Bakwan Goreng

1090 Kata
"Heyy, kenapa kamu berkata kalau itu bayi kamu? Itu bayiku!" tukas Binar tak terima jika Ailee memanggil Clarissa 'Bayiku'. "Baby, itu Papamu? Kenapa dia galak sekali. Pasti telingamu sakit ya tiap hari mendengar ocehannya?" Ailee mengajak Clarissa berbicara, ia ikut terkekeh ketika bayi itu terkekeh juga seakan mengerti dengan ucapannya. Binar kesal dibuatnya, ingin sekali ia melawan setiap kata yang terlontar dari gadis lucu nan menggemaskan itu. Akan tetapi para pembelinya lebih penting daripada meladeninya. "Seperti biasanya ya, Mas," ucap Pak RT yang langsung duduk dan menyantap bakwan goreng. "Baik, Pak." Binar lalu menyeduh kopi hitam favorite Pak RT. Sesekali lelaki itu melirik ke arah Clarissa dan Ailee memastikan tak terjadi sesuatu dengan mereka. Binar memang tak mudah percaya orangnya, bagaimanapun juga Ailee masih kecil, belum terlalu lihai merawat atau menjaga bayi. "Itu siapa, Mas? Lucu dan cantik," ucap Pak RT menatap Ailee yang kala itu sedang bermain dot s**u milik Clarissa, menggoda bayi itu dengan mengambil dotnya. "Saya Mamanya Clarissa," jawab Ailee dengan senyum riang membuat Pak RT dan Binar melotot. "Ayihhh! Bukan, Pak. Itu bukan siapa- siapa!" "Saya Mamanya Clarissa!" "Bukan Mamanya Clarissa. Memangnya kamu sudah menikah? Sudah pernah melahirkan?" gertak Binar menatap tajam kepada Ailee yang tampak acuh. "Clarissa sayang, lebih baik kita kembali ke panti bertemu nenek ya. Daripada di sini harus mendengarkan ocehan lelaki tampan tapi galaknya minta ampun..." Ailee lalu beranjak dari duduknya tak lupa membawa tas kecil yang berisi keperluan Clarissa. Binar langsung menghadangnya, membuat Ailee menatapnya jengah. "Kalau kamu mau pergi, pergi sendiri! Jangan membawa anakku," cegah Binar. Ailee tak menggubrisnya. Binar hendak mengejar, tapi ada pembeli yang memintanya untuk tetap tinggal dan membuatkan pesanan. Dan pada akhirnya Binar menyuruh Pak RT untuk menunggu kedainya sejenak, ia ingin memastikan jika anaknya baik- baik saja. Sekalian bertemu dengan keluarga Sanjaya, sudah lama ia tak menyapa mereka. "Halo, Binar. Apa kabar, Nak?" sapa Pak Aksa dan Bu Aza sembari melayangkan senyum ramah. Binar tersenyum sekilas, lalu mencium kedua tangan Pak Aksa dan Bu Aza yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri. "Alhamdulillah." Binar lalu berbincang sekejap tapi matanya terus tertuju kepada Ailee yang sedang bermain dengan putri kecilnya. "Kamu suka Ailee ya? Kalau suka nikah saja," celetuk Bu Aza. Sedari tadi ia menatap Binar yang matanya terus tertuju pada anaknya. "Eh, bukan seperti itu. Saya hanya mengawasi putri saya, Bu." Ailee terlihat pandai dalam mengurus anak, terbukti saat ia menggantikan popok Clarissa. Padahal usianya masih terbilang cukup jauh untuk melakukan hal itu. Berbekal dari tontonan di You Tube ternyata cukup membuatnya bisa dalam merawat bayi. Ya, ia selalu belajar supaya bisa merawat Clarissa, ia sangat menyayangi bayi itu. Cukup lama keluarga Sanjaya berada di panti asuhan, mereka pun segera berpamitan pulang karena senja mulai menyapa. "Ailee, ayo pulang, biarkan Binar yang menggendong Clarissa," ucap Pak Aksa. Ailee memandang Binar sekilas, ia enggan sekali melepas gendongannya. Ah, dia ingin membawa Clarissa pulang bersamanya. Tapi jika hal itu terjadi sudah dipastikan jika Binar akan mencekiknya hingga mati. "Jangan sampai bayiku kenapa- kenapa!" ucap Ailee ketika memberikan Clarissa dalam gendongan Binar. Binar mendengus pelan, ingin sekali rasanya ia menyentil kening gadis polos itu, sangat menjengkelkan. "Harus berapa kali saya bilang kalau ini itu bukan bayimu! Ini hanya bayi saya!" bisik Binar yang sepertinya tak digubris Ailee. "Halo, Baby. Mama pulang dulu ya. Sampai bertemu besok. Eh tidak- tidak, besok aku sudah mulai pulang sore, sepertinya kita hanya bisa bertemu saat weekend saja. Tapi tak apa, kalau ada waktu aku tetap akan menyempatkan untuk menemuimu!" ujar Ailee kepada bayi yang sedang tertidur nyenyak di gendongan papanya. Kecupan pun tak lupa diberikan. "Dasar bodoh! Dia sedang tertidur mana bisa mendengarkanmu!" Binar berbisik dengan nada penuh kekesalan. "Kamu juga bodoh. Selain tak mendengarkanku, dia juga tak mengerti meskipun dia tak tidur. Dia kan masih bayi," sahut Ailee tergelak sendiri. Binar semakin kesal dengan gadis yang hanya setinggi pundaknya. "Ailee, Ayo pulang!" teriak Aiden, sudah cukup lama keluarganya menunggu Ailee tapi tak kunjung masuk ke dalam mobil juga. "Sebentar, Kak!" Di dalam mobil, Ailee tersenyum- senyum sendiri. Teringat dengan Clarissa? Ah, bukan bayi itu, melainkan Papanya. Binar sangatlah tampan, gagah, terlihat penyayang, penyabar, tapi semuanya tertutup dengan sifatnya yang galak. "Pah, anak perempuanmu ini sudah stress. Lihat saja dari tadi dia senyum- senyum sendiri," cicit Aiden mengadu papanya. "Apaan sih! Kamu tuh yang stress," tukas Ailee. Ia lalu memukul lengan saudara kembarnya itu membuat Aiden mengaduh. "Nggak usah mukul juga kali! Nih rasakan!" Aiden yang tak terima pun langsung mencubit kedua pipi Ailee dengan gemas. "Aiden lepaskan!" "Aku itu kakakmu, kamu harus sopan ketika memanggilku!" "Aiden, Ailee!" seru Bu Aza menoleh ke arah anak- anaknya. Aiden dan Ailee langsung diam ketika mendapat pelototan mata dari sang Mama. Bu Aza dan Pak Aksa menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya yang terdiam. Mereka selalu saja begitu, jika bersama pasti ada saja keributan. Tapi, jika mereka terpisah akan saling mencari dan merindukan. "Pah, Mah. Kalau Ailee jadi Mamanya Clarissa bagaimana? Sepertinya aku menyukai Pak Binar, jantungku berdetak cepat saat berada di dekatnya," ucap Ailee seraya memegang dadanya yang memang berdetak cepat. Sontak saja semuanya tercengang, bahkan Aksa langsung menghentikan mobilnya mendadak saat mendengar ucapan Ailee yang begitu mengejutkan. "Apa maksud, Sayang? Jangan memikirkan hal seperti itu dulu, ingatlah jika banyak hal yang masih harus kamu kejar. Kamu mau cita- citamu itu tak tercapai?" Pak Aksa berkata dengan penuh keseriusan menatap putrinya yang menunduk karena takut dengannya. "Nggak mau, Pah. Maafkan aku," lirih Ailee. "Belajar dulu yang benar, cinta itu urusan belakangan. Lagi pula kamu masih kecil, Sayang," timpal Bu Aza yang hanya diangguki Ailee. Pak Aksa lalu melajukan mobilnya kembali. Ia sangat sensitif jika anak kembarnya itu berbicara tentang cinta. Ia tak mau jika hanya karena cinta semuanya akan hancur. Pak Aksa hanya ingin yang terbaik untuk anak- anaknya. "Kamu memang udah nggak waras. Umurnya Pak Binar itu terpaut jauh denganmu. Lagi pula dia itu duda beranak satu, nggak cocok sama kamu," bisik Aiden. "Kamu tuh diem aja!" bentak Ailee. Pak Aksa dan Bu Aza menoleh ke arahnya, dan kembali memperingatkannya. "Kamu nggak tahu kenapa dia ditinggal istrinya? Dia itu miskin. Pak Binar itu tak berkecukupan, kamu mau hidup susah sama dia?" Lagi- lagi Aiden berbisik di telinga Ailee membuat gadis itu semakin marah. "Bukankah Papa dan Mama selalu mengajari kita untuk tidak memandang status seseorang? Mau dia miskin atau kaya itu tak penting! Kalau aku suka sama dia kamu bisa apa?" "Aku tahu! Aku hanya memberitahumu saja kok!" Ailee kembali terdiam merasakan detak jantung yang sangat cepat. Rasanya sangatlah berbeda, aneh, tak seperti biasa. Perasaan apakah ini? Apa ini yang dinamakan jatuh cinta?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN