Frustrasi

1061 Kata
"Anda sudah bangun, Nona?" Suara seorang wanita tertangkap telinga Monika, membuatnya terkesiap. Sinar hangat matahari menelisik ruangannya, melewati jendela kaca yang telah terbuka. Samar-samar aroma pengharum ruangan menyapa indra penciumannya. Gadis rambut panjang ini membuka mata dengan paksa, mengabaikan kepalanya yang terasa berat. Perlahan retina matanya berfungsi normal setelah mengedip beberapa kali. "Nona tertidur begitu lelap. Saya tidak berani membangunkan Anda." Monika menatap dua wanita berpakaian serba hitam yang berjarak beberapa langkah darinya. Keningnya berkerut, merasa tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. "Kalian siapa?" Jam digital di atas laci menunjukkan pukul enam pagi. "Ini bisa meredakan sakit kepala yang Anda alami. Silakan, Nona." Bukannya menjawab pertanyaan Monika, wanita yang tidak diketahui identitasnya itu tersenyum ramah. Tangannya terulur, menyerahkan segelas air. Monika yang memang pendiam tak lagi bertanya. Dia menerima pemberian itu sambil mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dia coba menggali apa yang terjadi padanya 24 jam ke belakang. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mengingat semua kejadian kemarin. Semua dimulai dari lima orang yang membawanya dengan paksa. Kejadian mengejutkan berikutnya hampir membuatnya gila, yakni kematian papa. Namun, tidak cukup sampai di sana. Penderitaannya berlanjut dengan pernikahan kontrak dengan seorang pria bernama Rio Dirgantara, pria kasar dan arogan yang hampir membuatnya mengakhiri hidup semalam. Perasaan waswas Monika rasakan, membuatnya beranjak dari ranjang, menjauhi dua pengawal pribadi utusan suami kontraknya. Cangkir berisi minuman panas yang semula ada di tangan, kini mendarat di lantai, pecah berkeping-keping. Isinya tumpah ruah, tak lagi bisa dinikmati. "Nona?" panggil salah satu dari mereka. Monika menggeleng. Dia tidak mau terlibat lebih jauh. Lebih baik menyelamatkan diri dari situasi yang terjadi. "Nona Monika, Anda bisa mendengar saya?” Monika menelan ludahnya dengan paksa saat mendapati dapurnya bersih total. Padahal, semalam kondisinya seperti kapal pecah. Semua perabotan dia lemparkan, coba mengusir keberadaan Rio. Tapi, pemandangan yang ada membuatnya tak bisa berkata. Tak ada benda tajam lain yang mungkin dia gunakan untuk bunuh diri seperti semalam. Berbagai tanya di dalam hati seketika terjeda. Apa yang sebenarnya terjadi? "Nona?" Bulu roma Monika meremang seketika, mengingat sekelebat bayangan Rio yang tengah memanjakannya. Seperti mimpi, tapi terlalu nyata dan dia hampir menikmatinya. Namun, kantuknya lebih dulu menguasai, membuatnya tak lagi ingat apa yang terjadi. Segera, Monika menundukkan kepala, memeriksa pakaian yang melekat di tubuhnya. Ada sedikit kelegaan saat dia mendapati piama tidurnya masih utuh, tidak koyak ataupun terlepas dari badannya. Artinya, Rio tidak melakukan apa pun padanya. Tapi, rasa tenang itu seketika sirna saat matanya menangkap bekas tanda cinta di leher. Rasa geli kembali datang, juga parfum Rio yang seolah tercium di hidungnya sekarang. "Argh!" pekik Monika, menutup kedua telinganya dengan mata terpejam. Dia frustrasi dengan jalan hidupnya, terjerat pria yang tak pernah dia temui sebelumnya. Bahkan, ada begitu banyak jejak yang dia tinggalkan. Menjijikkan! "Nona," panggil wanita berpakaian serba hitam itu untuk ke sekian kali. Dia mencoba mendekat ke arah Monika yang jongkok sambil memeluk lututnya. "Pergi!" usir gadis ini, melampiaskan amarah di dalam hatinya. Hidupnya kacau hanya karena selembar surat kontrak yang tidak bisa dia tolak. Ayahnya yang berdosa, justru dia yang harus menanggungnya. Dua wanita dengan pakaian hitam itu saling pandang kemudian mengangguk. Mereka sepakat dalam satu hal, membiarkan Monika menenangkan diri. "Kami akan menunggu di luar. Jika Nona membutuhkan ...." "PERGI!" bentak Monika dengan air mata yang mulai mengalir di pipi. Dia memotong ucapan pengawal khusus yang menyertainya. Semua yang terjadi tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Hanya sekedip mata, statusnya berubah, menjadi seorang istri CEO yang arogan, pemarah, liar, dan pemaksa. Monika mulai terisak, menjambak rambutnya hingga terasa pedas. Tangisnya tak terbendung lagi. Dia merasa kesal atas apa yang terjadi, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dua miliar bukan uang yang sedikit. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk mengganti uang perusahaan? Dengan perasaan kacau, gadis itu masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh tubuhnya. Tangis dan gerakan tangannya bekerja sama, meluapkan emosi sambil menghapus parfum pria yang menempel di beberapa bagian tubuhnya. Dia tidak boleh menyerah begitu saja pada situasi ini. Meski badai menerjang, dia tetap harus berjuang. Itu yang dia yakini. * "Selamat pagi, Nona. Anda terlihat lebih baik dari sebelumnya." Satu wanita yang Monika usir kini menghadang langkahnya, sengaja menyapa. Monika mengabaikan sapaan yang didengarnya. Dia harus pergi bekerja, tidak ada waktu untuk bersantai ria, terlebih setelah semua yang terjadi. Hidupnya belum berakhir hanya karena terikat dalam satu perjanjian tak masuk akal. "Nona, tolong tunggu sebentar. Tuan Muda berpesan bahwa ...." Kata-kata wanita itu tertahan di tenggorokan saat melihat Monika mengangkat tangan. "Aku tidak peduli siapa dan apa yang terjadi. Katakan pada Tuan kalian, aku akan mengembalikan uangnya secepat mungkin." Tatap mata tajam Monika menusuk lawan bicaranya. Wajahnya datar, tidak menampilkan ekspresi apa pun. Menyeramkan. "Maaf, Nona ...." "Dan satu hal lagi." Monika memotong pembicaraan sebelum mengambil napas dalam-dalam. "Berhenti mengganggu hidupku. Aku muak melihat kalian semua!" Monika melenggang pergi setelah mengungkapkan kata hatinya itu. Dia akan mencari jalan lain untuk membayar hutang mendiang ayahnya, tapi bukan dengan menjual tubuh dan kebebasannya pada CEO itu. Menjijikkan. Itu hal yang paling Monika benci, menikah karena uang. "Nona, tunggu!" Monika tetap pergi. Dia tidak ingin berurusan dengan para body guard wanita itu. Kakinya terus berjalan, menuju minimarket tempatnya bekerja. Di saat yang sama, Rio masuk ke ruang kerja bersama asistennya. Dia baru saja melihat gudang yang terbakar. Hampir 95% asetnya tak bisa diselamatkan. Semua terlalap habis oleh si jago merah. Kerugiannya ditaksir mencapai sepuluh miliar rupiah. "Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Rio sambil mengendurkan dasi yang melingkari lehernya. Dia merasa sesak, memikirkan para pengkhianat yang berani mengacaukannya. "Sudah, Tuan." Leo mendekat, menyerahkan satu bundel laporan yang diminta oleh atasannya. "Katakan saja. Aku tidak ingin membacanya!" Rio memijat kepalanya yang berdenyut hebat. Masalah ini tak bisa dianggap remeh. Leo menundukkan kepalanya. Dia ragu, harus mengungkapkan fakta yang sebenarnya atau tidak. Logikanya mengiyakan, tapi hati kecilnya memberontak. Dia tidak ingin Monika menjadi sasaran kemarahan tuannya lagi. "Kenapa diam?! Cepat katakan apa yang terjadi!" Leo masih bungkam. Dia tidak bisa jujur dan mungkin akan membuat Rio semakin murka pada Monika. Meski dia tidak bisa melindungi Monika, tapi setidaknya dia tidak ingin gadis itu terluka. "Tinggalkan ruanganku dan kemasi barang-barangmu! Aku tidak butuh orang-orang yang lemah hatinya!" Rio menggebrak meja, tidak sabar dengan asistennya yang terus diam. Leo menelan ludahnya dengan paksa. Ladang uangnya terancam. Dia harus memikirkan masa depannya sendiri sebelum menyelamatkan orang lain. "Maafkan saya. Saya takut hal ini akan membuat Anda ...." "Katakan siapa yang berusaha melawanku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN