaan, suara lembut Mawar memanggil. "Tuan, Tuan. Bangun Tuan. Anda belum salat Subuh, di sini juga dingin. Anda bisa demam." Mawar menyingkap kerah kemeja Abizar, ada memar di sela lehernya. Sepertinya bekas pukulan Omar saat menghajarnya. Mawar prihatin, tapi itulah tugas seorang Ayah, tegas pada anaknya yang kelewatan.
Sebelum Abizar bangun, Mawar penasaran. Berapa memar Abizar di sekujur tubuhnya? Mawar mencari-cari. Dibukanya beberapa kancing atas baju Abizar, mencari memar di sana. Mawar menemukannya, di kedua bahu Abizar terdapat beberapa memar. Apakah Omar menghajarnya habis-habisan? Mawar menyingkap kemeja Abizar mendapati perut sixpack Abizar terdapat satu memar yang lebih biru, sepertinya dia ditinju di perut? Karena ulah Mawar, kemeja Abizar sudah berantakan. Mawar menggulung kedua celana Abizar, untungnya tak ada memar di tungkai kaki besar lelaki itu.
Mawar hati-hati membalik tubuh Abizar, menyingkap punggungnya. Ternyata ada memar juga di sana. Mawar mengusapnya perlahan, sekalipun ini bentuk ketegasan seorang ayah, Mawar prihatin.
"Apa yang kamu lakukan?" Abizar bertanya bingung. Mulutnya menguap, ternyata lelaki itu sudah bangun. "Ingin menelanjangiku atau bagaimana? Kenapa kamu buka-buka, singkap-singkap pakaianku? Sembarangan nyentuh juga." Abizar membangkitkan tubuh, memperbaiki kemejanya yang berantakan. Lelaki itu menatap Mawar tajam, "kamu sengaja memancingku?" Saat menanyai Abizar memperbaiki gulungan celananya lagi. "Kamu pikir aku senang disentuh-sentuh, disingkap-singkap, dibuka-buka seperti itu?"
"Bukan begitu, Tuan ... aku hanya mengecek dan menghitung memar di tubuhmu saja—" Mawar terdiam saat mendapati tubuh Abizar gemetar hebat. Kenapa, apakah Tuan Abizar masih ketakutan karena Omar menghajarnya? Atau ...
"Lihat, gara-garakamu aku sampai gemetaran begini." Suara Abizar terdengar parau, tubuh dantangannya masih gemetar. Abizar tetap bisa merasakan tangan Mawar yangmenyentuh memarnya di berbagai tempat di tubuhnya, hal itu membuat Abizar gugupdan gemetar. "Sudahlah, aku mau salat. Oh ya, siapkan sarapan untuk keluargaku.Tak apa menggunakan makanan lokal, sekalian buat ayahku menangis karenamengingat masakan ibuku dulu." Abizar bangkit berdiri, pergi mencari sumber airdan berwudhu' lalu salat di masjid.