Bali
Sudah tiga hari Willy kembali ke Bali. Tetapi saat ini Willy masih di dalam villa milik Gunardi. Gunardi sengaja menahan Willy sementara di villanya agar Willy tidak bisa kemana-mana. Luna pun juga belum tahu kalau Willy sudah kembali ke Bali.
Ya, setelah malam itu Gunardi bisa membebaskan Willy dari penjara, di tengah perjalanan Willy sempat untuk tidak mengikuti mobil Gunardi. Willy sengaja pergi karena hatinya masih emosi dan bimbang. Di dalam hati kecilnya dia masih memikirkan Bianca dan Aditya. Apalagi Willy teringat kalau dia mengunci Bianca di dalam kamar mandi.
Willy berniat ingin kembali ke rumahnya. Willy sudah menambah kecepatan mobilnya untuk lari dari Gunardi. Sayangnya Gunardi tahu niat Willy yang tidak mengikutinya. Gunardi pun meminta anak buahnya mengikuti Willy dan menghalangi jalannya.
Malam itu pun Gunardi berhasil membawa Willy ke Bali dengan mengancamnya. Kalau Willy tidak mau ikut dengannya Gunardi akan mencelakakan Bianca. Gunardi memberi tahu jika saat itu Bianca sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi sendirian. Bukan hal yang sulit untuk Gunardi mencelakakan Bianca malam itu.
Di dalam villa Willy masih di dalam kamarnya. Selama tiga hari ini Willy tidak berbicara sama sekali dengan Gunardi. Selama tiga hari pula Willy terus memikirkan kebodohannya karena sudah terlanjur emosi dan akhirnya bisa berakhir di Bali lagi.
Gunardi datang sore hari ini. Willy masih di dalam kamarnya. Sepertinya sudah cukup tiga hari bagi Willy yang terus mengurung diri dikamar. Gunardi tidak bisa menunggu lama. Luna sering sekali membicarakan Willy. Gunardi tahu Luna pasti sangat merindukan Willy. Tetapi Luna tidak berani menghubungi Willy karena takut mengganggu waktu Willy.
Gunardi masuk ke dalam kamar Willy dengan mudah. Mau Willy menguncinya dari dalam, Gunardi pun tetap bisa membukanya. Karena Villa ini adalah miliknya dan kunci pintu villa ini menggunakan kode. Gunardi bisa setiap saat merubah kode itu.
“Mau berapa lama kamu seperti ini?” Tanya Gunardi.
“Anda memaksa saya kembali kesini. Masalah saya belum selesai di Jakarta” ucap Willy.
“Kamu mau mendekam di penjara, hah” ucap Gunardi.
“Saya bisa mengurusnya sendiri” ucap Willy.
“Kamu lupa, Papimu saja sudah tidak mau membantumu” ucap Gunardi dengan senyum sinis.
“Saya harus menemui istri saya dan menyelesaikan semua masalah ini” ucap Willy.
“Untuk apa kamu menemui wanita yang sudah mengkhianatimu?” Tanya Gunardi.
“Bianca bukan wanita seperti itu. Saya yakin istri saya jujur. Hanya saya saja belum mendengarkan penjelasannya” ucap Willy memejamkan matanya.
Ya, selama tiga hari ini Willy menyesal atas emosinya yang meledak. Seharusnya dia mendengarkan penjelasan Bianca. Willy lupa dulu dia bertengkar hebat karena tidak memberikan kesempatan Bianca untuk menjelaskan semuanya dan kini terulang lagi.
“Kamu tahu apa? Wanita itu jika melihat pria lebih kaya raya dari suaminya tentu saja mereka tergiur. Wajah Gio pun juga termasuk dalam kategori di atas rata-rata. Sekarang lihat dirimu, kamu sudah tidak sesukses Gio, dan kamu lama meninggalkannya. Mungkin istrimu itu membutuhkan sentuhan laki-laki” ucap Gunardi yang sengaja memanas-manasi Willy.
Willy mencengkram kedua tangannya dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Willy tidak terima semua ucapan Gunardi yang menuduh Bianca seperti itu. Willy yakin Bianca bukanlah wanita seperti yang Gunardi tuduhkan.
“Saya mengenal istri saya dengan baik” ucap Willy.
“Oh ya kamu yakin. Istri yang baik saat tahu suaminya belum pulang seharusnya dia mencarinya, bukan menemui selingkuhannya di rumah sakit” ucap Gunardi lagi yang masih berusaha membuat Willy panas.
“Tidak mungkin. Saya yakin dia tidak ada hubungan apa-apa dengan pria kurang ajar itu” ucap Willy.
“Baiklah. Lihat ini” ucap Gunardi melemparkan amplop coklat.
Willy membuka amplop coklat itu, lalu dia mengeluarkan isi dari amplop itu. Ternyata disana ada lima buah foto dan semuanya itu foto Bianca menggendong Aditya saat berada di rumah sakit.
“Kenapa Bianca ke rumah sakit, apa dia dan Aditya sakit?” Tanya Willy terkejut melihat foto istri dan anaknya sedag di rumah sakit.
“Rumah sakit itu adalah rumah sakit selingkuhannya di rawat” ucap Gunardi.
Willy masih diam dalam pikirannya.
“Lihat foto itu diambil dari depan ruang perawatan VVIP. Untuk apa dia kesana kalau bukan menemui selingkuhannya” ucap Gunardi lagi.
Ya, foto itu diambil saat Bianca ke rumah sakit membawa Aditya yang panas. Dan saat itu Bianca baru saja keluar dari lift. Tanpa Bianca sadari disana ada anak buah Gunardi yang sengaja mengambil gambarnya.
“Mungkin dia sedang memeriksa anak kami yang sakit” ucap Willy yang berusaha tidak terpancing.
“Terserah dirimu” ucap Gunardi pergi meninggalkan Willy.
Willy menatap foto-foto itu. Willy tahu foto itu diamil bukan di ruang tunggu poli anak ataupun poli umum. Tetapi foto itu adalah di ruang tunggu ruangan VVIP. Willy menutup matanya dia berusaha untuk tidak berpikir buruk tentang Bianca.
“Bii aku mohon kamu tidak pernah menemuinya lagi. Aku yakin kamu tidak mengkhianatiku Bii. Jangan sampai ada fotomu bersama pria kurang ajar itu. Aku mohon jangan pernah menemuinya. Jangan membuat posisiku disini tambah sulit” lirih Willy.
Malam ini Willy seperti malam kemarin Willy makan malam sendiri. Willy memasak makanan instan yang disediakan Gunardi. Willy duduk di meja makan. Pikirannya masih terbayang foto Bianca dan Aditya di rumah sakit tadi.
“Untuk apa kamu ke rumah sakit Bii?” Tanya Willy pelan.
Willy menyendok makanannya. Entah rasanya bagaimana Willy tidak tahu, yang jelas saat ini perasaannya dalam keadaan sangat tidak baik. Di hatinya berusaha menolak kalau Bianca selingkuh darinya.
Willy melihat bangku di sampingnya, tiba-tiba bayangan Bianca ada disana. Willy tersenyum, dia pun teringat makan malam bersama istrinya beberapa minggu belakangan ini. Bianca duduk di samping bangkunya. Bianca selalu menyendoki nasi dan lauk ke piring Willy.
Makan malam Willy terasa sangat nikmat jika bermasa istrinya, belum lagi Aditya yang ikut di kereta dorongnya. Willy merindukan makan malam seperti itu. Willy pun mencoba menyentuh bayangan Bianca tanpa sadar. Sayangnyya itu hanya bayangan dan Willy tersadar, Bianca tidak ada disini.
Willy meletakkan sendoknya dan menyandarkan punggung di kursi. Willy memejamkan matanya. Willy pun kembali terbayang tentang kebersamaannya bersama Bianca. Makan malam terakhir sebelum kejadian ini.
Makan malam saat Bianca ulang tahun. Senyum Bianca saat Willy mengucapkan selamat ulang tahun, senyum Bianca saat semua orang-orang yang dia sayangi memberikan kejutan ulang tahun. Willy sangat merindukan senyuman itu.
“Bii, maaf seharusnya aku tidak terbawa emosi. Apakah kamu mencariku Bii?” Tanya Willy dengan lirih.
Willy membuka matanya. Willy ingat Doni masih di Bali. Willy harus bisa keluar dari villa ini dan menemui Doni. Tetapi bagaimana caranya, Gunardi tidak akan membiarkan Willy keluar begitu saja, sebelum Willy melamar Luna.