Bianca sedang melihat semua gambar dan video yang Icha berikan. Icha juga memberi tahu jika pihak rentokil sudah menangkap semua tikus yang ada di dalam wadrobe kebaya. Bianca sambai bergedik karena melihat tikus yang sangat banyak hasil tangkapan pihak rentokil.
“Menjijikan sekali. Mana bisa wadrobe kebaya bisa ada tikus sebanyak ini” ucap Bianca.
Bianca tahu sekali Icha adalah wanita yang sangat rapi. Dia selalu memastikan ruangan wadrobe bersih. Anehnya ini bisa puluhan tikus yang ditangkap. Ini sungguh benar tidak masuk akal. Wadrobe kini berada di lantai 3. Dan baru sekitar enam bulan lalu semua wadrobe penyimpanan gaun, kebaya dipindahkan setelah renovasi.
Semua kebaya yang ada disana tidak bisa diselamatkan. Hasil-hasil rancangan Icha semuanya habis dan rusak oleh tikus-tikus itu. Bayangkan saja semua rok bawahan untuk kebaya ada gigitan tikus, sama dengan kebaya-kebaya semuanya robek dan rusak.
Saat ini Bianca sedang ada di kamarnya. Dia tidak enak jika melihat semua laporan Icha jika di luar karena ada Mami. Bianca tidak ingin Mami ikut pusing memikirkan masalah ini. Bianca Management adalah miliknya dan Willy, jadi Bianca harus bisa menyelesaikan masalah itu.
“Bii, Mami mau ajak Aditya ke halaman ya” ucap Mami membuka pintu kamar Bianca.
“Oh iya Mi. Nanti aku kesana” ucap Bianca.
“Iya” ucap Mami lalu menutup kembali pintu rumah Bianca.
Bianca kembali melihat layar laptopnya. Tadi dia sudah meminta Naena untuk menghitung semua kerugian akibat dari serangan tikus-tikus itu. Kini Naena sudah mengirim email laporan yang sudah dia buat. Bianca membuka kiriman dari Naena dan menatap tidak percaya.
“Ya Tuhan sebanyak ini kerugiannya” ucap Bianca lemas.
Bagaimana ini, Willy juga harus tahu tentang semua ini? Ini adalah masalah sangat serius kerugiannya sampai ratusan juta. Dan itu bukanlah uang yang sedikit. Apalagi dalam waktu dekat ini mereka akan ada dua acara. Setidaknya Bianca sudah mulai harus membuat kebaya baru untuk dua acara tersebut.
Bianca terus berpikir bagaimana mengatasi semua masalah ini? Willy juga belum kembali sampai saat ini. Kalau dia harus menyewa kebaya untuk acara yang dekat ini itu tidak mungkin. Karena rancangan dua acara ini adalah rancangan terbaru dari Icha. Pasti klien mereka akan komplain jika tidak sesuai.
Bianca melihat jam di dindingnya. Tidak terasa sudah jam tiga sore. Bianca ingat bukannya tadi Gio ingin datang, tetapi kenapa sampai saat ini pria itu juga belum datang. Sebenarnya itu lebih baik karena memang Bianca tidak ingin bertemu dengan Gio. Tetapi Bianca menjadi penasaran kenapa pria itu tidak datang. Pria itu adalah pria gila yang nekat.
Bianca melangkah ke arah jendela, Bianca melihat keluar dari jendala. Hanya ada Mami yang sedang duduk di bangku taman dengan mengajak bicara Aditya dan Mina juga ada disana. Bianca tidak melihat ada tanda-tanda kedatangan orang lain.
Ponsel Bianca berdering. Bianca pun melangkah ke arah meja. Bianca melihat layar ponselnya ada nomor tidak dikenal menghubunginya. Bianca pun mengambil ponsel, lalu mengangkat teleponnya dari nomor tidak di kenal itu.
“Halo” ucap Bianca.
“Bianca, aku tidak jadi ke rumahmu” ucap seorang pria dari seberang sana.
Bianca pun tahu ini adalah Gio. Bianca sampai aneh dengan pria ini. Kenapa dia punya banyak sekali nomor. Apa dia juga mempunyai counter ponsel sampai mempunyai banyak nomor seperti ini?
“Baguslah” ucap Bianca.
“Oh ya, bukannya kamu menunggu kehadiranku” ucap Gio dengan sangat percaya diri sekali.
“Terlalu percaya diri” sindir Bianca.
“Aku tahu dari nada bicaramu. Jika saat ini kamu bukan istri orang sudah aku pastikan akan melamarmu detik ini juga” ucap Gio sambil terkekeh.
“Dengar ya, walaupun aku masih single belum tentu juga aku akan menerimamu” ucap Bianca yang terdengar tidak suka dengan ucapan Gio.
“Bukan masalah untukku. Cukup aku menculikmu lalu menghamilimu. Dengan begitu mau tidak mau kamu harus menikah denganku” ucap Gio dengan terkekeh.
“Dasar gila” ucap Bianca marah.
Bianca tidak habis pikir dimana otak pria ini. Bianca benar tidak percaya jika pria berpikiran pendek seperti ini bisa memegang perusahaan besar.
“Ya, aku tergila-gila kepadamu” ucap Gio.
Bianca menghela nafasnya berat. Sepertinya melanjutkan pembicaraan dengan Gio tidak akan ada habisnya.
“Sudahlah aku sedang sibuk” ucap Bianca ketus yang hendak menutup teleponnya.
“Jangan ditutup” ucap Gio.
“Aku sibuk” ucap Bianca lalu menutup teleponnya.
Bianca menggelengkan kepalanya. Meladeni Gio membuatnya tambah pusing. Pria itu memang tidak tahu diri. Baru saja Bianca meletakakan ponselnya Gio mengirimnya pesan dengan nomor yang tadi menghubunginya.
To : Bianca
From : +62812987xxxx
Aku bilang jangan di tutup, kamu malah menutupnya. Aku masih ingin mendengar suaramu.
Ya Tuhan, Bianca bisa gila jika terus meladeni Gio. Bianca kira pria ini akan berbicara serius dan mengatakan yang seharusnya. Bukan cuma terus-terusan menggombal seperti ini. Bianca pun memilih untuk membiarkan pesan itu dan tidak membalasnya. Buang-buang waktu dan tenaga jika dia membalas Gio.
Bianca kembali duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Bianca membuka laptopnya. Bianca pun menghitung kembali biaya yang diperlukan jika dia membuat kebaya-kebaya yang rusak itu. Paling tidak kebaya untuk dua acara terdekat ini.
Satu jam berlalu sudah Bianca sudah menyelesaikan hitungangannya. Dia butuh biaya sekitar dua puluh juta untuk membuat sepuluh kebaya yang akan dipakai dalam dua acara terdekat ini. Dua puluh juta adalah uang yang tidak sedikit. Bianca tidak boleh menggunakan uang yang Willy berikan begitu saja tanpa seizin Willy.
Bianca teringat dia mempunyai uang dari kedua orang tuanya. Bianca kembali berpikir apa dia gunakan uang itu saja. Dia akan menjelaskannya kepada Willy nanti. Iya, ini sangat mendesak. Bianca harus sudah meminta Icha menghubungi pihak penjahit agar bisa menjahit ulang kebaya-kebaya mereka.
Bianca mengambil ponselnya dan menyalakan layarnya. Bianca melihat banyak sekali notif pesan dari Gio. Untung saja Bianca tidak meladeninya. Ada satu notifikasi dari Gio yang membuat Bianca penasaran. Bianca pun ingin membukanya, tetapi dia urungkan. Saat ini dia lebih memilih menghubungi Naena dan Icha.
Bianca menekan nomor Naena. Dia menunggu beberapa deti hingga terdengar nada sambung. Tidak perlu menunggu lama Naena mengangkat telepon dari Bainca.
“Halo Bii” ucap Naena.
“Na, kamu masih di kantor?” Tanya Bianca.
“Ini aku sedang siap-siap mau pulang” jawab Naena.
“Ada apa Bii, ada masalah dengan laporanku?” Tanya Naena.
“Bukan. Aku ingin kita rapat bertiga” ucap Bianca.
“Okey, kapan dan dimana?” Tanya Naena.
Bianca berpikir tidak mungkin Bianca keluar rumah. Jelas-jelas Papi dan Gio melarangnya keluar rumah. Dari pada menambah masalah Bianca pun memilih untuk menuruti ucapan Papi dan Gio.
“Jam sepuluh di rumahku bagaimana?” Tanya Bianca.
“Okey. Besok setelah rapat dengan Ibu Ajeng aku dan Icha langsung ke rumahmu ya” ucap Naena.
“Ibu Ajeng yang akan acara dua pekan lagi?” Tanya Bianca memastikan.
“Iya Bii benar. Rencananya mereka akan fitting besok” ucap Naena dengan nada yang mulai melemah.
Bianca memejamkan matanya. Dalam dunia bisnis memang ada pasang surutnya. Tetapi kasihan sekali Naena dan Icha besok mereka harus menghadapi Ibu Ajeng. Ya, memang Ibu Ajeng tidak seperti Ibu Rita yang tempo lalu sangat cerewet. Ibu Ajeng sangat pengertian dan menurut. Justu karena Ibu Ajeng dan kedua mempelai itu baik mereka jadi merasa tidak enak.
“Na, bukannya kita sudah reschedule jadwal fitting mereka ya?” tanya Bianca memastikan.
“Iya, karena salah satu penjahitnya ada yang sakit jadi ada dua kebaya yang belum selesai” jawab Naena.
“Kita akan mereschedul lagi kalau begitu. Pasti mereka kecewa” ucap Bianca pelan.
“Tenang saja Bii. Aku dan Icha yang akan menghadapi Ibu Ajeng besok. Mereka semua pengertian, aku yakin mereka tidak akan marah” ucap Naena.
“Na, maaf ya. Aku tidak bisa ikut mendampingi kalian” ucap Bianca dengan nada sedih.
“Tidak apa-apa Bii. Kamu tenang saja di rumah. Aku dan Icha akan mengatasi masalah ini” ucap Naena.
“Terima kasih ya. Kalian sangat pengertian sekali” ucap Bianca.
“Kita sahabat Bii, dan akan selalu membantu satu sama lain” ucap Naena.
“Aku sayang kalian” ucap Bianca.
“Kami juga sayang kamu Bii” ucap Naena.
“Sudah sore, kamu nanti hati-hati di jalan ya” ucap Bianca.
“Iya. Kamu juga istirahat jangan banyak pikiran” ucap Naena.
“Iya” ucap Bianca.
Bianca lega sekali. Bianca merasa sangat beruntung sekali dia selain mempunyai mertua yang baik dan pengertian. Dua sahabatnya Naena dan Icha pun juga sama baiknya dan selalu ada untuknya.
Bianca meneteskan air matanya. Dia mempunyai mertua, sahabat, anak, dan orang-orang yang menyayanginya. Tetapi kenapa saat ini suaminya justru pergi.
“Will, maaf. Aku minta maaf Will. Tolong kembalilah” lirih Bianca.
Bianca sebenarnya tidak ingin menangis saat ini. Tetapi air matanya dan hatinya saat ini tidak bisa dibohongi. Bianca sedih Willy sudah empat hari tidak kembali dan tidak ada kabar. Walau Bainca terus berpikir Willy baik-baik saja dan akan kembali, tetap saja hatinya tidak tenang. Di tambah masalah yang terus bermunculan menimpa dirinya.
“Jika kamu disampingku aku yakin, aku bisa menghadapinya bersamamu Will” lirih Bianca lagi.
Ponsel Bianca berdering dan mengagetkan Bianca yang saat ini sedang sedih memikirkan Willy. Bianca menghapus air matanya, lalu melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Nathan.
“Nathan, ada apa dia menghubungiku?” Tanya Bianca sambil melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Dari pada bertanya-tanya sendiri, Bianca mengangkat telepon dari Nathan.
“Halo Nath” ucap Bianca.
“Halo cantik” terdengar suara pria dan Bianca yakin itu bukanlah Nathan melainkan Gio.
“Kamu” ucap Bianca terkejut.
“Hem, aku mengirim pesan sejak tadi kamu tidak membalas ataupun membacanya. Giliran Nathan menghubungimu kamu langsung mengangkatnya” ucap Gio.
“Jangan menggangguku aku sibuk” ucap Bianca.
“Sombong sekali” ucap Gio.
“Bukan urusanmu. Ada apa menghubungiku melalui ponsel Nathan?” Tanya Bianca.
“Aku cuma ingin meminta maaf karena tidak jadi datang” ucap Gio.
Bianca melebarkan matanya tidak percaya. Gio memang gila.
“Aku tidak ada waktu untuk bermain-main denganmu” ucap Bianca yang sudah habis dengan kesabarannya.
Dia sedang sedih, lalu Gio menghubunginya hanya untuk menghancurkan semuanya. Benar-benar gila pria satu ini.
“Aku tidak ingin bermain-main denganmu. Aku ingin serius denganmu. Kapan kita mau ke penghulu” ucap Gio.
Bianca dengan kesal langsung mematikan ponselnya dan membantingnya ke lantai. Untung saja lantai kamarnya menggunakan karpet tebal sehingga ponselnya tidak terkena benturan lantai langsung.
“DASAR PRIA GILA!” Pekik Bianca kesal.