- Mencari solusi -

2520 Kata
“Bagaimana, Key?” tanya Pak Kadir. “Se—se—Senin, Pak?” Aku melongo tak percaya. Kenapa harus Senin di saat kondisi dompet benar-benar mepet? Pak Kadir mengangguk. Seperti ingin menyudahi pembicaraan. Mungkin beliau ada keperluan lain. Salahku juga menganggu waktu istirahat beliau. Cukupkah uangku sampai hari Senin? Kamis, Jum’at, Sabtu, Minggu, Senin. Kucoba menghitung hari. Jumlah hari bergulat dengan jumlah uang yang tersisa dalam dompetku. Huft, Bisa ludes semua uangku. Lalu bagaimana caraku pulang? Kugaruk kepala yang tiba-tiba terasa gatal. Bingung memikirkan nasib tragisku. “Iya, Pak KepSek Dinas Luar sampai hari Senin.” lanjut Pak Kadir saat melihatku enggan beranjak dari sofa, namun tidak pula menunjukkan tanda-tanda akan bercerita. “Aaa.., anu Pak, boleh saya cerita sama Bapak?” Pak Kadir terkekeh pelan. “Dari tadi Bapak menunggu, loh!” Terdengar seperti sebuah sindiran. Serangan panik kembali menghampiri. Lidahku terasa kelu dan kaku. Sementara kusiapkan diri, Pak Kadir menanti dengan sikap welcome. Senyum manis yang senantiasa menghiasi raut wajahnya itu justru membuatku semakin gugup. “Jadi gimana?” Beliau menagih. “Kalau mau menunggu Pak Kepsek juga tidak apa-apa.” “Saya sama Bapak saja, pak!” jawabku cepat saat melihat Pak Kadir seperti mulai kehilangan antusias. Guru tampan itu kembali menatap penuh. Menanti cepat cerita yang masih saja tersekat di tenggorokan. “Saya, mau berhenti sekolah Pak!” Setelah menghela nafas panjang berkali-kali, akhirnya kalimat itu meluncur juga. Perlahan kuamati reaksi yang tersaji dari raut wajah Pak Kadir. Sedikit tercengang, namun buru-buru beliau samarkan dengan senyuman. “Bisa bercerita lebih jelas?” pintanya. Mungkin khawatir salah dengar atas kalimatku sebelumnya. “Keluarga Saya mengalami masalah ekonomi, Pak. Kami tidak sanggup untuk melanjutkan pendidikan semua anak. Kebetulan saya perempuan. Saya memilih untuk mundur, daripada harus mengorbankan pendidikan saudara saya yang laki-laki.” Setengah mati kujelaskan panjang lebar dengan suara lemah dan serak. Bola panas di kedua mata tak mampu lagi kutahan. Pak Kadir menyerahkan kotak tissue. d**a beliau tampak kembang kempis menghela nafas panjang berkali-kali. Seperti tengah mengulur waktu untuk menyiapkan jawaban terbaik untukku. Aku tak mampu mengatakan kepada beliau tentang Ayahku, yang berurusan dengan pihak berwenang. Tak Pede juga mengatakan pada dunia bahwa aku putri seorang narapidana. Pak Kadir pasti mampu mengerti maksudku tanpa harus dijelaskan semuanya. Pak Kadir kembali menghela nafas panjang dan berat sebelum memulai kalimatnya. “Begini Key, Bapak tau semangat belajar kamu sangat tinggi. Nilai dan peringkat kelas kamu juga cukup bagus. Bapak sangat menyayangkan jika keputusan berhenti sekolah kamu ambil, hanya karena permasalahan ekonomi keluarga. Permasalahan yang sebenarnya kamu tidak harus ikut memikulnya.” Pak Kadir menatap begitu intens. Kuharap ada solusi di sorot mata itu. “Saya juga maunya tetap bertahan, Pak. Tapi jalan takdir tidak ada yang tau. Saya juga tidak tau berapa hari lagi saya bisa bertahan di sini. Itulah kenapa saya memberanikan diri menghadap.” Tangisan memotong kalimatku. Pak Kadir mengusap punggungku mencoba menenangkan. “Ibu sudah tidak mampu mengirimkan uang lagi. Beliau meminta saya segera pulang.” “Apa rencanamu setelah berhenti?” Pertanyaan yang aku sendiri tak punya jawaban. Aku hanya menggelengkan kepala, sambil terus membersihkan jalan nafas yang tertutup rapat. Hening sesaat yang terdengar hanya hentakan jarum detik jam dinding pada ruangam. Juga suara isakan tertahan karena khawatir tangisku terdengar sampai keluar ruangan. Apa kata orang, jika mendapatiku sedang asyik tergugu di dalam ruangan yang hanya ada aku dan Pak Kadir saja. Jangan sampai gosip yang salah beredar luas menjadi bola api panas yang liar. Di sela-sela tangisanku, terdengar suara pintu diketuk dari luar. “Tunggu sebentar, ya!” izin Pak Kadir sambil menepuk bahuku perlahan. Pak Kadir bangkit menuju pintu. Membukanya untuk mengetahui siapa lagi yang berkepentingan dengan beliau. Aku memutar tubuh membelakangi pintu. Tak ingin Guru atau staf lain melihat wajah sembabku. Setelah sekitar lima menit berbincang di depan pintu Pak Kadir kembali menemaniku. Memasang wajah serius. Seperti sudah memiliki jawaban yang terbaik. “Begini, Key,” Beliau memulai putusannya sambil menepuk-nepuk bahuku untuk menenangkan. “Tolong kasih Bapak waktu, untuk mencarikan solusi permasalahan kamu.” Aku mendongakkan kepala, mencari kesungguhan dari kalimatnya. “Sekarang kamu jangan berpikir aneh-aneh dulu. Fokus belajar, bantu Bapak dengan doa, supaya bisa dapat jalan keluar terbaik untuk kamu.” “Tapi pak …” “Kasih Bapak waktu satu, dua, tiga, empat,” Pak Kadir menghitung menggunakan jarinya. “Empat hari sampai Senin. Nanti hari Senin kita bicara lagi. Semoga Allah bantu kamu dan Bapak untuk dapatkan solusi.” Pak Kadir tak memberiku kesempatan memotong pembicaraan. “Gimana Key?” Pak Kadir mencari semangat di dalam mataku. Tampak senyum tulus di wajah beliau terpancar begitu menguatkan. “Tapi Pak, setelah itu saya tidak tahu apakah masih bisa bertahan atau tidak.” Suaraku melemah, seolah-olah yakin tidak akan ada jalan. “Makanya, kita sama-sama berdoa ya!” Pak Kadir menatap penunjuk waktu yang melingkar di tangan kirinya. “Sudah mau masuk kelas. Air matanya di hapus. Tidak enak nanti dilihat teman yang lain.” Kutarik nafas panjang, mendongakkan kepala menatap langit-langit, berharap air mataku tidak tertumpah kembali. Pak Kadir masih sabar menungguku membenahi perasaan. “Sudah makan? Sudah Shalat?” Aku menggelengkan kepala. “Sekarang Shalat ya, jangan lupa berdoa. Nanti ke kantin beli roti saja, dimakannya di kelas kalau guru belum masuk. Sekarang sudah mepet waktu istirahatnya. Kamu nggak punya waktu untuk makan di kantin.” Aku mengangguk, bersiap pamit dari hadapan beliau. Nampak Pak Kadir merogoh sakunya celana, mengeluarkan selembaran uang dari sana. “Ini untuk makan siang kamu.” Pak Kadir menyodorkan lembaran pecahan lima puluh ribu rupiah. “Saya masih ada uang untuk bertahan beberapa hari, Pak.” Aku menolak dengan halus. Bagaimana mungkin aku menerima kebaikannya bertubi-tubi. Meskipun solusi untuk masalahku masih belum diberikan, tapi dengan mendengarkan permasalahanku, seperti beliau telah mengangkat separuh beban berat di hati. Beban yang kepada sahabatku sendiri belum berani kuberbagi. “Tidak apa-apa, ambillah! Bantu Bapak dengan doa ya!” Pak Kadir memaksa. “Kamu mengingatkan Bapak semasa sekolah dulu. Keinginan untuk mencari ilmu begitu tinggi di tengah ketidakmampuan ekonomi keluarga.” Pak Kadir dari keluarga menengah ke