Part 6 - The Truth

971 Kata
Baekho mendengus lalu menghilang meninggalkan Yunhee yang melongo sendirian. Apa-apaan pria itu? Mentang-mentang bisa menghilang seenaknya! Bahkan Yunhee belum menanyakan semua yang ingin ia tanyakan. "Ada apa Yunhee-ya?" tanya Minseok yang selesai bernyanyi. "Tidak apa-apa. Sekarang giliranku kan?" Yunhee menaruh tas yang dipegangnya lalu maju kedepan. Peduli amat dengan suaranya yang jelek. Saat ini ia sedang kesal. Sangat kesal hingga ingin merusak gendang telinga Minseok dan Joohyeon dengan suaranya. *** Baekho belum menampakkan batang hidungnya sejak kemarin. Hal itu membuat Yunhee geram sendiri. Sebegitu tidak inginnya kah Baekho memberitahu apa yang ia sembunyikan? Yunhee sendiri bingung pada dirinya. Mengapa ia repot-repot penasaran begini? Toh, ia sudah tidak pernah diganggu oleh hantu lagi. Tapi mengapa ia masih mencari Baekho? Apa karena ia merasa berhutang budi? "... Bu, bukankah aku sudah bilang tidak mau? Aku tidak bisa, Bu!" Changbin berjalan keluar dari ruangannya dengan ponsel di telinganya. Sepertinya pria itu sedang berbicara dengan ibunya lewat telpon. Yunhee tak tahu mengapa, tapi pria itu terlihat benar-benar marah. "Aku punya seseorang yang kusukai. Apa Ibu puas?" ucap Changbin. Terlihat sekali kalau pria itu sedang berbohong. "Aku bersungguh-sungguh, Bu. Kami sedang dalam tahap pendekatan. Aku akan membawanya ke rumah bila aku sudah siap." Yunhee merasa tidak enak karena menguping. Namun ia merasa penasaran. "Malam ini?! Aku tak mungkin bisa membawanya malam ini! Kumohon mengertilah. Ibu? Halo? Halo?!" Changbin menggeram dan ingin melemparkan ponselnya jika saja ia tidak menyadari Yunhee menatapnya. Karena sadar Changbin tahu bahwa dirinya memperhatikan pria itu sejak tadi, Yunhee segera pura-pura sibuk dengan komputer yang ada di depannya. Walaupun ia sesekali mencuri pandang kearah Changbin. Changbin terlihat berpikir. Lalu ia menghampiri Yunhee. Membuat Yunhee ketakutan karena mengira ia akan terkena semburan kemarahan Changbin. "Kau, ikut denganku sepulang kerja." Ucap Changbin. "Ha? Kemana Direktur?" tanya Yunhee linglung. "Sudah, ikut saja." Changbin melangkah pergi dan tidak memberi kesempatan pada Yunhee untuk memprotes. Yunhee merasa perasaannya tidak enak. Tapi apa boleh buat. Ia harus menuruti perintah atasannya bukan? *** Tidak ada pembicaraan dalam mobil itu. Changbin sibuk menyetir. Yunhee sendiri takut untuk memulai pembicaraan jadi suasana di mobil itu terasa sangat canggung. Sesekali Yunhee melirik kearah Changbin. Astaga! Pria itu terlihat sangat tampan dan seksi saat menyetir. Sadarlah Oh Yunhee! Kenapa kau ketularan mesumnya Baekho begini?! "Aku ingin kau membantuku." Changbin memecahkan keheningan di antara mereka. "Membantu anda?" "Pertama-tama jangan terlalu formal padaku. Ini di luar kantor. Kau bisa memanggilku dengan nama saja." pinta Changbin. "B-baik Changbin-ssi." Yunhe menyanggupi permintaan Changbin. Changbin mengangguk, "Baiklah. Kita akan ke rumahku malam ini. Aku ingin kau membantuku berpura-pura menjadi gadis yang kusukai. Kalau bisa buatlah ibuku menyukaimu agar ia tak menjodohkanku dengan gadis lain. Mengerti?" Ke rumahnya? Bertemu ibunya? Seandainya saja ini bukan untuk berpura-pura, Yunhee akan merasa ia gadis paling beruntung di dunia. Sayangnya ini hanya untuk pura-pura. Ia ingin menolak tapi tidak mungkin kan? Changbin atasannya. Jadi Yunhee hanya mengangguk mengerti. Ia akan berakting dengan sepenuh hatinya. Lagipula ia juga tidak ingin Park Changbin di jodohkan dengan gadis lain. *** Mereka memasuki gerbang rumah Changbin. Ini bukan rumah, ini istana! Astaga! Besar sekali! Tahan Oh Yunhee! Jangan sampai air liurmu menetes hanya karena menatap rumah ini. "Kita sudah sampai. Ingat apa yang kukatakan tadi." Changbin keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Yunhee. Berakting lembut pada gadis yang ia sukai. Ia mengajak Yunhee masuk. Yunhee makin tercengang saat memasuki rumah Changbin. Ada banyak pelayan di mana-mana. "Changbin-ah, kau terlambat." Nyonya Park menyambutnya dengan senyuman. Nyonya Park memandangi Yunhee heran. Yunhee segera membungkuk hormat pada nyonya Park. "Ini gadis yang kumaksud, Bu." ucap Changbin. "Benarkah? Kau cantik sekali Yunhee-ya. Pantas saja Changbin tak ingin kujodohkan. Maaf ya, aku tak tahu bahwa ia telah memilikimu." ucap Nyonya Park. Nyonya Park sudah tahu namanya? Sepertinya Changbin sudah menceritakan kebohongan tentangnya pada Nyonya Park. Ah, jadi sejak awal dirinya tidak punya pilihan lain selain menyanggupi permintaan Changbin ya? Yunhee sekali lagi membungkuk sopan. "Tak apa, Bibi. Ini salahku dan Changbin karena menyembunyikan hubungan kami." Ucap Yunhee dengan senyuman manisnya. Nyonya Park terlihat sangat puas dengan Yunhee yang terlihat patuh dan sopan. Senyumannya semakin cerah, "Tak usah bertingkah formal begitu. Sudah saatnya jam makan malam. Ayo ke ruang makan. Kita lanjutkan pembicaraan kita disana." Saat Nyonya Park tak melihat, Changbin menunduk agar bibirnya sejajar dengan telinga Yunhee. Membuat jantung Yunhee berdetak cepat. "Aktingmu bagus." Walaupun bisikan Changbin terdengar seperti sindiran, tapi tetap saja itu membuat Yunhee harus terus berusaha menormalkan detak jantungnya. Ia tak boleh jatuh lagi! Park Changbin terlalu jauh untuk ia gapai. "Bibi, bisakah aku ke toilet sebentar? Aku akan menyusul nanti." pinta Yunhee. "Baiklah, Minah akan menunjukkan dimana toiletnya padamu." ucap Nyonya Park. Yunhee mengangguk dan mengikuti pelayan bernama Minah itu. "Ini toiletnya, Nona. Anda bisa bertanya pada pelayan lain di mana letak ruang makan nanti. Saya permisi dulu." Minah membungkuk sopan lalu pergi. Yunhee memasuki toilet dan membasuh wajahnya. Ia harus bisa! Semangat! Ck, kenapa di saat-saat seperti ini Baekho tak ada untuk membantunya? Apa hantu itu masih marah padanya? Yunhee keluar dari toilet. Ia berjalan dan tak sengaja melihat sebuah pintu yang terbuka. Penyakit mudah penasarannya pun kembali kambuh. Ia memasuki pintu itu dan melihat-lihat isinya. Ternyata ruangan itu adalah kamar seorang pria. Terlihat dari kamar itu yang didominasi warna abu-abu dan putih. Karena rasa penasarannya sudah terpenuhi, Yunhee memilih untuk keluar dari kamar itu. Tapi ia tak sengaja melihat sebuah foto yang membuat matanya membola. Di foto itu, ia melihat Changbin dan juga Byun Baekho yang berpose peace bersama. Changbin bahkan tersenyum lebar di foto itu. Yunhee mengambil foto itu. Tidak mungkin! Sebenarnya apa hubungan Park Changbin dengan Byun Baekho? Apa ini alasan mengapa Baekho memintanya bekerja di PCY Corporation? "Apa yang kau lakukan di sini?" *** Makassar, 25 Januari 2016 Dipublish di dreame 24 Juli 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN