“Bianca jika aku mengatakan sesuatu yang buruk tentang suamimu apakah kamu akan percaya?” Tanya Gio dengan serius.
“Aku tidak akan semudah itu percaya kepadamu. Karena aku lebih percaya dengan suamiku” ucap Bianca.
Gio tersenyum sedih. Berapa kali Gio harus tersadar, dihati Bianca tetap ada Willy, dan akan sangat sulit untuk Gio memasukinya.
“Bangunlah” ucap Gio.
“Dimana Willy?” Tanya Bianca.
Suara dering telepon membuat Gio terselamatkan dari pertanyaan Bianca itu. Gio pun memilih mengangkat teleponnya.
“Halo” ucap Gio.
“Pak ada yang ingin menemui anda, namanya Nathan” ucap Security.
“Nathan datang” ucap Gio dengan sengaja membesarkan suaranya agar Bianca mendengar.
Bianca tentu saja terkejut.
“Iya Pak, sekarang dia sedang menuju ruangan anda. Kalau dia juga termasuk orang yang dilarang menemui anda saya akan mengusirnya” ucap security.
“Dia teman saya tidak apa-apa” ucap Gio.
“Baik Pak” ucap security.
Gio menutup teleponnya. Bersamaan dengan itu pintu kamar Gio pun diketuk. Gio yakin itu pasti adalah Nathan. Bianca pun menoleh ke arah pintu.
“Pasti Nathan” ucap Gio.
Bianca pun segera berdiri.
“Kenapa Nathan bisa datang kesini?” tanya Bianca terkejut.
“Dia sahabatku waktu sekolah jelas saja dia menjengukku” jawab Gio.
“Lalu bagaimana jika dia melihatku disini?” Tanya Bianca.
“Kemarilah” ucap Gio yang merebahkan tubuhnya.
“Kamu mau apa lagi?” Tanya Bianca.
“Kamu mau Nathan tahu kamu ada disini atau tidak?” Tanya Gio.
“Tentu saja tidak” jawab Bianca.
“Kalau begitu berpura-puralah merapikan selang infusku” ucap Gio.
Bianca menghela nafasnya dan melangkah ke arah Gio. Saat Bianca sudah di samping Gio, masih ada bekas air mata di pipi Bianca. Tangan Gio ingin sekali membasuh pipi Bianca yang basah itu, tetapi Gio yakin Bianca tidak akan mengizinkannya untuk menyentuh pipi Bianca. Gio mengambil tissu lalu memberikanya kepada Bianca.
“Bersihkan air matamu. Nathan akan curiga jika melihat perawat yang menangis, nanti dia pikir aku melakukan m***m dengan perawat disini” ucap Gio.
Ucapan Gio sepertinya bisa menghibur Bianca, terbukti wajah sembab Bianca kini terlihat terkekeh. Dan tentu saja itu membuat Gio senang melihatnya. Setidaknya Gio tidak ingin melihat ada air mata lagi di pipi Bianca.
“Masuk” teriak Gio.
Pintu terbuka dan benar sekali Nathan datang menjenguk Gio. Bianca pun menunduk dan berpura-pura merapikan selang infus Gio.
“Apa aku menggangumu?” Tanya Nathan.
“Tentu saja tidak. Duduklah” ucap Gio.
“Apa yang kamu bawa?” Tanya Gio.
“Makanan kesukaanmu, cumi dan udang goreng saus tiram” jawab Nathan.
“Buatanmu” ucap Gio.
“Tentu saja” jawab Nathan.
“Aku pergi. Kalau terus disini Nathan akan curiga” ucap Bianca pelan kepada Gio.
“Bagaimana dengan tasmu?” Tanya Gio.
Benar juga tas Bianca ada di sofa. Dan saat ini Nathan sedang duduk di sana. Tidak mungkin Bianca keluar dengan membawa tasnya.
“Aku akan mengambilnya setelah Nathan pergi” jawab Bianca.
“Sore datanglah lagi. Aku akan melarang semua orang yang datang kesini” ucap Gio.
“Baiklah” ucap Bianca.
“Satu lagi, di pos jaga depan mintalah sweater agar kamu tidak terlalu mencolok memakai pakaian perawat jika keluar.
Bianca menganggukkan kepalanya. Bianca pun melangkah tanpa menatap kepada Nathan. Bianca sepertinya selamat karena Nathan sibuk sedang mengeluarkan makanan yang dia bawa. Setelah keluar dari ruangan Gio. Bianca bernafas lega.
Jantungnya hampir saja mau copot. Bianca tidak tahu apa yang akan terjadi jika Nathan tahu dia datang menemui Gio. Bianca pun melangkah di lorong. Sampai di pos jaga security. Tanpa Bianca bilang seorang security sudah memberikannya sweater berwarna hitam.
“Ini Nyonya” ucap security itu.
“Terima kasih” ucap Bianca.
Bianca menerimanya. Lalu Bianca melangkah menuju toilet. Bianca mengenakan sweater hitam itu. Lalu Bianca membuka ikatan konde rambutnya. Saat Bianca ingin melepas kacamatanya, Bianca ragu.
“Lebih baik aku tetap pakai. Kalau sudah keluar dari rumah sakit ini barulah aku buka” ucap Bianca.
Bianca keluar dari toilet dan saat dia keluar dari toilet Bianca melihat ada Papi disana. Bianca pun terkejut sekali. Papi memang membelakanginya. Bianca langsung melangkah cepat menuju lift. Bianca melihat Papi sedang beradu argumen dengan dua security penjaga itu.
“Sepertinya Papi tidak boleh masuk” ucap Bianca saat pintu lift tertutup.
Iya, Bianca jelas sekali Papi mengancam security itu dengan nada dingin karena tidak dizinkan masuk. Bianca pun semakin bertanya kenapa dirinya dan Nathan dengan mudah masuk melewati penjaga, tetapi Papi tidak.
“Pasti ini yang Papi bilang tidak bisa menemui Gio. Gio pasti yang melakukan semua ini” ucap Bianca.
Bianca pun melihat dirinya di pantulan dinding lift. Jadi inilah kenapa Gio meminta Bianca berpakaian seperti perawat. Bianca memejamkan matanya.
Ya, sebenarnya Gio baik. Tetapi kenapa Gio ingin sekali merusak hubungan Bianca dengan Willy. Entahlah Bianca tidak tahu apa yang diingankan Gio. Ya Tuhan Bianca lupa ponselnya di dalam tas. Bagaimana jika ada yang menghubunginya.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai satu. Kalau Bianca naik lagi ke atas dia akan bertemu Papi lalu Nathan. Bianca menggelengkan kepalanya. Bianca sudah terlalu lama disini dan harus segera pulang. Belum lagi Bianca Bianca harus belanja kebutuhan dapur.
Bianca mengigit bibir bawahnya dan melangkah keluar dari lift. Saat Bianca melangkah keluar dari lift ada perawat yang berpakaian hijau menghampirinya.
“Maaf Nyonya” ucap perawat itu.
“Iya” ucap Bianca.
“Kata Pak Gio anda disuruh tunggu sebentar. Ada barang anda yang tertinggal” ucap perawat itu.
“Oh baik. Terima kasih” ucap Bianca.
“Mari ikut saya” ucap perawat itu.
Bianca pun mengikutinya hingga dia masuk ke ruangan di belakang recepsionist. Bianca hanya menunggu dua menit tidak lama security yang ada di depan ruang jaga Gio datang dan memberikan tas miliknya.
“Ini tas Nyonya ketinggalan” ucap securty itu.
“Terima kasih” ucap Bianca.
Bianca menerima tasnya. Lalu dia membuka dan mengeceknya. Di dalam tas ada kertas. Bianca mengambilnya dan disana ada tulisan tangan. Bianca yakin ini adalah dari Gio.
Sore aku sudah bisa pulang. Jadi kamu tidak perlu kesini lagi. Jika ingin menemuiku ini apartemenku datanglah kesana. Apartemen ini tidak ada yang tahu, jadi kamu akan aman dan tidak ada yang akan mengetahuinya. Apartemen ini juga di dekat Mall, jadi jika ada yang melihatmu kamu bisa beralasan sedang pergi ke Mall.
Pria yang selalu menantikanmu
Gio
Bianca menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya masih saja pria ini tidak sopan kepadanya. Bianca meremas kertasnya lalu membuangnya ke tempat sampah. Bianca pun segera pergi dari rumah sakit dan berbelanja kebutuhan dapur.
Kini Bianca sedang dalam perjalanan pulang. Semua belanjaan sudah dia beli. Agar tidak terulang untuk yang kedua kali. Bianca sudah mengganti pakaiannya lagi. Baju perawat yang tadi Bianca gunakan, Bianca buang di tempat sampah supermarket.
Di rumah ternyata ada Mami dan juga Papi. Bianca menarik nafasnya. Dia harus tetap terlihat biasa saja. Jangan sampai Mami dan Papi curiga kepadanya. Bianca tidak ingin menambah masalah baru.
“Kamu baru pulang Bii?” Tanya Mami yang sedang menggendong Aditya.
“Iya Mi” jawab Bianca.
“Kalau tahu kamu belanja, harusnya bilang Mami. Biar Mami temani” ucap Mami.
“Tidak apa Mi. Tadi Bianca sekalian mencari Willy juga” ucap Bianca.
“Tenang saja, Willy pasti kembali” ucap Mami.
“Iya Mi” ucap Bianca menganggukkan kepalanya.
“Bianca bawa ini dulu ke dapur ya” ucap Bianca.
“Iya” jawab Mami.
Bianca melangkahkan kaki dan membawa belanjaaannya ke dapur. Bianca pun meminta Bi Inah untuk merapikan semua belanjaannya. Setelah itu Bianca mencuci tangannya dan mengambil air dingin.
Bianca kini sudah berkumpul bersama Papi dan mami di ruang televisi. Seperti Biasa Papi sedang melihat siaran berita. Mami masih menggendong Aditya.
“Anak Mama lagi sama Oma ya” ucap Bianca.
“Iya Ma. Aku kangen Oma” ucap Mami dengan memperagakan suara seperti anak kecil.
“Kamu dari mana Bii?” Tanya Papi.
Bianca menelan salivanya. Gawat, apa Papi tahu kalau Bianca tadi dari rumah sakit menjenguk Gio. Bianca pun bingung harus menjawab bagaimana, kalau Bianca bilang tidak, tetapi Papi ternyata melihatnya bisa gawat. Pastilah Mami dan Papi akan curiga kepadanya.
“Bianca baru dari belanja Pi. Tadi Mamikan sudah bilang Bianca tidak ada karena sedang belanja” jawab Mami.
“Iya, Papi lupa” ucap Papi.
Bianca bernafas lega. Mami menyelamatkannya dari pertanyaan Papi.
“Papi tadi menemui Gio” ucap Papi.
“Lalu bagaimana Pi?” Tanya Mami penasaran.
Bianca pun ikut memandang Papi. Padahal Bianca memang sudah tahu Papi datang.
“Papi dilarang menemuinya. Papi dengar sore ini dia akan pulang. Papi akan mencoba mendatangi rumahnya” ucap Papi.
“Iya Pi. Mami yakin Gio pasti tahu” ucap Mami.
“Iya Papi juga belum tahu pasti. Hari ini video pemukulan Willy terhadap Gio sudah hilang dari internet” ucap Papi.
“Ya Tuhan video itu sampai viral. Will, maafkan aku pasti nama baiku jadi buruk karena aku” ucap Bianca di dalam hatinya dengan nada sedih.
“Papi sudah menghapusnya?” Tanya Mami.
“Papi baru ingin menghapusnya. Ternyata sudah ada yang lebih dulu menghapus video itu dari internet” jawab Papi.
“Apa itu Gio?” Tanya Mami.
“Sepertinya bukan. Papi sedang menyelidikinya Mi. Sepertinya yang menghapus video ini dialah yang tahu dimana Willy berada” ucap Papi.
Video, Bianca ingat. Jangan-jangan Video yang Icha perlihatkan kemarin. Bianca pun juga penasaran siapa yang menghapus video itu. Walaupun setidaknya itu membantunya karena video itu belum tersebar luas.
Bianca akan menanyakan kepada Icha, apa dia masih menyimpan video itu. Atau dia juga sudah terhapus. Kalau sudah terhapus Bianca akan bertanya siapa yang meminta Icha menghapusnya. Ya, Bianca akan lakukan itu setelah Mami dan Papi pergi.