Puluhan purnama kemudian. Pagiku di masa putih abu, memang sudah berlalu. Tapi entah kenapa semua masih serasa kelabu. Hmm, aku lupa kalau waktuku berhenti di senja terkutuk itu. Jadi, wajar kalau tak kunikmati lagi fajar di langit membiru. Masih terasa, sangat terasa. Letupan-letupan yang terjadi. Mulai dari yang kecil hingga besar melahap sana-sini. Seperti meletusnya sebuah gunung vulaknik. Debunya masih terhampar dimana-mana. Laharnya masih mengalir abadi mencari jalurnya sendiri. Menganak sungai menjadi sumber kehidupan. Setelah melakukan kerusakan dimana-mana tentunya. Dan aku masih di sini, dengan duniaku sendiri. Kadang merasa diri tidak berarti, saat harus bersikap baik dengan banyak hati. Kadang merasa berapi-api, saat melihat masa depan yang sedang dinanti-nanti. Aku ingin

