51. Video Willy dan Gio

1765 Kata
Sudah dua hari Willy belum kembali. Bianca memang masih cemas, setidaknya saat ini dia tidak secemas kemarin. Karena Papi akan membantunya mencari Willy dan Aditya pun juga sudah sehat lagi. Pagi ini Bianca sedang merapikan koper Willy. Sejak Willy kembali Bianca belum sama sekali merapikan baju-baju Willy di dalam koper. Bianca mengeluarkan koper dari dalam lemari. Bianca meletakkanya di atas karpet. Bianca membukanya. Baju Willy tidak begitu banyak. Bianca pun menciumnya takut baunya tidak enak. Kalau baunya tidak enak Bianca akan meminta Bi Inah untuk mencucinya kembali. Ternyata bajunya tidak bau sama sekali, justru aroma Willy tercium di tumpukkan kemeja dan celana Willy. Bianca pun tersenyum, mungkin dia sudah seperti orang gila yang terus menerus mencium tumpukan kemerja suaminya. Tetapi biarlah, ini karena Bianca merindukan suaminya. Bianca mullai mengeluarkan satu persatu pakaian Willy dari dalam koper. Belum sempat Bianca mengeluarkan semuanya pintu kamar Bianca di ketuk oleh Bi Inah. Tok Tok “Bu maaf” teriak Bi Ianh dari bali Pintu. Bianca menghentikan aktifitasnya lalu berdiri dan melangkah ke arah pintu. Bianca membukakan pintu untuk Bi Inah. Ceklek “Ada apa Bi?” Tanya Bianca. “Ada Bu Icha sama Bu Naena di ruang tamu” jawab Bi Inah. “Oh gitu. Bibi tolong buatkan minuman ya” ucap Bianca. “Iya Bu” ucap Bi Inah. Bianca menutup pintu kamarnya lalu melangkah menuju ruang tamu. Bianca melihat Icha dan Naena sedang duduk sambil memakan martabak yang mereka bawa sambil melihat ponsel Icha. “Hem, kemari Cuma numpang ngadem aja ya” sindir Bianca dengan nada bercanda. “Eh ada tuan rumah” ucap Icha berdiri lalu memeluk Bianca. “Apa kabar sayang?” Tanya Icha sambil memeluk Bianca. “Lumayan baik” ucap Bianca. “Kita ganggu kamu tidak Bii?” Tanya Naena yang kali ini memeluk Bianca. “Ganggu sih” jawab Bianca asal. “Oh gitu, yaudah kita pulang yuk Na” ucap Icha. Mereka bertiga pun tertawa. Lalu mereka bertiga duduk di sofa berwarna hijau pastel warna kesukaan Bianca. Tak lama Bi Inah datang membawakan orange juice untuk Icha dan Naena. “Ponakan kita apa kabar, katanya kemarin sakit?” Tanya Naena. “Iya badannya panas. Tapi Alhamdulilalh sudah baik. Kayaknya Aditya tidak bisa pup” ucap Bianca. “Kamu makannya kali Bii. Coba jangan makan pedas-pedas dulu” ucap Icha. “Iya sih, memang sebelum itu aku sering bangat makan pedas” ucap Bianca mengingat-ingat. “Willy kerja?” Tanya Icha. Bianca terdiam menatap Icha. “Ada apa Bii?” Tanya Naena yang mengerti tatapan Bianca. “Willy marah dan pergi” jawab Bianca pelan. “Apa? Kayaknya ada yang kita belum tahu. Jangan-jangan yang waktu itu aku telepon kamu lagi ada masalah ya?” Tanya Icha terkejut. Bianca menganggukkan kepalanya. “Ya Tuhan, coba cerita Bii, siapa tahu kamu cerita bisa meringankan sedikit beban kamu” ucap Naena memeluk Bianca. Bianca pun menarik nafas dan menceritkan semua kejadian yang menimpanya dengan Willy. Ya, mungkin sekarang tidak apa-apa jika kedua sahabatnya tahu. Mungkin saja Icha dan Naena bisa membantu Bianca mencari keberadaan Willy saat ini. Mendengar cerita Bianca Icha dan Naena tentu saja sangat terkejut. Mereka pun memaklumi kenapa Bianca bisa sampai tidak jujur kepada Willy. Dan seharusnya Willy tidak langsung emosi. Icha dan Naena sebenarnya sangat menyayangkan sikap Willy kepada Bianca. Tetapi mereka tidak ingin membuat suasana hati Bianca kembali keruh. Mereka hanya mendengarkan semua cerita Bianca tanpa menyalahkan Bianca ataupun Willy. Justru yang membuat mereka kesal adalah laki-laki bernama Gio itu. Icha dan Naena sampai ingin sekali memukul wajah pria itu karena sudah berani menggangu Bianca. Padahal dia tahu Bianca sudah bersuami, dan suaminya adalah klien mereka. Tetapi tega-teganya Gio tetap mendekati Bianca. “Jangan-jangan laki-laki yang divideo itu” ucap Icha keceplosan. “Video apa?” Tanya Bianca. Icha dan Naena pun saling berhadapan. “Ada yang kalian sembunyikan dari aku?” Tanya Bianca lagi. Icha dan Naena pun tidak enak. Akhirnya Icha mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video dimana dua orang laki-laki sedang berkelahi di sebuah restorant. Bianca yang melihatnya menutup mulutnya tak percaya. Ya, Bianca tahu pria di video itu adalah Willy dan Gio. Willy sampai semarah itu dengan Gio. Willy tidak henti-henti memukul Gio hingga Gio tersungkur dan mengeluarkan banyak darah di wajahnya. Willy terlihat sangat emosi. “Bii” ucap Naena. “Kamu baik-baik saja” ucap Icha yang merasa tidak enak memperlihatkan video ini. “Willy pasti sangat emosi disini” ucap Bianca pelan. “Bii, kalau kamu tidak kuat melihatnya, jangan dilanjutkan” ucap Naena. Sebenarnya Bianca ingin sekali menangis, melihat suaminya terlihat sangat brutal memukul Gio. Kalau tidak ada security yang melerai mereka pasti Gio bisa tewas jika Willy terus memukulnya. Bianca memejamkan matanya dan menarik nafasnya panjang. “Bii, sabar ya” ucap Icha dan Naena. “Aku sabar, kalian tenang saja” ucap Bianca membuka matanya. “Bii, mau aku minta tolong Jonathan agar bisa mencari keberadaan Willy?” Tanya Icha. “Iya Bii. Aku juga bisa minta tolong Dimas buat cari Willy” ucap Naena. “Terima kasih. Tapi tidak perlu. Papi sudah mencari Willy. Mungkin Willy saat emosi dan butuh waktu buat menghilangkan emosinya” ucap Bianca. “Kamu yang sabar ya Bii” ucap Naena. “Iya aku harus sabar. Ada Aditya yang membutuhkan aku, dan Willy juga suami aku. Aku harus sabar menunggunya” ucap Bianca. Naena dan Icha tersenyum sedih melihat sahabatnya. Mereka pun sama seperti Papi kasihan kepada kehidupan Bianca. Mereka sampai mengingat-ingat sebenarnya Bianca salah apa dulu sampai bisa seperti ini rumah tangganya. Padahal dulu semasa kuliah Bianca tidak pernah macam-macam. Pacaran dengan Erick juga terbilang biasa saja. Justru Bianca yang tersakiti karena Erick meninggalkannya di hari pernikahann. “Sudah sedihnya. Aku yakin Willy pasti kembali” ucap Bianca yang berpura-pura tegar di depan kedua sahabatnya. “Oh iya, Bii. Aku mau kasih tahu ini” ucap Naena mengeluarkan map dari dalam tasnya. Naena pun sengaja mengalihkan pembicaraan agar Bianca tidak terus-menerus mengingat masalah rumah tangganya. Naena pastinya tidak akan tega melihat sahabatnya sedih seperti ini. Naena dan Icha sangat mengenal Bianca. Dulu waktu Erick meninggalkannya Bianca juga berusaha tegar, tetapi di dalam hatinya Bainca sangat hancur. “Ini, Klien yang waktu itu datang minta acara di Bandung. Dia mengirim email. Dia bilang dia berani bayar mahal 3 kali lipat dari harga kita. Terus dia yang menyiapkan transport, hotel makan untuk kita. Asal kita mau mengurus acara resepsinya di Bandung” ucap Naena. “Bukannya waktu itu kalian sudah bertemu dengannya” ucap Bianca. Rencana Naena berhasil. Dengan membicarakan pekerjaan, fokus Bianca tentang masalahnya dengan Willy terlupakan. Sebenarnya Naena tidak enak membicarakan pekerjaan saat ini. Tetapi Naena terpaksa melakukannya agar Bianca tidak sedih terus memikirkan Willy. “Iya Bii. Kita sudah ketemu dia. Dia terus memaksa kita. Dan meeting itu selesai karena dia mendapat telepon. Lalu Seminggu lalu dia kirim email ini. Sekarang dia sedang ada di Singapura. Nanti balik dari Singapura dia mau ketemu lagi” ucap Icha. “Bagaimana ya? Aku juga cuma bisa kasih keputusan tidak” ucap Bianca. Icha dan Naena saling berpandangan. “Iya kita juga sama dengan keputusan kamu Bii. Tadinya kita mau membicarakan ini dengan Willy” ucap Icha. Naena menginjak kaki Icha. Lagi-lagi Icha menyebut nama Willy. Icha pun langsung menutup mulutnya. “Hem, kalau nanti Willy sudah pulang aku coba bicarakan dengannya ya” ucap Bianca. Drrrt Drrt Ponsel Icha bergetar. Icha melihat ponselnya ternyata yang menghubunginya adalah Selena. Selena adalah klien yang meminta acara di bandung yang sedang mereka bicarakan saat ini. “Orangnya panjang umur nih” ucap Icha. “Angkat tidak ya” ucap Icha. “Angkat aja” ucap Bianca. “Okey, aku angkat dan loudspeaker ya” ucap Icha. Bianca dan Naena menganggukkan kepalanya. Icha pun menekan tombol hijau untuk mengangkat telepon dari Selena. “Halo” ucap Icha. “Halo Mba Icha. Ini aku Selena” ucap Selena. “Iya Mba Selena ada apa?” Tanya berbasa-basi. “Mba Icha besok bisa kita bertemu. Hari ini saya sudah di Jakarta” ucap Selena. “Oh cepat sekali sudah balik lagi” ucap Icha kecepolosan. Bianca dan Naena pun melebakan matanya karena Icha keceplosan bicara. “Iya. Ada urusan keluarga” ucap Selena. “Tapi seperti yang sudah saya bilang. Keputusan kami tetap sama ya Mba” ucap Icha. “Mba coba kalau boleh saya bicara dengan Mba Bianca atau Pak Willy” ucap Selena. Icha menatap Bianca. Bianca menggelengkan kepalanya. Saat ini dia tidak bisa berbicara kepada Selena. Bianca tidak ingin salah mengambil keputusan lagi. “Saat ini mereka sedang ada acara” ucap Icha berbohong. “Kalau begitu besok saja aku mau bertemu dengan mereka” ucap Selena. “Baiklah” ucap Icha. “Terima kasih Mba Icha” ucap Selena. Icha mengangkat kedua bahunya acuh. Lihat saja Selena masih saja memaksa ingin memakai Bianca Management untuk acara resepsi pernikahaannya. “Lihatkan Selena masih saja keras kepala” ucap Icha. “Gimana besok?” Tanya Icha kepada Naena dan Bianca. “Keputusanku tetap tidak” ucap Bianca. “Dia memaksa untuk menemuimu” ucap Icha. “Bilang saja aku sedang pergi” ucap Bianca. “Baiklah, semoga saja dia percaya” ucap Icha. Dengan kehadiran Icha dan Naena Bianca pun terhibur. Mereka makan siang bersama. Icha dan Naena juga bermain bersama Aditya. Ketika sore hari mereka berdua pun pamit pulang. Bianca baru saja selesai memandikan Aditya. Mami dan Papi baru saja datang. Mami lansung menghampiri Bainca ke kamar Aditya. “Wah cucu Oma sudah mandi” ucap Mami. “Mami kapan datang?” Tanya Bianca menoleh ke arah Mami. “Baru saja. Mami datang bersama Papi” jawab Mami. “Aku minta Bi Inah buatkan minum dulu ya. Mami mau minum apa?” Tanya Bianca. “Mami es jeruk saja Bii” jawab Mami. “Okey. Nanti Mami sekalian makan malam disini ya” ucap Bianca. “Iya” ucap Mami menganggukkan kepalanya. Bianca pun melangkah keluar dari kamar Aditya dan Mami menggantikan Bianca mengajak main Aditya di kamarnya. Bianca melangkah ke dapur dan meminta Bi Inah membuatkan dua es jeruk untuk Mami dan Papi. “Bi tolong buatkan dua es jeruk ya buat Mami dan Papi” ucap Bianca. “Iya Bu” ucap Bi Inah. “Nanti malam Bibi masak apa?” Tanya Bianca. “Sop ayam, sate telur puyuh, tempe dan tahu bacem Bu” ucap Bi Inah. “Bi, tolong sekalian tambahkan ayam gorengnya ya. Mami sama Papi mau ikut makan malam” ucap Bianca. “Baik Bu” ucap Bi Inah. Setelah es jeruk yang Bi Inah buat Bianca pun membawanya ke ruang televisi karena Papi duduk disana sambil menonton televisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN