Cerita Bersambung
Aku hanya seorang bocah cilik yang butuh kasih sayang orangtua, bocah cilik yang selalu berlari kesana kemari untuk mencari teman atau mengejar kupu kupu terbang, bocah cilik yang melompat untuk memetik buah di pohon yang tinggi, bocah cilik yang sering duduk sendirian di bawah pohon rindang, bocah cilik yang jauh dari kata teman, keluarga, dan saudara, bocah cilik yang terkucilkan dari keluarga, bocah cilik yang sudah paham apa itu broken home, bocah cilik yang… yang… yang.. dan seterusnya akan tertulis tentangku.
5 tahun kemudian....
Pertengkaran yang hebat mulai terjadi lagi, seluruh sudut rumah berkumandang dengan bunyi-bunyian yang merdu. Suara hentakan kaki yang didengar dari sudut rumah mulai terdengar jelas, menandakan seorang monster akan segera mendatangi ke arah kita. Sambil memegang tombak (Sapu) dan parang ( botol). Kekerasan dalam pertengkaran ini, terus terjadi sasaran utama dari pertengkaran ini ialah aku . Tak lama kemudian suara tangisan pecah mengkoar-koar yang di bunyikan oleh adikku. Tak ada yang memperdulikan suara tangisan itu. Pertengkaran yang terus menerus tiada ending membuat adikku dan aku merasa bahwa tak ada yang mampu menengkan situasi ini. rumah yang besar dengan fasilitas yang lengkap, semuanya itu seperti "Rumah yang tak layak dihuni" karena, hanya datang saat mereka sudah sama-sama cape.
“kau habiskan hartaku setiap hari?kau gunakan untuk apa uangku itu?
Perempuan murahan... tak tau diuntung kerjanya hanya menghabiskan uangku saja..
Aku menghela napas yang kasar, mendengar percakapan yang selalu membahaskan tentang uang. Ayah yang selalu pulang malam kadangkala pulang dengan membawa perempuan lain dan ibu yang kadangkala tak pernah pulang, jika pulang hanya untuk meminta uang. Kerjanya hanya sebagai wanita hiburan, aku tau karena aku pernah mengikutinya dan ia melakukan setiap hari. Dari umurku yang masih dibilang bocil hingga aku remaja ini keluargaku hancur “broken Home” tak ada lagi kasih sayang, tak ada lagi keharmonisan semuanya hilang bagikan ditelan bumi ini. Yang ku rasakan saat ini hanyalah kesunyian,kegelapan dan kesendirian.
Tak ada tempat bagiku untuk berlindung,tak ada tempat bagiku untuk melepaskan, tak ada bagiku untuk berbagi.
lingkunganku seolah-olah mengisolasiku, memandangku rendah dan tak berguna. sedangkan teman-temanku mulai perlahan menjahuiku.
tak adil bukan?
Dunia ini,terlalu kejam untuk ditinggali tapi terlalu indah untuk ditinggal pergi... Yang tersisa untukku hanyalah hal-hal yang pedih dan menyakitkan, kenangan-kenangan pahit yang selalu ku ingat dalam setiap langkahku. membuatku merasa dunia ini tidak membutuhkanku untuk hidup lagi.
Hingga suatu hari aku pernah berfikir dan bertanya “ mengapa aku, harus dilahirkan di dunia ini? Mengapa aku harus dilahirkan dengan situasi yang seperti ini” jika pada akhirnya aku dan adikku di lantarkan seperti ini dan kurang mendapatkan kasih sayang dan keharmonisan dalam keluarga. tapi sekarang aku bertanya pada Tuhan ‘Apa ini cobaan darimu untukku Tuhan? Hidup dalam keluarga yang hancur yang entah kapan akan berakhir?’ dan aku tahu Tuhan menjawab iya. Tuhan ingin mengukur sampai dimana kemampuanku, dan aku yakin Tuhan punya rencana indah yang tidak pernah aku bayangkan. Dan salah satunya adalah nenekku yang selalu ada saat adikku dan aku merasa kesepian, ia selalu memberikan kasih sayang yang begitu lebih yang tak pernah dirasakan selama ini. Ia rela menungguku sampe larut malam hanya untuk menunggu cucunya pulang ke rumah dengan selamat.
Aku berusaha tersenyum menutupi sesak yang menggebu dalam d**a, ketika melihat senyuman nenek yang setiap saat memancar dan tak pernah merasa cape untuk selalu menciumku. Kasih sayang itu yang di harapkan olehku ketika bertemu dengan orangtuaku. aku harap ketika aku bangun semuanya itu hanyalah mimpi.
kehancuran dalam keluargaku membuatku, dikucilkan dari beberapa kalangan dalam dunia pesekolahan dan petemanan. orang-orang yang diluar sana menganggap bahwa kita juga merupakan anak yang tak berguna, anak yang rusak karena keturunan dari orangtuanya.... banyak caci maki yang sering di dengarkan yang membuat aku menjadi anak yang kurang percaya diri,introvert dan sombong.
trauma yang besar, membuatku untuk takut jika bergaul bersama oranglain....