CHAPTER #47 EMPAT PULUH TUJUH Firdaus membereskan kaca-kaca jendela yang ada dan terpental kearah ranjang periksa pasien. Dengan ekor matanya dia melihat ada batu dibawah ranjang itu. Firdaus berjongkok dan mengambilnya. Ada lembar kertas yang membalut batu itu. Kertas itu berisi tulisan seolah mengingatkan atau memperingatkan keberadaan mereka. Rudi dan Handoko kembali kedalam puskesmas dan menenangkan sebagian pasien yang kelihatannya akan meninggalkan puskesmas. “Tenang semuanya.” Ujar Rudi menenangkan pasien. “Kami akan menjaga keselamatan bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya. Jadi sekarang silahkan duduk kembali.” Firdaus terlihat keluar dari ruangan prakteknya dengan membawa sebuah batu dan memberikan kertas pembungkusnya kepada

