50. Aditya Sakit

1735 Kata
Bianca saat ini sudah di dalam ruangan dokter anak. Dokter Messa terlihat sedang memeriksa Aditya. Di di dalam hati Bianca dia berharap-harap cemas. Semoga Aditya hanya panas biasa dan tidak sakit apa-apa. “Bagaimana Dok?” Tanya Bianca ketika dokter Messa sudah selesai memeriksa Aditya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya berikan obat penurun panas nanti diminumkan ya. Dan satu lagi tolong kasih banyak asih agar panasnya juga cepat turun” ucap dokter Messa dengan tenang. “Kalau panasnya tidak juga turun bagaimana? Karena ini pertama kalinya Aditya panas tinggi” tanya Bianca lagi. “Ibu tenang saja. Tiga hari kalau masih panas kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ibu harus tetap tenang ya, karena perasaan cemas Ibu akan mempengaruhi asi” ucap dokter Messa. “Terima kasih dok” ucap Bianca yang sedikit lebih tenang. Untung saja Aditya tidak apa-apa. Bianca menggendongnya dan menciumi Aditya sepanjang jalan. Hati Bianca sebenarnya masih tidak tenang. Masih memikirkan Willy dan masih memikirkan Aditya. Jujur di dalam hatinya takut jika Aditya panasnya tidak turun. “Bu, saya akan tebus obatnya ya” ucap Mina. “Iya, saya tunggu di mobil ya. Ini uangnya” ucap Bianca memberikan tiga lembar uang seratus ribuan. “Iya Bu” ucap Mina menganggukkan kepala dan menerima uang pemberian Bianca. Bianca melangkah mdan berpisah dari Mina. Mina melangkah lurus ke koridor sedangkan Bianca menuju lift. Bianca menatap Aditya dengan tatapan sedih. “Maafkan Mama ya sayang sudah membuat Papa kamu kecewa dan marah” ucap Bianca pelan. Lagi-lagi Bianca menyalahkan dirinya sendiri. Ya, karena menurut Bianca memang Bianca salah yang sudah tidak jujur kepada Willy. Bianca masih berharap Willy kembali pulang. Sampai terlintas di dalam pikiran Bianca. Jika Willy pulang Bianca akan bersujud di kakinya, kalau pun Bianca harus terkurung di rumah dan tidak boleh kemana-mana, Bianca akan lakukan itu. Bianca akan melepas Bianca Management dan akan menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada Icha dan juga Naena. Bianca berdiri di depan lift dan menunggu lift itu terbuka. Ketika berbunyi “Ting” lift terbuka. Bianca melihat ada dua perawat wanita di dalam sana. Bianca pun melangkah masuk ke dalam lift lalu dia menekan tombol 1. “Iya, pasien VVIP itu ganteng bangat. Semalam Rossi beruntung bangat lihat roti sobek” terdengar suara perawat yang sedang berbicara dengan perawat yang satunya. “Ya, walaupun wajahnya penuh luka, tapi ketampanannya itu buat hati deg deg ser” ucap perawat yang satunya lagi menimpali. Awalnya Bianca tidak mau mendengarkannya. Tetapi ketika satu nama disebut oleh pasien itu, Bianca pun terkejut dan telinganya ingin sekali mendengar lebih lanjut percakapan perawat itu. “Pak Gio namanya. Kata Rossi dia CEO PT YXZ” ucap perawat itu. “Terus siapa perawat yang berjaga di ruangannya?” Tanya perawat yang satu lagi. “Rossi tugas malam. Kalau pagi Beni kayaknya. Oh iya, katanya semalam itu banyak pasukan cowok-cowok ganteng berjas hitam di ruangan Pak Gio itu. Rossi bilang mereka anak buahnya. Aduh anak buahnya saja sudah gagah begini, apalagi Pak Gionya” ucap perawat itu. Ting Pintu lift terbuka ketika sudah sampai di lantai satu. Bianca pun melangkah keluar dan diikuti dua perawat itu. Bianca sebenarnya masih ingin mendengarkan lagi cerita dua perawat itu. Tetapi tidak mungkin Bianca mengikuti dua perawat itu. Bianca pun berbalik dan menatap lift. “Aku akan melihatnya” ucap Bianca pelan. Bianca masuk kembali ke dalam lift. Lalu dia melihat ke arah pintu mencari lantai khusus perawatan VVIP. Ternyata ada di lantai 10. Bianca pun menekan tombol 10, tak lama pintu lift tertutup. Bianca penasaran sekali apa mungkin pria yang dibicarakan oleh dua perawat itu adalah Gio. Kalau memang benar Bianca harus menanyakan kepada Gio kemana Willy. Bianca yakin Gio pasti tahu. Ting Pintu lift kembali terbuka di lantai 10. Bianca pun melangkah keluar. Ternyata di ruangan VVIP dijaga ketak oleh dua security. Bianca ragu apa mungkin dia boleh datang kesini membawa Aditya. Bianca akan mencobanya. Bianca pun melangkah hingga masuk ke depan pintu koridor dimana ada dua security berjaga disana. “Permisi Nyonya ada yang saya bisa bantu?” Tanya salah satu security itu. “Iya Pak. Saya mau bertemu dengan Kakak saya yang di rawat disini” jawab Bianca berbohong. “Siapa namanya kalau boleh saya tahu Nyonya?” Tanya security itu dengan ramah. Bianca terdiam. Dia tidak tahu nama asli Gio siapa. Kalau ternyata Gio itu hanya nama panggilan bagaimana. Bisa-bisa dia ketahuan berbohong. Bianca berpikir cepat. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Drrrt Drrrrt “Sebentar ya Pak” ucap Bianca melangkah menjauh dari security. Bianca mengambil ponsel dari dalam tasnya dengan pelan-pelan karena dia menggendong Aditya jadi sedikit kesulitan. Bianca memegang ponselnya dan ternyata Mami yang menghubunginya. Bianca pun mengangkat telepon dari Mami. “Halo Mi” ucap Bianca. “Bii, apa benar Aditya panas?” Tanya Mami. “Iya Mi. Ini Bianca habis memeriksanya ke dokter” jawab Bianca. “Mami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Kamu tunggu Mami ya” ucap Mami. “Mi, Bianca sudah selesai. Ini juga mau pulang lagi menunggu Mina menebus obat saja. Mami tunggu di rumah saja ya” ucap Bianca. “Mobil Mami sudah sampai di Lobby. Kamu dimana Mami susul kesana?” Tanya Mami. Gawat, Bianca tidak mungkin melanjutkannya untuk ke kamar Gio. Bisa-bisa Mami akan marah kalau tahu Bianca melihat Gio saat ini. Bianca pun segera melangkah menuju lift dan masuk ke dalam lift. Untung saja lift tepat sedang ada di lantai 10. Bianca menekan tombol 5, tak lama pintu lift tertutup. “Bianca di lantai 5 Mi. Aku sedang menunggu Mina” ucap Bianca berbohong. “Yasudah, Mami ke sana sekarang” ucap Mami. Beruntungnya menuju lantai 5 tidak begitu lama. Bianca kini sudah keluar dari lift. Bianca pun mencari bangku ruang tunggu yang kosong, lalu duduk disana. Lima menit kemudian Mami pun muncul dan melihat Bianca duduk, lalu menghampirinya. “Bagaimana keadaan Aditya, Bii?” Tanya Mami duduk disebelah Bianca. “Kata dokter tidak apa-apa. Tapi kalau tiga hari panasnya tidak turun Aditya akan di periksa lebih lanjut” jawab Bianca. “Syukurlah. Mami cemas sekali saat datang ke rumah, Bi Inah bilang kamu dan Mina ke rumah sakit dengan tergesa-gesa karena Aditya panas tinggi” ucap Mami. “Iya Mi. Bianca panik tadi, karena Aditya baru pertama kali panas tinggi” ucap Bianca. Tap Tap “Bu, Ibu Ko _” ucap Mina terpotong oleh Bianca. “Kamu sudah selesai tebus obatnya Mina” ucap Bianca. “Sudah Bu, maaf lama. Tadi sedikit mengantri” ucap Mina. “Tidak apa-apa. Yasudah yuk kita pulang” ucap Aditya. “Biar Mami yang menggendong Aditya ya” ucap Mami. “Iya Mi” ucap Bianca memberikan Aditya kepada Mami. Mami sengaja menyuruh supirnya untuk ke rumah Bianca lagi, karena Mami akan ke rumah Bianca bersama Bianca dengan satu mobil. Saat ini Bianca sedang mengemudi mobil menuju rumahnya. Bianca sesekali melirik kaca spion dan melihat Mami. Mami terlihat sangat cemas wajahnya. Bianca tahu Mami pasti sangat sayang kepada Aditya, karena Aditya adalah cucu pertama Mami. Wina sampai saat ini belum juga hamil, karena dia masih saja seneng berpetualang. Sore hari Bianca masih di kamar Aditya. Bianca masih menyusui Aditya. Setelah minum obat tadi, memang suhu tubuh Aditya sudah tidak sepanas tadi. Bianca pun tidak memandikan Aditya sore hari ini. Bianca memilih untuk membasuh Aditya dengan handuk dan air hangat saja. “Bii, kata Bi Inah kamu belum makan. Pagi tadi juga hanya makan roti” ucap Mami yang baru masuk ke dalam kamar Aditya. “Iya Mi” ucap Aditya menganggukkan kepalanya. “Kamu makan dulu, kalau kamu sakit kasihan Aditya” ucap Mami. “Aku belum lapar Mi” ucap Bianca. Mami menghela nafas. “Bii, kalau kamu tidak makan. Nanti asi kamu juga berkurang” ucap Mami. “Nanti Bianca makan roti saja lagi” ucap Bianca. Mami duduk di sebelah Bianca. “Bii, kamu marah sama Mami?” Tanya Mami. “Tidak Mi” ucap Bianca. “Maafkan Mami ya sudah membentak kamu semalam” ucap Mami. “Tidak apa-apa Mi. Bianca juga tidak marah” ucap Bianca. “Terima kasih ya Bii” ucap Mami. “Oh iya, apa kamu sudah memberitahu Willy kalau Aditya sakit?” Tanya Mami. “Belum Mi. Sampai sekarang saja ponselnya masih tidak bisa dihubungi” jawab Bianca. “Kamu sudah hubungi kantor. Siapa tahu Willy ada di kantor. Mami juga lupa tadi mau telepon kantor Willy. Mami keburu panik dengar Aditya di bawa ke rumah sakit” ucap Mami. Oh iya Bianca sampai lupa. Kenapa Bianca tidak menghubungi kantor Willy saja. Semoga saja benar yang dikatakan Mami, Willy ada di kantornya saat ini. Bianca kini sedikit lebih tenang. Nanti kalau Aditya sudah tidur Bianca akan coba menghubungi kantor Willy. Aditya akhirnya pun tertidur. Dengan gerakan pelan Bianca mencoba bangun dari ranjang. Selain memberikan obat dan asi, Bianca juga memasan kompres penurun demam di kening Aditya. Bianca menatap Aditya. Bianca jadi teringat Pak Sapta, dulu waktu di Kalimantan jika Bianca panas Pak Sapta yang sering memberikannya obat. Pak Lurah dan Bu Lurah juga sangat panik sekali, apalagi kalau Bianca sampai pingsan. Bianca jadi merindukan mereka. “Mi, Bianca mau telepon kantor Willy dulu ya” ucap Bianca. “Iya. Kamu makan ya setelah itu. Jangan cuma makan roti. Makan nasi biar ada tenaganya” ucap Mami. “Iya Mi” ucap Bianca menganggukkan kepalanya. Bianca pun melangkah keluar dari kamar Aditya. Bianca menuju telepon rumahnya. Bianca memilih menggunakan telepon rumah saja. Bianca mengetikkan nomor kantor Willy dan menunggu beberapa saat. “BW Advertaising selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?” Terdengar suara recepsionist. “Halo Siska saya Bianca. Bisa saya berbicara dengan Pak Willy” ucap Bianca kepada Siska recepsionist di kantor Willy. “Ibu Bianca. Maaf Bu, sejak pagi Bapak belum datang” ucap Siska. “Ruangannya tidak ada orang?” Tanya Bianca memastikan. “Tidak ada Bu. Pak Doni juga sedang ke Bali” jawab Siska. “Coba kamu sambungkan saya ke ruangan Bapak ya” ucap Bianca meminta tolong kepada Siska. Bianca masih berharap Willy datang ke kantornya semalam, oleh sebab itu Siska tidak tahu kalau Willy ada di ruangannya. “Baik Bu. Tunggu sebentar ya saya sambungkan” ucap Siska. “Iya” ucap Bianca. Bianca pun menunggu Siska menyambungkan teleponnya ke ruangan Willy. Tiga menit berlalu sudah. Siska juga sudah berkali-kali menyambungkannya tetapi tidak ada juga yang mengangkatnya. “Bu, maaf sepertinya di ruangan Bapak tidak ada orang. Sejak tadi tidak ada yang mengangkatnya” ucap Siska.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN