Shera’s POV Gara baru saja terlelap. Biasanya dia tidur siang selama dua jam. Aku kecup keningnya, lalu keluar dari kamarnya. Saat aku mau memasuki kamarku, suara lantang menyebut namaku menghentikan langkahku. “Shera, ibu mau bicara.” Kulihat ibu berdiri di ujung bawah tangga. Kami duduk di ruang tengah dalam suasana sedikit canggung. Entahlah aku tak pernah bisa membangun suasana akrab dengannya. Ada rasa canggung dan kikuk. Apalagi sejauh ini hubungan kami lebih banyak diwarnai perseteruan. “Shera, ibu mau minta maaf karena selama ini ibu sering membandingkanmu dengan Rania. Ibu belum bisa menerima kamu sebagai menantu ibu. Karena waktu itu ibu pikir Rania adalah satu-satunya sosok ideal yang pantas mendampingi Kendra. Tapi sekarang ibu tahu siapa sebenarnya Rania. Dia sangat tidak

