Malam Pertama

1126 Kata
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu jatuh cinta padaku?" Monika tak menjawab pertanyaan yang Rio lontarkan. Dia bingung dengan sikap suami kontraknya. Mungkinkah pria ini berkepribadian ganda? Di mana sisi iblis yang seolah ingin mengoyaknya tadi? "Aku lelah berdebat denganmu. Bukankah kamu juga merasakan hal yang sama?" Rio menatap manik mata istrinya dalam-dalam. Langkah kakinya menuju bagian dapur dan mengambil segelas air bening. "Minumlah. Pasti tenggorokanmu terasa kering." Monika menurut. Dia meminum air tanpa warna di dalam gelas hingga tetes terakhir. "Istirahatlah. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu." Rio membaringkan tubuh Monika di atas ranjang, menyelimutinya sebatas perut. "Selamat istirahat, Sweety. Have a nice dream." Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Monika merasa damai mendapati sikap manis suamnya. Dia memejamkan mata, bersiap masuk ke alam bawah sadar dan mulai mengistirahatkan seluruh tubuhnya. Rio mengelus puncak kepala Monika sambil melirik gelas di atas meja. Dia menatap wajah cantik itu dengan senyum licik. "Kita lihat apa kamu masih ingin melawanku," batin Rio bersiasat. Ruangan lengang. Tak ada respons dari Monika. Gadis ini telah masuk ke alam bawah sadarnya, tak merasakan apa pun yang Rio lakukan. Kelima panca indranya berhasil dilumpuhkan dengan obat tidur dosis rendah yang ditambahkan ke dalam air putih. Ya, Monika tak tahu sama sekali bahwa Rio sudah menaruh serbuk obat di dasar gelas kaca miliknya. Pria ini benar-benar licik. Rio menatap jam di pergelangan tangannya, pukul tujuh malam. Waktunya masih panjang. Dia bisa mempermainkan Monika sesuka hatinya. "s**t!" Rio mengumpat saat aktivitasnya terganggu oleh getaran ponsel Monika di atas nakas. Nama 'Lovely' terlihat di sana, membuat emosi Rio kembali datang. Adegan cium kening yang Devan lakukan sebelum pergi, kembali membuat pria ini meradang. Tidak ada yang boleh bersaing dengannya! "Sudah k katakan sebelumnya, kamu hanya milikku. Tidak ada seorang pun yang berhak menyentuhmu!" Rio mengelus wajah Monika dengan gerakan seduktif. Rio kembali mendekati wajah Monika. Keinginannya semakin menggebu-gebu kala menghirup aroma greentea dan daun mint yang menguar dari rambut panjang istrinya yang masih basah. Pria posesif itu tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi. Bibirnya segera menjelajah, tak ingin melewatkan satu mili pun wajah cantik di hadapannya. Sebagai seorang pria dewasa, dia tahu apa yang harus dilakukan untuk menyalurkan hasrat liarnya. "Hmm," gumam Monika dengan mata yang tetap terpejam. Itu adalah refleks tubuhnya atas perlakuan dekat yang Rio lakukan padanya. Kepalanya menoleh ke samping saat Rio semakin dominan menguasai area sensitif di belakang telinganya. Tangan Monika mencengkeram seprai dengan erat saat Rio semakin memanjakannya. Dia membuka mata, sekilas mendapat kesadarannya kembali. 'Dia?!' batin Monika. Desahan lolos dari mulut Monika saat merasakan jemari kokoh itu mulai menjamah bagian sensitifnya di balik piyama. Ada perasaan geli di sana. Perasaan yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Monika tidak bisa melawan gejolak di dalam dirinya. 'Apa ini mimpi?' batin Monika. Dia tidak bisa menggerakkan badan sama sekali, seolah saraf-saraf otaknya tak terhubung dengan tangan maupun kakinya. "Hen ... hentikan!" Suara Monika terdengar begitu lemah, namun tak berimbas apa pun. Rio tak peduli, terus melancarkan aksinya. Monika kembali merasakan kantuknya datang. Matanya semakin berat, tak ingin terbuka lagi. 'Tidak. Ini tidak benar!' batin gadis ini mulai memberontak. Namun kesadarannya semakin menurun. Perlahan namun pasti, obat tidur telah mengambil alih kesadarannya. Gigitan Rio di jemari Monika tak mendapat penolakan sama sekali, menandakan bahwa dia sudah melewati batas sadar. "Aku tidak akan sungkan lagi. Kamu istriku, tentu saja aku akan menikmatimu." Rio melanjutkan jajahannya, menjamah seluruh tubuh Monika dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Entah berapa kiss mark yang Rio tinggalkan, tak terhitung jumlahnya. Rio merasa puas telah menandai wanitanya. Dia beralih menatap wajah Monika yang terlihat begitu damai. Tertidur lelap. "Monika Alexandra, kamu harus tahu satu hal. Tubuh indahmu ini sudah kubeli seharga dua miliar. Jangan pernah berpikir untuk memberikannya pada orang lain atau aku benar-benar akan menghabisimu!" Rio kembali memanjakan wanita yang berstatus sebagai istrinya ini. Aroma jeruk yang menyegarkan begitu terasa, membuat Rio menyadari bahwa gadis ini menyukai aroma buah-buahan sebagai sabun mandinya. CEO 31 tahun ini tak bisa meredakan hasratnya lebih jauh. Tatap matanya berkilat, dikuasai hasrat yang semakin kuat. Tubuhnya yang berkeringat menandakan bahwa dia mulai kepanasan, terlebih lagi tak ada pendingin udara. Sungguh ruangan sempit yang tidak mungkin Rio datangi jika bukan karena Monika. Tok tok tok Terdengar suara pintu diketuk yang membuat Rio menggeram, menahan diri dari puncak hasratnya. Entah siapa yang mengganggunya dari luar sana. Pria itu berusaha mengabaikannya. Ketukan pintu terdengar lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Rio terpaksa menghentikan aktivitasnya, namun tak bersuara. Dia takut orang di luar sana adalah tetangga Monika. Akan kacau jadinya jika mereka mendengar suara laki-laki yang menyahut, padahal semua orang tahu bahwa penghuninya tinggal seorang diri. "Tuan, ini saya." Suara Leo terdengar di balik pintu, membuat wajah tegang Rio sedikit terurai. "Ada apa?" ketus Rio, menatap wajah tidur Monika di bawah kungkungannya. "Ada masalah. Gudang senjata terbakar. Anda harus segera melihatnya." Leo terdengar panik. Dia tidak bisa menunda urusan ini lagi. Rio menggeram kesal. Dia tidak bisa mengabaikan masalah ini. Hasratnya sirna seketika. Dengan gerakan cepat, Rio membenahi pakaiannya. Tak lupa, dia juga memakaikan baju Monika seperti sedia kala. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihat tubuh gadisnya. "Tuan?!" Leo kembali memanggil tuannya, meminta keputusan dari pria itu. "Sweety, anggap saja kali ini kamu beruntung!" Rio mendekat ke arah wajah Monika dan menciumnya sekilas. Ada perasaan tidak rela yang pria ini rasakan. Dia tidak ingin meninggalkan Monika sebelum mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Namun, keadaan berkata lain. Malam pertamanya dengan Monika berakhir mengecewakan. Semua itu karena Leo yang tiba-tiba datang dengan masalah yang dibawanya. Sial! Sebuah kecupan di leher menjadi sentuhan terakhir yang pria itu lakukan pada Monika. Dia meninggalkan wanitanya yang masih terlelap dengan berat hati. "Tuan, waktu kita terbatas!" Leo terus mendesak. "Aku tahu!" sengit Rio dengan wajah masam. "Panggil lima orang pengawal wanita. Jaga dia. Jangan biarkan satu pun lalat pengganggu datang mendekatinya!" titah Rio sambil lalu. Leo menoleh ke belakang, menatap wanita yang kini terlelap dalam tidurnya. Wajah cantik itu terlihat begitu damai, membuat hatinya berdesir. Ada rasa iba mengingat gadis itu mungkin saja menjadi sasaran liar tuannya. "LEO!!" gertak pria yang kini bersiap menuruni anak tangga di depannya. Wajahnya merah padam, menahan amarah yang semakin memuncak. Fia kesal karena asistennya itu tidak segera menjawab perintahnya. "Baik, Tuan. Laksanakan!" Leo segera berlari menyusul Rio setelah menutup pintu kamar Monika. Melalui earpiece di telinganya, dia memanggil lima rekan wanitanya untuk menjaga istri tuan CEO yang pemarah ini. Mobil limited edition keluaran terbaru segera melesat, meninggalkan kawasan padat penduduk di tengah kota. Kendaraan besi seharga puluhan miliar itu meluncur menuju gudang senjata seperti yang Leo katakan. "Siapkan laporanmu. Kita lihat tikus mana yang berani menggigit tuannya!" Rio menggertakkan gigi. Dia tidak akan segan menghukum bawahannya yang telah menjadi penyebab masalah ini. Ah, lebih tepatnya menjadi penyebab gagalnya malam pertama yang sangat didambakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN