'Menurutku, Kau , Aku dan Tuhan tau. Kita sama-sama jatuh, jatuh dalam perasaan yang telah lama ada namun tak kita sadari ini.' -My Unknown Husband
oOo
"San, aku kemarin melihat katalog Kylie edisi terbaru, dan kurasa ada lip tint baru dan rasanya cukup cocok bila kita pakai" ujar Ckika seraya memperlihatkan layar ponselnya kepada sandra.
"God! Kau benar! Warnanya bagus, aku menyukainya. Hm..., tapi lip tint milikku kemarin belum habis" tukas Sandra membuat Chika memasang wajah lesunya
"Aku menyuruhmu untuk membelinya, supaya aku bisa memintanya untuk coba-coba justru kau tidak mau"
"Hush! Belilah sendiri dan jangan mengganggu alat make up ku!" Sandra lantas mengetikkan sesuatu di layar ponselnya yang berisi pesan kepada seseorang, namun Chika tak tahu itu siapa
"Siapa, San?" tanya Chika kemudian
"Brian...." ujar Sandra santai
"Are you sure? Then, setelah beberapa abad kalian kenal, baru saat ini kalian dekat?" Sandra mengangguk santai kemudian Chika masih dengan ekspressi shocknya lantas mengetikkan sesuatu di layar ponselnya
Chika N. Horiston
Kakakku tersayang, teman-temanmu sungguh meracuni habitat sahabatku
Chiko Narendra H.
Slow, jangan salahkan aku. Hidup mereka, mereka yang mengatur
Chika N. Horiston
Jerk!
"San, you like Brian right?" Sandra ngangkat bahunya aja, entahlah mungkin tidak
"Entahlah, bahkan aku tak tahu jika harus memilih antara Brian dan Nichol, di satu sisi Brian adalah laki-laki yang sangat romantis, sedangkan Nichol adalah laki-laki yang sangat perhatian" Ah, hati yang terbagi menjadi dua. Sangat klise.
"San, menurutku romantis bukan menjadi jaminan bahwa dia akan menjadi seseorang yang perhatian, dan menurutku seseorang yang sangat perhatian itu mungkin akan menjadi romantis pada saatnya. Percayalah denganku" Chika merasa bahwa hal yang diucapkannya itu memang benar adanya. Lagipula ia merasa bahwa Deldian seperti itu, sangat perhatian dan bahkan terkadang menjadi laki-laki sangat romantis yang diidamkan para pembaca wattpad
Dan setelah bercerita selama kurang lebih beberapa abad, akhirnya bel masuk yang tidak ditunggu itu berbunyi, menyebabkan telinga para pendengarnya seketika berfungsi dengan perintah untuk masuk ke kelas masing-masing
"San, aku lupa tidak membawa buku catatan matematika, ah! Kuara aku akan kena hukuman" ah, aku benar-benar lupa. Sial, mau lulus saja pakai dihukum dulu
"Selamat pagi anak-anak, kalian ingat perjanjian minggu lalu. Saya akan meminta catatan kalian untuk dikumpulkan. Bagi yang tidak membawa, kalian tahu kan jika pintu keluar di sebelah sana" sialan. I'm dead
oOo
Chika
Ya, seperti ini lah. Aku harus dikeluarkan dari kelas. Dan tidak mungkin aku harus duduk di lorong. Dan selanjutnya akupun mulai berjalan menuju kursi di taman belakang sekolah. Sepertinya aku harus disini sampai bel istirahat. Aku ingin ke kantin sebenarnya, hanya saja CCTV kantin itu akan membuat guru BK sekolahku mendatangiku
"Dihukum juga?" tiba-tiba seorang laki-laki menghampiriku. Penampilannya sedikit acak-acakan
"Kau sendiri?" tanyaku yang dia jawab dengan kekehan pelan
"Aku sih iya. Catatan biologiku tertinggal di apartemen" Yah, ternyata anak IPA. Aku santai saja, karena aku anak IPS dan aku tidak peduli dengan pelajaranku.
"Kalau Kau?" Lanjutnya
"Aku sih dihukum kerena lupa membawa catatan matematika. Yah karena tadi aku memang bangun terlambat" aku lantas duduk dibawah, di rerumputan.
"Kenapa bisa sama? Sama-sama tidak membawa catatan" laki-laki itu yang tadinya berdiri tiba-tiba duduk disampingku juga. Entah apa maksudnya yang jelas dia tersenyum manis ke arah ku
"Aku Gilang. Kau siapa?" ujarnya seraya menyodorkan tangan kanannya ke arahku
"Aku Chika" jawabku singkat tanpa membalas uluran tangannya.
"Sepertinya aku sering melihatmu di kolam renang sekolah" yah, benar itu aku bodoh
"Kau, tahu darimana?" tanyaku saking penasarannya
"Aku sering berada di tribun paling atas dan pojok, sering melihatmu berenang juga. Masuk ke kolam renang dengan mengendap-endap seperti pencuri, mengganti pakaian di ruang ganti dan kembali dengan swimsuit yang sangat sexy?" what the f**k?! Dia mengintipku atau apa?!
"Kenapa kau di tribun?"
"Menenangkan diri" ujarnya singkat lalu Gilang bangkit dan membersihkan bagian celananya yang kotor
"Aku pergi dulu sebelum kau marah padaku karena mengatakan bokongmu sangat indah jika memakai swimsuit berwarna hitam seperti biasanya" ujarnya kemudian berjalan hingga hilang ditelan tikungan.
oOo
"Cha, ada yang mencarimu" ujar Chiko seraya cekikikan memperhatikan Chika.
"Siapa memangnya? Hei, kenapa kau terkekeh seperti itu?" Chika lantas berlalu keluar dari kamarnya dan keluar rumah seketika mendapati mobil Range Cover berwarna putih. Namun saat ia menengok ke seluruh sudut halamannya itu ia tidak menemukan sesosok orangpun
"DOR!"
Chika kaget dan akhirnya berbalik hingga ia mendapati sosok Deldian dengan baju casualnya ditambah senyumnya yang mengembang. Chika hanya menatap Deldian dengan tatapan terkejut namun terpaku karena ketampanan Deldian. Mungkin baginya, hati Deldian seperti apapun rupanya itu memang ditakdirkan untuk Chika dan wajah tampan Deldian hanyalah bonus dari tuhan untuknya
"Kenapa kau kesini malam-malam begini?" tanya Chika dengan dahi berkerutnya
"Aku ingin berkencan denganmu" tanya Deldian dengan wajah berseri-seri seraya berharap Chika akan setuju dengan hal itu
"Oke, tapi aku ganti baju terlebih dahulu" senyum Deldian mengembang lalu mengangguk dan membiarkan Chika berganti kostum
"Cie...Mau kemana kau?" dengan senyum lebarnya Chiko berada di depan Chika dengan wajah jahil ala-ala kakak laki-laki
"Mau pergi dengan Deldian?" ucap Chika dengan sengitnya
"Ekhem, kalian berpacaran?" wajah Chiko kali ini benar-benar menyebalkan
"Shut f**k up!" Chika lantas melangkahkan kakinya menuju Kamar tercintanya dan tak memedulikan Chiko yang terus saja mengejek mereka [Read : Chika ft. Deldian]
oOo
Chika
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Bagaimana aku tidak kesal jika kakak ku Chiko mengetahui jika adiknya berpacaran dengan sahabatnya sendiri. Aku kesal jika harus menerima ejekan dari Chiko
"Kau bilang apa kepada kak Chiko?" aku melirik Deldian dengan wajah marah dan sengit.
"Aku tak bilang apa-apa" yah, jawabnya santai. Aku tahu jika Deldian tidak akan mengatakan sesuatu ke kak Chiko. Cause, you know lah jika pacaran itu dibangun karena dasar kepercayaan, so I should belive Deldian right?
"Baiklah. Kita akan kemana?" tanyaku selanjutnya
"Makan malam di café baru, makanannya sangat lezat, bahkan kau pasti akan tergiur hanya dengan melihat menunya" ujarnya membuat ku mengangguk. Entahlah, aku sedang capek mungkin sampai Deldian daritadi senyum saja melihatku yang sedang cemberut. Bdmd.
"Jangan cemberut dong" Katanya kemudian yang membuatku menengok ke arahnya
"Baiklah Mr.Zanquen" aku lantas melempar senyum ke arahnya lalu menghadap ke depan dan-cemberut lagi
"Memangnya kenapa jika hubungan kita dipublikasikan?" wait, what?
"Dipublikasikan?" maksudnya apa coba
"Iya, maksud ku. Aku memberitahu Chiko supaya direstui jika aku berpacaran denganmu, dan memberi tahu teman-teman ku kalau aku bangga memilikimu" ujarnya yang membuat dahiku berkerut seketika
"Apakah itu sangat penting? Menurutku Relationship itu tak perlu disebar-sebarkan nanti kalau akhirnya tidak bersama, kau akan malu. Cukup aku, kau dan tuhan yang tau" ucapan ku quotes? Lah memang begini kenyataannya, aku tak se-menye-menye itu untuk mengumumkan ke seluruh dunia kalau Deldian itu milik ku atau sebaliknya.
Cinta nggak harus dipublikasikan bukan?