Bayi Tiga Bulan
Ruangan luas itu terasa sempit, seakan tak ada udara di sana. Suasana mencekam mendera, tiga orang duduk berhadap- hadapan di sofa yang berada di kamar hotel itu.
Ini merupakan sebuah mimpi bagi seorang guru matematika sekolah menengah atas itu. Beberapa saat yang lalu ia memergoki istrinya sedang bermain dengan lelaki lain. Amarah semakin memuncak, tapi ia sebisa mungkin menahannya. Ia ingat betul dengan perkataan ibunya jika marah tak akan menyelesaikan permasalahan. Biar ia memendamnya.
"Sudah berapa lama?" tanya Binar dengan bibir yang melengkung membentuk senyum, padahal di hadapannya terdapat istri beserta selingkuhannya.
Maya dan selingkuhannya hanya bisa menunduk sembari meremas jari tangan mereka. Dua orang itu masih berbalut selimut karena tak sempat mengenakan baju lagi setelah pergumulan panas.
"Sudah satu tahun," jawab Marvel, selingkuhan Maya sekaligus sahabat dari Binar.
"Maafkan aku, Bin," lirih Maya, wanita itu masih menunduk tak berani menatap lelaki yang telah menjadi suaminya selama satu tahun ini.
"Kenapa masih mau menikah denganku kalau kamu masih berhubungan dengan dia, sahabatku sendiri." Binar sebisa mungkin menahan emosinya. Satu tahun? Berarti selama ini dia tak mencintai dirinya, dan selama menikah hanya pengkhianatan saja yang ia terima.
"Aku lelah. Aku wanita, Bin. Keperluanku sangatlah banyak, uang yang kamu berikan tak pernah cukup memenuhi kebutuhanku. Untuk membeli kebutuhan anak kita saja kamu kewalahan. Maka dari itu aku melakukan ini, maafkan aku," tutur Maya tersedu- sedu.
Ya, Binar sangatlah sadar. Dirinya hanya guru matematika di sekolah swasta dengan gaji yang tak seberapa. Itu pun harus terbagi dengan panti asuhan yang ibu dan dirinya kelola. Tentu saja itu akan membuat wanita manapun tak akan sanggup hidup dengannya. Selama ini Maya ternyata hanya berpura- pura saja di depannya, wanita itu sungguh layak diberikan penghargaan atas drama yang dimainkannya.
"Pulanglah, segera kemasi barang- barangmu. Surat cerai akan segera aku urus, dan hak asuh anak akan aku ambil." Binar langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar itu– kamar yang menjadi saksi perceraian mereka.
Berkali- kali lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar, berharap air mata tak menetes. Hatinya benar- benar sakit ketika orang yang ia cintai dengan sepenuh hatinya malah berkhianat dengan sahabatnya sendiri.
*****
"Sudah hampir tiga bulan kamu seperti ini. Apa kamu tidak mau mencari wanita lagi?" tanya Melati, Ibu Binar.
Binar hanya tersenyum, sembari melanjutkan melayani kopi untuk pelanggannya. Ya, lelaki itu memilih untuk berjualan kopi dengan membuka lapak kecil- kecilan di depan rumahnya yang terletak di samping panti asuhan. Lumayan hasilnya.
"Mama nggak mau ngerawat Clarissa lagi, ya?"
"Bukan seperti itu, Mama masih sanggup merawat cucuku. Kamu pikir Mama sudah tua dan tidak bisa merawat putrimu lagi? Jangan salah ya! Hey, Clarissa, lihat tuh Papa kamu ngeremehin nenek..." Wanita paruh baya itu lantas mengadu kepada bayi berusia tiga bulan yang berada di gendongannya.
"Biar aku yang menggendongnya, Mah."
Binar mengambil alih Clarissa, seperti biasa, ia akan bermain dengan putri kecilnya ketika kedai mulai sepi. Ia sangat kasihan dengan bayi itu, baru beberapa bulan merasakan kehangatan dari seorang ibu, dan kini ia tak akan pernah merasakannya lagi.
Sakit hati yang dirasakan membuat lelaki itu menutup hatinya rapat- rapat. Ia tak mau kejadian itu terulang lagi, cukup trauma. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana dirinya bisa sukses dengan kedai kopi yang ia kelola dan juga menjadi guru matematika.
"Mama pengen kamu bahagia, carilah wanita pengganti Maya. Mama akan kembali ke panti, kamu jaga Clarissa ya. Keluarga Sanjaya akan segera datang," pamit Melati yang kemudian langsung mencium bayi gembul itu sebelum pergi meninggalkan kedai.
*****
"Keluarga Sanjaya sudah datang," seru para anak- anak di panti tatkala menatap mobil keluarga Sanjaya terparkir di halaman. Mereka lantas bersorak, sangat senang dengan keluarga itu.
Pak Aksa, Bu Aza, Aiden, dan Ailee keluar dari mobil dengan suka cita. Mereka sering ke panti ini, membawakan barang- barang untuk kebutuhan anak panti.
Bu Melati langsung memberikan salam dan mengajak keluarga itu masuk ke dalam. Aiden dan Ailee, anak kembar yang kini menginjak usia 17 tahun itu langsung bermain dengan anak- anak, membiarkan orang tuanya bersenda gurau dengan Melati.
"Ailee, di mana Clarissa? Kenapa aku tak melihatnya?" tanya Aiden. Mata anak lelaki itu berpencar mencari keberadaan bayi mungil yang selalu ia rindukan.
"Mana kutahu, aku akan bertanya pada Bu Melati dulu, ya. Setelah kutahu, aku tak akan memberitahumu karena kamu pasti tak akan membiarkan aku menggendongnya," sahut Ailee, gadis yang kala itu rambutnya dikepang langsung menghampiri Melati.
Aiden pun mengikutinya, mereka sangat menyukai anak kecil, terutama bayi yang berumur tiga bulan itu. Mereka selalu berebut menggendongnya.
"Clarissa bersama ayahnya di kedai kopi depan."
Mendengar jawaban itu, sontak saja Aiden dan Ailee langsung berlari meninggalkan panti.
"Mereka selalu saja begitu," ucap Pak Aksa menggeleng- gelengkan kepalanya.
Aiden berlari lebih cepat membuat Ailee kesal, selalu saja kalah dengan saudara kembarnya yang menyebalkan itu.
"Kak, kenapa kamu berlarinya tambah kenceng..." Ailee mengatur napasnya ketika sudah sampai di kedai kopi yang dimaksud Bu Melati tadi.
"Nggak kok, sama seperti biasanya. Mungkin kamu saja yang semakin lambat, tubuhmu kan gendutan dikit," jawab Aiden yang langsung mendapat pukulan keras dari Ailee.
"Kalian mau membeli kopi?" tanya lelaki berpostur tinggi dan sangat menawan, senyumnya membuat siapapun terpesona.
"Wahh, ada malaikat, Kak! Tampan sekali!" Ailee terkagum- kagum melihat Binar yang melayangkan senyum itu. Rasanya seperti berada di surga, Ailee sangat suka senyuman lelaki itu.
"Bukankah kamu guru matematika di SMA Cendrawasih? Ah iya, aku ingat," celetuk Aiden menatap lekat lelaki yang menggendong anaknya itu dengan gendongan berwarna pink. Dulu ia pernah bertanding basket di SMA Cendrawasih dan pernah bertemu dengan Binar.
"Benarkah?" tanya Ailee. Meskipun sering ke panti asuhan, namun tak pernah sekalipun dirinya melihat Binar karena lelaki itu memang benar- benar tertutup dan tak pernah menampakkan dirinya ketika Keluarga Sanjaya datang.
"Iya, katanya dia galak!"
"Hey Aiden, itu tak mungkin. Lihatlah wajahnya, dia sangat tampan, tak mungkin jika galak."
Binar terdiam melihat anak kembar yang sedang beradu mulut itu. Ia memang pernah bertemu dengan Aiden, tapi kalau Ailee? Ia tak pernah bertemu sebelumnya.
"Sebenarnya kalian ke sini mau beli kopi atau mengikuti lomba berdebat?" seru Binar yang membuat anak kembar itu terdiam.
"Kami mau bertemu dengan Clarissa," jawab mereka serempak. Jawaban yang tak ditawarkan lelaki tadi.
"Ah, maksudku aku hanya mengantarkan saudaraku saja," elak Aiden. Ia begitu malu dengan Binar, saat bertemu dulu ia terkenal cuek, keras kepala, dan sedikit nakal. Ia pun tak mau Binar mengetahui sisi lain dari Aiden, yang tak lain adalah menyukai bayi mungil.
"Hey, tadi kamu bilang mau ketemu Clarissa."
"Hanya mengantarkanmu saja! Sudahlah, aku akan kembali ke panti." Aiden terus mengelak, ia lalu pergi meninggalkan Binar dan Ailee.
"Biarkan aku menggendongnya, berikan Clarissa padaku," ucap Ailee dan bersiap untuk menggendong Clarissa. Tapi Binar hanya mengernyit, mengapa tiba- tiba anak itu meminta putrinya.
"Tidak boleh, lebih baik kamu juga pergi dari sini. Lihat nih, Clarissa lagi tidur. Tidak boleh diganggu," ucap Binar.
Oekkk...oekk...
"Tuh, kan, dia menangis. Itu pasti merindukanku. Berikan kepadaku!"
Ailee langsung merebut Clarissa dari gendongan Binar, ia lalu menimang bayi itu mengajaknya bercanda. Clarissa langsung diam di gendongan Ailee, ia tersenyum menatap wajah imut Ailee.
"Wahhh, bayiku tambah cantik. Cepatlah besar ya, nanti kita bermain bersama."
"Heyy, kenapa kamu berkata kalau itu bayi kamu? Itu bayiku!" tukas Binar tak terima jika Ailee memanggil Clarissa 'Bayiku'.