Dita diajak Zahra ke Pengajian

718 Kata
Part7 #18+ "Hallo! Assalamu'alaikum, Re." Terdengar suara lembut Mama mengangkat telpon dari Rere. Ingin rasanya Rere mencurahkan semua gundahnya tentang Rama dan Dita, kepada wanita terbaiknya itu. Tapi, Mama yang memiliki riwayat jantung lemah, membuatnya urung melakukannya. Rere tak ingin Mamanya menahan sakit, karenanya. Pernah satu ketika, Dita terjatuh dari motor, dan orang yang menyampaikan ke Mama terburu-buru. Dita cuma luka ringan, malah Mama yang dilarikan ke Rumah Sakit, karena jantungan. "Re, kamu melamun?" Suara Mama menyadarkan Rere dari lamunan sesaat. "Oh. Iya.. Iya, Ma." Ucap Rere, terbata. "Ada apa, sayang? Kamu dan adikmu Dita, sehat kan?" Seperti biasa, yang lebih dulu ditanyakan Mama, pasti kesehatan Rere. "Alhamdulillah sehat, Ma. Mama sama Papa juga sehat, kan?" Balas Rere. "Alhamdulillah sehat juga. Cuma Papa tuh, akibat kebanyakan makan daging qurban kemaren, kolesterolnya sedikit naik." Mama sedikit tertawa. "Tuh, kan! Bilangin ke Papa, dikontrol dong,makannya." Rere sedikit cemas. "Iya, nanti Mama sampein." Ucap Mama. "Ma, Rere mau bilang, kalo Dita, Rere masukin kost yang dekat sama Kampusnya. Karena kalau dari rumah, dia sering telat, karena kejauhan." Rere berbohong. "Lagian, dia nggak sendirian kok, Ma. Ada Zahra, anaknya Bude Nia yang tinggal satu kamar sama Dita." Lanjutnya. "Oh. Nggak apa-apa, sayang. Malah itu bagus. Bukannya dari kemaren, Mama dan Papa juga keberatan kalo Dita serumah denganmu. Karena nggak enak, adik perempuan tinggal dengan ipar laki-laki. Tapi kamu malah yang ngotot, minta Dita tinggal denganmu." Ucap Mama panjang lebar. Ketakutan orang tuanya itu, ternyata benar-benar terjadi. Secepat itu, Mas Rama berhasil merenggut Dita. Perih, kalau Rere mengingat itu. "Re.. Kamu baik-baik saja kan, Nak?" Seorang Ibu memang sulit dibohongi. Dia pasti bisa menangkap keresahan anaknya, walau jarak membentang jauh. "Eh. Iya, Rere baik-baik saja kok, Ma." Rere kembali berbohong. Sebulir kristal menetes dipipinya. "Udah dulu ya, Ma. Rere masih ada kerjaan, nih. Salam buat Papa! Assalamu'alaikum." Rere mengakhiri pembicaraan, sebelum Mama benar-benar tau kalau dia sedang menangis. ****** Sementara Rere sibuk menata hati yang hancur, Dita malah uring-uringan di kamar kost-nya. Seminggu sudah berlalu, sejak dia pindah dari rumah Rere. Rasanya sudah seperti sebulan lamanya. Ada yang aneh dengan diri Dita. Entah kenapa, cumbuan Rama menjadi candu, yang tak bisa dilupakannya. Setiap hari dia bagai orang sakau, yang haus akan belaian Rama. Sekuat tenaga dia melawannya. Tapi, semakin dilawan, candu itu kian merongrong akal sehatnya. Sebenarnya, dia merasa sangat bersalah terhadap kakaknya, Rere. Dia berjanji tak mau lagi, seandainya suatu saat Rama mengajaknya bernostalgia dengan lumpur dosa, yang sering mereka lakukan. Tapi candu itu, bagaimana cara menghilangkannya? Satu-satunya cara, yang kerap dilakukannya saat Zahra tak ada, adalah m********i sambil membayangkan Rama berada disampingnya. Memang sangat menjijikkan! [Sedang apa, Dit?] Ada pesan masuk di WA Dita. Tak dipungkiri, walaupun dia telah berjanji tak mau menggubris Rama lagi. Tapi hatinya sangat berbunga-bunga, begitu tau itu pesan dari Rama, sang kakak ipar. [Nggak ada. Lagi bosen banget, nih] Balasnya, cepat. [Mas kangen banget sama kamu] Balas orang diseberang, ditambah emot kiss. [Mas, mari kita akhiri semua ini. Ini nggak bener, Mas. Aku adiknya Mbak Rere, istrimu] Dita berusaha mengetik yang berlawanan dengan nuraninya. [Tapi kehangatanmu lebih memabukkan daripada yang diberikan Rere] Rama mulai genit. Dita diam sejenak. Dia sedang melayang, menikmati sanjungan Rama barusan. [Kok diam, Dit? Kamu nggak menginginkanku lagi, ya?] Ketik Rama. [Bukan gitu, Mas. Aku cuma merasa berdosa terhadap Mbak Rere.] Cepat dibalasnya. Takut kalau Rama berhenti mengirim pesan. [Selagi Rere nggak tau, nggak apa-apa, kok. Malam ini ketemuan, yuk!] Ajak Rama. Tak lupa dia menyertakan emot genit. [Nggak mau, ah. Mbak Zahra sedang ada dirumah. Bisa-bisa aku diceramahinnya, kalau keluar malam] Balas Dita. [Oh, ya udah, deh. Kalau nggak, Vc aja yuk!] Ajak Rama. Intinya dia pengen Video call s*x dengan Dita. [Oke. 2 menit lagi, ya] Balas Dita dengan emot love. Dita sudah bersiap dengan lingerie berwarna pink, yang menonjolkan setiap lekuk tubuh sintalnya. Ditambah lipstick berwarna merah delima, yang menambah aura hot. Setelah itu, dia tiduran di ranjang, dengan posisi yang aduhai. Dia betul-betul sudah lupa akan janjinya, untuk tak mengganggu suami kakaknya itu lagi. Tepat saat dia akan menjawab video call dari Rama, Zahra yang sudah menyadap ponselnya, dan tau apa yang akan dilakukan Dita, tiba-tiba mengetuk pintu dan mengajaknya ke acara pengajian. Bukan main, kesalnya Dita. Nafsu yang sudah di ubun-ubun, terhempas begitu Zahra memanggil. Terpaksa deh, lingerie hot diganti dengan baju gamis, lengkap dengan hijabnya. ~Bersambung~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN