Party dan Pertemuan Bisnis

1472 Kata
Sesuai dengan dress code yang telah Marshell beritahu kepadanya, kini Aletta telah mengenakan dress berwarna hitam yang terlihat sangat elegan sekali di tubuhnya. Rambut yang diurai dengan sedikit gelombang menjadi style rambut Aletta saat ini di padukan dengan makeup di wajahnya menambah kecantikannya. Aletta sebelum benar-benar masuk ke lokasi ia memandangi tempat yang ada, sahabatnya itu tidak salahkan mengadakan acara di tempat seperti ini? Gemerlap lampu berwarna-warni terlihat memenuhi ruangan, suara musik pun ikut mengiringi suasana yang ada di sini. Ada beberapa orang yang menggerakan tubuh mereka dengan memegang segelas wine dan yang lainnya memilih untuk duduk di sofa atau di kursi yang telah disediakan. "Ayolah Lett, Marshell bebas menentukan pilihannya sekali pun itu di bar seperti ini." gumam Aletta pelan dan memutuskan untuk melangkah ke dalam. Aletta melangkahkan kakinya dengan perlahan, memandangi bar yang kini ia datangi. Jujur, ini adalah kali pertama dirinya mendatangi sebuah bar dan ini benar-benar membuat dirinya sedikit tidak nyaman berada disini. "Letta.." panggil seseorang dari atas. "Marshell.." gumam Aletta sembari mendongakkan kepalanya ke atas menatap sahabatnya. Marshell hanya mengisyaratkan Aletta agar segera ke atas menghampiri dirinya. Di saat Aletta mencoba mencerna apa yang Marshell katakan, tubuhnya tidak sengaja ditabrak oleh seorang wanita mabuk berpakaian super minim. "Ini jalanan kau tahu ‘kan?!" bentaknya kepada Aletta karena telah menghalangi jalannya padahal wanita itulah yang menabrak dirinya yang tengah berdiri di pinggir. Aletta hanya memandanginya saja. Tidak bisa mabuk, tapi coba-coba untuk minum. gerutu Aletta dalam diamnya. Dengan desisannya wanita berpakaian minim itupun pergi dari hadapan Aletta yang pastinya dengan langkah yang tidak beraturan. Aletta kembali mendongakan kepalanya ke atas melihat Marshell yang kini menertawakannya. "Cepat kemari Letta." panggil Marshell. Aletta pun segera mencari tangga untuk bisa segera menemui Marshell bahkan kalau bisa ia tidak ingin berlama-lama di sini. Rupanya di atas sudah terdapat beberapa rekan yang lain dan juga teman dari Marshell sendiri yang tengah menikmati minuman dan makanan mereka. "Kenapa lama sekali? Aku menunggu sedari tadi." ucap Marshell lalu mengajak Aletta untuk duduk di salah satu kursi. "Aku pikir kau mengadakan acara bukan di tempat seperti ini, jadi aku sempat masuk di gedung yang salah." ucap Aletta. Memang benar ia sempat salah memasuki gedung, ia pikir tempat yang dimaksud Aletta dalam kartu undangan merupakan tempat yang salah jadi Aletta memasuki gedung restaurant di sebelah gedung bar ini, namun setelah ia tahu restaurant di samping gedung bar ini terlihat sepi, membuat Aletta akhirnya meyakini bahwa gedung ini adalah gedung yang benar. "Memangnya aku pernah memanipulasi tempat padamu." ucap Marshell. Aletta hanya menghela napasnya saja lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kau ingin minum apa?" Aletta menatap Marshell lalu menggerakan tangannya ke kanan dan ke kiri sembari menggelengkan kepalanya. "Kau tahu kan aku tidak minum." "Sahabatmu ini sangat tahu. Minum yang ku maksud berbeda dengan minuman yang ada dipikiranmu." "Apa saja asal tidak mengandung minuman yang membuatku seperti wanita tadi." "Ice lemon tea?" Aletta menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kau tunggu di sini, aku ambilkan khusus untuk sahabatku ini.. Kau lihat-lihat saja dulu tempat ini siapa tahu kau tertarik kembai untuk kemari." "Dalam mimpimu.." Timpal Aletta secepat mungkin. Marshell hanya tertawa kemudian segera bergegas pergi untuk mengambil ice lemon tea untuk Aletta. *** Di lain tempat dengan suasana yang jauh lebih sepi dengan penjagaan yang cukup banyak dan di sana seorang pria dengan mengenakan pakaian kemeja yang di balut dengan jas duduk di tempat khusus untuk orang yang telah berlangganan di sini. Matthew tengah berhadapan dengan seorang wanita berpakaian rapi namun cukup minim, ia merupakan pesuruh dari Gilberto rekannya yang tidak bisa hadir, entah benar ia tidak bisa hadir atau ada sesuatu hal yang tengah mereka rencanakan, pasalnya ini terasa sangat aneh sekali bagi Matthew. Tatapan mata tajam Matthew pun ia hunuskan ke arah wanita itu yang memanfaatkan kesempatan dengan menatap setiap inchi tubuhnya. Matthew sejenak mematikan rokok yang sebelumnya terselip di jemarinya lalu membiarkannya di atas asbak begitu saja saat tahu wanita itu masih saja menatap dirinya. "Jadi katakan apa yang atasanmu perintahkan." dingin Matthew tak ingin berbasa basi. "Ah ya, sebelum saya menjelaskan semuanya alangkah lebih baik Tuan meminum minuman pemberian dari atasan saya.." Seorang bartender tak lama datang dengan membawa segelas minuman khusus lalu ia letakkan di meja di hadapan Matthew. Minuman? Matthew melirik ke arah gelas di atas meja yang terisi minuman berwarna merah pekat tersebut. Wanita itu hanya melebarkan senyumannya sebelum bartender itu melangkah pergi dari hadapannya. Haruskah ia meminumnya? Matthew melirik ke arah Robert. "Minuman khusus yang diberikan Tuan Gilberto untuk Tuan Matthew.." ucap Wanita itu seakan tahu bila Matthew meminta bantuan Robert untuk memeriksa minumannya. Matthew menatap kembali ke arah Robert namun kini pandangan Robert justru mengarah ke arah lain, ia melihat di bawah terdapat keributan dari beberapa pria. Robert yang merasa ini sangat tidak aman untuk tuannya, meminta bantuan dari rekan lainnya menggunakan handsfree. "Maaf Tuan, kami harus mengamankan keadaan sekitar dan mungkin saya akan menjaga di pintu masuk." ucap Robert lalu segera bergegas turun untuk mengatasi keributan, keributan yang sengaja diciptakan atau memang sering terjadi di tempat ini. Matthew menghela napasnya kasar, kini hanya ia dan wanita itu saja berada di tempat ini. Wanita itu terlihat tidak ada takut-takutnya dengan Matthew, ia bahkan semakin memperlebar senyumannya kepada Matthew. Matthew mengambil gelas berisi minuman berwarna pekat tersebut, sebelum benar-benar menenggaknya, Matthew memperhatikan setiap inchi minuman tersebut bahkan sempat menghirup aromanya. Matthew membuang semua pikiran buruknya, kalau pun wanita itu memang berniat membuat dirinya mabuk itu pun tidak berlaku baginya. Sebuah smirk tipis wanita itu perlihatkan setelah Matthew menengguk minuman tersebut hingga habis. Matthew meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja, lalu kembali menatap wanita tersebut. "Perintah apa yang diberikan Gilberto kepadaku?" ucap Matthew dengan suara dinginnya. Wanita tersebut masih terdiam dan hanya memandangi Matthew saat melihat Tuan di hadapannya ini mulai terlihat gusar bahkan mulai terlihat tidak nyaman di kursinya setelah menengguk minuman dari pemberiannya. Matthew mengerjapkan matanya, apa yang terjadi kepada dirinya? Tidak mungkin ia mabuk hanya karena segelas minuman ini, karena bisa dikatakan ia