Jakarta
Ini adalah hari keempat sejak Willy tidak kembali. Hati Bianca masih sedih. Tetapi Bianca tetap berusaha kuat demi Aditya. Karena Bianca tahu kalau Willy sedang berada disuatu tempat yang Bianca tidak tahu dimana. Bianca hanya berharap Willy baik-baik saja dimanapun itu.
“Bu, ada telepon dari Bapak Papi” ucap Bi Inah menghampiri Bianca yang sedang menidurkan Aditya di kamarnya.
“Iya Bi” ucap Bianca.
Bianca bangun dengan pelan-pelan agar Aditya tidak terbangun. Lalu Aditya meletakkan bantal dan guling di pinggir ranjang untuk menjaga Aditya. Bianca dan Bi Inah pun melangkah keluar. Bi Inah melangkah ke dapur dan Bianca menuju telepon.
“Mina kamu sudah selesai mencuci baju Aditya?” Tanya Bianca yang melihat Mina baru saja keluar dari dapur.
“Sudah Bu. Saya baru selesai menjemurnya di belakang” ucap Mina.
“Oh, tolong jaga Aditya di kamar ya. Dia lagi tidur” ucap Bianca.
“Baik bu. Saya juga mau sekalian meneriska pakaian Aditya” ucap Mina.
“Iya terima kasih” ucap Bianca.
Bianca pun melanjutkan langkahnya menuju ruang televisi. Bianca mengangkat telepon dari Papi.
“Halo Pi” ucap Bianca.
“Bii apa kamu pernah menemui Gio lagi?” Tanya Papi to the point.
Bianca menelan salivanya. Gawat apa Papi tahu kalau dia kemarin sempat ke rumah sakit. Bianca pun bingung harus menjawab apa kali ini.
“Menemui Gio kapan Pi?” Tanya Bianca.
“Iya setelah Gio dari rumah kalian, apa kamu pernah menemuinya?” Tanya Papi memperjelas pertanyaannya.
“Tidak Pi” ucap Bianca
“Maaf Pi, aku berbohong” batin Bianca.
“Oh syukurlah. Papi kira wanita yang datang ke rumah sakit kemarin itu kamu” ucap Papi.
Tangan Bianca pun bergetar. Jadi benar kemarin Papi melihatnya. Ya Tuhan untung saja bianca memakai baju perawat, kalau tidak pasti Papi sudah mencurigainya.
“Memang kenapa Pi?” Tanya Bianca.
“Papi sedang mencari tahu sepertinya ada orang ketiga selain Gio. Tetapi Papi belum yakin siapa mereka. Ada kemungkinan Willy bersama orang ketiga itu” ucap Papi.
“Maksud Papi ada orang yang menculik Willy?” Tanya Bianca berkejut.
“Bukan menculik. Papi belum tahu pasti. Yang tahu hanyalah Gio. Karena pagi ini dia sudah mencabut laporannya terhadap Willy. Papi akan mencari tahunya. Kamu tenang saja. Kalau ada info lagi Papi akan mengabarimu. Untuk saat ini janganlah kamu keluar dari rumah. Papi takut terjadi sesuatu kepadamu” ucap Papi.
“I iya Pi” ucap Bianca gugup.
“Kamu istirahatlah. Papi mau melanjutan pekerjaan Papi” ucap Papi lagi.
“Terima kasih Pi” ucap Bianca.
Bianca masih berdiri setelah menutup teleponnya. Ucapan Papi tadi terdengar menakutkan. Bianca diminta untuk tidak keluar karena akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Bianca bingung maksud ucapan Papi itu.
Bianca pun teringat kalau dia harus menghubungi Icha menanyakan soal video itu. Bianca kembali mengangkat gagang teleponnya dan mengetikkan nomor ponsel Icha. Hanya menunggu sekitar dua kali nada tunggu Icha sudah langsung mengangkatnya.
“Halo Cha” ucap Bianca.
“Bii, gawat” ucap Icha yang terdengar panik.
“Ada apa?” Tanya Bianca.
“Entah tikus dari mana, di wadrobe koleksi kebaya-kebaya kita habis rusak karena tikus-tikus itu” ucap Bianca.
“Tikus, kenapa bisa ada tikus. Bukankah kita sudah menggunakan jasa rentokil pest?” Tanya Bianca bingung.
“Aku juga belum tahu kenapa bisa banyak tikus di dalam waadrob kita. Aku langsung menghubungi pihak rentokil. Mereka sudah datang dan saat ini sedang membasmi hewan menjijikan itu” ucap Icha.
“Selain wadrobe kebaya apalagi?” Tanya Bianca dengan lemas karena terkejut.
“Sementara hanya wadrobe kebaya saja Bii. Mungkin karena dia lebih dekat dengan kaca dan letaknya di pojok. Untungnya butik gaun pengantin kita aman Bii. Cuma saat ini aku meminta teman-teman untuk mengeceknya juga” jawab Icha.
“Okey, kamu tolong info kalau semuanya sudah selesai ya” ucap Bianca.
“Iya Bii. Oh iya kamu ada apa menghubungiku. Sebenarnya aku tidak mau menceritakan tentang kejadian ini, aku takut menambah beban pikiranmu” ucap Icha.
“Tidak apa-apa Cha. Aku pun harus tahu apa yang terjadi disana” ucap Bianca.
“Oh iya, aku ingin menanyakan apa kamu masih mempunyai video Willy dan Gio?” Tanya Bianca.
“Sepertinya masih ada. Sebentar aku cek” ucap Icha.
Bianca menunggu beberapa detik untuk Icha mengecek ponselnya.
“Bii, sepertinya waktu itu aku tidak pernah menghapusnya setelah kita lihat bersama. Tetapi ini di ponselku sudah tidak ada” ucap Icha.
“Jadi filenya terhapus. Kamu tahu siapa yang menghapusnya?” Tanya Bianca bingung.
“Iya sepertinya filenya terhapus. Tetapi aku tidak tahu siapa yang menghapusnya. Selama ini Jonathan juga tidak pernah memakai ponselku” ucap Icha.
Bianca menghela nafas.
“Ya baiklah. Kalau sudah terhapus” ucap Bianca.
Bianca menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia memijit keningnya yang terasa sakit karena beban pikirannya semakin bertambah.
“Ya Tuhan cobaan apalagi yang menimpaku” lirih Bianca.
Bianca pun semakin pusing memikirkan semua masalahnya yang terus saja bertambah. Papi melangnya keluar rumah, lalu bagaimana dia bisa mencari tahu Willy dan melihat masalah di Managementnya. Untung saja ada Mina yang membantunya menjaga Aditya, sehingga dia tertolong.
Telepon rumah Bianca kembali berbunyi. Bianca menghela nafasnya. Siapa lagi kali ini yang menghubunginya. Bianca berharap kali ini bukan lagi masalah untuknya. Dengan gontai Bianca berdiri dan melangkah menuju telepon.
“Halo” ucap Bianca.
“Bianca ini aku Gio” ucap Gio.
Ternyata Gio yang menghubunginya. Di dalam hati Bianca berpikir pastilah Gio akan menambah kembali masalahnya. Dan kali ini apa lagi yang akan Gio buat.
“Apa lagi masalah yang mau kamu tambahkan?” Tanya Bianca dengan frustasi.
“Hei, aku baru saja menghubungimu. Kamu sudah membentakku dengan ketus” ucap Gio.
“Kalau begitu jangan menghubungiku” ucap Bianca.
“Tapi aku mau menghubungimu dan harus menghubungimu” ucap Gio.
“Langsung saja ada apa? Aku sedang tidak ingin berdebat” ucap Bianca.
“Kamu saat ini tetaplah di rumah, dan jangan keluar” ucap Gio.
“Ada apa ini, kenapa Papi dan Gio meminta aku tetap di rumah?” Tanya Bianca dalam hatinya dengan sangat penasaran.
“Apa maksudmu melarangku keluar rumah?” Tanya Bianca yang mencoba tidak tahu apa-apa.
“Sebenarnya aku juga tidak ingin melarangmu. Justru aku ingin kamu datang ke apartemenku saat ini” ucap Gio sambil terkekeh.
Bianca berdecih. Bisa-bisanya pria ini sedang serius dia bercanda.
“Sudah ikuti saja perintahku” ucap Gio.
“Jika kamu tidak memberikanku alasan yang masuk akal, aku akan keluar sore ini” ucap Bianca dengan sengaja menantang Gio.
Sebenarnya Bianca penasaran sekali. Apa maksud dari Gio dan Papi melarangnya keluar. Dan juga siapa yang akan mencelakakan Bianca.
“Kamu berani keluar, belum sampai depan pintu rumahmu. Aku yang akan mendatangimu saat itu juga” ucap Gio.
“Gila” ucap Bianca.
“Kenapa kamu keras kepala sekali. Untuk saat ini ikuti saja apa yang aku katakan. Semua ini untuk kebaikanmu juga. Atau kamu lebih memilih aku menculikmu dan Aditya dan membawanya bersamaku agar kamu dan Aditya aman” ucap Gio.
“Kamu melarangku tanpa alasan yang jelas. Jelaskan dulu kenapa aku tidak boleh keluar, kalau alasanmu jelas dan bisa aku terima aku akan menurutimu” ucap Bianca.
“Aku akan datang ke rumahmu setelah ini” ucap Gio.
“Untuk apa?” Tanya Bianca.
“Untuk menjelaskannya” jawab Gio.
“Sekarang saja lewat telepon. Aku tidak mau bertemu denganmu” ucap Bianca.
“Tapi aku mau menjelaskannya dan aku ingin bertemu denganmu. Itu alasanku” ucap Gio.
“Silahkan kalau kamu mau dihabisi oleh suami dan mertuaku” ucap Bianca mengancam Gio.
“Tenang saja, itu tidak akan terjadi” ucap Gio.
“Terserah. Tapi kalau aku tidak mau menemui jangan salahkan aku” ucap Bianca.
“Kalau begitu kamu tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi” ucap Gio membalikkan kata-kata Bianca.
“Ya ya baiklah. Kamu menang. Lalu bagaimana kamu datang ke rumahku. Aku benar-benar seperti wanita jahat yang berselingkuh saat suamiku tidak ada” ucap Bianca kesal.
“Kamu yang menganggapnya begitu. Aku tidak. Aku dan kamu tidak melakukan apa-apa” ucap Gio.
“Terserah kamu sajalah” ucap Bianca.
“Tunggu aku. Tidak perlu repot menyiapkan makan atau minum ya” ucap Gio sambil terkekeh.
“Kau! Benar-benar sangat mengesalkan” ucap Bianca.
Gio tidak berkata-kata lagi. Bianca pun menutup teleponnya. Bianca penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Dan Bianca ingat bisa jadi Gio memang banyak tahu tentang semua kejadian ini. Bianca memejamkan matanya.
“Semoga kali ini keputusanku untuk menerima Gio datang ke rumah tidaklah salah” ucap Bianca pelan.
Bianca pun menghela nafas. Baru saja Bianca hendak beranjak dari ruang televisi terdengar suara kedatangan Mami. Bianca pun terkejut dan panik. Tentu saja panik, Gio mau datang kesini. Bagaimana jika Mami tahu Gio disini, habislah Gio dan Bianca.
“Gawat” ucap Bianca.
“Bii, kamu disini” ucap Mami.
“Oh iya Mi. Aku baru saja telepon Icha. Mami baru datang” ucap Bianca.
“Iya, Mami baru saja sampai. Tadi abis arisan terus Mami kesini. Oh iya Mami bawakan seafood kesukaan kamu” ucap Mami.
“Tapi Bianca sudah lama tidak makan seafood” ucap Bianca.
“Hei, kamu juga butuh asupan gizi sayang. Bukan berarti Willy alergi seafood kamu juga ikutan tidak suka makan seafood. Sudah makan saja sekali-kali tidak apa makan seafood” ucap Mami.
“Terima kasih Mi” ucap Bianca.
Memang sudah lama Bianca tidak makan seafood. Karena Bianca terbiasa tidak memasak makanan seafood. Bianca tidak ingin membuat alergi Willy kambuh. Bianca jadi ingat waktu pertama kali mereka pergi ke restoran seafood.
Bianca tiba-tiba tersenyum melihat bungkusan yang ada di tangannya. Willy sengaja mengajaknya makan disana dan Willy tidak makan apa-apa. Ya Tuhan Bianca menjadi merindukan Willy. Dulu Willy memang galak kepadanya, tetapi Willy selalu berusaha memberikan kesukaan Bianca.
“Kenapa tersenyum?” Tanya Mami.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingat Willy Mi” ucap Bianca.
“Tenang ya. Mami yakin jika amarahnya sudah mereda Willy akan kembali. Mami mengenal anak laki-laki Mami itu” ucap Mami.
“Iya Mi. Bianca akan menunggu Willy kembali” ucap Bianca menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih ya Bii. Kamu sudah banyak berkorban untuk anak Mami” ucap Mami.
“Tidak perlu berterima kasih Mi. Aku melakukan semua itu karena aku mencintai Willy. Dan sudah tugasku sebagai seorang istri menerima dia apa adanya dan menunggunya kembali” ucap Bianca.
Mami sangat terharu dengan ucapan Bianca. Mami pun memeluk Bianca dengan erat. Willy tidak salah memilih Bianca menjadi istrinya. Walau dulu Mami sempat menolaknya karena Mami tidak suka dengan cara licik Willy mendapatkan Bianca. Kini Mami percaya Bianca memang diciptakan untuk mengisi kekurangan Willy.
“Mami sangat menyayangimu Bii” ucap Mami.
“Aku juga sangat menyayangi Mami” ucap Bianca.