53. Memohon kepada Gio

1712 Kata
“Bianca jangan kesana. Aah” ucap Gio dengan cepat menarik tangan Bianca menggunakan tangan kanannya yang di perban sehingga dia meringis. “Lepas” ucap Bianca ketus menghempaskan tangan Gio. Gio pun menringis kedua kalinya merasakan sakit pada tangan kanannya. “Kasar sekali kamu” ucap Gio ketus. “Jangan coba-coba menyentuhku” ucap Bianca tidak suka. “Aku menyelamatkanmu. Tunggulah di ruangan ini sampai aku kembali” ucap Gio. “Kenapa?” Tanya Bianca. “Sudahlah dengarkan ucapanku kalau kamu mau semuanya baik-baik saja” ucap Gio. Gio pun segera melangkah mendekati ujung balkon. Bianca sebenarnya masih bingung dengan apa yang terjadi di depan sana. Bianca melihat kali ini Gio tidak main-main dengan ucapannya. Bianca pun memperhatikan Gio. “Apa dia yakin mau melompat ke balkon kamarnya dalam keadaan seperti itu?” Tanya Bianca pelan. “Darurat. Doakan saja aku baik-baik saja. Karena kalau aku jatuh dan mati kamu yang akan susah” ucap Gio yang mendengar ucapan Bianca. Bianca hanya mencibir dan tidak menanggapi ucapan Gio. Lagi pula kalau Gio jatuh ke bawah juga bukan urusan Bianca. Malah baik untuk kesehatan rumah tangganya. Dengan begini Willy tidak akan marah lagi kepada pria aneh di depannya ini. 1 2 3 Dalam hitungan ketiga Gio melompat. Bianca hampir tidak percaya Gio benar-benar nekat meleompat dari balkon. Memang jarak antara balkon tempatnya berdiri ke balkon kamar Gio hanya berjarak sekitar 1 meter. Tetapi masalahnya Gio dalam keadaan tubuh yang sakit dan ini lantai sepuluh. Bianca sampai menahan nafasnya karena ulah lompatan Gio. “Syukurlah Tuhan masih menyelamatkanku. Terima kasih atas doamu Bianca. Tunggulah aku” ucap Gio menoleh ke arah Bianca. Untuk kedua kalinya Bianca mencibir dan menggelengkan kepalanya. Bianca hanya terus melihat Gio yang kini sudah masuk ke dalam kamarnya. Bianca masih penasaran sebenarnya dengan apa yang terjadi. Tetapi jika dia mengingat ucapan Gio, Bianca juga takut jika nanti berakibat fatal. Tiga puluh menit Bianca menunggu di dalam kamar ini. Tiba-tiba Gio memanggilnya dari balkon kamar. Bianca pun segera melangkah ke arah balkon. “Bianca, Bianca” panggil Gio. “Apa? Kamu mau melompat lagi?” Tanya Bianca. “Pakai ini” ucap Gio melemparkan baju perawat berwarna hijau. “Kenapa?” Tanya Bianca semakin bingung. “Kenapa kamu tidak mau menuruti perintahku? Pakai saja dan jangan banyak bertanya” ucap Gio. “Tentu saja aku tidak mau menuruti kamu. Suamiku pergi ini semua karena ulahmu” ucap Bianca. “Kenapa jadi menyalahkan aku?” Tanya Gio. “Ya, jelas kamu yang salah. Kamu mencoba menggangguku. Aku sudah katakan aku tidak mau, kamu masih saja keras kepala” jawab Bianca. “Suamimu yang salah” ucap Gio. “Jelas suamiku marah, karena dia cemburu” ucap Bianca membela Willy. “Sudahlah cepat kamu ganti bajumu sana” ucap Gio. “Untuk apa?” Tanya Bianca yang sebenarnya memang dia tidak mau mengikuti apa yang Gio perintahkan. “Untuk memainkan peran menjadi suster nakal” jawab Gio asal. “KAU!” pekik Bianca kesal dan melempar kembali baju perawat itu hingga mengenai wajah suster. “Kamu ini sangat keras kepala. Aku tahu maksud kedatanganmu menemuiku. Kalau kamu ingin semua baik-baik saja ikuti kata-kataku. Tetapi kalau kamu mau semuanya menjadi lebih rumit, silahkan saja stay dangan egomu” ucap Gio melempar kembali baju perawat itu. “Sudah, aku tunggu kamu lima menit tidak datang ke kamarku, jangan salahkan aku jika security datang dan mengusirmu” ucap Gio lagi. Gio pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Bianca menghela nafasnya kasar. Menurut Bianca, Gio terlalu berbelit-belit. Apa susahnya Gio katakan saja yang dia tahu. Bianca mengambil pakaian perawat itu. Mau tidak mau Bianca pun mengganti pakaiannya saat ini dengan pakaian perawat yang Gio berikan. Bianca sudah mengenakan seragam perawat berwarna biru. Lalu rambut panjangnya Bianca ikat dan di buat seperti konde kecil. Bianca melihat penampilannya. Ya, dia sudah seperti perawat di rumah sakit ini. Bianca pun keluar dari kamar mandi. “Bianca” panggil Gio lagi dari balkon. “Ada apa lagi dengan pria itu?” Tanya Bianca kesal. Bianca melangkah menuju balkon. Gio tiba-tiba terdiam melihat penampilan Bianca. “Tolong kondisikan pandangan anda” ucap Bianca menyindir Gio. “Itulah kenapa aku mendekatimu, karena mataku tidak bisa lepas jika melihatmu” ucap Gio dengan percaya diri. “Gila” ucap Bianca menggelengkan kepalanya. “Ya, salahkan dirimu yang membuatku tergila-gila padamu” ucap Gio dengan frontal. Bianca melebar matanya tidak percaya, Gio benar-benar pria tidak punya akal sehat. Bianca hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau saja saat ini Bianca tidak ingin bertanya keberadaan Willy kepada Gio, sudah pasti Bianca akan melempar mulut Gio dengan batu. “Kalau tahu kita bisa berbicara dibalkon ini, aku tidak perlu ke kamarmu. Cepat katakan dimana suamiku?” Tanya Bianca dengan ketus. “Pakai kacamata itu” ucap Gio melemparkan kacamata bening dengan frame berbentuk kotak. “Apa lagi ini?” Tanya Bianca dengan emosi yang dia tahan. “Pakai dan aku tunggu di kamarku sekarang” ucap Gio. Bianca berdecih lalu mengambil kacamata yang Gio lemparkan. Bianca memakainya lalu Bianca pun melangkah keluar dari kamar Teratai 2. Bianca membuka pintunya dan keluar, lalu dia menutup pintunya kembali. Sepi itulah suasana di lorong ini. Tidak ada perawat ataupun pengunjung yang lewat. Sudahlah Bianca tidak mau memusingkan semua ini, Bianca lebih baik cepat masuk ke dalam kamar Gio yang menjadi tujuannya datang ke rumas sakit ini. “Will, aku harap kamu tidak marah kali ini. Aku lakukan semua ini untuk menyusulmu. Aku ingin kamu pulang dan kembali lagi ke rumah bersamaku dan Aditya” ucap Bianca pelan sebelum dia membuka pintu kamar Gio. Bianca membuka pintu kamar Gio. Bianca masuk dan menutupnya kembali. Bianca tidak melihat ada orang lain selain Gio di dalam kamar ini. Kamar VVIP ada ruang tamu dengan sofa berwarna coklat, dua buah meja, dua nakas, satu lemari besar, single bed, televisi. Kalau Bianca katakan ini bukanlah rumah sakit tetapi mirip dengan hotel. “Kenapa hanya berdiri, kemarilah” ucap Gio yang saat ini sedang duduk di atas ranjangnya. “Aku disini saja. Aku sudah menuruti semua kemauanmu, tolong sekarang katakan dimana suamiku?” Tanya Bianca yang masih berdiri di tempatnya. “Perbanku terlepas, karena melompat dari balkon tadi. Sekarang tolong perbaiki” ucap Gio memperlihatkan perban di tangan kanannya yang terlepas. “Aku akan panggilkan perawat” ucap Bianca. “Silahkan kalau kamu mau dibawa ke kantor security karena menyamar menjadi perawat gadungan” ucap Gio. Lagi dan lagi Bianca terpaksa harus menuruti perintah Gio. Bianca melangkah ke arah Gio. Bianca pun merapikan perban Gio. Dengan kesal Bianca sengaja merapikannya secara kasar. “Bisa tidak kamu jangan kasar-kasar. Suamimu sudah membuatku babak belur seperti ini, sekarang istrinya menambah rasa sakitku” ucap Gio dengan didramatisir. Bukannya menjadi lebih lembut Bianca justru lebih kasar lagi. Kini Bianca sengaja mengikat perban itu dengan kencang hingga Gio meringis. “Auuw. Benar-benar” ucap Gio. “Tidak apa aku akan tetap tahan, selama perawatnya adalah kamu” ucap Gio dengan senyum jahil. “Katakan dimana suamiku?” Tanya Bianca. “Bianca dengarkan aku” ucap Gio mencoba meraih tangan Bianca. “Tolong jangan menyentuhku. Aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi diantara kita. Tolong mengertilah” ucap Bianca yang sudah lelah dengan semua ini. Wajah Gio pun berubah menjadi serius dan menatap Bianca. Cantik, manis dan malang. Itulah tiga kata yang menggambarkan Bianca di hati Gio. Semakin Bianca menolaknya, Gio semakin bersemangat untuk terus mendekati Bianca. Walau Gio tahu sebenarnya semua ini salah. Tetapi semenjak pertama kali melihat Bianca, entah kenapa Gio merasa ingin sekali melindungi wanita ini. Dan Gio pun berusaha mencari tahu tentang Bianca, dan ternyata Bianca adalah istri dari mitra kerjanya. “Kenapa?” Tanya Bianca yang melihat Gio menatapnya tanpa berkedip dan bersuara, apalagi wajahnya sangat serius. “Kenapa kamu masih ingin mencari suami yang tidak baik itu?” Tanya Gio dengan serius. “Karena aku mencintainya” jawab Bianca dengan lugas. “Tapi kamu tidak pantas untuknya” ucap Gio. Bianca memejamkan matanya. Bianca tidak tahu kenapa saat ini air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Mungkin karena Bianca merasa bersalah kepada Willy. Bianca pun tiba-tiba berlutut di hadapan Gio. “Aku memohon kepadamu. Lepaskan suamiku. Aku sangat mencintainya. Kami mempunyai bayi jadi jangan pisahkan kami. Aku minta maaf atas semua perlakuan suamiku kepadamu. Dia tidaklah salah, akulah yang salah. Kalau aku jujur kepadanya tentang insiden di lift itu, mungkin dia tidak akan semarah ini. Aku juga tidak akan menyalahkanmu yang sudah mencoba mendekatiku. Jadi aku mohon kembalikan Willy kepadaku” lirih Bianca. “Bangunlah Bianca” ucap Gio. “Tidak. Aku tidak akan bangun sebelum kamu melepaskan suamiku. Gio aku tahu waktu pertama kali kita bertemu kamu adalah pria yang baik. Aku yakin kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku sudah bersuami jadi tidak sepantasnya kamu mengejar wanita sepertiku” ucap Bianca menatap Gio dengan wajah sedih. Gio terdiam. Hati Gio benar-benar sangat tersentuh melihat Bianca memohon kepadanya. Sebegitu besarkah cinta Bianca untuk Willy. Gio merasa Willy sangatlah beruntung mendapatkan Bianca. Seandainya dia lebih dulu mengenal Bianca pastinya Gio yang akan lebih dulu memperistri Bianca. “Gio sebenarnya apa yang kamu mau dariku dan suamiku. Bukankah kamu sudah mempunyai kekasih yang cantik. Dia jelas lebih cantik dariku. Jadi aku mohon lepaskan suamiku” ucap Bianca lagi. “Yang aku mau adalah merebutmu dari Willy pria yang tidak menghargaimu Bianca” ucap Gio di dalam hatinya. “Gio tolonglah jangan membuat masalah ini terus berlarut. Kekasihmu juga pasti akan marah jika tahu kamu mencoba mendekatiku” ucap Bianca lagi tanpa menghiraukan Gio yang terus terdiam menatapnya. “Kekasih?” Tanya Gio bingung, karena sejak tadi Bianca terus menyebut Gio memiliki kekasih. “Iya. Bukankah wanita cantik yang sebelum aku datang itu kekasihmu” ucap Bianca. Entah kenapa wajah serius Gio saat ini ingin berubah menjadi tertawa. Gio merasa gemas sekali melihat wajah Bianca dengan pipi merah dan sembab karena menangis. Gio berharap Bianca cemburu karena melihat wanita cantik tadi. “Kamu cemburu” ucap Gio. “Aku tidak cemburu, aku bukanlah siapa-siapa kamu. Kita juga baru kenal. Jadi jangan sampai membuat kekasihmu cemburu denganku” ucap Bianca menggelengkan kepalanya. Sedih, itulah yang Gio rasakan ketika Bianca mengatakan dia bukanlah siapa-siapa Bianca. Memang benar, tetapi Gio ingin sekali menjadi pria yang ada di dalam hati Bianca. Bolehkah kalau saat ini dia merebut Bianca dari Willy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN