'Seandainya ia tau, aku ingin mengatakan bahwa, aku akan berjalan maju. Tak sendiri, tapi bersamamu, dibelakangmu agar kau tarik aku, disampingmu agar kau genggam tanganku, di depanmu agar kau gendong untuk menuju tujuku'-My Unknown Husband
oOo
"Akhirnya, ruangan disana benar-benar laknat untuk dimasuki" Ujar Chika setelah keluar dari ruang Try Out dengan mata pelajaran terakhir, Matematika. Pelajaran yang paling dibencinya setelah ekonomi. Yah menurutnya sih semua pelajaran itu tidak akan membuatnya pintar, justru malah membuatnya pusing.
Chika
Yah, ruangan ujian itu begitu laknat untuk kumasuki dengan otakku yang tak begitu pintar ini. Aku sangat pusing hanya dengan melihat soal-soal bertebaran di kertas itu menghantuiku. Aku muak dengan sekolah ini
Aku melihat sandra yang memang sudah dari tadi keluar dari ruangannya, aku tau karena ruangan kami bersebelahan dan Sandra sangatlah jahil kau tau, dia menengok-nengok ke kelasku tepat di tempat dudukku yang dekat dengan jendela lalu membisikkan jawaban-jawaban yang berpotensi untuk kutulis sampai kami diperhatikan oleh pengawasnya. Gila bukan?
Aku bagaimana? Ya aku pura-pura diam tak mengenal Sandra, tapi tetap mendengarkan jawabannya Sandra. Lumayan. Sandra pintar, tapi tidak sombong
"San!" Sandra yang akhirnya ku panggil itupun mengahadap ke arahku dengan alis yang terangkat satu.
"Bodoh! Pengawas itu selalu melihatku karena kelakuanmu!" ucapanku justru membuahi tawa bahagia dari Sandra. Yang lucu apa? Aku tegang ketika pengawas melihat ke arahku, Sandra justru tertawa
"Aku hanya kasihan padamu, bodoh. Kau tau, wajahmu sudah pucat pasi ketika tidak dapat menyelesaikan soal-soal itu. Padahal kurasa soal yang ini lebih mudah dari Try out sebelumnya" Mudah? Dengan otakku yang sperti ini kurasa tidak. Tidak. Tidak. Tidak.
"Mudah? Huh, seandainya saja aku disuruh memilih antara 'Try' dengan 'Out', aku sudah pasti memilih O.U.T" ucap ku kemudian dihadiahi tepukan pada pundakku
"Santai aja, ini kan try out terakhir. Satu minggu lagi National exam, persiapkan dirimu untuk Mobil dan hadiah besar dari Mr. Narendra" ucapan Sandra membuatku ingat bahwa tujuan dari semua ini adalah itu
"Aku hampir melupakan bagian istimewanya" Aku tersenyum kecil ke arah Sandra kemudian ponselku berbunyi dan memperlihatkan nama yang tak asing bagiku akhir-akhir ini
Deldian Zanquen
Aku sudah di depan gerbang
Chika N. Horiston
I'm coming
Begitulah, Deldian. Mungkin kalian tak akan pernah tau kalau setelah kejadian di café itu Deldian datang ke rumahku pagi-pagi buta. Dengan seratus kelopak mawar yang berada di tangannya itu bahkan membuatku terharu. Uuuh, ternyata dia bisa juga menjadi romantis. Mulai saat itu hubungan kami membaik, sangat baik menurutku.
"San, Aku akan pulang duluan" ucapku buru-buru, karena aku yakin Deldian sudah menunggu lama di depan gerbang. Sandra lantas mengangguk menanggapi pernyataanku dan akhirnya aku berlari ke arah tangga untuk turun ke lantai satu namun
BRUK!
Kebiasaan! Slalu begitu-slalu begitu. Tiap kali turun dari tangga dengan melebihi kecepatan pada umumnya, aku selalu menabrak orang. Dulu aku juga pernah menabrak guru bimbingan konseling, aku langsung lari saja. Tapi kali ini aku benar-benar menabrak siswa
"Hei, what's going on?" ucapan orang itu membuat ku menengadahkan kepala
"Kau lagi" tukas ku setelahnya aku berdiri dan merapikan pakaianku yang berantakan
"Kenapa kau berlari-larian seperti itu?" Ucap Gilang membuat kepala ku menggeleng sambil tersenyum
"Aku duluan ya!" lanjut ku lalu—lari lagi
Sesampainya di gerbang, aku melihat Deldian yang sedang di kerumuni oleh beberapa perempuan, lebih tepatnya para Adik-adik kelasku. Aku tahu Deldian memang tampan, dan tandai, dia juga suka tebar pesona tidak jelas. Aku dengan santainya menghampiri Deldian dan langsung duduk di motor Deldian.
Seketika itu juga para adik-adik kelas tak tahu diri itu menyingkir karena melihat seniornya, yah bukan bermaksud mengatasnamakan 'Senioritas' tapi Deldian kan emang pacar ku, aku berhak bukan?
Deldian lantas memakai Helm fullfacenya setelah menyodorkan helm ke arah ku. Dia langsung tancap gas dan berjalan menjauhi kerumunan tadi. Langsung saja kupukul kepalaya dibalik helm sialan ini.
"Dasar playboy!"
oOo
"Aku masih memiliki waktu satu hari, SEMANGAAATTT!" teriakku sambil memasang slayer di kepala, supaya aku semangat untuk belajar. Kau tahu? Besok aku akan menghadapi UN. Ujian Nasional, yang benar-benar membuatku belajar mati-matian supaya mendapat hadiah dari papa
"Honey?" aku mendengar suara mama sambil mengetuk pintu kamar ku
"Iya, Ma. Masuk saja, aku tak menguncinya" mama lantas masuk dengan membawa Sandwich keju dan s**u cokelat. Entahlah, mama sedang baik.
"Still studying, honey?" tanyanya membuat ku mengangguk semangat
"Yes mam, you know how much I want that prize from papa....." Mama lantas tersenyum lembut dan mengusap kepala ku
"You know, if you study hard just for that prize you'll fail. But, if you study because of yourself needed, you'll get nothing" yah, ceramah lagi deh mama. "Mama yakin, kalo kamu belajar dengan giat, nilai tinggi itu akan kamu dapatkan kok, dan hadiah dari papa itu hanya bonus saja"
Aku lantas mengangguk dengan senangnya karena mendapat semangat dari mama. "Baiklah mam" singkat ku lalu mama keluar dari ruanganku
Dari tadi aku mematikan ponselku karena aku dan Deldian sudah membuat perjanjian kalau UN kita tidak akan chat ataupun telpon. Karena Deldian tau kalau aku bodoh tingkat dewa.
Duh, perut ku juga keroncongan. Aku langsung saja memakan Sandwich dan juga s**u Cokelat yang nampak lezat dimakan itu. Setelah ini private study ke Sandra
oOo
"Chik, Ganbatte! I know you can" ucapan semangat dari Sandra itu membuat ku semakin bersemangat mengerjakan Ujian Nasional di hari terakhir ini dengan khidmat. Mata pelajarannya adalah Ekonomi.
Pelajaran UN yang memang ku pilih karena aku mulai menyukai matematika, dan kurasa Ekonomi ada hubungannya juga dengan matematika, so, I choose that.
Menit-menit berlalu, soal ini seolah-olah nampak mudah sekarang. Entahlah, karena aku memang sering berlatih atau karena aku sudah menghafal rumus-rumusnya. Yah begini, lima belas menit terakhir dan akhirnya aku selelsai dengan soal Ekonomi.
Padahal dulu aku sangat membencinya. Sangat. Dulu
"San, bagaimana?"
"Bisa!" singkat Sandra sambil melompat-lompat kegirangan dan memelukku dengan kencang
"Aku senang!" lha gila
"Ya tapi kau membuatku sulit bergerak dan bernafas, Ms. Hilton" ucapan ku disela tubuh ku yang di peluk Sandra dengan kuatnya.
"Eh? Sorry" ucapannya membuat ku mengangguk dan akhirnya kami pulang bersama. Aku memang tak meminta Deldian menjemputku karena Sandra membawa mobilnya. Kami langsung masuk ke dalam mobil dan akhirnya tancap gas menuju mall untuk belanja.
"San, kita-kira kau ingin masuk ke universitas mana?" tanya ku membuat Sandra menengok ke arah wajahku. Dia lantas mengangkat bahu
"Entahlah, mungkin aku akan ke Harvard" yah benar kan dugaan ku.
"Harvard? Kau sedang berada di ujung barat dan kau akan berkuliah di ujung timur sana?! Kau ingin meninggalkanku?" Sandra dengan santainya mengangguk
"Aku tak memiliki teman lain selain dirimu, jangan tinggalkan aku Ms. Hilton.....please" memohonlah...memohonlah...memohonlah. Mungkin itu kata batin Sandra kepadaku saat ini.
"You'll have a lot of friends here, aku juga tak akan melupakan Seattle. Bagaimanapun juga aku dibesarkan disini. Dan sayangnya keluargaku harus kembali kerumah nenekku di Cambridge. Lagipula kita juga bisa video call bersama jika kau merindukanku" ucapan Sandra memang benar juga sih, persahabatan harusnya tak lekang oleh jarak dan waktu
"Baiklah, aku juga ingin melihatmu menjadi CEO wanita yang memegang seluruh perusahaan mode di dunia" pasrahku dan akhirnya Sandra mengangguk
"Kau... jadi mengambil management?" tanyanya sambil tersyum ria ke arahku.
Management? Papa yang menyuruhku untuk masuk ke Jurusan mangement, karena papa pasti akan memintaku untuk mengurus perusahaanku disamping kakakku sebagai CEO-nya. Yah, perusahaan keluargaku memegang seluruh resort dan hotel yang berpusat di Seattle
"Iya, papa menyuruhku untuk mengurus anak perusahaannya nanti, mungkin. Lagipula ada kakakku yang super pintar itu. Aku hanya menurut saja soal jurusan, lagipula apa yang harus aku resahkan jika papaku memilihkan universitas yang terbaik untukku" ucap ku setelahnya membuat Sandra tersenyum kecil.
"Tak apa, kau tenang saja. Aku jamin orangtuamu selalu memberikanmu pilihan terbaik yang pernah ada" Sandra benar. Mungkin ini saatnya aku mengikuti kemauan papa dan mama, karena aku sadar kalau selama ini aku selalu membangkang dan tidak pernah menurut apa kata mereka.
Mungkin ini saatnya mengubah segalanya