50. 1 Memohon Kepada Papi

1612 Kata
Bianca masih saja berharap Willy ada di ruangannya. Mungkin saja Willy ketiduran karena kelelahan. Bianca pun meminta tolong kepada Siska untuk mengecek ruangan Willy. “Siska, boleh saya minta tolong lagi” ucap Bianca. “Iya Bu boleh” ucap Siska. “Boleh tolong cek ruangan Bapak” ucap Bianca. “Baik Bu, sebentar saya akan minta tolong Ob untuk mengecek ruangan Bapak” ucap Siska. “Iya” ucap Bianca. Bianca kembali menunggu tanpa mematikan sambungan teleponnya. Bianca juga mendengar Siska menghubungi Ob dan memintanya mengecek ruangan Willy. Dua menit Bianca menunggu, Siska pun kembali berbicara. “Bu Bianca maaf di ruangan Bapak kosong. Ob tadi sudah mengecek ruangan Bapak. Dari pagi saat Ob membersihkan ruangan Bapak memang kosong juga” ucap Siska. Hati Bianca terasa lemas sekali mendengar Willy tidak ada juga di ruangannya. “Baiklah terima kasih ya Siska. Tolong kalau Bapak datang minta hubungi saya ya” ucap Bianca dengan lemas. “Baik Bu” ucap Siska. Bianca menutup teleponnya dan menunduk. Bianca masih berpikir keras mencari dimana keberadaan Willy. Bianca sudah tidak dapat berpikir lagi saat ini. “Bii ada apa?” Tanya Mami memegang pundak Bianca. “Willy tidak ada di ruangannya Mi” ucap Bianca memeluk Mami. Bianca pun kembali meneteskan air matanya. Bianca terisak dalam pelukan Mami. Bianca merasa sangat menyesal dan bersalah. “Mi, Bianca harus bagaimana lagi? Bianca nyesal Mi, Bianca nyesal” isak Bianca. “Sabar Bii. Kamu tenang jangan seperti ini” ucap Mami mengusap punggung Bianca. “Tapi kemana Willy Mi. Sampai sekarang dia belum pulang. Teleponnya tidak bisa dihubungi. Bianca takut Willy melakukan hal yang nekat” ucap Bianca yang masih terisak. “Bii, walau Willy tempramen dan emosi. Tapi Mami yakin Willy tidak akan berbuat macam-macam” ucap Mami. “Bianca harus bagaimana sekarang Mi? Aku tidak mau Willy pergi lagi Mi” ucap Bianca menangis. “Kamu tenang Bii. Kasihan Aditya nanti. Mami akan coba telepon Papi, semoga saja Papi sudah tidak marah dengan Willy, dan mau membantu kita mencari Willy” ucap Mami. “Mi, bagaimana kalau Bainca ke kantor Papi. Bianca akan minta tolong sama Papi. Jangan Mami. Aku tidak mau Mami sama Papi bertengkar lagi” ucap Bianca. Mami menghela nafas panjang. Ya, Mami akui memang sejak semalam Papi dan Mami masih bertengkar. Papi masih keras tidak mau menolong Willy. Menurut Papi Willy sudah dewasa dan harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan. “Yasudah kalau itu mau kamu. Tapi jangan pulang malam-malam ya. Kasihan Aditya sedang sakit” ucap Mami. “Iya Mi. Titip Aditya ya Mi” ucap Bianca. Mami menganggukkan kepalanya. Bianca pun segera bersiap-siap. Bianca kini akan menuju kantor Papi. Bianca akan meminta tolong kepada Papi kali ini. Bianca sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mencari Willy. Bianca takut, panik karena Willy belum kembali juga. Mengendarai sekitar tiga puluh menit kini Bianca sudah sampai di kantor Papi. Tadinya Papi sudah mau pulang. Tetapi membaca pesan dari Mami yang memberitahu Bianca ingin datang, akhirnya Papi sengaja menunggu Bianca di ruangannya. Tok Tok “Masuk” terdengar suara Papi dari dalam ruangan. Ceklek Bianca membuka pintu ruangan Papi. Lalu dia melangkah masuk dan kembali menutup pintunya. Bianca melangkah menghampiri Papi. Lalu Bianca sengaja langsung berlutut di depan Papi. “Pi, aku minta maaf” lirih Bianca. Papi pun menatap Bianca dan terdiam memberikan ruang kepada Bianca untuk berbicara. “Semua ini salahku Pi. Bukan salah Willy. Aku mohon Papi jangan marah lagi kepada Willy. Aku tahu Willy melakukan ini karena kecewa kepadaku Pi” ucap Bianca meneteskan air matanya. “Willy tidak salah Pi. Aku yang salah. Aku mohon kepada Papi maafkan Willy. Dan aku juga mohon kepada Papi agar mau membantuku mencari Willy” ucap Bianca dengan air mata yang semakin deras. “Aku mencintai Willy Pi. Aku tidak mau Willy pergi lagi. Aku tidak mau berpisah lagii dengan Willy” isak Bianca. Papi memejamkan matanya lalu memijit keningnya. Jujur saat ini papi sangat sedih melihat menantunya seperti ini. Papi tahu Bianca sangat mencintai Willy. Tetapi itulah yang membuat Papi marah kepada Willy. Kenapa Willy tidak belajar dari kesalahannya dulu? Willy tahu kalau Bianca mencintainya, tetapi masaih saja tidak percaya kepada Bianca. Sudah jelas Bianca melakukan semua itu hanya ingin menjaga perasaan Willy. Buktinya Bianca memang tidak ada hubungan khusus dengan Gio. Papi sudah menyelidikinya. “Bangunlah Bii” ucap Papi. “Aku tidak akan bangun sampai Papi mau memaafkan Willy” ucap Bianca. “Willy sudah dewasa Bii. Dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya” ucap Papi. “Pi, ini semua karena aku. Kalau aku tidak berbohong kepadanya Willy tidak akan sampai melakukan semua ini” ucap Bianca. Bianca sama sekali tidak menyalahkan Willy. Bianca hanya menyalahkan dirinya. Papi merasa sebenarnya semua ini tidak adil bagi menantunya. Walaupun Willy anaknya sendiri, tetapi tidak bisa menutup mata kalau Willy juga salah disini. Willy sangat beruntung sekali mendapatkan istri Bianca. Semua kesalahan Willy bisa Bianca maafkan dan lupakan. Dan kini sudah jelas Willy yang salah, tetapi Bainca tidak mau menyalahkannya justru menyalahkan dirinya sendiri. Bianca selalu menuruti kemauan Willy. Sampai saat Bianca hilang ingatan pun perasaannya hanya ada untuk Willy. Sebenarnya jika saat Bianca hilang ingatan dan dia memilih menikah dengan Erick, Papi juga akan merelakannya. Dan akan menyembunyikan Bianca menjadi Amelia seumur hidupnya. Tetapi kenyataannya Bianca tidak bisa menerima Erick. Hatinya justru memilih Willy. “Bii, bangunlah Nak. Kamu wanita yang sangat baik. Tidak sepantasnya kamu berlutut kepada Papi” ucap Papi memegang kedua bahu Bianca dan membantunya berdiri. “Papi sudah memaafkan Willy” ucap Papi lagi. “Terima kasih Pi” ucap Bianca memeluk Papi. “Papi juga akan membantumu mencari Willy. Saat ini Papi belum tahu dia dimana. Papi juga sudah mendatangi kantor polisi, jika semalam ada lima orang pria yang datang menemui Willy. Setelah lima orang itu pergi Willy juga pergi sendiri” ucap Papi. “Mereka siapa Pi?” Tanya Bianca melepaskan pelukannya kepada Papi. “Itulah yang Papi tidak tahu. Semuanya berjas hitam dan memakai kacamata hitam. Wajahnya tidak terlihat jelas. Nomor mobilnya pun juga ternyata mobil sewaan. Papi sudah mengecek ke tempat penyewaan mobil, ternyata mereka menggunakan identitas palsu” ucap Papi menjelaskan. “Apa Willy di culik?” Tanya Bianca yang mulai cemas. “Sepertinya tidak. Willy pergi dengan sadar. Tidak mungkin dia diculik. Papi juga belum yakin. Papi masih mencarinya Bii” ucap Papi. “Pi, terima kasih ya” ucap Bianca. “Iya Bii. Willy beruntung mempunyai istri sebaik kamu. Kamu tenang saja, Papi pasti akan membantumu mencari Willy” ucap Papi. “Iya Pi” ucap Bianca menganggukkan kepalanya. ‘Oh iya, kata Mami Aditya panas” ucap Papi. “Iya Pi. Tapi kata dokter tidak apa-apa. Sekarang juga panasnya sudah mulai turun” ucap Bianca. “Syukurlah. Sekarang kamu pulanglah. Kasihan Aditya menunggu kamu. Papi akan mengabarimu jika ada kabar terbaru dari Willy” ucap Papi. “Sekali lagi terima kasih Pi” ucap Bianca. “Iya Bii. Hati-hati dijalan” ucap Papi. Papi melihat punggung Bianca yang melangkah pergi dan lama-lama menghilang dari bali tembok. Papi sedih dan kasihan kepada Bianca, sejak sebelum menikah dengan Willy dan sampai menikah Willy masih saja seperti ini. Sebelum menikah Willy melakukan berbagai cara agar Bianca mau menikah dengannya. Sampai Willy tega membuat drama Papa Bianca di penjara. Setelah menikah Willy masih saja keras kepada Bianca hingga Bianca memutuskan pergi. “Will, seharusnya kamu belajar dari pengalaman. Kasihan istrimu. Dia begitu mencintaimu. Papa sudah salah mendidikmu menjadi pria yang tempramen” ucap Papi pada dirinya sendiri. Hati Bianca kini sedikit lebih lega lagi. Papi sudah tidak marah kepada Willy. Papi juga akan membantunya mencari Willy. Bianca pun tidak henti-hentinya berdoa agar Willy bisa segera pulang. Malam hari Aditya sudah tidak panas lagi. Bianca menjadi tamabh tenang lagi. Mami juga sudah pulang. Kini Bianca sengaja membawa Aditya ke kamarnya untuk tidur bersamanya. Bianca membuka gallery ponselnya. Lalu melihat foto-fotonya saat ulang tahunnya kemarin. Bianca tersenyum melihat Willy memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Lalu Bianca menggeser lagi foto selanjutnya kini foto dia dan Willy sedang mencium Aditya. Dalam setiap foto tangan Willy tidal lepas dari memeluk ataupun menggemgam tangannya, seakan Willy tidak ingin melepaskan Bianca. “Aku merindukanmu Will” lirih Bianca. Oek Oek Aditya terbangun dan menangis. Bianca pun meletakkan ponselnya dan menggendong Aditya. Bianca mencoba mengecek popok Aditya, ternyata Aditya buang air besar. Pantas saja Aditya menangis. Bianca baru ingat Mina mengatakan sejak kemarin malam Aditya belum buang air besar. “Sayang, pantas saja kamu panas jadi karena belum pup. Tunggu ya, Mama akan ganti popok kamu dulu” ucap Bianca. Bianca segera mengambil air hangat dan kapas. Bianca membuka celana Aditya dan popoknya. Bianca membersihkan Aditya. Setelah itu Bianca mengganti popok dan celana Aditya dengan yang bersih. Aditya pun terlihat tersenyum. “Anak pintar. Papa pasti sangat senang melihat kamu tersenyum seperti ini. Nanti kalau Papa pulang kamu berikan senyuman untuk Papa ya” ucap Bianca mencubit pelan pipi gembul Aditya. Bianca menyusui Aditya kembali agar Aditya kembali tidur. Bianca mengusap punggung Aditya dan memberikan ketenanhan kepada Aditya. Terbukti sentuhan lembut tangan Bianca membuat Aditya terlelap dalam mimpi indahnya. Melihat Aditya terlelap sambil menyusu padanya, Bianca tersenyum. Wajahnya mirip sekali dengan Willy. Perlahan Bianca mencoba menjauhkan tubuhnya, karena Aditya tidak lagi menyusu. Tetapi saat Bianca mencoba melepaskan, Aditya justru kembali mengusap s**u Bianca karena takut kehilangan. “Kamu seperti Papamu yang tidak mau lepas dari Mama jika seperti ini” ucap Bianca terkekeh. Bianca memejamkan matanya. Bianca mengingat bagaimana siang panasnya saat itu bersama Willy. Setelah hampir empat bulan mereka tidak bersama, saat itu mereka habiskan di dalam kamar hotel. Bianca pun tersenyum. Bianca sangat merindukan Willy. Merindukan bagaimana Willy memeluknya, menciumnya dan menyentuhnya dengan lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN