bc

Dipaksa Nikah kontrak sama ceo nyebelin

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
contract marriage
HE
friends to lovers
playboy
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
serious
office/work place
assistant
like
intro-logo
Uraian

[21++ ONLY] — Bocil minggir, ini bukan cerita Cinderella.Kirana nggak ngerti lagi sama hidup. Baru aja seminggu kerja, eh udah diseret ke ruang CEO, dan ditawarin… nikah kontrak?!"Jadi istri pura-pura saya selama setahun. Gaji naik, utang lunas, dan kamu bisa tinggal di apartemen elit. Deal?"Itu kata-kata si bos nyebelin itu. Arrogant. Dingin. Tapi wajahnya? Hadeh... sayangnya gantengnya nyakitin mata. Kirana mau nolak, tapi dompetnya udah teriak minta tolong.Awalnya cuma formalitas. Cuma akting suami istri. Tapi makin lama, batas pura-pura itu mulai kabur. Apalagi kalau pria itu mulai berubah—dari menyebalkan jadi... bikin deg-degan.Dan Kirana sadar permainan ini nggak sesimpel yang dia kira. Karena hatinya pelan-pelan ikut terikat, bahkan sebelum kontraknya habis...

chap-preview
Pratinjau gratis
tatapan dingin yang Menjengkelkan
Hari ke-14 Kirana bekerja di Wira Group. Empat belas hari yang seharusnya cukup untuk membuatnya terbiasa dengan lingkungan kerja baru, tapi tidak dengan sikap bosnya—Daryandra Zaynar Wira Pradipta, CEO berusia 30 tahun yang terkenal dingin dan perfeksionis. Setiap kali Kirana melintas di depannya, pria itu selalu menatapnya dengan pandangan yang sulit ditebak. Bukan sekadar tatapan biasa, melainkan seperti dia memeriksa sesuatu yang menjijikkan. Atau mungkin... aneh? Kirana tidak tahu, dan itu justru membuatnya semakin kesal. "Apa sih salah gue sampe dia ngeliat gue kayak gitu?" batin Kirana sambil menekan tombol lift dengan kasar. Meeting pagi ini pun tidak berjalan lancar. Daryandra—yang biasa dipanggil "Dian" oleh para direktur—terus-menerus menyela presentasinya dengan pertanyaan tajam. "Data ini dari mana? Tidak akurat," ujarnya tiba-tiba, suaranya datar tapi menusuk. Kirana menahan napas. "Dasar setan! Udah ngerjain semalaman, masih aja dicacat!" Tapi di depan semua orang, dia hanya tersenyum tipis. "Saya sudah cross-check, Pak. Ini dari laporan divisi keuangan—" "Salah," potong Dian dengan tegas. "Laporan Q2 tahun lalu tidak seperti ini. Anda kurang teliti." Mata Kirana berkedip cepat. "Astaga, emang lu hafal semua isi laporan perusahaan?!" Tapi lagi-lagi, dia hanya mengangguk. "Baik, Pak. Akan saya revisi." --- Begitu meeting selesai, Kirana langsung bergegas keluar ruangan, ingin secepatnya menjauh dari sosok CEO nyebelin itu. Tapi baru beberapa langkah, suara dingin itu kembali menyapa. "Kirana." Dia berbalik pelan. "Iya, Pak?" Dian berdiri tegak, tangan di saku jas hitamnya. Matanya menyorot tajam. "Besok, laporan revisi harus sudah di meja saya sebelum jam 9 pagi. Dan tolong, jangan ada kesalahan lagi." "DASAR MANUSIA! LUPA GUE KAN BUKAN ASISTEN LU?!" batin Kirana menjerit. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya: "Siap, Pak." Saat Dian berlalu, Kirana menghela napas panjang. "Ya Tuhan, kapan gue bisa balas dendam ke orang ini?" --- "Kir, lo keliatan mau bunuh orang. Ada apa?" tanya Siska, teman sekantornya, sambil menyodorkan secangkir kopi. Kirana menggerutu. "Gue baru aja dihajar habis-habisan sama si Raja Dingin itu lagi. Gue kan cuma staff marketing, bukan sekretaris dia. Tapi tiap hari disuruh-suruh kayak babu!" Siska tertawa. "Waduh, berarti lo spesial. Biasanya dia gak pernah ngurusin karyawan level kita." "Spesial dikatain g****k maksud lo?" Kirana mengerutkan kening. "Nggak, gue perhatiin, Dian tuh tipe orang yang cuma fokus ke orang-orang yang dia anggap... worth it." Kirana nyengir. "Worth it buat jadi sasaran emosi kali ya?" Siska menggeleng. "Gue denger dari HR, lo direkomendasiin langsung sama dia waktu seleksi." "HAH?!" Kirana nyaris tersedak. "Dia yang milih gue? Tapi kenapa sikapnya kayak benci banget?!" Siska hanya mengangkat bahu. "Who knows? Mungkin dia punya rencana jahat buat lo." Kirana memandang kosong. "Atau mungkin... ini semua adalah awal dari mimpi buruk yang lebih besar?" --- Jam sudah menunjukkan pukul 10:37 malam. Gedung Wira Group yang biasanya ramai dengan aktivitas karyawan kini sunyi, hanya diterangi oleh lampu-lampu emergency dan sorot komputer di beberapa meja kerja. Salah satunya adalah meja Kirana, di sudut ruang marketing. Dengan mata berkaca-kaca karena lelah, jari-jemarinya menari dengan cepat di atas keyboard. "Dasar Daryandra setan! Ngapain juga ngejar-ngejar deadline tengah malem gini?!" batinnya sambil menyeringai. Di sebelahnya, segelas kopi hitam pekat sudah separuh kosong—teman setia di saat frustrasi. Tiba-tiba, musik DJ yang keras memenuhi ruangan. "Drop the beat! BOOM—!" Kirana memutar volume speaker bluetooth-nya sampai maksimal. "Bodo amat! Lagian juga gak ada orang. Siapa yang bakal protes? Hantu kantor?" Dia menyandarkan kepala ke belakang, menutup mata sejenak, mencoba menikmati musik yang menghentak itu. "Mungkin dengan begini, gue bisa ngebayangin kepala si Raja Dingin itu meledak kayak bass drop." --- Daryandra Zaynar Wira Pradipta mengerutkan kening. Kepalanya berdenyut-denyut karena kelelahan. Sudah tiga hari ini dia kurang tidur, dan malam ini pusingnya semakin menjadi. Tiba-tiba... Boom. Boom. BOOOOM! Suara bass yang menggelegar membuatnya tersentak. "Apa itu?!" Dia berdiri, wajahnya berkerut dalam kemarahan. "Siapa yang berani memutar musik di jam seperti ini?!" Dengan langkah cepat, Dian keluar dari ruangannya. Suara itu semakin jelas—berasal dari lantai marketing. "Tidak mungkin ada yang masih bekerja di sana..." Kecuali... "Kirana." Nama itu terngiang di kepalanya. Hanya ada satu orang yang cukup nekat untuk melanggar peraturan perusahaan: wanita itu. --- "Everybody in the club—!" Kirana ikut bernyanyi kecil sambil mengetik. "Nih, laporan gue bikin sebaik mungkin. Biar lo gak bisa nyalahin gue lagi, Daryandra!" Tiba-tiba... "KIRANA." Suara itu—dalam, dingin, dan penuh amarah—membuatnya tersentak. "Tidak. Tidak mungkin." Dia memutar kursinya pelan-pelan, dan... Dian. Berdiri di sana, dengan wajah seperti malaikat maut yang baru turun dari neraka. Matanya menyala dalam kegelapan, tangan terlipat di depan d**a, dan bibirnya mengeras. "Apa yang Anda lakukan?" Kirana buru-buru mematikan musiknya. Ruangan tiba-tiba sunyi. "Saya... sedang menyelesaikan laporan, Pak," jawabnya, berusaha tenang. Dian melangkah mendekat. Setiap langkahnya seperti menggetarkan lantai. "Dengan musik DJ? Di jam 11 malam?" Kirana menghela napas. "Ah, sudah. Gue udah capek, lagian juga dia yang nyusahin." "Ya, Pak. Saya butuh motivasi ekstra karena laporan ini harus selesai sebelum jam 9 besok pagi," katanya, sedikit sarkastik. Dian diam sejenak, memandangnya tajam. "Anda menyalahkan saya?" Kirana menahan godaan untuk menjawab "YA, ELU YANG SALAH!". "Tidak, Pak. Saya hanya mencoba bekerja dengan cara saya." Dian mengamatinya, lalu matanya beralih ke layar komputer. "Laporan sudah berapa persen?" "85%." "Tidak cukup cepat." Kirana nyaris menjerit. "APA LAGI YANG LU MAU?!" Tapi sebelum dia bisa membalas, tiba-tiba... "Bawa laptop Anda. Ikut saya." Kirana mengernyit. "Ke... mana, Pak?" Dian sudah berbalik, berjalan meninggalkannya. "Ke ruang kerja saya. Kita selesaikan bersama." --- Kirana mengikuti Dian dari belakang dengan langkah tertatih, matanya menyapu penampilan sang CEO yang biasanya selalu sempurna. "Aneh," pikirnya. Jaket Armani yang biasa tertutup rapi sekarang sedikit terbuka, dasi longgar, dan rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi terlihat berantakan—seperti baru digaruk-garuk karena frustrasi. "Jangan-jangan dia juga sebal sama gue?" Tiba-tiba, Dian berhenti dan menoleh. "Masih lama?" "A-Apa, Pak?" Kirana tersentak. Dian mengerutkan kening. "Anda terus-terusan menatap saya seperti melihat alien." "Duh ketauan!" Kirana menggeser pandangannya. "Maaf, Pak. Cuma... jarang melihat Bapak dalam kondisi... kurang rapi." Dian menghela napas panjang, seolah menahan amarah. "Ini sudah jam 11 malam. Tidak ada yang mengharapkan saya tampil seperti mau photoshoot." Tanpa menunggu balasan, dia kembali berjalan. --- Begitu pintu terbuka, Kirana nyaris menjatuhkan laptopnya. "Astaga... ini kamar atau ruang kerja?!" Ruangan seluas 100 meter persegi itu lebih mewah dari apartemennya. Sofa kulit Italia, lukisan abstrak bernilai miliaran, kaca patri yang memantulkan cahaya kota—bau fresh lemon dan sandalwood menyelimuti udara. "Duduk." Dian menunjuk ke meja bundar di dekat jendela. Kirana masih terpana. "Ini... beneran ruang kerja Bapak?" Dian melepas jaketnya, menggantungkannya di kursi. "Masih ada ruang kerja lain?" "Dasar sok cool," batin Kirana sambil duduk. --- Begitu Kirana membuka dokumen, Dian langsung menyambar laptopnya. "Tidak. Ini salah semua." "EH—!" "Data Q2 harusnya dibandingkan dengan Q1, bukan tahun lalu." Jarinya menari di keyboard dengan kasar. Kirana mencibir. "Tadi di meeting Bapak bilang bandingin sama tahun lalu!" Dian menatapnya tajam. "Anda salah dengar." "DASAR TUKANG GASLIGHT!" Tapi Kirana hanya mengatupkan mulutnya. 30 menit berikutnya adalah siksaan. "Ini font-nya tidak konsisten." "Grafiknya kurang detail." "Kesimpulan terlalu subjektif." Kirana menahan napas. "Demi Tuhan, gue rela dijual ke pasar loak daripada harus ngerjain laporan sama elu lagi!" Tiba-tiba... "Kenapa Anda memilih kerja di sini?" Pertanyaan itu membuat Kirana terkejut. "Apa?" Dian memutar kursinya, menghadapnya sepenuh. "Anda jelas tidak suka diatur. Tidak suka diperintah. Tapi Anda bertahan." Kirana menelan ludah. "Harus jawab apa? 'Gue butuh duit'? Atau 'HRD lo yang nawarin gaji gede'?" "Saya... tertantang dengan budaya perusahaan," jawabnya diplomatis. Dian menyipitkan mata. "Bohong." Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, dia menutup laptop. "Cukup untuk malam ini." "Tapi belum selesai—" "Besok pagi kita lanjutkan. Jam 7." Kirana nyaris menjerit. "JAM 7?! MANUSIA NORMAL MASIH TIDUR!" Tapi sebelum sempat protes, Dian sudah berdiri dan berjalan ke pintu. "Pulang. Saya akan memanggilkan supir." Kirana terpana. "Ini... perhatian atau cuma mau ngatur-ngatur lagi?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook