2. Chapter 1: Pesona.

2029 Kata
Chapter 1: Pesona. “Dia perempuan yang mempunyai pesona serta sinar tersendiri. Sebuah pesona yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri.” ________ Dua Bulan Kemudian Toko buku di pagi hari, masih sepi pengunjung dan baru ada satu pengunjung yang tengah memilih buku di rak bagian timur. Karyawan di toko buku yang berjaga berjumlah delapan dan di bagi dua shif. Saat ini ada empat pegawai. Satu bagian kasir, dua di bagian pelayanan dan satu bagian gudang. Mereka bisa tukar posisi setiap seminggu sekali agar sama rata. Arza hafal tentang toko buku ini, bahkan tentang shif pegawai juga karena ia tau jadwalnya dari manajer toko buku yang selaku kakak tingkatnya kuliah. Namun sudah lulus dan hubungan baik mereka tetap terjaga. Arza sudah mendapkan buku yang harus ia beli untuk materi ujian semester. Sebenarnya, ia tidak terlalu suka membaca buku tentang materi kuliah namun ia harus tetap belajar. Ia lebih suka membaca buku tentang pengembangan diri dan kumpulan puisi. Setelah mendapatkan buku yang ia cari, ia berjalan menuju meja kasir untuk membayar buku yang akan ia beli. Ia mengetuk-ngetuk sepatunya pada lantai saat melihat sang kasir yang masih sibuk merapikan rak buku kecil yang berada di belakang meja kasir. Rak itu berisi buku yang akan sold out. Ia melihat jam tangan dan ia harus segera berangkat ke kampus, ia berdehem agar kasir itu segera melayaninya. Arza menyipitkan kedua kelopak matanya setelah mengamati kasir itu sekali lagi. Sepertinya, ia mengenal sosok kasir itu. Ia mencoba untuk menginggat lagi. Kasir itu menoleh dan---- Dua insan manusia itu saling tatap dan menciptakan percikan halus di antara kedua irish mata Arza. Arza tak menyangka bisa bertemu dengan Verity lagi setelah dua bulan tak bertemu. Verity mengenakan kaos biru muda dan nametag ‘V. Diana.’ Rambut hitam panjang bergelombang di sanggul serta poni rambut yang menutupi sebagian kecil wajah ayunya. Arza terus menatap wajah bening di hadapannya itu. Verity mengeryit bingung. “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” Diam tetap tak bergeming. “Maaf, kak Arza!” Arza mengerjapkan matanya lalu menyodorkan buku yang ia pegang kepada Verity. Verity menerima buku itu lalu mulai menghitung berapa total yang harus di bayar oleh Arza. Lamunan itu buyar saat, Verity menyebut namanya. Ya, namanya ‘Arza’. Entalah, saat mendengar Verity memanggil namanya berasa getaran halus itu muncul di sekujur tubuhnya. “Total, seratus lima belas ribu rupiah!” ucap Verity sembari menyodorkan papper bag berisi buku yang baru Arza beli. Arza mengeluarkan dompetnya lalu membayar buku itu dengan uang pas. “Uangnya pas, terima kasih atas kunjungan Anda!” ucap Verity ramah sambil tersenyum. Senyum itu sangat mengelorakan hati Arza dan Arza tak rela bila Verity memberikan senyuman itu kepada seluruh pengunjung toko buku ini. “Kamu bekerja di sini?” tanya Arza dan itu adalah pertanyaan bodoh karena sudah tau jawabannya malah ditanyakan. “Iya!” jawab Verity sembari kembali menata meja kasir agar lebih rapi. “Aku yakin, toko buku ini sangat ramai pengunjung!” Arza sengaja memperlama berada di toko buku karena masih rindu dengan Verity. Seandainya, selama dua bulan kemarin ia tak pergi ke Jakarta untuk pekerjaan, ia tak akan serindu ini dengan Verity. “Dari mana kakak tau?” tanya Verity sembari menatap Arza. Arza suka saat Verity menatapnya seperti ini dan itu membuat tubuhnya merinding. “Karena mempunyai kasir yang cantik!” Verity tersenyum bosan. “Banyak yang berkata demikian!" Kemudian ia kembali merapikan meja kasir. “Apa, banyak? Tidak ada yang boleh berkata seperti itu kepada dia!” Tapi apa hak Arza melarang orang-orang. Verity tak tersipu malu sama sekali dan ia terlihat santai dengan pujian Arza barusan. Apa sudah banyak laki-laki yang berkata demikian sehingga ia muak atau bosan. Arza menunjukkan senyuman miring yang mematikan bagi semua kaum hawa yang melihatnya. Namun tidak dengan Verity, ia bersikap biasa. Ini yang membuat Arza semakin menyukai sepupu Joenathan ini. “Selamat bekerja adik kecil yang cantik!” Arza mengucapkannya sambil mengedipkan sebelah mata. “Aku bukan adik kakak!” balas Verity dengan wajah lugu. “Tentu, karena kamu akan menjadi kekasih ku!” tambah Arza percaya diri. “Tapi aku punya Francisco Lachowski yang jauh lebih tampan!” Arza tertawa mendengar ucapan polos Verity barusan. Verity juga ikut tertawa, sangat manis. “Siap itu Francisco Lachowski?” “Apa pacar Verity?” Pertanyaan itu terus memenuhi isi pikiran Arza sedari tadi. Bahkan dosen yang tengah menyampaikan materi di depan ia hiraukan dan asik dengan pikirannya sendiri. Ia begitu cemburu dan sakit hati. Sampai waktu pelajaran usai, Arza masih tetap melamun. Melamunkan kenyataan bahwa Verity yang ia cintai selama ini telah memiliki kekasih. Sangat menyebalkan dan menyedihkan. “Woy, ngelamun aja! Gak pulang lo?” tegur teman sekelas Arza. Arza tersadar dari lamunannya dan segera mengemasi beberapa buku ke dalam tas ranselnya. Dengan masih memikirkan kenyataan pahit yang ia terima pagi ini. Sangat pahit dan ia butuh minum minuman manis untuk menetralkan rasa pahit. Tapi sesuatu yang manis itu, saat Verity menatap kedua matanya. Ia begitu pusing sekarang. “Oh ya, Za. Entar malem gue ke kelab, mau lihat lo main!" kata teman sekelas Arza yang memakai kaos hijau military serta skiny jins hitam itu. Arza keluar kelas menuju tangga yang terletak tak jauh dari kelasnya. “Mau lihat gue apa yang meliuk-liuk?” sindir Arza dengan tersenyum miring sambil memukul bahu teman sekelasnya itu. Sedangkan teman sekelasnya itu tertawa ngakak sambil merangkul bahu Arza, berjalan menuruni anak tangga. *.*.*.* Verity dan Kenan sedang berada di sebuah kafe dekat dengan toko buku tempat Verity bekerja. Verity mengajak Kenan makan siang bersama sambil membahas masalah pemotretan iklan yang di laksanakan dua hari ke depan. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Tak hanya berbicara masalah pekerjaan saja, namun hal random yang sama sekali tak penting untuk di simak. “Coba deh Ken, kalo kamu pakek ini. Pasti lucu dan mengemaskan!” ucap Verity sambil menunjukkan Kenan sebuah gambar bandana berbentuk telinga anjing. Kenan hanya bergidik geli melihat ekspresi Verity yang menyerupai wajah anak umur empat tahun. “Lebih tampan kalo pakai kostum Captain America!” Kenan bergaya seperti Captain America yang akan melawan musuh. Tawa keduanya pecah. Tawa yang sangat riang dan lepas. Mereka berdua terlihat sangat cocok, seperti sepasang kakak-beradik yang sama-sama aneh. “Aku mau coba makan itu?” tunjuk Verity pada spagetti pesanan Kenan. “Tapi ini pedas, kamu kan gak bisa makan pedas!” balas Kenan dengan menatap Verity. “Tapi, aku mau dikit!” rengek Verity dengan menampilkan wajah anak umur empat tahun. “Yaudah, kalo pedas langsung nyebur ke kali ya!” Kenan memberikan piring berisi spagetti itu pada Verity sambil melontarkan lelucon. “Ih, jahat!” komentar Verity sembari menerima piring isi spagetti milik Kenan. Verity mencicipi spagetti yang Kenan pesan dengan riang. Namun ekspresi riang berganti menjadi merah padam. Bukan marah atau pun malu, namun kepedasan. Verity pun menyeruput milk shake milik Kenan dengan terburu-buru, sedangkan Kenan menepuk-nepuk pucuk kepala Verity agar rasa pedas bisa segera hilang. *.*.*.* Arza ingin mengunjungi Verity ke toko buku namun langkahnya terhenti karena melihat Verity yang ia cari tengah duduk di meja kafe. Arza memasuki kafe tersebut, namun ia berhenti saat melihat Verity yang ia cari tengah berdua dengan seorang pria bule. Mereka sangat akrab dan tertawa lepas bersama. Arza memilih tempat duduk di pojok ruangan agar bisa leluasa melihat mereka. Kedua telapak tangannya mengepal menahan amarah dan rahangnya mengeras. Baru tadi pagi ia diserang rasa penasaran yang mendalam dan sekarang ia sudah tau jawabannya. Pria itu, ya pasti dia bernama Francisco. Pria yang di maksud oleh Verity tadi pagi. Sial! Arza keluar dari kafe dengan rasa marah yang bergejolak di hatinya. Tapi, untuk apa ia marah. Toh, ia bukan siapa-siapanya Verity dan cintanya juga bertepuk sebelah tangan. Sangat konyol, marah tanpa alasan yang tidak jelas. Ini memang bukan Arza, Arza tidak pernah seperti ini. “Thanks Za, kemarin lo anterin sepupu gue pulang!” ucap Joenathan saat melihat Arza memasuki ruang keluarga namun tak menggubris ucapan terima kasih dari Joenathan. Ia malah pergi ke dapur. Menegak air mineral dingin sampai tandas, lalu melemparkan botol kosong itu ke sembarang arah. Arza duduk di sofa depan televisi, duduk di sebelah Joenathan yang tengah melihat televisi. Memejamkan mata dalam diam dengan napas yang memburu. Tercetak bahwa ia tengah menahan rasa amarah. Kenapa ia marah. Sekali lagi, ia tak pantas marah. “Gue ke kamar dulu. Bentar lagi Ardo juga pulang!” Joenathan pergi menaiki tangga menuju lantai atas, meninggalkan Arza sendiri yang masih sibuk dengan hati dan perasaannya. Mungkin, ini hanya sebuah rasa sementara. Rasa yang akan hilang dengan sendirinya, saat ia mulai dekat dengan Verity nanti. Rasa saling tertarik di awal seperti biasa yang akan musnah selama hitungan hari atau pun minggu. Jadi, buat apa ia berpikir keras atau pun bertanya. Karena jawabannya, tetap. Sebuah hal sementara, seperti biasa saat ia tertarik dengan seorang perempuan. Rasa ketertarikan sementara yang berangsur hilang dalam hitungan jam dan hari. Namun, kali ini berbeda. Ini sudah ada sejak lama dan setelah pertama kali bertemu dengan Verity, rasa ini tak kunjung hilang dan membuatnya semakin mencintai Verity. *.*.*.* Joenathan, mengajak kedua sahabat karibnya untuk makan di sebuah kedai langganannya. Kedai itu milik dari tetangga Verity, orang yang biasanya ia panggil ‘budeh.’ Arza, seperti biasa tatapannya begitu hangat kepada semua orang. Pesona Arza memang sangat pekat, di sebuah kedai sederhana ini saja yang minim dengan pencahayaan, ia masih terlihat mempesona. Arza duduk di antara Joenathan dan Ardo. Mereka duduk di kursi panjang dekat dengan jendela, menghadap ke arah dapur kedai. “Verity ....” Batin Arza berteriak saat melihat sosok perempuan yang sedang berbincang dengan Joenathan itu mirip dengan Verity. Apa sosok Verity sudah sangat menjajah pikirannya. Sehingga bayangannya pun ada di mana-mana, termasuk perempuan yang mengobrol dengan Joenathan itu pun terlihat mirip Verity. Sosok itu semakin mendekat dan mendekat, kini sudah berada di depannya. Ia berbicara dengan Ardo, ya Ardo. Arza mengucek kedua matanya lalu manatap Ardo dan sosok mirip Verity secara bergantian, lalu menatap Joenathan dan sekeliling. Ia memang sudah tak waras. “Kak, Arza!” sapa sosok mirip Verity itu lembut dan tersenyum. Suara itu, senyuman itu sangat mirip dengan dia. Ya, ini dia dan bukan bayangan atau pun imajinasi belaka. Arza menarik seulas senyum, “Verity!” *.*.*.* “Gue tau Za, sepupu gue emang cantik. Tapi sumpah bro, tatapan lo tadi seolah pengen makan sepupu gue.” Cerocos Joenathan saat mereka sampai di kelab. Kini mereka bertiga tengah berada di ruang ganti yang berada di dalam kelab malam. “Dan lo harus lihat ekspresi lo tadi. Sumpah pengen ngakak gue.” Komentar Ardo sambil menginggat wajah Arza saat melihat Verity tadi. “Dia lugu banget bro, bumi dan langit sama lo Joe.” Sindir Ardo sambil melirik Joenathan yang memainkan ponsel. Dan senyum dari Arza, “Kan beda orang tua, Do!” “Bener juga, ya!” Joenathan memang tak terlihat seperti saudara sepupu Verity karena mereka berbeda. Joenathan yang blesteran Amerika-Indonesia sedangkan Verity Indonesia-Indonesia. Arza kembali merenung, ia tak peduli sekali pun Verity sudah mempunyai seorang kekasih. Ia yakin, bahwa pria bernama Francisco itu tak lebih dari dirinya. Verity akan dengan mudah ia dapatkan hanya perlu sebuah strategi yang baik. Tapi, apa yang membuat Arza sangat ingin dekat dan memiliki Verity. Apa karena kecantikannya. Banyak gadis yang jauh lebih cantik di luar sana namun kenapa ia mengiginkan Verity. “Za, gue emang sobat lo. Tapi gue akan ngehalangin lo buat dekat sama Verity. Gue gak mau dia deket sama lo.” Joenathan berucap sembari mengotak atik rangkaian nada di laptop. Ardo yang tengah minum pun langsung tersedak. Pasalnya, Joenathan selalu mendukung apa pun yang dilakukan oleh Arza. Namun untuk masalah Arza yang menyukai sepupunya tak pernah mendapat dukungan dari Joenathan. “Gue gak akan buat adik lo terluka. Dia adik lo jadi adik gue juga.” Yakin Arza kepada Joenathan, sambil melihat lurus ke arah Joenathan. Joenathan melihat cahaya itu, ya cahaya keredupan di mata Arza. Lalu ia tersenyum simpul, “Verity itu perempuan yang sangat baik, ceria dan lugu. Dia, perempuan yang tak pantas untuk disakiti.” Cerita Joenathan sambil menerawang jauh ke sana. “Lo benar, dia perempuan yang mempunyai pesona serta sinar tersendiri. Sebuah pesona yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri. Perempuan idaman semua.” To be continued.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN