Prolog.
“Denger suara gue sembunyi di balik pohon dan denger suara motor gue, dia kabur!”
__________
Dentuman musik yang tengah di mainkan oleh seorang DJ terdengar di seluruh ruangan. Terlihat riuh penuh sesak, para pengunjung yang berada di lantai dansa terus menari mengikuti suara musik. Sang DJ semakin bersemangat dan menambah volume musik yang ia mainkan agar semakin b*******h. Seakan tak ada hari esok atau pun masa mendatang, mereka semakin menggila di lantai dansa. Setengah sadar dan mabuk berat. Laki-laki dan perempuan berbaur menjadi satu di lantai dansa. Kilatan-kilatan lampu dari balik dinding dan panggung DJ menjadi aura tersendiri bagi mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan pesta belum mau usai. Tak ada yang menghentikan kegilaan itu, kecuali sebuah kokok ayam tanda fajar tiba dan sinar mentari mengantikan kilatan lampu kelab. Kelab ternama di Bali yang setiap hari pasti ramai oleh para turis lokal mau pun manca negara. Mereka datang dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang sekedar minum, menari di lantai dansa, bekerja dan lain-lain. Sebuah hal yang menyenagkan bagi mereka bisa menghabiskan malam di kelab dan bersenag-senag seakan lupa dengan waktu.
Verity, perempuan cantik yang tengah berada di parkiran kelab dengan memeluk tubuhnya sendiri karena dingin oleh embusan angin malam. Ia berulang kali menggigit bibirnya sembari menenggok ke arah kelab yang tak kunjung sepi itu. Bahkan ia meruntuki DJ yang menurutnya gila karena volume musik terdengar sampai luar kelab. Ia melihat ke arah ponselnya namun raut wajah kesal yang ia tunjukkan, kemudian memasukkan ponselnya kembali ke saku jins.
03:35 dini hari.
Verity mulai frustasi dan rasa takut mulai menyeruak masuk ke dalam dirinya.
“Apa kamu adiknya Joenathan Robert?”
Verity terkejut dengan suara Arza yang tiba-tiba muncul. Spontan, Verity bersembunyi di balik pohon mangga dan tak berani untuk menenggok ke arah Arza.
“Iya! Dimana dia?” Verity menjawab dengan nada yang bergetar serta perasaan waspada yang kentara.
Arza hanya tersenyum miring melihat kelakuan Verity. Ia mulai mendekati pohon mangga dengan langkah besar. “Dia pulang nanti jam enam pagi!” balas Arza sembari akan menyentuh pundak Verity yang tengah bersembunyi di balik pohon mangga, namun gagal.
Verity berlari menuju gerbang, keluar parkiran dengan raut wajah kesal sekaligus takut.
Arza berteriak agar Verity berhenti dan pulang bersamanya, namun tak di hiraukan oleh Verity.
“Aku tak akan mau bila di suruh untuk menjemputnya di kelab lagi. Biar saja dia mabuk di jalan!”
“Tapi, bagaimana kalo terjadi sesuatu sama dia?”
“Tidak, dia sudah besar, bukan anak kecil. Dia pasti akan bisa pulang sendiri sekali pun tengah mabuk. Aku tak boleh ke tempat itu lagi karena berbahaya!”
Verity terus berbicara sendiri dengan nada khawatir dan takut. Ia berjalan kaki menuju arah pulang karena tak ada satu pun kendaraan umum yang beroprasi. Ia sudah sedari pukul sepuluh menunggu di parkiran kelab, berdiri di sebelah mobil sepupunya yang terparkir.
Terdengar suara deruaan motor sport yang melaju pelan di belakang Verity. Verity berlari dan tak menenggok ke belakang. Lalu motor sport itu melaju mendahulinya dan berhenti menghadang tapat di depannya.
Verity berhenti dan terlihat berpikir, tentang apa yang harus ia lakukan. Setelah beberapa detik, ia kembali berlari ke arah trotoar, menghindar dari pengendara motor sport itu.
Pengendara motor itu melepas helm dan meletakkan helmnya di jok motor, lalu mengejar Verity. Ternyata, pengendara motor itu Arza. Hub. Tangan kanan Verity telah di raih oleh Arza.
Verity menoleh ke arah Arza dengan perasaan takut. “Lepasin!” rontanya.
Bulatan bening berwarna hitam di terangi cahaya lampu jalan. Memancarkan sinar keteduhan namun ada rasa takut yang terlukis di sana. Bulu mata lentik dan hitam itu sangat mengoda dan eksotis. Hidung yang mungil seperti buah duku yang menempel di wajah. Bibir penuh merah muda yang sedikit terbuka, sangat menggairakan. Bayangan itu semua segera di tepis oleh Arza saat melihat cahaya takut di wajah Verity.
“Jangan takut! Aku Arza, temannya Joenathan Robert!”
“Buktinya?”
Arza merogoh saku celananya lalu menunjukkan sesuatu yang ada di dalam ponselnya ke arah Verity.
Verity menelik sesuatu dari mata Arza, kemudian membuang muka ke arah samping.
“Ayo, aku antar pulang biar aman!” ajak Arza sembari menggandeng tangan mungil Verity menuju motor sport miliknya yang terparkir sembarangan di pinggir jalan.
“Maaf, sudah berburuk sangka!” ucap Verity saat menaiki jok belakang motor.
Arza hanya berdehem.
Motor melaju dengan kecepatan tinggi. Verity terkejut dan spontan memegang kedua pundak Arza. Namun bukan itu yang Arza mau sebenarnya dan di luar ekspetasinya.
Verity memegang erat kedua pundak Arza dengan memejamkan kedua matanya. Arza tersenyum miring dan melirik pantulan bening itu dari kaca spion motor. Sebenarnya, tubuh Arza menegang saat kedua telapak tangan Verity menyentuh kedua pundaknya dan ia memilih menggurangi kecepatan motor. Verity melepas kedua telapak tangannya dari pundak Arza.
Sesuatu ada yang hilang dari diri Arza saat telapak tangan Verity tak berada di pundaknya.
“Dimana rumah kamu?” tanya Arza membuka suara.
“Jl. Agatha Pura nomor 92 Denpasar!” jawab Verity dengan tenang tidak seperti tadi yang ketakutan.
“Ok!”
Mereka sudah sampai di depan pagar rumah Verity. Verity turun dari jok motor sambil memegang pundak Arza sebagai peganggan.
“Terima kasih sudah nganterin aku pulang! Maaf kalo tadi aku jahat sama kamu.” Ucap Verity dengan menunduk melihat kedua sepatu kets yang ia kenakan.
Arza tersenyum, “It’s okay Verity!”
Verity mendongak dan menatap Arza dengan mata terkejut. “Darimana kamu tau nama ku?”
Arza tersenyum melihat kelakuan Verity yang berada di depannya itu. “Joe yang ngasih tau aku sebelum dia nyuruh aku buat nganterin kamu pulang tadi!”
Verity tersenyum kikuk, “Terima kasih, ya!” ucap Verity lagi, seakan ia tak tau harus mengatakan apa lagi.
“Kalo Joe nyuruh kamu buat jemput dia di kelab lagi, jangan mau, ya! Bahaya buat kamu!” Arza mengatakannya dengan tulus pada Verity karena tau bagaimana pandangan masyarakat terhadap orang yang pergi ke kelab malam. Ia tak mau Verity yang terlihat lugu itu dianggap buruk seperti dirinya dan Joenathan.
Verity mengangguk dan berjalan membuka pagar rumahnya namun ia kembali menoleh saat Arza berkata, “Nanti aku marahin Joe karena udah nyuruh kamu ke kelab dan buat kamu ketakutan!”
Arza tersenyum melihat respon Verity yang hanya berketip-ketip seperti boneka. “Aku pulang, ya!”
“Hati-hati!”
Dua kata dari Verity yang membuat Arza merasa seperti diperhatikan oleh perempuan yang telah membuatnya jatuh hati selama ini. Hanya saja, Verity tak tau bila ia begitu menyukainya karena Joenathan melarangnya untuk mendekati Verity. Kini ia mendapatkan kesempatan untuk mengantarkan Verity pulang. Kesempatan yang di berikan oleh Joenathan saat ia tengah mabuk berat.
*.*.*.*
Arza keluar dari kamar mandi, ia hanya mengenakan boxer dan handuk yang ia gantungkan di lehernya. Rambut hitam lebatnya masih basah setelah keramas pagi ini. Aroma mint yang menguar dari shampo yang ia kenakan pada rambutnya tadi begitu tajam menusuk hidung. Tak hanya aroma mint, kini aroma jeruk juga tercium ketika Arza mengupas jeruk lalu memasukkannya ke dalam blender.
“Za, tadi lo nganterin adiknya Joe pulang?” tanya Ardo yang sedang menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Arza hanya berdehem pelan sembari menuang jus jeruk ke dalam gelas bening.
“Akhirnya ketemu juga ya, Za!” Ardo terdengar senang saat mengatakannya.
“Ya, do’a gue di denger sama Yang Maha Kuasa!” respon Arza dan itu adalah jawaban jujur dari hati. Arza menarik kursi dan ikut duduk di hadapan meja makan.
Ardo yang duduk di sampingnya itu mengkerutkan dahi bingung. “Tumben banget ya, Joe ngebolehin lo buat ketemu sama adik sepupunya itu?”
Arza mengidikkan kedua bahunya lalu meminum jus jeruk yang ia buat sendiri barusan.
“Respon Verity gimana saat ketemu lo? Dia langsung percaya gak sama lo?” tanya Ardo penasaran dengan menyerongkan badanya.
“Denger suara gue sembunyi di balik pohon dan denger suara motor gue, dia kabur!” cerita Arza singkat karena ia yakin jika sahabatnya itu paham dengan apa yang ia ceritakan barusan.
Benar saja, Ardo langsung tertawa mendengar cerita Arza hingga memukul meja dengan keras dan membuat sendok di atas piring berdenting. “Gila sih, lo diginiin sama cewek yang lo taksir selama ini!
Kedua kelopak mata Arza meredup, ia merasa sedikit sedih karena perempuan yang ia sukai takut padanya. Tapi, itu hal yang wajar karena posisi mereka yang berada di parkiran kelab malam. Terlebih, Verity adalah perempuan lugu.
“Berarti dia cewek pertama yang takut sama lo. Kayaknya, gue harus ngasih penghargaan ke Verity.” Ardo masih melanjutkan tawanya setelah mengatakan kalimat barusan. Seakan apa yang di alami oleh Arza barusan begitu lucu.
“Joe, belum pulang ke sini?” tanya Arza pada Ardo yang kini tengah fokus pada menu sarapan paginya kembali setelah puas menertawakan Arza.
Ardo hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil mengunyah nasi goreng.
Arza bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Ponsel Arza berdering, sebuah pesan singkat masuk. Namun di abaikan oleh Arza dan ia memilih menghempaskan tubuh atlentisnya di atas kasur yang empuk sambil menutup kedua matanya karena rasa kantuk yang tak dapat di tahan lagi.
To be continued.