Gemercik air segera terdengar dari dalam kamar mandi. Sampo beraroma greentea dan daun mint segera Monika ratakan ke atas kepala, membuat mahkota indahnya tertutup busa. Setidaknya aroma terapi itu akan membuat tubuhnya sedikit lebih segar.
Beberapa menit kemudian, Monika keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh rampingnya. Langkah kaki gadis itu terhenti di depan pintu saat mendapati lampu utama di kamar padam.
"Eh? Apa lampunya rusak?" Monika menghadap ke atas.
Rio yang bersembunyi dalam kegelapan hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali. Pemandangan di hadapannya sungguh membuat libidonya naik seketika. Otak liarnya segera bekerja, mengimajinasikan segala kenikmatan bersama istrinya.
"s**t!" umpatnya dalam hati. Hasrat laki-lakinya terus meronta.
Bagaimana tidak? Tetes-tetes air yang turun melalui ujung rambut pirang Monika, mengalir membasahi leher putih mulusnya. Siluet tubuh gadis ini terlihat begitu menggoda. Benar-benar membuat siapa saja tak bisa menahan diri.
Monika berjalan ke arah lemari pakaian. Dia mengabaikan keadaan kamarnya yang gelap gulita. Tanpa penerangan sekalipun, dia hafal Di mana letak pakaiannya berada. Tanpa kecurigaan sama sekali, Monika mulai memakai pakaian. Dia tidak menyadari bahwa seorang iblis berwujud manusia tengah menahan diri beberapa langkah di belakang sana.
"Apa kamu sengaja memancing gairahku, Sayang?"
Monika terhenyak. Jantungnya seolah ingin melompat begitu mendengar suara tanpa wujud yang menyapanya.
"Kamu sengaja membuatku marah kemudian memamerkan tubuhmu untuk minta maaf?"
"Suara itu?!" batin Monika semakin kalut, matanya terbelalak. Tanpa melihat pemiliknya sekalipun, dia tahu siapa tamu tak diundang yang datang ke kamarnya. Seketika hatinya merasa khawatir, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Apa memang seperti ini kebiasaanmu? Bagaimana jika orang lain yang melihatnya?" Rio semakin mendekat membuat Monika panik. Otaknya tak bisa berpikir jernih, membuat kakinya tak bisa dia gerakan sama sekali.
"Selamat malam istriku," bisik Rio, sengaja meniup telinga bagian belakang Monika. "Apa kamu merindukanku? Aku sangat merindukanmu."
Rio kembali menikmati kulit putih mulus di depannya. Dia segera memanjakan wanita yang kini resmi berstatus sebagai pendamping hidupnya.
"Hentikan!" Monika mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga. Dia benci perlakuan Rio padanya.
"Sstt, Baby. Diamlah dan nikmati permainanku." Rio berusaha memanipulasi keadaan, membuat alarm tanda bahaya segera menyala di dalam benak Monika. Dia harus segera menyelamatkan diri.
Monika menyiku perut pria di belakangnya, membuat dekapan Rio terjeda. Jarak tubuh keduanya sedikit renggang. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Monika. Dia berlari setelah menyambar selimut di atas ranjang guna menutupi tubuhnya yang belum tertutup pakaian dengan sempurna.
Monika menekan saklar lampu di belakangnya, membuat ruangan berubah terang benderang. Benar dugaannya, pria yang berhasil membuat jantungnya hampir copot adalah CEO yang ditemuinya siang ini, Rio Dirgantara.
"Apa yang Anda lakukan di sini? Pergi!" hardik Monika. Dengan tatap mata penuh kebencian, dia mengusir pria yang secara hukum diakui sebagai suaminya.
"Pergi?" Rio mengangkat sudut bibirnya, menertawakan permintaan gadis yang kini berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Kenapa aku harus pergi? Kamu istriku, tentu saja aku berhak mengunjungimu. Rumahku adalah rumahmu, maka rumahmu juga rumahku."
"Gila!" teriak Monika geram.
"Jangan lupakan uang dua miliar yang ayahmu hilangkan. Bagaimana cara kamu melunasinya, huh?" Rio mulai melangkah maju. Tatap matanya berkilat, kemarahan jelas mulai merasukinya. "Apa yang kamu miliki selain tubuh yang ramping dan wajah cantikmu sebagai penebus hutang?"
Monika bungkam. Dia tidak bisa berkutik jika dihadapkan dengan uang. Dua miliar bukan jumlah yang sedikit. Entah berapa puluh tahun yang harus dia habiskan untuk mendapatkannya. Gajinya sebagai kasir minimarket tak mendukung sama sekali.
"Apa kamu pikir tubuhmu begitu berharga? Jika dijual ke kelab malam, berapa yang akan mereka berikan? Seratus juta? Dua ratus juta?" Aura iblis begitu kentara di sekitar pria 31 tahun itu. Logikanya sumbat, didominasi oleh kemarahan yang ada. "Berapa banyak pria yang bisa kamu layani dalam semalam? Kenapa tidak melayaniku saja?"
Sebuah vas bunga melayang di udara sebelum membentur tembok di belakang Rio. Monika melempar benda itu sebagai bentuk kemarahannya. Kata-kata pria itu membuat emosinya tersulut. Dia tidak mungkin menjual diri seperti yang dituduhkan.
Rio semakin berani mendekat ke arah Monika. Tubuhnya bergerak meliuk ke kanan dan ke kiri dengan cepat, menghindari benda apa saja yang Monika lemparkan.
"Apa? Kenapa marah? Kamu tersinggung? Entah berapa banyak yang kamu dapatkan dari orang lain, aku bisa memberikannya lima kali lipat." Senyum iblis itu semakin melebar. Dia merasa di atas angin melihat Monika mulai tersudut. Tidak ada benda apa pun dalam jangkauannya.
"Jangan mendekat!" Monika terus melangkah mundur, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dengan Rio.
"Hahaha. Apa kamu takut sekarang?" Tawa Rio menggema. Kemarahannya sirna, berganti dengan perasaan bahagia karena melihat Monika ketakutan.
"Kemarilah, Sayang. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Selama kamu bersedia menjadi penghangat ranjangku, aku akan memaafkan semua kesalahanmu dan ayahmu."
Monika menggeleng cepat. Dia menolak ide yang Rio sampaikan. Ada secercah harapan dari mata indah gadis itu saat melihat sebilah pisau di atas meja. Dengan cepat dia mengambilnya.
"Berhenti di sana!" Monika mengacungkan satu-satunya senjata yang dimilikinya ke arah depan, membuat langkah Rio tertahan. Tawanya segera lenyap, berganti dengan wajah serius yang terlihat begitu menyeramkan.
"Lebih baik aku menyusul Papa dan Mama daripada harus menjadi penghangat ranjangmu! Jangan berpikir kamu bisa mendapatkan segalanya dengan uang. Aku tidak sudi membiarkan sehelai rambutku ada dalam genggamanmu. Menjijikkan!"
Rio menelan ludahnya untuk ke sekian kali. Kakinya kembali melangkah, mengikis jarak dengan istrinya. Teriakan dan ancaman Monika tak menyurutkan niatan pria itu untuk mendekat.
"Berhenti di sana atau aku akan benar-benar mengakhiri hidupku!" Monika menempelkan benda pipih mengilat itu di pergelangan tangan bagian dalam. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tangannya gemetar, menatap Rio takut-takut.
"Lakukan saja kalau kamu berani." Rio tak mengindahkan ancaman Monika. Dia tetap melangkah maju, menyisakan jarak satu dua meter saja.
Monika semakin tersudut. Selimut di bahunya sempurna terjatuh ke lantai, membuat tubuh bagian atasnya terekspos. Konsentrasinya terpecah seketika.
"Hanya sebatas itu saja keberanianmu?" Rio menghentikan langkahnya tepat di depan Monika. "Hidupmu terlalu berharga untuk diakhiri, bukan?"
Monika tak bisa menjawab. Apa yang Rio katakan benar adanya. Dia mengalami berbagai kesulitan sejak kedua orangtuanya berpisah. Bagaimana bisa dia menyerah akan keadaan yang masih bisa dihadapi? Penderitaan mendiang ibunya jauh lebih berat, tapi wanita itu tidak pernah putus asa dan tetap bertahan merawatnya.
Rio membuang pisau yang ada di tangan Monika ke lantai. Pria itu bahkan mengambil selimut dan memakaikannya lagi pada sang istri.
"Jangan pernah berpikir bunuh diri bisa menyelesaikan segalanya!" Rio memeluk tubuh Monika yang tertutup selimut, kemudian membawanya untuk duduk di tepi ranjang. Kehangatan yang pria itu tunjukkan, berbanding terbalik dengan sikap iblisnya beberapa menit yang lalu. Monika masih terlalu syok dengan situasi yang ada. Dia hampir bunuh diri?
"Aku akan ambilkan pakaian untukmu." Rio berjalan menuju lemari dan memungut piyama yang sebelumnya Monika ambil. Dengan cekatan, pria itu memakaikan pakaian di tubuh ramping Monika dan memasang kancingnya satu per satu tanpa membuka mulutnya.
Monika terhenyak. Dia tidak menyangka Rio akan memperlakukannya dengan lembut seperti sekarang.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu jatuh cinta padaku?"