Upacara bendera tengah berlangsung, sudah sejak tadi aku memutar pandangan mencari sosok Pak Kadir di barisan Para Guru dan Staff sekolah.
Nihil!
Apakah beliau tidak datang?
Bapak Kepala Sekolah saat ini memimpin Upacara bendera. Sebuah kebiasaan pada setiap senin pagi itu. Kecuali saat KepSek berhalangan hadir, Pak kadir lah yang menggantikan beliau berdiri di tengah lapangan.
Beberapa murid indisipliner berbaris terpisah, tengah dipertontonkan di depan seluruh peserta upacara untuk memberikan efek jera. Diantara mereka ada yang karena terlambat, atau tidak membawa atribut upacara seperti topi, sabuk, kaus kaki serta atribut lain yang telah ditentukan pihak sekolah.
Dimana Pak Kadir?
Hingga Upacara Bendera hampir selesai tak juga terlihat sosok si pemilik senyum bergingsul itu.
“Nggak usah di cari, Rony ada di belakangmu!” goda Alice. Dia mendapatiku beberapa kali tengah mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri.
Aku dan kedua sahabatku berada dalam barisan sejajar. Selalu seperti itu jika ada kegiatan baris-berbaris. Saling melempar candaan atau mulai bergosip saat mulai bosan.
“Dia Jagain Key, kali-kali pingsan.” seloroh Iren.
Keduanya terus saja menggodaku selepas kejadian di kelas tadi.
Saat kursi mulai meluncur dan hampir membuatku gegar otak, Rony hadir bak seorang Pahlawan bertopeng kesiangan yang tengah unjuk gigi di depan teman sekelas.
Tapi aku bersyukur. Setidaknya kursi itu tak jadi melukai tubuh bagian atasku. Padahal sebenarnya sudah pasrah menjadi penghuni UGD atau setidaknya ruang UKS.
Setelah berterimakasih dengan lirih dan bangkit dari tempat lesehan, terdengar celetukan yang membuat rasa terimakasihku menguap seketika.
“Gitu aja jatuh. Manja!!“ Rony balik meledekku.
Aku lebih memilih diam, karena malu. Memilih menyibukan diri mengibas bagian belakang rok yang tampak cemong bekas debu dari lantai.
“Kamu nggak apa-apa?” Alice tampak khawatir. Ikut membantu mengibas rok yang kotor.
Aku mengangguk dan tersenyum mengisyaratkan semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Enggak bilang terimakasih? Dia sudah nolongin kamu, loh!” Iren mengingatkan.
“Sudah kok, tadi.”
“Dia mana tau bilang terima kasih!” Rony kembali memukul genderang perang. Padahal baru saja berubah menjadi pahlawan. Bahkan saat itu dia yang melanjutkan mengangkat sisa kursi yang belum terangkat.
“Eh, aku kan sudah bilang terimakasih, tadi!”
“Oh, ya! Kapan? Buktinya mereka enggak denger. Berarti emang belum!” Rony memasang wajah menyebalkannya lagi. Pedahal baru saja aku takjub dan terpana melihatnya dari arah bawah saat berubah menjadi super hero.
Kenapa ia cepat sekali berubah?
"Oke, oke! Dengerin semuanya ya! Aku mau ngucapin terimakasih ke super hero.” Aku meminta perhatian semua hadirin. Lalu berbalik ke tempat Rony berada.
“Terimakasih banyak eonni!” Alih-alih melakukannya dengan tulus, aku malah meledeknya dengan mempelesetkan namanya dengan panggilan kakak perempuan ala Negeri Ginseng.
“Apa? Bilang apa tadi?” Rony datang menghampiri. Sepertinya tidak terima dengan panggilan tersebut.
“Terimakasih, eonni!” aku semakin meledeknya.
“Ganti!”
“Enggak! Eonni, eonni!”
Rony semakin mendekat ke arahku.
“Oke, tetap panggil aku begitu. Dan jangan salahkan aku kalau bersikap seperti itu.”
“Hah? Maksudnya?” Aku tak mengerti dengan ucapan Rony. Tapi gerakkannya membuatku cukup memahami maksud yang ia katakan.
“Aku akan bersikap seperti eonni-mu!”
Rony semakin mendekat, memepet tubuhku yang terus mundur menuju dinding kelas.
“Ish, Rony apaan seh!” kudorong tubuhnya sebelum berhasil mendesakku tak berkutik di dinding.
Jeritan, sorakan juga siulan menggoda pecah dari semua yang hadir di ruangan, membuatku merah padam. Ingin cepat-cepat menyudahi piket kelas ini, melarikan diri menuju lapangan upacara.
“Kalian So Sweet banget!” Iren mulai melancarkan serangan.
Andai saja kedua tangan ini tidak sedang memegang tempat sampah yang telah menggunung, cubitanku pasti telah melayang pada salah satu lengan atau pinggang Iren.
“Udah, buruan itu sampah dibuang sana!” Alice menengahi. “Tapi kalian emang so sweet seh!”
“Iya bener, mau dong jatuh juga. Terus di godain kayak tadi!” Neyma yang sedari tadi hanya diam menonton ikut nimbrung memojokkan.
Tatapanku menajam, mendengus kesal. Di pihak mana sebenarnya Alice dan Iren berada? Bukannya membantuku malah melempar isu.
Kupikir setelah kepergianku dalam rangka membuang sampah pada tempatnya, pembahasan absurd soal tadi telah usai. Nyatanya kemunculanku di depan pintu kembali menjadi pemicu.
“Ya udah, aku dorong kamu ya! Nanti kalau jatuh aku panggilin siapa gitu, untuk tolong kamu. Terus yang lain puterin musik yang mendukung.” Kudekati Alice, meraih bahunya untuk bisa kutolak ke belakang. Hanya niat bercanda tanpa melakukannya serius.
“Tolong panggil A’ Yogi ya!” pesan Alice disertai kekehan.
“Yogi kelas Ipa tiga? Kakak kelas yang mantan Ketua osis itu?” Iren menyahut penuh antusias.
Alice tertawa seraya menangkupkan telapak tangannya di wajah. Pasti hendak menyembunyikan rona merah di wajahnya. Aku hanya berpandangan dengan Iren lalu tertawa geli. Ikut membayangkan bagaimana drama antara Alice dan Yogi.
“Ngobrol teroos..., ngobrol teroos!! Kapan selesainya nih piket?” celetuk Rony sambil melintas di antara aku dan Alice. Membuat peganganku pada bahu Alice terlepas.
“Ish, Rony rese!!” Aku menjerit sebal.
“Rese-rese gini, nyelametin kamu tadi.” Ronny berhenti tepat di depan pintu kelas.
“Gak minta wee...!”
Pertikaian dimulai. Kami kembali saling memainkan ekspresi mencibir dan tak suka.
“Oo gitu, harusnya tadi dibiarin aja!”
“Terus kenapa ditolong? Yang suruh siapa??”
“Aku ogah angkat kamu ke UKS kalau pingsan!”
Hish, aku tidak selemah itu!
“Iren, Alice, sampai kapanpun kalau aku pingsan jangan pernah minta dia yang angkat. Minta tolong orang lain! Atau biarkan saja tergeletak di lantai!!” jeritku sebal. Merasa kalah saling melempar serangan.
“Kalau jatuhnya di jalan tanah?” Rony masih lanjut menggangguku.
“Biarin di tanah!”
“Kalau jatuhnya di bebatuan?”
Tak lagi kurespon celotehnya. Hanya memandang sinis ke arah cowok menyebalkan itu yang malah senyum-senyum di tempatnya bersandar pada kusen pintu.
“Sudah, sudah. bermesraannya jangan di sini. Malu depan umum.” Alice menengahi.
“What! Bermesraan?” Aku mendelik ke arah Alice.
“Pertengkaran keluarga.” Iren menambahi.
Seketika tawa semua orang yang berada di dalam kelas pecah tanpa memperdulikan bagaimana sebalnya diriku.
Sedangkan Rony hanya tampak tersenyum, sambil mengusap tengkuk. Lalu berlenggang keluar dengan tangan masuk ke dalam saku celana.
Orang aneh! Aku yang hampir terbentur kursi, kenapa dia yang gegar otak?
--
“Udahan ikh, dari tadi nggak selesai-selesai!” protesku diantara godaan Iren dan Alice, sambil mengerucutkan bibir.
“Pokoknya kawal terus sampai jadi!” celetuk Iren. Membuatku menghadiahkan sebuah cubitan manis di lengannya. Sahabat tomboyku itu meringis tanpa suara.
Aku tersenyum puas.
Saat menawarkan hadiah yang sama pada Alice, ia menyatukan telapak tangan. Minta ampun sembari menahan tawa.
“Berisiknya..! Nanti di bawa Pak Hamid ke depan baru tau!” suara Rony berhembus di tengkukku.
Aku tak sadar kalau Rony berbaris tepat di belakang. Pikirku belakang terpisah beberapa barisan. Enggak penting juga tau dia ada dimana.
Tak mendapat respon, Ronny menarik kerah bajuku ke belakang membuatku sedikit terdongak karena sensasi tercekik. Lalu menarik ikatan rambutku, membuatnya jatuh terurai. Lengket menyatu dengan keringat yang mulai membiji di sekitar leher.
“Rony!!” keluhku. Merebut ikat rambut di tangannya.
Ingin rasanya mencubit gemas lengan yang cukup berotot itu. Namun urung dilakukan saat melihat Pak Hamid yang tengah berpatroli barisan, kini berada tepat di samping barisanku.
“Ehem, ehemm!!“ beliau berdehem sambil tersenyum menatapku.
“Yang mau baris di depan, dipersilahkan!” suara Pak Hamid menggelegar ke setiap barisan yang sedang riuh.
Sontak kami semua memperbaiki barisan, memfokuskan diri pada pesan pengumuman yang dibawakan di depan lapangan.
“Key nih Pak, berisik terus. Bawa aja ke depan.” Rony berbisik, kembali menggodaku.
Kali ini kuacuhkan, lain kali awas aja!
Hingga akhir upacara dan barisan dibubarkan, aku masih tidak dapat menemukan Pak Kadir.
Bapak Dimana, Pak?
Sekarang bagaimana? Haruskah kembali menghadap Kepala Sekolah dan kembali menunggu solusi yang mungkin ditawarkan?
“Masih mau upacara, Key?” Rony menegurku.
Semua berhamburan, beranjak dari lapangan. Tapi aku masih saja terpaku, celingukan mencari seseorang.
Alice dan Iren? Entah mereka ada dimana. Mungkin sedang asyik berpegangan tangan, jalan beriringan menuju kelas. Meninggalkanku yang mungkin sebentar lagi akan meninggalkan mereka.
Baguslah! Sebentar lagi mereka akan benar-benar kehilanganku. Baiknya kubiarkan mereka terbiasa berdua. Ada setitik rasa sedih juga rasa lega mengetahui mereka baik-baik saja tanpa kehadiranku.
Kulepas topi, menjadikannya penghalang silau cahaya yang menghadang. Masih berusaha mencari sosok yang rupawan dan menenangkan.
“Masih mau upacara?”
Nyess!
Sensasi basah dan lembab merasuk ke dalam kulit kepala. Topi basah Rony sukses nangkring di kepala. Terbayang keringat Rony si cowok tengil menyatu dengan mahkota kepalaku.
“Rony!!”
Gegas kulepas topi dari kepala, seketika tercium semerbak aroma keringat berasal dari topi itu.
“Iikh…, aku baru keramas tau!” jeritku, sebal. Aroma keringat itu seperti menempel erat di pangkal rambut.
Kulemparkan topi itu ke arah dimana pemiliknya berada. Rony memungutnya lalu berlari menjauhiku sambil tertawa renyah. Tak memperdulikan ekspresi super sebal yang kupertontonkan.
Sejak awal Rony memang iseng dan jahil terhadapku. Sekedar meledek, menjahili atau beradu mulut, berusaha menyulut amarahku. Kadang aku terpancing, hingga harus mengejarnya untuk membalas apa yang ia lakukan. Tanpa kami sadari, pada akhirnya menjadi tontonan gratis bagi murid lain.
Seperti saat ini, anak-anak lain di belakang bersorak melihat drama di depan mata mereka.
Jika ada kesempatan, tak jarang kulayangkan cubitan manis padanya. Entah itu di lengan, bahu, pinggang, atau perut. Melihat ekspresi meringisnya menahan sakit cukup membuatku puas. Merasa impas telah membalas semua sikap tengilnya.
Aku berlari menyembunyikan diri saat tatapan dan tuduhan penuh selidik terlempar dari banyak orang.
“Apakah mereka pacaran?”
“Mungkin masih pendekatan.”
“Mereka cocok sekali!”
Tak masuk akal!!
Anehnya, Rony malah tersenyum alih-alih ikut melarikan diri sepertiku.
Saat melintas di ruang guru dalam perjalanan menuju kelas, kucoba melirik meja Pak Kadir. Berharap ada tanda-tanda keberadaannya di sana. Mungkin dari tas yang biasa tersimpan di meja. Atau jaket yang biasa beliau kenakan selalu disampirkan pada sandaran kursi kerjanya
Lagi-lagi nihil. Meja kerja beliau kosong tak bertuan.
Mungkinkah Pak Kadir tengah berada di ruangan KepSek seperti beberapa hari yang lalu?
Tapi bukankah KepSek tadi memimpin upacara? Seharusnya Pak Kadir mengisi mejanya sendiri karena penguni ruangan itu telah kembali.
Atau, mungkinkah beliau sedang rapat? Dengan siapa? Bukankah yang lain baru saja selesai Upacara Bendera.
Ataukah beliau benar-benar tidak datang?
Lalu bagaimana nasibku?
Akh, kenapa begitu kugantungkan nasib padanya? Dia tidak berkewajiban mencarikan solusi untuk permasalahanku. Dia hanya seorang Guru dan aku hanya salah satu dari banyaknya murid lainnya. Untuk apa Beliau Pak Kadir bersusah payah memikirkan diriku.
Aku mulai menyesali keputusan untuk menunggu hingga hari Senin. Seharusnya segera menentukan pilihan beberapa hari yang lalu.
“Bengong lagi, kan! Seneng banget bengong. Nanti kesambet loh.” Rony datang dan mengalungkan lengannya di leherku. Menyeretku menuju kelas.
Seperti terhipnotis, aku patuh mengikuti. Hingga tiba di depan pintu kelas, barulah tersadar bahwa rangkulan hangat itu milik Rony. Si cowok tengil.
Segera kutepis lengannya dari bahu. Melemparkan tatapan sinis penuh rasa tidak suka. Rony membuka pintu, melempar senyum tanpa rasa bersalah.
Aku terdiam, syok tak percaya. Bagaimana bisa tak menyadari rangkulan Rony sejak depan Ruang Guru tadi. Untung saja Iren dan Alice tak memergoki.
Bisa malu!
Mau taruh dimana muka ku?
Heh, kenapa juga harus malu. Aku dan Rony Tengil tidak ada hubungan apa-apa.
Kutarik nafas panjang sebelum akhirnya menarik tuas pintu dan mendorongnya. Berlenggang santai menuju tempat duduk. Kursi sudah diturunkan dengan rapi, siap untuk di huni. Kuhadiahkan senyum terbaikku untuk Alice. Pasti dia yang menurunkan kursi milikku.
Ah, sahabat terbaik!
Saat hendak duduk, kusempatkan melirik ke meja Rony. Tatapan kami beradu. Tampak ia melempar senyum padaku. Memaksaku meyakini ada yang tidak beres dengan isi kepalanya.
Ada apa dengannya?
Apakah panas matahari saat Upacara tadi mengerutkan isi kepalanya?
Tapi kalau diperhatikan, lama kelamaan senyumnya manis juga.
Aargh!
Kutepuk pelan kedua pipi. Meminta kesadaran diri.
Apa yang kupikirkan? Kenapa tiba-tiba memuji senyumannya. Alih-alih menuduh Rony, jangan-jangan yang sedang error itu isi kepalaku sendiri.
Kugelengkan kepala cepat, berharap racun tentang Rony terlempar berhamburan dari sana. Masih ada hal lain yang harus kupikirkan. Laki-laki lain, Pak Kadir.
Baiklah Pak Kadir. Biar aku yang memutuskan. Terimakasih Bapak sudah memberiku kekuatan dan semangat untuk beberapa hari ini. Aku sudah tak mampu mengintip isi di dompetku lagi.
Argh, tiba-tiba nada-nada mellow terputar begitu saja di telingaku. Membuat matahari yang telah berani menampakkan eksistensi harus kembali menyembunyikan diri.
--
Saat harapan begitu besar, sedangkan hatimu tak siap menerima kenyataan.
Mungkin ini yang dinamakan patah hati.
Dan harapan kosong jauh lebih menyakitkan daripada sebuah penolakan.
-
Alice dan Iren menggandengku menuju kantin di jam istirahat pertama. Masih kusempatkan mencuri pandang ke arah meja Pak Kadir. Berharap ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Masih saja nihil.
Takdir masih meminta hatiku terpilin.
“Aku nggak ikut ke kantin dulu ya!” Kuminta kebenaran kedua sahabatku. Ingin rasanya mencari tempat untuk meluahkan rasa sesak di dadaku.
“Loh, mau kemana?” tanya Iren.
“Kamu kenapa?” tambah Alice.
Keduanya segera memasang tatapan tajam penuh selidik.
Kuulas senyum semampu dan sebisaku. Tak ingin ada keanehan tertangkap oleh mereka.
“Nggak apa-apa. Cuma masih kenyang aja.” Aku mencoba memberikan alasan.
“Trus mau kemana? Sendirian di kelas nanti orang bilang lagi marahan!” Alice masih menginginkan keikutsertaanku.
“Apa iya sendirian? Jangan-jangan ada yang nungguin di kelas. Ciee…, yang janjian diem-diem, yang diem-diem janjian!!” Entah mendapat ide dari mana, Iren malah menggoda. Sukses membuatku tercengang tak percaya.
“Iiih…, kok nggak bilang-bilang kalau—,”
Segera kudekap mulut Alice, tak sanggup lagi mendengar prasangka mereka yang ngawur.
“Aku mau ke perpustakaan!” tegasku. Perlahan melepaskan dekapan tangan dari mulut Alice.
“Ooo..., jadi sekarang mainnya di tempat yang sepi dan tenang.” Iren cekikikan melihat reaksiku yang sedang gemas menghadapi mereka.
“Aku kok mendadak laper ya? Ah, perutku!” pura-pura kupegang perut, lalu menyeringai ke arah Iren dan Alice. “Enggak perlu ke kantin kan, kalau cuma makan kalian berdua??” Kuangkat tanganku hendak menerkam Iren dan Alice. Keduanya menjerit berlarian menjauh. Lalu pergi meninggalkanku dengan kekehan sepanjang mata memandang.
Selepas bayang mereka menghilang, gegas ku berlari menuju perpustakaan. Ingin kuhempaskan semua emosi negatif dalam diri. Ingin terisak dalam tunduk tanpa harus diketahui orang lain.
Aku memiliki tempat favorit di sana. Dimana aku bisa bersandar di pojok ruangan. Menyelami perasaan yang sedang tidak baik-baik saja.
Kusandarkan tubuh letihku di dinding rak buku. Buku yang kuambil, dipakai untuk menutupi wajah. Aku ingin menangis di sana tanpa ada yang melihat dan mengganggu. Airmataku hanya perlu mengalir tanpa suara, agar tak menjadi pusat perhatian pengunjung lain.
Letih untuk semua penantian yang belum berujung.