kuat terhadap minuman berkadar alkohol yang tinggi, namun saat ini sepertinya hal tersebut tidak berlaku padanya, seteguk minuman yang baru ia minum dan ia dapatkan dari bartender untuknya membuat pandangannya saat ini buram bahkan ia merasakan kepalanya yang terasa sakit setelah meminum habis minuman tersebut. Sial, tidak mungkin aku mabuk! ucap batinnya. Bahkan wanita di hadapannya kini, seorang wanita yang diutus oleh kliennya untuk menemuinya wajahnya samar-samar dapat ia lihat. Sejenak Ia mencoba meraih ponselnya yang berada di dalam saku jasnya untuk ia ambil lalu menghubungi salah satu bodyguardnya yang berada di pintu masuk untuk menjaga keadaan bila ada hal yang mencurigakan datang kembali, seperti keributan yang baru saja terjadi. Matthew masih mencoba menyadarkan dirinya, dengan tatapan yang mulai mengabur, Matthew menatap ke arah wanita pesuruh dari kliennya. Pasti sesuatu telah dimasukkan ke dalam minumanku. Sialan! batin Matthew merutuki wanita sialan di hadapannya. Seolah tak berdaya, ia bahkan tidak menyadari wanita yang diutus kliennya itu mulai menghampirinya, menyentuh wajah bahkan jemarinya. Mulai melepaskan satu persatu kaitan kancing jasnya dan juga kancing kemeja Matthew. "Bermalam denganku! aku akan memuaskanmu," bisiknya membuat sekujur tubuhnya seketika menjadi merinding. Sialan, kau pikir kau siapa! sungut Matthew pelan tak menyukai sikap wanita menjijikan di hadapannya saat ini. Dirinya berusaha menyadarkan dirinya lalu mendorong tubuh wanita tersebut hingga tersungkur jatuh di atas meja dan membuat seluruh gelas-gelas dan juga botol langsung jatuh berserakan ke lantai. Dengan tenaga yang ia miliki pun, ia pun segera melangkah pergi meninggalkan wanita sialan yang mungkin sebentar lagi jejaknya akan segera lenyap atau bahkan Gilberto pun akan ikut terseret masalah ini. Matthew terus melangkah menjauh, menerobos para tamu lain yang berada di bar sini dengan langkah tak beraturannya. Rasa panas pun kini ia rasakan, perlahan mulai menjalar dalam tubuhnya, jantung berdebar kencang dan napas yang memburu pun kian ia rasakan. Apa yang terjadi kepada dirinya? Obat apa yang telah dimasukkan ke dalam minumannya? Dengan pandangan yang samar-samar, Matthew pun berjalan menuju ke arah toilet, ia butuh sesuatu untuk mendinginkan tubuhnya, ia juga merasakan sesuatu hal yang aneh terjadi kepada kepemilikannya. Matthew langsung bergegas menarik dasi miliknya saat rasa panas itu semakin membuat dirinya tidak terkontrol. Sejenak Matthew mengambil ponselnya untuk menghubungi Robert agar menangkap wanita sialan yang telah membuat dirinya menjadi seperti ini dan apa tujuan ia melakukan hal itu. "Ya Tuan?" "Tangkap wanita tadi dan bawa ke tempat biasa para pengusik menggangguku!" perintah Matthew dengan nada suara yang mungkin terdengar agak begitu kurang jelas. "Wanita tadi? B-baik Tuan, Tapi apa Tuan baik-baik saja?" tanya Robert dengan napas terengah karena ia langsung melaksanakan perintahnya menuju tempat tuannya menemui wanita tadi. "Cepat tangkap wanita sialan itu.." perintah Matthew lagi dan langsung memutus panggilan teleponnya kemudian segera bergegas keluar dari toilet yang ia masuki ini. Matthew mencoba menopang tubuhnya dengan berjalan secara hati-hati, namun di saat ia tengah berjalan dengan hati-hati agar tubuhnya tidak terjatuh, justru hal itu membuat dirinya malah menabrak tubuh seorang wanita akibat pandangannya yang mengabur
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN