'Tuhan tau, jika malaikatku datang, aku akan baik-baik saja. Jika kau selalu ada di sisiku, aku akan merasa terlindungi, aman di dadamu, dalam dekapanmu' -My Unknown Husband
oOo
"Mau makan apa?" Deldian mengarahkan pertanyaan itu kepada Chika yang sedari tadi hanya membolak-balikkan menu. Lebih tepatnya ia sedang bingung, pasalnya semua menu yang ada di café ini nampak menggiurkan dengan adanya tulisan 'Keju' di setiap menu. Namun ia masih punya harga diri. Bagaimana jika laki-laki di depannya yang notabenenya adalah pacarnya mengetahui bahwa ia sangat rakus, ewh, sungguh Chika tak dapat memikirkannya hingga ia memutuskan
"Mash potato with mozarella cheese, minumnya Caramel machiatto satu. Kau?" Deldian akhirnya mengatakan apa yang hendak ia pesan, setelahnya Chika memutuskan
Ini akan menjadi café nongkrong kedua ku dengan Sandra
Chika dan Sandra sangat menyukai makanan berbau Keju, layaknya jerry yang sangat fanatik terhadap keju. Keju favorit Chika adalah mozarella, sedangkan keju favorit Sandra adalah keju Kraftkar. Cheeselovers.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Deldian. Yang ditepuk itupun kaget dan segera memberikan reflek untuk menengok ke belakang. Hingga Deldian mendapati perempuan cantik dengan rambut curly serta memakai dress biru muda itu membuat Deldian kaget
"Kayla?" yang ditanya itu hanya mengangguk lalu tersenyum
"Kukira aku salah orang, ternyata benar. Apa kabar?" yang disebut Kayla itupun langsung mengambil kursi di dekat Deldian
"Baik, Kau.....sendirian?" Kayla hanya mengangguk sambil tersenyum. Tau bagaimana Chika sekarang?
Chika hanya menatap perempuan yang sedang berbincang dengan Deldian itu dengan mata menyipitnya, gelagat perempuan di depannya itu membuat Chika curiga, siapa dia? Ataukah gebetan Deldian? Namun Chika rasa tidak mungkin, karena ia percaya pada Deldian hingga hatinya mulai memanas ketika mengetahui tangan Kayla yang sedang menangkup pipi Deldian
Dengan marahnya, Chika sedikit menggebrak meja hingga membuat Kayla menengok ke arahnya.
"Eh? Kau, dengan adikmu?" Kayla langsung menyodorkan tangannya di depan Chika yang bingung setengah mati dengan ucapan Kayla. Apa sebegitu lucu-nya wajah Chika hingga ia disebut adik Deldian yang notabenenya adalah pacarnya sendiri?
"Aku Kayla Adhara, mantan pacarnya kakakmu" ujarnya dengan sikap sok manis, menurut Chika
Dengan hati yang sudah dipenuhi devil itu Chika segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar café meninggalkan Kayla dan Deldian. Entah Deldian mengejarnya atau tidak, ia tidak peduli, yang jelas Chika ingin meninggalkan tempat laknat itu
Hingga tak terasa bahwa ia berhenti di sebuah halte bus di pinggir jalan yang sudah sepi. Entah kenapa hatinya begitu sakit, mungkin memang benar, dia dan Deldian itu tidak cocok karena umur mereka yang hanya terpaut dua tahun saja. Salah kah Chika?
"Hm...Malam" suara berat itu ia dengar dari seseorang yang sedang bersandar di tiang halte. Bau rokok menyengat hidung Chika yang sangat peka itu. Bau itu berasal dari pria gendut dan kedua temannya yang nampaknya sedang mencoba mengganggu Chika
"Kau sendirian? Mau ikut bersamaku di apartemen?" salah satu pria itu segera duduk di samping Chika dan hendak merengkuh pundak Chika namun ditepisnya.
"Tidak perlu malu-malu lah, Om punya uang banyak untukmu" ujar salah satunya yang segera duduk di sisi kiri Chika. Sekarang ia terjepit antara du pria gila dan satu pria yang tengah merokok
Tiba-tiba saja pria yang ada di sebelah kanannya itu menyentuh lengannya dan dengan refleknya Chika bergerak-gerak
"Lepaskan!" teriaknya
"Tenang saja, om tidak akan menyakitimu" lalu Chika diangkat dan digiring bersama
"Lepas!" Chika tak memiliki daya apapun saat ini. Ia terlalu lelah untuk hari ini, hingga ia mendengar suara
BUGH!
Satu pukulan dilayangkan pada seorang yang mmegang lengan sebelah kanan Chika, selanjutnya pukulan itu dilayangkan pada pria selanjutnya dan selanjutnya hingga terjadi baku hantam antara seseorang yang mengenakan helm fullface itu dengan tiga pria yang tadi menggodanya
Namun nampaknya tiga pria itu terlalu lambat untuk menangkis pukulan cepat dari seseorang yang mengenakan helm fullface itu hingga membuat ketiganya lari terbirit-b***t. Chika masih mematung memperhatikan seseorang yang mengenakan helm fullface itu
Dengan tangannya yang sedikit membiru itu, orang itu membuka helmnya dan menampakkan wajah yang sempat ia kenali
"Kau tidak apa-apa?" suara bariton yang ia kenal
"Gilang?" sahut Chika dengan wajah tak percaya
"Kuulangi, kau tidak apa-apa?" Chika dengan raut wajah yang masih setengah takut itupun hanya mengangguk
"Kenapa kau malam-malam jalan sendirian? Tidakkah kau tau bahwa diluar itu sangat berbahaya?" tanya Gilang lalu mengode Chika untuk duduk di bangku halte
"Aku...ah, ceritanya sangat panjang dan aku sedang tidak mood untuk menceritakannya" tutur Chika membuat dahi Gilang berkerut.
"Mau kuantar pulang?" tanya Gilang setelahnya mendapat gelengan dari Chika
"Yakin tak mau? Yasudah kalau begitu aku pulang dulu"
"CHIKA!" ia mendengar suara Deldian yang memanggilnya dari kejauhan
"Aku ikut denganmu, antar aku pulang" kemudian Gilang mengangguk lalu menyodorkan helm kepada Chika.
"CHIKA!" teriak Deldian ketika Chika telah pergi dibonceng motor oleh seseorang yang tidak ia kenal
"Sial!"
oOo
Chika
"Thanks sudah mengantarku pulang" Gilang mengangguk lalu memakai kembali helmnya dan pergi entah kemana
Aku lelah, kau tau rasanya tadi? Bertemu mantan dan dengan romantisnya mereka mengabaikanku dan bahkan menganggapku sebagai adik dari pacarku sendiri. Rasanya aku ingin memakan Deldian dan juga mantan pacarnya itu. Aku muak
Dan setelahnya aku justru diganggu dengan pria-pria m***m diluar sana yang mencari jalangnya. Aku tak tahu jadinya bila tak ada gilang tadi
Tiba-tiba aja ponselku berbunyi dan itu...as you know
Deldian Zanquen is calling......
Kenapa lagi dia meneleponku? Ku reject saja. Ga penting
Setelahnya ponselku berbunyi lagi dan aku lantas mengangktnya
"JANGAN MENGGANGGUKU LAGI!" teriak ku kemudian dengan keras, berharap agar telinga Deldian lepas setelah mendengarnya
"Okay, aku tak akan mengganggumu lagi. Aku hanya ingin mengatakan selamat malam saja" Kata Deldian.
Eh? WAIT!
Itu bukan suara Deldian. Melainkan,
"Kau Gilang ya?" tanya ku yang memang sempat mengingat suara bariton gilang yang ngebas itu.
"Iya, sorry kalau aku menganggu mu, aku akan menutup sambungannya. Selamat malam" eh? Aku salah orang
"Eh tidak kok, maaf" Gilang justru terkekeh di ujung sana. Loh? Ada yang lucu ya?
"Tak apa. Ku tutup telponnya. Goodnight" lanjunya lalu panggilan itu berakhir dengan ditambah aku yang malu karena berteriak pada gilang yang bahkan sudah menjadi penolong ku
Sialan.
oOo
"Nak, Papi kira ini adalah keputusan yang benar menurut papi. Lihat kamu, sudah mulai dewasa, dan papa kita kami menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat papi" tukas seorang ayah kepada anaknya itu
"Pi, tapi itu bukan pilihan saya pi, saya tidak tau bagaimana dan siapa yang akan menjadi istri saya nantinya. Entahlah pi, saya bingung" jawab sang anak kemudian membuat ayahnya itu geleng-geleng kepala
"Papi dan Mommy sudah memastikan kalau calon istri kamu ini benar-benar sempurna. Papi sudah bertemu sendiri dengan dia. Berikan kami kebahagiaan kecil, nak" ibunya yang berada di sebelah kanan ayahnya itupun hanya bisa mengangguk-angguk pertanda setuju dengan ucapan suaminya itu
"Mommy yakin, kamu pasti suka dengannya" Ujar ibunya yang membuat sang anak menghela nafas panjangnya dan akhirnya
"Baiklah, tapi ini untuk kebaikan Mommy dan Papi. Bukan karena saya ingin" Ujar sang anak itu lalu mengusap kasar wajahnya lalu beranjak menuju kamarnya
"Mommy tau, cepat atau lambat kamu nanti akan berbahagia dengan perjodohan ini" ujar ibunya itu membuatnya mengerang
"Tidak akan" bisiknya pelan