bawah juga? “Jangan pernah putus semangat, jangan sampai putus sekolah!” pesan Pak Kadir. Mungkin beban kesedihan beliau dulu lebih berat dari kesedihanku saat ini. Kuterima uluran uang itu dengan lemah, kemudian segera berlalu menuju ke musholla untuk menunaikan kewajiban Shalat Dzuhurku. Langkah kakiku terasa lebih ringan. Tidak seperti ketakutan yang kubayangkan sebelumnya. Semoga ini adalah pertanda baik, bahwa keajaiban itu akan segera datang. Bukankah setiap ada kesulitan selalu disertai dengan kemudahan. Untuk kali ini aku ingin mempercayai Itu. Dalam sujud dan dzikir, tak henti kuberdoa. Berharap keajaiban itu benar-benar ada untukku. Mataku kembali sembab karena tak henti menangis penuh harap. “Hei, serius amat doanya. Sampai khusyu begitu.” Suara Alice mengagetkanku. Segera kusudahi doa panjang nan syahdu itu. Bergegas melipat mukena dan sarung bawahan milik musholla yang kukenakan. Meletakkannya kembali ke tempatnya. “Kamu kenapa? Lagi ada masalah?” tanya Alice lagi. Aku menggelengkan kepala, mencoba tersenyum kepadanya. “Emang nggak boleh sekali-kali berdoa serius? Kan kita sudah sering main-main.” Aku mencoba mengalihkan suasana. Alice memegang kedua bahuku, menatap tajam penuh selidik. “Yakin kamu baik-baik aja?” Aku mengangguk. Memeluk erat tubuhnya, mencoba mencari kekuatan di sana. Maaf aku belum bisa cerita Lis. “Terimakasih sudah jadi sahabat baikku, Lis.” ucapku tulus, enggan melepas pelukan. “Eh, kok tiba-tiba?” “Iiih…! Kamu kenapa seh merusak suasana.” Aku menoyor kepala Alice. Kami tertawa bersama, lalu bergegas menuju ke kelas bersama. Mungkin kita merasa masalah yang sedang kita hadapi adalah yang paling berat. Pedahal masih banyak permasalahan orang yang jauh lebih besar dari yang kita miliki. Berbagilah jika kau tak mampu menanggungnya sendirian. Dengan berbagi, bebanmu akan lebih terasa ringan. *** Kecelakaan Nikmati hirupan nafas pertamamu, sebelum hirupan segelas kopimu. Karena hidup butuh harapan, tidak hanya sarapan. - Senin Pagi. Pukul enam lebih tiga puluh menit. Aku berlenggang meninggalkan kamar kos, tak lupa mengunci pintu kamar. Meskipun tak menyimpan barang berharga, kamarku adalah kotak privacyku. Tak pernah kuizinkan teman pria masuk ke dalam kamar. Jika salah satu kepala mereka muncul di balik pintu, dengan garang segera kuusir keluar. Memilih berbicara di depan pintu kamar atau di ruang tengah milik bersama. “Sok alim ih, Si Key mah!” komentar Juki penghuni kamar bagian luar. “Takut ada yang hilang kali.” sahut Yumi. “Hormati donk Privacy-nya orang. Kalau Key bilang nggak boleh kenapa maksa seh!” Teh Echa membelaku. Aku memang tinggal di rumah kos campuran. Rumah dengan banyak kamar yang ditinggali perempuan dan laki-laki. Ada yang masih pelajar sepertiku, mahasiswa, juga pekerja kantoran. Semua boleh masuk, yang penting masih single. Kebayang donk, gimana hebohnya kalau sudah berkumpul semua. Nah Mbak Chia-lah yang bertugas menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan kos. “Tumben sudah berangkat, enggak kepagian Key? Biasanya kamu yang tutup gerbang sekolah.” Mbak Chia mengejekku. Tampak ia sedang asyik menyapu halaman yang dipenuhi sampah daun mahoni dari kebun samping. Kalau sedang musim kemarau daunnya berguguran memenuhi halaman. Kalau pohon bunga sakura masih mending, halaman jadi estetik. Lah ini cuma daun berwarna kecoklatan. Jelas saja Mbak Chia mengomel pada tetangga Si pemilik kebun, meminta pohon itu ditebang sebelum waktunya panen. Aku memang terbiasa berangkat sekolah lima belas menit sebelum gerbang di tutup. Jarak yang tidak terlalu jauh takkan memakan waktu lama. Dengan berjalan santai saja hanya memerlukan waktu sepuluh menit. Meskipun tak jarang pintu gerbang sudah mulai bergerak hendak ditutup. Lalu aku akan berlari sambil berteriak heboh pada Pak Hamid untuk menunggu tubuhku melewati celah pagar yang hampir merapat. Jika sudah begitu Pak Hamid hanya menggelengkan kepalanya sambil menoyor kepalaku yang lewat. “Ada jadwal piket mbak.” jawabku sambil tersenyum. Kusempatkan berhenti sesaat agar Mbak Chia melihat senyum tulusku. Walau bagaimanapun, mungkin ini senyum terakhir yang bisa dia lihat, sebelum nanti berpamitan dan tidak pernah kembali. “Mbak Chia rajin banget.” pujiku. Mbak Chia tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya. Aku melanjutkan langkah sambil mengingat mimpi tadi malam. Mimpi yang aneh. Bagaimana bisa ada seekor naga terbang di langit yang berawan gelap. Lalu langit seolah dibelah oleh naga putih tersebut. Cahaya pun masuk, menembus awan yang terbelah itu. Aku yang bukan keturunan ahli Feng shui sama sekali tidak mengerti arti dari mimpi tersebut. Eit, feng shui kan seni tata letak!? Sudahlah, tidak perlu memusingkan tafsir mimpi itu. Cukup yakini bahwa kebaikan akan datang hari ini. Bukankah Pak Kadir telah menjanjikan sebuah solusi. -- “Naah gitu donk! Kan bagus kalau setiap hari datang cepat seperti ini!” seru Pak Hamid begitu mendapatiku tak terlambat seperti biasanya. Kugaruk kulit kepala yang tidak gatal. Menyajikan senyum terbaikku untuk beliau. “Biasanya kalau gerbang belum diseret, belum kelihatan.” Lanjutnya. “Jadwal piket, Pak,” Jawabku singkat. “Bapak kira, datang sepagi ini untuk membawakan hadiah!” Ada senyum simpul di wajahnya. Wajah kebapakan yang mengingatku pada sosok Ayah. Aku terdiam. Berpikir sejenak tentang apa yang bisa kuberikan untuk Pak Hamid. Ada beberapa buah permen di tas, sisa kembalian saat belanja di warung jika tak ada uang kecil. Segera kuraih dan mengulurkannya pada Pak Hamid. “Nih buat Bapak.” Kuraih telapak tangan Pak hamid. Menangkupkan tanganku yang berisi hadiah manis untuknya. “Waah...!” Tampak binar di mata Pak Hamid saat menerima hadiah kecilku. Memantik kebahagiaan tersendiri di hati. “Jangan merokok terus ya Pak. Mending ngemut permen, mulut juga jadi segar.” Raut wajah Pak Hamid seketika cemberut. “Rokok itu enggak bagus, Pak! Selain menyakiti diri sendiri, Bapak menyakiti orang sekitar juga. Bahkan nih ya, Pak. Perokok pasif itu justru lebih berbahaya dari perokok aktif itu sendiri. Jahat banget kan!!” Aku terus saja nyerocos tanpa memperdulikan ekspresi wajah Pah Hamid. “Kenapa? Bapak enggak mau permennya? Ya sudah, sini balikin!” Tanganku terulur hendak meraih kembali hadiah yang telah kuserahkan. Buru-buru Pak Hamid mengamankan permen ke dalam saku celananya, lalu menghalauku dari hadapannya. “Sudah, pergi sana! Katanya jadwal piket!” sentak Beliau sok nampang galak. “Bantuin yuk Pak.” Aku mengedipkan mata, menggoda. Security tegap itu mengacungkan penggaris kayunya ke arahku. Membuatku lari menjauhinya sambil terus tertawa. Menit berikutnya aku disibukan aktivitas piket kelas mingguan. Menata bangku dan membersihkan lantai kelas. Ada Iren, Rony dan lima teman lainnya yang memang satu jadwal piket kelas hari Senin. Alice ikut membantu. Meskipun jadwal piketnya adalah hari Rabu. “Terimakasih Alice Putri yang cantik, sudah bantuin.” kupeluk tubuh Alice yang tengah sibuk dengan kemocengnya. “Curang kamu mah! Giliran aku yang piket, kamu nggak pernah bantu.” protesnya. Aku tersenyum geli. Karena selain hari Senin, aku memang selalu tiba di sekolah beberapa menit sebelum kelas dimulai. Jadi petugas piket harian sudah menyelesaikan tugasnya. “Uututuu, kok cemberut gitu seh Lis. Kan masih ada aku.” Iren mengedipkan matanya. Akh, kedua sahabatku memang rajin. Tidak pernah terlambat datang ke sekolah. “Rony, bantu angkat kursinya ke atas meja dong! Kamu kan cowok.” Aku mengajukan protes pada cowok menyebalkan itu. Ia hanya memainkan sapu saja. Tidak sungguh-sungguh menyapukannya di lantai. Masih setengah kursi belum terangkat semua, dinaikkan ke atas meja untuk mempermudah menyapu kotoran yang ada di bawahnya. “Ogah! Tanganku sakit!” Aku mendelik, tak puas. Geram melihat murid cowok satu-satunya dalam jadwal piketku malah tidak terlalu berguna. Seharusnya dia yang mengerjakan pekerjaan yang berat-berat. “Manja!!” cibirku, kesal. Ronny membalas dengan mengetuk kepalaku dengan ujung gagang sapu yang ia pegang. “Iiih! Rony, sakit tau!” Jeritku sambil mengelus kepala yang terkena gagang sapu. Keinginan untuk mengejar dan membalas perbuatan cowok tengil itu terhenti saat Iren datang menengahi. “Kalian berdua kenapa, seh?” Iren menepuk bahuku. Meminta fokusku kembali ke tugas piket. Sepertinya ia sudah dapat menebak kemana muaranya pertikaian kami. “Kayak tikus sama kucing saja!” Alice menimpali dari tempatnya berdiri. “Iya, aku kucingnya. Pengen nerkam, terus telen bulet-bulet tuh tikus!” sungutku. Ronny melirik ke arahku. Lalu kembali dengan mainan sapu di tangannya. Iiiish, nelen orang hidup-hidup dosa enggak seh!? “Awas loh! Nanti benci jadi cinta!!” Mila terdengar seperti tengah mengutuk kami. “Jangan-jangan kemarin waktu terlambat, janjian berdua ya!” tuduh yang lain. Membuat syok. Tak sanggup mendengar komentar yang tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin aku dengan Si Tengil Rony bisa seperti yang mereka tuduhkan. “Iiih, ogah banget!” Aku menoleh ke arah Rony dengan mulut mengatup menahan sebal. “Awas, ya!” ancamku memintanya waspada. Pembalasan selalu lebih kejam dari perbuatan. Dibandingkan harus kembali ribut. Lebih baik mengalah. Menaikan sisa kursi yang belum terangkat. Hish! lama-lama lenganku bisa berotot! lebih dari Tiga puluh kursi, gila! Bekerja dengan hati penuh caci-maki, menurunkan konsentrasi dan tingkat kehati-hatianku. Entah kenapa, tiba-tiba saja kakiku tergelincir hingga terjatuh duduk di atas lantai yang masih penuh dengan jejak alas kaki. “Kenapa licin sekali di sini?” tanyaku entah kepada siapa. Sekedar untuk menekan rasa malu menjadi tontonan badut kelas. Tanpa kusadari, kursi terakhir yang kuletakkan di atas meja belum tertata dengan baik. Kini kursi itu meluncur ke arahku yang belum sempat berpindah tempat dari posisi semula saat senam lantai. Sontak kelas jadi ramai oleh jeritanku, juga teriakan beberapa orang yang melihat tragedi yang akan segera menimpaku. “Key awaas …!” “Kyaaa!!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN