“Bii duduklah. Ada yang ingin Papi bicarakan” ucap Papi kepada Bianca.
“Iya Pi” ucap Bianca.
Bianca duduk di sofa samping Papi. Papi pun mengecilkan volume televisinya. Papi kini menatap Bianca. Seperti biasa Papi selalu tenang dan berwibawa dalam situasi apapun.
“Bii sampai saat ini Papi tidak bisa menemukan Willy” ucap Papi.
Seketika hati Bianca merasa lemas. Bianca pun terdiam lalu menunduk sedih.
“Papi sudah mencoba menemui Gio. Tetapi Gio tidak mau menemui Papi. Kerja sama andara Papi dan perusahaannya juga dia batalkan secara sepihak. Sepertinya Gio sangat marah” ucap Papi.
Jelaslah Gio marah, Willy memukulinya tanpa ampun dan sampai saat ini saja Gio masih berada di rumah sakit karena ulah Willy. Dan sebenarnya itu memang kesalahan Gio.
“Gio menutup akses untuk Papi. Papi mengecek semua penerbangan tidak ada data penumpang atas nama Willy” ucap Papi lagi menjelaskan.
“Maafkan Papi ya. Tapi Papi akan tetap mencari keberadaan Willy” ucap Papi.
“Terima kasih Pi” ucap Bianca dengan bibir bergetar.
“Sabarlah Bii. Kamu harus tetap tenang. Papi sangat mengenal Willy, dia tidak akan berbuat macam-macam. Mungkin saat ini emosinya masih tinggi” ucap Papi lagi.
“Iya Pi” ucap Bianca yang memang tidak tahu harus berkata apa lagi.
Bianca tahu Willy tidak akan berbuat macam-macam. Tetapi ini adalah pertama kalinya Willy marah besar dan sampai tidak pulang. Biasanya Willy selalu pulang. Hati Bianca pun merasa tidak enak, Bianca kini menjadi takut sesuatu yang buruk menimpa Willy.
Makan malam Bianca bersama Mami dan Papi, Bianca juga tidak begitu menikmatinya. Bianca hanya mengambil sedikit nasi dan lauknya. Selera makan Bianca kini semakin berkurang. Makanan yang biasanya terasa enak, di lidah Bianca terasa hambar.
Jam 9 malam Mami dan Papi pamit pulang. Aditya juga sudah terlelap di samping Bianca. Bianca memijit keningnya. Bianca tidak tahu lagi apa yang dia harus lakukan sekarang. Memejamkan matanya, Bianca tidak bisa terlelap.
“Apa mungkin Gio tahu dimana Willy? Atau mungkin Gio yang sudah menangkap Willy?” Tanya Bianca di dalam hatinya.
Bianca menggigit jarinya. Kalau Bianca pikir bisa saja Gio melakukan semua itu. Papi bilang Gio sangat marah. Bianca pun berniat mencoba mendatangi Gio besok pagi. Bianca yakin Gio pasti tahu dimana Willy.
Keesokan pagi setelah sarapan dan memandikan Aditya Bianca pun pergi ke rumah sakit untuk menemui Gio. Tetapi Bianca sengaja tidak bilang kepada Bi Inah dan Mina kepada dia pergi. Bianca bilang kalau dia akan berbelanja keperluan dapur. Karena Bianca takut jika Mami datang dan tahu Bianca menemui Gio, Mami pasti marah.
Bianca sudah sampai di lantai khusus ruang perawatan VVIP. Bianca mengenakan syal dan kacamata hitam. Bianca sengaja menggunakannya agar tidak ada yang mengenalinya. Di pintu masuk dua security sudah berjaga.
“Ada yang bisa saya bantu Nyonya?” Tanya security kepada Bianca.
“Saya ingin bertemu dengan kakak saya yang dirawat disini” ucap Bianca.
“Boleh saya tahu namanya siapa?” Tanya security itu lagi.
Bianca lupa kalau dia tidak tahu nama asli Gio. Bianca sudah terlanjur sampai di depan sini. Bianca pun akan mencoba menyebutkan nama Gio saja. Semoga saja security ini tidak bertanya macam-macam lagi.
“Gio” jawab Bianca.
“Boleh saya minta tanda pengenal Nyonya?” Tanya security itu lagi.
Bianca memutar kedua bolamatanya. Untung saja Bianca mengenakan kacamata hitam jadi security itu tidak melihat jelas mata Bianca. Bianca pun terpaksa memberikan tanda pengenalnya.
“Silahkan masuk Nyonya. Kamar Pak Gio ada di Teratai 1” ucap security itu sambil mengembalikan tanda pengenal Bianca.
“Terima kasih” ucap Bianca.
Bianca melangkah masuk melewati dua security itu. Setelah melewati dua security itu Bianca bernafas lega. Ternyata dia bisa dengan mudah masuk ke ruang VVIV. Padahal semalam Papi bilang Gio menutup aksesnya dan Papi tidak bisa menemui Gio di rumah sakit.
“Ah sudahlah. Lebih baik aku temui Gio sekarang” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
Saat ini Bianca tidak ingin berpikir macam-macam. Tujuan Bianca hanya satu, yaitu menemui Gio dan menanyakan dimana Willy. Juga Bianca ingin meminta Gio menarik laporannya kepada Willy.
Bianca terus melangkah melewati lorong dan membaca nama-nama ruangan yang dia lewati. Bianca pun sampai di depan pintu kayu berwarna coklat dengan papan nama Teratai 1. Bianca berdiri dan terdiam sebentar. Tangan kanannya dia arahkan ke atas dan mencoba mengetuk pintu ruangan perawatan ini.
“Kamu harus bisa Bii” ucap Bianca menyemangati dirinya sendiri.
Bianca pun yakin dia pasti bisa. Bianca pun hendak mengetuk pintunya, tetapi pintu lebih dulu terbuka hingga membuat Bianca terkejut.
“Oh, maaf” ucap seorang wanita yang membuka pintu ruangan Gio.
“Tidak apa-apa” ucap Bianca.
“Kamu mau masuk ke dalam?” Tanya wanita itu.
Bianca melihat wanita cantik menggunakan celana kulut berwarna putih dengan outer coklat tua, dan rambut tergerai yang berdiri di depannya ini. Bianca yakin dia pasti kekasih Gio. Dan sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk Bianca bertemu Gio. Bianca tidak ingin membuat kekasih Gio ini curiga dan salah paham padanya. Karena itu akan menambah masalah selanjutnya.
“Ah maaf. Sepertinya saya salah kamar. Saya ingin ke kamar Teratai 2. Sebelah sini. Maaf” ucap Bianca yang menunjuk pintu yang tak jauh dari pintu kamar Gio.
Tanpa menunggu wanita di depannya ini berbicara, Bianca pun langsung melangkah cepat menuju kamar bertuliskan teratai 2. Bianca membuka pintunya dan langsung masuk ke dalam kamar itu.
Bianca menghela nafasnya. Untung saja kekasih Gio tadi tidak curiga kepadanya. Bianca membuka kacamatanya. Bianca pun melangkah masuk ke dalam kamar dan melihat ke arah ranjang, ternyata kamar ini kosong. Sepertinya kali ini Bianca selamat, setidaknya tidak ada orang disini jadi dia tidak perlu meminta maaf lagi karena salah masuk ruangan.
“Kalau aku keluar sekarang, pasti wanita itu curiga. Hem, aku tunggu sepuluh sampai lima belas menit saja, baru aku keluar” ucap Bianca.
Belum ada lima menit Bianca menunggu di dalam kamar itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka hingga membuat Bianca terlonjak dan terkejut.
Ceklek
“Kamarku bukan disini tetapi di sebelah” ucap Gio yang berdiri dan bersandar di depan pintu.
“Gi Gio” uap Bianca terkejut.
“Kamu ingin menemuiku bukan? Gara-gara kamu tidak masuk ke kamarku, membuatku harus turun dari ranjang” ucap Gio dengan nada ketus.
“Dimana suamiku?” Tanya Bianca to the point.
Bianca tidak ingin berbasa-basi. Bianca pun memilih untuk langsung menanyakan dimana Willy.
“To the point sekali” sindir Gio.
“Tolong katakan dimana suamiku” ucap Bianca kali ini menurunkan nada suaranya.
“Memohon rupanya” ucap Gio.
“Pak Gio yang terhormat saya mohon tolong katakan dimana suami saya” ucap Bianca lagi dengan rela menurunkan harga dirinya untuk memohon kepada Gio.
“Bantu aku ke kamar” ucap Gio.
“Tidak” ucap Bianca menggelengkan kepalanya.
“Terserah, kita tidak mungkin berbicara di dalam kamar ini. Bagaimana jika perawat datang karena ada pasien yang mau masuk” ucap Gio masih santai.
Bianca berpikir memang benar, jika ada pasien baru yang akan masuk ke ruangan ini bisa gawat dan menambah masalah lagi. Tetapi kalau seandainya Gio bisa langsung mengatakan saja keberadaan Willy, Bianca tidak perlu berlama-lama.
Bianca menatap Gio, sepertinya pria ini memang sengaja mempermainkannya. Ya, Bianca tahu Gio tidak akan semudah itu mau mengatakan keberadaan Willy. Tetapi haruskah Bianca masuk ke kamar Gio. Bagaimana jika kekasih Gio yang tadi Bianca lihat dia datang lagi?
“Bagaimana, kalau kamu tetap keras kepala itu terserah kamu saja. Aku mau balik ke ruanganku” ucap Gio yang hendak berbalik.
Sepertinyatidak ada pilihan lain untuk Bianca. Kali ini dia akan mengikuti Gio. Bianca hanya ingin tahu di mana Willy dan tidak lebih. Lagi pula ini di rumah sakit dan tidak bisa sembarangan orang datang. Jadi sepertinya Bianca juga aman.
“Baiklah” ucap Bianca dengan terpaksa.
“Ayo bantu aku berjalan kalau begitu” ucap Gio meminta Bianca memapahnya jalan.
Bianca menghela nafas. Pria ini memang sangat menyebalkan. Tadi dia bisa melangkah sendiri ke kamar ini, kenapa sekarang dia meminta Bianca memapahnya? Bianca kali ini tidak akan mau menuruti Gio. Bisa saja itu akal-akalan Gio agar dia bisa berdekatan dengan Bianca.
“Tadi kamu bisa jalan sendiri, kenapa sekarang harus aku bantu” tolak Bianca.
“Aku jalan sendiri terpaksa. Seharusnya aku belum boleh turun dari ranjang” ucap Gio.
Bianca masih terdiam di tempatnya. Gio menghela nafasnya. Sepertinya Bianca memang tidak mau membantunya. Gio pun tidak lagi memaksa Bianca, daripada mereka berlama-lama di kamar ini.
“Ya ya baiklah. Ayo jalan” ucap Gio sambil membuka pintu ruangan perawatan Teratai 2.
Bianca melangkah dengan jarak lima langkah di belakang Gio. Baru saja Gio membuka dan memunculkan wajahnya di depan pintu, Gio dengan cepat menutupnya kembali dan berbalik lalu melangkah ke arah Bianca, hingga membuat Bianca berhenti dan bingung.
“Pakai kacamatamu” ucap Gio.
“Ada apa?” Tanya Bianca.
Gio tidak menjawab, dia melangkah melewati Bianca dan menuju ke arah jendela. Karena kondisinya juga belum pulih, Gio melangkah cepat dan kelihatan kesulitan. Gio mencoba membuka jendela kamar itu. Tetapi dia kesulitan karena memang tubuhnya masih belum sembuh.
“Bisakah kamu membantuku. Jangan cuma melihat saja” ucap Gio dengan cepat.
“Apa yang terjadi? Kamu tidak menjawabku, aku pun bingung ada apa sebenarnya?” Tanya Bianca dengan bingung.
“Sudahlah waktunya tidak cukup untuk aku menjelaskannya. Sekarang bantu aku buka jendela kamar ini” ucap Gio.
Bianca pun melangkah dan menghampiri Gio. Bianca membantu Gio membuka jendela kamar itu. Padahal sangat mudah sekali, hanya karena tangan Gio tidak begitu kuat membuka handle kunci dan satu tangannya juga masih di perban.
“Sudah” ucap Bianca.
“Tahan jendelanya aku akan keluar lewat jendela” ucap Gio.
“Kamu mau melompat ke bawah” ucap Bianca.
“Bukan waktunya bercanda Bianca” ucap Gio kesal.
“Siapa yang bercanda, aku tidak bercanda” ucap Bianca.
Gio berhasil keluar lewat jendela, lalu sebelum dia melangkah ke balkon dia berbalik menatap Bianca. Bianca pun menatap Gio dengan wajah yang masih belum mengerti ada apa sebenarnya. Terlintas di pikiran Bianca apa jangan-jangan ada Willy sehingga Gio berlari ketakutan saat ini. Bianca pun berbalik ke belakang dan hendak keluar.