bc

KENAPA KALAU AKU GAK BISA BILANG R

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
family
kickass heroine
tragedy
city
like
intro-logo
Uraian

Orang orang mengejekku dengan sebutan cedal atau celat dimana penyebutan itu untuk orang yang tidak bisa bilang R yah beginilah nasibku sebari- hari gadis celat yang tidak bisa bilang R, aku ngomong huruf R jadi L seperti Ulal melingkal di atas pagal wak umal"Aaaaaakkkh kapan penderitaan ini berakhir ...kenapa kalau aku gak bisa bilang R?"

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Rintian Tangisan
Hujan sangat lebat membuatku sangat kesal aku terus berlari mencari tempat teduh sayangnya tidak ada tempat yang membuat aku tidak kehujanan, akhirnya aku memutuskan tetap berlari menuju rumah dengan kondisi sudah terlanjut basah basahan.Ya rumahku sudah dekat sih sudah talang kabut untuk berteduh langsung hajar pulang. Nafasku hos hosan berlomba lomba mencari udara masuk ke hidungmu, dengan nafas mulai teratur aku memeras baju seragam sekolahku agar lantai rumah tidal terlalu badah dan becek. Langian aku jugs malas beratem dengan Ibu ku ada aja yang diomelinya. KLEK "Aku pulang!" ujarku meneteng sepatu serta tas sekolahku yang basah kuyup. "AKU SUDAH BILANG JANGAN PERGI KEKUAR LAGI HARUS BERAPA KALI AKU BILANG HAH!!!!" PRAAAANG "AKU BOSEN TERUS TERUSAN DI RUMAH KAMU GAK PERNA BUAT AKU SENANG AKU PENGEN KAYAK TEMAN- TEMANKU !!" "TAPI BISA IZIN KAN DENGANKU!" "KAU TAHU AKU NYESEL NIKAH SAMA MU ADAI AKU DENGAR KATA BAPAKKU MUNGKIN AKU GAK MUNGKIN HIDUP MELARAT DAN MISKIN DENGAN PRIA PENGANGURAN KAYAK KAMU!" PLAKKK Yah begitulah sehari hari di rumahku bisik kayak hutan, aku lewat acuh tak acuh di depan pintu kamar orang tuaku. Aku menulikan telinga ku dan lekas masuk ke dalam kamar bergegas berganti baju takut masuk angin. Setelah itu aku duduk dimeja belajarku ku padang sekilas foto kelurgaku, dulu waktu kecil kami kekurga sangat bahagiah namun makin aku dewasa keluarga kami tidak harmonis lagi semenjak ayah tidak bekerja lagi, ibu mulai banyak menuntut, bukan hanya itu aja hidupku mulai satu persatu banyak berubah dari teman- teman mulai membuly ku tidak bisa R dan banyak cemoh lainnya. Terkadang aku iri dengan teman temanku yang mempunyai orang tua yang harmonis, disayang, di manja kadang kata orang anak tunggal adalah kesayangan serta kebanggaan bagi kedua orang tuanya namun apa yang ku alami terbalikan dari kenyataan. Kadang aku bertanya tanya kenapa setiap orang tua yang bermasalah anaklah yang jadi imbas korban dari kedua orang tuanya, jika dari awal mereks tidak sanggup memgurusi seorang anak kenapa harus membuat hador seorang anak, tanpa disadari mereka hal kecil apapun yang dilakukan orang tua akan berdampak kepada anak anak dalam hal baik dan buruknya orang tua. "Kapan ibu dan ayah kembali menyangiku lagi," dalam batinku. Setelah menatap lama bekas memar di tanganku, aku kembali duduk di meja belajar. Tanganku gemetar sedikit saat kubuka buku harian kecil berwarna biru langit—buku satu-satunya yang menjadi tempatku bercerita tanpa takut dihakimi. Halaman-halamannya sudah penuh coretan, kadang tintanya luntur karena air mata. Aku membuka halaman baru, dan mulai menulis dengan huruf yang tidak rapi karena tangan kananku masih nyeri. 30 April "Hari ini aku kehujanan. Tapi yang lebih parah bukan basahnya badanku, tapi dinginnya rumah yang kuanggap tempat pulang. Ibu dan Ayah bertengkar lagi, suara mereka keras seperti petir. Aku takut, tapi juga sudah terbiasa. Kadang aku berharap rumah ini bisa diam seperti dulu. Tapi sekarang cuma penuh teriakan, dan aku yang diam-diam terluka. Di sekolah aku dibully lagi. Riko dan teman-temannya dorong aku, katanya aku ‘bego’ karena gak bisa bilang R. Aku udah coba latihan diam-diam di kamar, di depan kaca. Tapi tetap susah. Apa salahku? Tangan kiriku biru. Sakit. Tapi lebih sakit hatiku. Aku gak ngerti kenapa orang-orang jahat bisa tertawa, sedangkan aku harus diam dan berpura-pura baik-baik saja." Aku berhenti menulis. Mataku basah, tulisanku jadi buram. Tapi aku tetap lanjut. "Kalau aku bisa bicara ke Tuhan, aku cuma mau bilang satu hal: Tolong, jangan biarkan aku sendirian terus. Kirimkan aku satu saja alasan untuk kuat. Satu saja orang yang benar-benar mau dengar aku ngomong, walau aku gak bisa bilang R." Setelah menulis itu, aku menutup buku harian perlahan, lalu memeluknya seperti memeluk seseorang yang tak pernah benar-benar ada. Di luar, hujan masih turun. Tapi di dalam hatiku, entah kenapa ada secercah harapan kecil. Mungkin karena malam ini aku tak menyimpannya sendiri. Waktu terasa lambat, tapi tanpa sadar tahun-tahun di Sekolah Dasar telah lewat. Buku harian biru langit yang dulu selalu kusembunyikan di balik bantal, kini usang dan lusuh. Halaman-halamannya penuh dengan coretan keluh kesah—tentang hujan, teriakan orang tua, bully-an di sekolah, dan ketidakmampuanku menyebut huruf “R”. Semua seperti mimpi buruk yang belum sempat selesai. Aku sekarang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ransel baruku terasa asing di pundak. Sepatu baru yang ibu belikan terlalu besar, katanya agar awet. Seragam putih biru menggantikan putih merah yang sudah penuh kenangan pahit. Tapi satu hal yang tidak berubah: perasaan takut di d**a. Hari pertama sekolah, aku datang terlalu pagi. Duduk sendiri di bangku tengah, menunduk, tidak berani menatap siapa-siapa. Aku tak ingin dikenal sebagai anak aneh seperti di SD dulu. Aku berharap bisa menjadi bayangan saja. Tapi harapan hanyalah harapan. Suara gaduh teman-teman yang baru saling kenal membuatku gelisah. Aku terus menunduk, tangan gemetar memegang buku catatan kosong. Setiap kali ada yang tertawa, aku merasa seperti ditertawakan. Suara dalam kepalaku selalu berkata, “Hati-hati, mereka akan sama seperti anak-anak SD itu.” Tapi ternyata tidak semuanya sama. Saat istirahat pertama, aku masih duduk di kursi. Tak ingin jajan, tak ingin bergerak. Sampai seseorang mendekat, membawa bekal dan senyum yang hangat. Namanya Kinan. Rambutnya dikuncir dua, dan matanya bersinar cerah. "Eh, kamu sendirian ya? Aku duduk sini ya, capek muter-muter gak kenal siapa-siapa." Aku hanya mengangguk pelan. Kinan duduk tanpa ragu dan mulai membuka kotak makanannya. Aroma roti keju menyebar pelan. "Aku bawa roti keju nih, kamu suka? Aku gak habis sendiri biasanya." Aku ingin bilang “terima kasih”, tapi suaraku tercekat. Jadi aku hanya tersenyum sedikit dan menunduk. Tapi Kinan tidak keberatan. Ia tetap mengobrol, tetap bercerita tentang betapa gugupnya dia di hari pertama, tentang kucingnya yang suka curi ikan di dapur, dan tentang cita-citanya ingin jadi penulis buku anak-anak. Beberapa hari berlalu. Kinan tetap konsisten duduk di sampingku, tetap ramah, tetap tidak menuntutku banyak bicara. Perlahan, aku merasa tenang di dekatnya. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa aman. Suatu hari, saat kami belajar kelompok di perpustakaan, aku memberanikan diri untuk bicara. "Aku… susah bilang R," kataku lirih. Kinan menoleh. Wajahnya tidak berubah. Tidak mengejek, tidak tertawa. Hanya tersenyum. "Terus kenapa? Aku dulu juga susah banget bilang S. Kata ibuku sih, semua orang punya hal yang harus dia perjuangkan. Dan itu bukan aib." Aku menatapnya lama. Kalimatnya sederhana. Tapi kalimat itu terasa seperti pelukan hangat yang menyapu luka-luka lamaku. Aku tidak menangis saat itu, tapi hatiku terasa basah. Malamnya, aku membuka buku harian baru. Sampulnya merah marun, hadiah dari Ayah yang sedang berusaha membaik lagi dengan Ibu. Di halaman pertama aku menulis: "Aku bertemu Kinan. Mungkin ini awal dari janji yang dulu kutulis. Satu alasan untuk kuat. Satu orang yang benar-benar mau dengar."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.9K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook