Mengkhawatirkan Dirinya

1785 Kata
Beberapa buah-buahan segar, brownies, dan juga makanan lainnya telah berada di dalam paper bag yang dia jinjing. Semuanya dikemas oleh sang Mama untuk Binar. Selama perjalanan, dia tidak sabar bertemu dan mengetahui kondisi Binar saat ini. Kecemasan terus saja melandanya. Baru saja tiba dan Aiden menghentikan mobilnya, Ailee bergegas keluar dan berlari menuju rumah Binar. "Kak Aiden, terima kasih," ujar Ailee. Dia kembali sejenak menghampiri Kakak yang mengantarkan dirinya. Lalu, dia berlari lagi menuju rumah Binar. Tidak peduli dengan Aiden yang mungkin saja kewalahan memarkirkan mobil karena lahan yang ada sangatlah sempit. Yang penting bagi Ailee saat ini adalah mengetahui kondisi Binar yang sesungguhnya. Tangan gadis itu mengetuk pintu rumah Binar dengan pelan sesuai kaidah yang berlaku, matanya memicing mencoba melihat dari jendela kaca memastikan jika ada orang di dalam. Cukup lama dia menunggu pintu terbuka dan dipersilakan si pemilik rumah. Namun, belum ada orang yang membukakannya. Ailee semakin khawatir jadinya. "Pak Bin...." "Bu Melati...." "Clarissa...." Gadis itu terus memanggil penghuni rumah. Belum ada sahutan juga dari dalam. Tapi Ailee tahu bahwa televisi di dalamnya sedang menyala. Mungkin penghuninya sedang tidak ada di dalam. Atau mungkin terjadi sesuatu di luar dugaan. Ailee semakin cemas, takut jika kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Beberapa saat kemudian Bu Melati dengan Clarissa yang berada di gendongannya keluar membukakan pintu. Bu Melati mempersilakan Ailee untuk masuk ke rumahnya. Dia jadi panik melihat Ailee yang panik berlebihan. "Kenapa datang malam? Ayo, masuk. Di luar dingin," ujar Bu Melati usai Ailee mencium tangannya. "Katanya Pak Binar sakit?" tanya Ailee. "Iya, masuk angin biasa. Besok juga sudah pulih." Bu Melati memberikan jawaban yang cukup melegakan hati Ailee. Sementara Bu Melati masih bingung dengan Ailee kenapa panik sekali. "Ailee khawatir sekali, Bu. Takut cintanya kenapa-kenapa," sahut Aiden. Baru saja selesai memarkirkan mobilnya, dan kini berjalan menghampiri Ailee dan Bu Melati. Dia tidak mau menunggu sendirian di luar atau di dalam mobil, alangkah lebih baiknya untuk ikut masuk ke rumah Binar dan Bu Melati. "Oh, sama Aiden ternyata. Ayo, masuk. Di luar dingin." Lagi-lagi Bu Melati mempersilakan Aiden dan Ailee untuk masuk. Aiden memilih untuk duduk di ruang tamu, sementara Ailee langsung menuju ke kamar Binar. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Tidak ada sahutan, Bu Melati yang melihatnya pun memperbolehkan Ailee untuk langsung masuk. Ailee terdiam melihat Binar dari depan pintu yang baru saja terbuka. Binar terlihat lain. Lelaki itu terlihat lemah, pucat, tak bertenaga di atas ranjangnya. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga ke dagu. Wadah serta handuk bekas mengkompresnya pun masih tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya. Ailee sangat tidak menyukai kondisi memprihatinkan seperti ini. Dia mulai mendekat, duduk di tepi ranjang yang tersisa. Sempit dan tak nyaman. Tangannya dengan hati-hati menyentuh kening lelaki yang memejamkan mata itu. Panas sekali. Dia bisa memperkirakan jika suhu tubuh Binar masih di atas 37 derajat celsius. "Sedang apa kamu?" Ailee terlonjak ketika mata Binar terbuka lebar, buru-buru tangannya dia turunkan dari kening Binar. Lelaki itu terbangun saat merasakan ada sesuatu yang menempel di keningnya. Dan ternyata ada Ailee di kamarnya. Tentu saja dia terkejut. Entah bagaimana anak itu bisa masuk dan kapan masuknya. "Ha- hanya mengecek suhu tubuh Pak Binar saja," jawab Ailee gugup. Dia memalingkan wajahnya, tidak mau melihat wajah Binar yang mengerikan saat marah. Namun beberapa saat kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya pada lelaki itu. "Sejak kapan demamnya? Dan bagaimana tubuh Pak Binar sekarang? Apakah jauh lebih baik? Apa Pak Binar sudah minum obat? Apa-" "Ailee, diamlah! Kamu malah semakin membuat saya pusing," ucap Binar lemah hampir tak terdengar. Dia hendak melanjutkan tidurnya tapi tak bisa karena ada Ailee. Selalu tidak nyaman jika ada orang lain di kamarnya dan mengawasi dirinya. Binar hanya memejamkan matanya, dia belum kembali tidur. "Maaf...." Binar mulai menghiraukan keberadaan Ailee. Dia yakin jika tak lama kemudian gadis itu akan segera pergi dari kamarnya. Tubuhnya benar-benar tidak kondusif. Dia harus lebih banyak istirahat. Tidak perlu waktu lama untuk memejamkan matanya dan melanjutkan tidurnya yang terganggu tadi. Tadinya Binar berpikir bahwa Ailee akan segera pergi dari kamarnya, tapi ternyata gadis itu masih berada di sana. Ailee membiarkan Binar melanjutkan tidurnya, tapi dia tak beranjak dari kamar itu. Kursi yang berada di depan meja kerja Binar pun dia tarik dan letakkan di samping ranjang. Lalu, dia pun duduk mengawasi Binar karena takut sewaktu-waktu lelaki itu membutuhkan bantuan. Entah sudah berapa lama dirinya di sana, malam pun mulai larut. Dia beranjak untuk menutup jendela kamar Binar dan tak lupa dengan tirainya. Lalu kembali memastikan suhu tubuh Binar, sudah tak seperti awalnya tadi. Ailee cukup lega. "Pak..." seru Ailee menusuk-nusukkan jarinya ke lengan Binar mencoba membangunkan lelaki itu. Berusaha lembut sekali supaya Binar bangun tidak terkejut. Dia tetap sendu melihat Binar yang terbaring lemas dengan wajah yang pucat. "Astaga! Kamu belum pulang ternyata?!" Binar memekik mendapati Ailee yang masih di kamarnya. Sudah menunjukkan pukul delapan malam, berjam- jam gadis itu berada di sana. Ailee hanya memberikan gelengan. "Kenapa belum pulang? Ini sudah malam, lekaslah pulang sebelum larut." Binar bangun dan bersandar dengan satu bantal di punggungnya. Ailee dengan sigap membantunya beralih posisi. Ailee menggeleng lemah, dia kemudian mencondongkan badannya memeluk Binar. "Pak, cepet sembuh. Aku nggak suka kalau Bapak sakit terus..." lirih Ailee terisak. Terkejut bukan main melihat Ailee yang tiba-tiba saja memeluknya dan menangis di dekapannya. Dia terdiam membiarkan gadis itu menangis saat memeluknya. Tangan Binar pun terulur untuk mengusap punggung gadis yang masih terisak– berusaha menenangkan. "Jangan menangis, jangan khawatir. Sebentar lagi juga lekas membaik kok," ucapnya bergetar. Jantungnya berdesir tak karuan. Ternyata selain ibunya masih ada yang mencemaskan dirinya begitu dalam. Dan orang itu adalah Ailee, gadis yang kerap sekali membuatnya darah tinggi. Terharu sekali dirinya. "Tubuh saya bau, hari ini belum mandi. Kamu masih mau memeluk saya?" goda Binar. Dia berusaha membuat Ailee melepas pelukannya, meskipun sebenarnya dia juga senang karena mendapat pelukan dari Ailee. Sangat senang. "Aku tahu itu, tapi aku nggak akan melepasnya, Pak!" jawab Ailee. Dia memejamkan matanya menikmati kehangatan serta kenyamanan dari lelaki itu, rasanya seperti memeluk Papanya. Sama-sama nyaman. Ailee sangat suka. Mereka berpelukan cukup lama dan terlepas saat Bu Melati datang membawakan makan malam untuk Binar. Sontak saja Ailee dan Binar terlonjak melepas pelukan mereka. Malu jika dikira macam-macam. "Aduh, ternyata Mama mengganggumu ya, Bin," goda Bu Melati membuat wajah Binar merona. Perempuan paruh baya itu senang sekali melihat anaknya yang sepertinya sudah mulai melepaskan segala rasa sakitnya terdahulu dan membuka kembali hatinya. "Tadi...Tadi Ailee hanya...." "Hanya memelukmu? Mama tahu itu! Wahh, kalau begitu pasti kamu langsung sembuh, nih." "Mahhh...." Binar menggerutu. Sedikit kesal karena Ibunya itu terus saja menggoda. "Iya- iya, Mama akan keluar dan tak akan mengganggu kalian lagi. Selamat bersenang-senang," ucap Bu Melati yang kemudian keluar tak lupa menutup pintu kamar Binar. "Lampu hijau," desis Ailee. Dia begitu senang karena sepertinya Bu Melati setuju jika dirinya bersama Binar. Hatinya bersorak ria, semoga saja ini benar-benar lampu hijau untuknya. "Apa maksudmu?" tanya Binar memicingkan matanya karena tidak paham dengan maksud perkataan Ailee. "Maksudnya Pak Binar harus segera makan dan minum obat biar cepet sembuh," jawab Ailee gelagapan mengambil piring makan malam Binar. Dia berusaha menyembunyikan pemikirannya tadi dari Binar. "Yuk!" Ailee menyodorkan sendok berisikan nasi serta lauknya ke mulut Binar berharap lelaki itu mau menerima suapannya. Dan... euhmm... Binar menerima suapan Ailee! DEMI APAAAAA?! (Ah, Lebay!) Kreekkkk... Suara pintu terdengar jelas, terlihat juga Bu Melati yang ternyata masih berada di sana sedari tadi. Ah, dia mengintip. Entah sejak kapan, sepertinya setelah mengantarkan makanan tadi– cukup lama. Padahal tadi berkata tidak akan masuk dan mengganggu lagi. "Mah..." tegur Binar. Bu Melati pun menampakkan diri sepenuhnya. Bibirnya melengkung, dia cengar cengir sendiri dibuatnya. Salah tingkah pula karena ketahuan. Wajah Binar sangat memerah pertanda dia benar-benar malu. "Mama nggak ngintip kok, hanya melihat sedikit," ujar Bu Melati membela dirinya. Melihat sedikit? Bukankah itu kata lain dari mengintip? Ah, sudahlah biarkan saja. Bubu baba bubu baba... Clarissa yang berada di gendongan Bu Melati tampak senang sekali. Anak itu mengoceh tiada henti, sepertinya dia sehati dengan Bu Melati yang senang melihat Ailee dan Binar. Naluri seorang bayi memang cukup kuat. "Tuh, Mama sama Papa kamu lagi berduaan. Ehh, Nenek salah ngomong. Hi hi hi, ayo kita keluar saja sebelum Papamu menelan Nenek hidup-hidup!" Bu Melati lantas keluar dari kamar Binar, dan kali ini benar-benar pergi tak mengintip lagi melainkan menemani Aiden yang menunggu di ruang tamu. Kasihan Aiden diabaikan oleh orang di rumah itu. "Kenapa senyum-senyum?" gertak Binar kepada Ailee yang senyum-senyum sendiri. Pasti gara-gara Bu Melati terus menggoda dan berpihak padanya. "Kan aku emang murah senyum, Pak," tukas Ailee. "Memang berapa harganya?" "Enggak murah deh, tapi mahal! Limited edition dan hanya diperuntukkan orang-orang tertentu saja. Kalau untuk Pak Binar aku kasih gratis," jawab Ailee dengan senyum malu-malu, tidak menyangka jika dia mengucapkan hal seperti itu. Binar tersenyum di balik wajahnya yang pucat. Mungkin ini adalah senyum pertama hari ini, senyum yang merekah dikarenakan kehadiran gadis yang selalu di sampingnya, yang juga mengkhawatirkan dirinya. Mungkin gadis itu memiliki rasa lain, lebih dari seorang murid dan guru. Nasi dan berbagai lauk di piring telah habis dalam waktu sekejap tanpa jeda dan juga tetap masuk ke perutnya dengan bantuan Ailee. Selain lapar karena sedari pagi hanya makan sedikit, Binar pun dengan senang hati menelan makan malamnya karena ada gadis cantik yang menyuapinya. Dia senang mendapat suapan dari Ailee dengan telaten. Dan sebaliknya, Ailee sangat senang menyuapi Binar. "Aku akan menyiapkan obatnya, jangan tidur dulu tunggu sebentar." Beberapa macam obat dari dokter dibaca Ailee dengan teliti, dia kupas obat mana yang harus diminum Binar ketika malam. Ada tiga buah obat serta satu vitamin, dia pindahkan ke tangan Binar. Ditelan satu persatu, kemudian meneguk air putih yang juga dilayani Ailee dengan baik. "Apa masih terasa pusing? Sepertinya suhu tubuhnya sudah mulai turun, Pak," seru Ailee sembari meletakkan punggung tangannya di kening Binar supaya tahu suhu tubuh Binar saat ini. "Sepertinya begitu, jauh lebih baik sekarang," jawab Binar. Lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya dan tidak lupa menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Dia masih kedinginan. "Tidurlah lagi kalau begitu. Aku akan menunggu sekitar sepuluh atau lima belas menit untuk kembali mengecek suhu tubuhmu, Pak." Dengan telaten dan sigap layaknya perawat atau pun dokter yang sesungguhnya, Ailee membantu Binar berbaring kembali tak lupa menyelimutinya. Sangat mengagumkan, tak pernah Binar mendapat perlakuan seperti itu selain dari Ibunya. "Pulanglah sebelum larut, jangan membuat Papa sama Mamamu khawatir. Maaf nggak bisa mengantarmu," ucap Binar. "Jangan khawatir, aku kemari dengan Kak Aiden jadi aku akan baik-baik saja." Sedikit kelegaan bagi Binar. Dia pikir Ailee ke rumahnya sendiri, oleh sebab itu dia khawatir jika gadis itu pulang larut malam. Ternyata tidak hanya Ailee saja yang merasa khawatir, tapi Binar juga. Keduanya sama-sama mengkhawatirkan satu sama lain. Dan sepertinya memang mereka sedang merasakan hal yang sama, yang masih perlu diteliti serta dipahami dengan baik sebelum diungkapkan kebenarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN