Part 5 - Baekho's Secrets

1112 Kata
Yunhee membawa berkas-berkas yang diminta Chagbin dari lantai satu. Ia benar-benar lelah sekarang. Kakinya seperti mau patah karena berjalan terus dengan high heelsnya. Ia melangkah menuju lift. Ada dua pria yang lebih dulu berada di dalam. Melihat Yunhee yang melangkah dengan terburu-buru karena takut liftnya tertutup, salah satu dari pria tadi menahan pintu agar Yunhee bisa masuk. Yunhee menunduk sambil mengucapkan terimakasih pada pria itu. "Karyawan baru?" Pria itu berbasa-basi. Yunhee menoleh pada pria itu, "Ya, saya Oh Yunhee sekertaris baru dari Direktur Park." ucap Yunhee sambil membungkuk memperkenalkan diri. Minseok tersenyum, "Ahh ... Kau sekertaris baru itu, ya? Aku Kim Minseok, staff bagian pemasaran dan ini Do Joohyeon, bagian administrasi. Kau bisa memanggilku Senior Kim." Joohyeon mencibir Minseok, "Senior? Yang benar saja. Yunhee-ssi, lebih baik panggil saja dia si i***t Minseok. Semua karyawan perusahaan ini memanggilnya begitu." "Hei! Jangan mengajari anak baru yang tidak-tidak!" Minseok merangkul Joohyeon dan mencekiknya dengan ketiaknya. "Kau yang lebih dulu melakukannya!" Yunhee terkekeh. Sedangkan Baekho bergumam mengatakan mereka berdua sama-sama i***t. "Oh iya, kita harus merayakan ini. Kami akan menyambutmu dengan ramah. Bagaimana kalau kita pergi karaoke nanti sepulang kerja? Aku yang traktir!" ajak Minseok. Yunhee mengangguk tanpa ragu ragu. Ini pertama kalinya ia pergi karaoke setelah bebas dari gangguan para hantu—kecuali Baekho tentunya. Baekho menatap Yunhee tak percaya. Gadis itu mau pergi karaoke bersama dua pria ini? Yang benar saja! Ini pertemuan pertama mereka! Apa tidak takut mereka melakukan yang tidak-tidak padanya? "Ah aku duluan. Minseok-ssi, Joohyeon-ssi." Yunhee membungkuk lalu berjalan keluar lift. Baekho memastikan tidak ada orang yang lewat sebelum mengajak Yunhee berbicara. "Kau gila? Kau mau karaoke dengan pria tadi?" ucap Baekho tak percaya. "Memangnya kenapa? Kelihatannya mereka baik. Bukankah karaoke adalah cara terbaik untuk mengakrabkan diri dengan rekan kerja? Lagipula aku tak akan minum." ucap Yunhee membela diri. "Hei! Apa kau tak tahu apa bahayanya hanya sendirian di antara dua pria? Kau ini mangsa yang cukup empuk. Kau tak takut mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak?" bentak Baekho. Yunhee berhenti berjalan dan menatap Baekho tajam. "Tidak semua pria sama sepertimu. Satu-satunya pria yang kukhawatirkan akan melakukan yang tidak-tidak adalah kau. Dasar hantu m***m!" cibir Yunhee. Yunhee kembali melangkah meninggalkan Baekho yang mencak-mencak. "Ya! Ya! Aku m***m. Karena aku pria! Hanya pria yang tak normal yang tidak m***m! Dasar gadis kolot!" ejek Baekho. Yunhee menutup telinganya dengan berkas yang dibawanya. Berharap ia tak akan lagi mendengar suara Baekho. Changbin sekali lagi melihat Yunhee yang bertingkah aneh dengan marah-marah sendiri. "Aku benar-benar tak mengerti apa yang dipikirkan Taehoon saat merekomendasikannya padaku." ucap Changbin heran. *** Yunhee mengetik berkas-berkas hasil rapat hari ini. Ia sesekali memijat tengkuknya yang pegal. Sudah lama ia tak berkerja dengan menggunakan laptop seperti ini. Biasanya ia hanya berkerja paruh waktu di kafe atau minimarket dan tidak pernah menggunakan keahliannya. Menjadi sekertaris memang impiannya sejak dulu. Karena itu ia bisa berkerja dengan cekatan saat ini. Walaupun ia hanya lulusan SMA dan masuk ke perusahaan ini hanya karena permintaan Baekho dan koneksi dari Taehoon, ia bertekad akan mengerjakan pekerjaan ini dengan sepenuh hati. Tiba-tiba telpon di mejanya berdering. "Halo, PCY Corporation dengan Oh Yunhee disini. Ada yang bisa saya bantu?" "Ke ruanganku sekarang!" Telponnya langsung ditutup. Tadinya ia ingin mengumpat dan mengutuk Changbin dengan keras. Namun karena sadar ruangan mereka hanya dibatasi dengan dinding kaca, akhirnya ia hanya menghembuskan nafasnya menenangkan diri. Ia pun bangkit dari kursinya dan melangkah menuju ruangan Changbin. Tok... Tok... Tok... "Masuk." Ceklek... Yunhee masuk ke dalam ruangan Changbin dan tersenyum pada atasannya itu. "Batalkan semua pertemuan dengan klien hari ini. Dan bila ada yang ingin bertemu denganku katakan aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Mengerti?!" ucap Changbin tanpa menoleh. "Baik, Direktur." Yunhee membungkuk dan berjalan keluar ruangan. Ia menoleh kembali dan memastikan Changbin tak melihatnya. "Kenapa dia tak menyampaikannya lewat communicater saja sih?! Dasar menyebalkan. Aku kan harus menahan perasaanku bila bertemu dengannya." gerutu Yunhee sambil memegangi jantungnya yang berdetak tidak karuan. "Tapi..." Yunhee memandangi kembali ruangan Changbin melalui dinding kaca. "Kenapa Baekho ada di sebelah Changbin? Apa mereka saling mengenal?" Yunhee bertanya-tanya sambil memandangi Baekho yang memandangi Changbin dengan tatapan sendu. *** Changbin memandangi fotonya dengan Baekho. Menatap foto sahabat sekaligus kakak yang ia rindukan. "Baekho-ya, hari ini peringatan kematianmu. Tapi ayah bahkan tak membiarkanku untuk datang ke makammu. Kuharap kau tak menyalahkanku," Changbin pada foto itu seolah-olah ia sedang berbicara langsung pada Baekho. "Baekho-ya, bisakah setidaknya kau datang kemimpiku? Aku pasti memperlakukanmu dengan lebih baik. Aku juga akan memanggilmu kakak seperti yang kau minta," Suara Changbin terdengar bergetar, menahan tangis, "Kumohon Baekho-ya." Baekho menatap Changbin sedih. Tak menyangka kalau adik tirinya akan menjalani hidup yang seperti ini setelah kematiannya. Baekho memandangi Yunhee dari balik kaca ruangan Changbin. Gadis itu sedang sibuk menelpon. Sepertinya untuk membatalkan semua pertemuan Changbin dengan kliennya. "Aku berharap banyak padamu Yunhee-ya." ucapnya lirih. *** Yunhee menghampiri Minseok dan Joohyeon yang sepertinya sudah lama menunggunya. "Hanya kita bertiga?" "Ya, si miskin ini tak mampu mentraktir karyawan lain." Joohyeon menyenggol lengan Minseok main-main. "Hei! Awalnya aku juga hanya ingin mentraktir Yunhee saja. Kenapa kau juga ikut?" protes Minseok. Yunhee tertawa melihat tingkah keduanya. "Baiklah ayo berangkat!" Mereka berjalan ke parkiran. Menuju ke tempat karaoke. *** Di tempat karaoke, mereka semua tampil bernyanyi dan menunjukkan kemampuan masing-masing. Jujur, Yunhee merasa malu. Minseok dan juga Joohyeon dua-duanya memiliki suara yang merdu. Tidak seperti dirinya yang memiliki suara yang bahkan mampu memecahkan semua gelas saking jeleknya. "Aku tak menyangka suaramu sejelek itu." cibir Baekho. "Kau diam saja. Tanpa kau beritahu pun aku tahu suaraku jelek." bisik Yunhee. Baekho tertawa membenarkan. Saat ini Minseok dan Joohyeon sedang sibuk bernyanyi. Jadi tak ada yang sadar kalau Yunhee sedang berbicara pada Baekho. "Oh iya. Tadi aku lihat kau ada di ruangan Changbin. Apa kau dan Park Changbin saling mengenal? Aku memang curiga dari awal saat kau memperingatkanku tentang aku akan terkejut nantinya dan tentang Changbin." Yunhee bertanya dengan raut penasaran. "Kau tak perlu tahu soal itu. Cukup jalankan saja misimu." ucap Baekho. Yunhee menatap Baekho serius. "Byun Baekho, sbenarnya aku bingung apa kau benar-benar membutuhkan bantuanku atau tidak," Yunhee mendengus, "Kau bilang kau butuh bantuanku. Tapi terlalu banyak yang kau sembunyikan dariku. Kalau seperti ini bagaimana aku bisa membantumu?" Mereka terdiam. Keduanya saling berpandangan dan mengabaikan Minseok dan Joohyeon yang menyanyikan lagu Hyorin, 'Hello Goodbye' di depan. Cinta telah datang namun kau meninggalkanku. Aku sudah menunggumu namun aku tak bisa melihatmu. Selalu seperti orang bodoh. Air mata yang mengalir saat ini mengatakan selamat tinggal, good bye. *** Makassar, 18 Januari 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN