Sesampainya di depan pintu, salah satu pelayan menghampiri lalu mengantarkan mereka ke meja yang sudah di pesan Andy dan memberikan buku menu nya.
"Kamu mau pesan apa Tin ?" tanya Andy sambil membaca buku menu.
"Terserah mas Andy saja, saya ikut saja sama yang mas Andy pesan".
"Loh ya jangan gitu, selera orang kan masing masing. Nih lihat mungkin ada yang ingin kamu pesan. Pesan saja tidak usah malu malu" ucap Andy sambil memberikan buku menu ke Tini.
"Eeeeeemmmm... Ini saja maas, kepiting asam manis tampaknya enak mas" ucap Tini sambil menunjuk salah satu menu.
"Oke kamu mau itu ? memang menu favorit di sini kepiting asam manisnya.Lalu minumnya ?".
"Es teh manis saja mas".
"Bentar aku pesankan, kamu tunggu di sini ya".
"Ya mas".
Andy pun bangkit menuju meja kasih untuk memesan makanan yang akan mereka makan.Di sisi lain Tini yang duduk menunggu Andy sedang bergulat dengan pikiran nya sendiri.
"Mas Andy baik juga ya, ada apa ya mas Andy mengajakku makan di sini. Resto nya mewah sekali, mana harga makanan nya mahal mahal pula. Andai saja yang mengajak itu mas Tono pasti saya sangat senang sekali. Sayang mas Tono tidak pernah mengajakku berkencan seperti ini" gumam Tini dalam hati.
"Dooorrr...melamun saja, awas kesambet loh" ucap Andy membuyarkan lamunan Tini.
"Eh mas, sudah pesannya makanannya ?" ucap Tini terkejut.
"Sudah, ada yang kamu pikirkan ?".
"Tidak mas, oh iya katanya kamu mau obrolin sesuatu apa mas ?".
"A_ anu Tin, a_ aku se_ sebenarnya... I_ itu" ucap Andy gugup dan bingung merangkai kata.
"Hehehehehehe... anu apa mas ? itu apa ?" ucap Tini terkekeh melihat Andy gugup.
"Se_ sebenarnya a_ aku su_ su_ suka ka_ kamu Tin. Mau tidak kamu jadi kekasihku ? aku mau mengenalmu lebih dekat lagi Tin" jelas Andy.
Tini yang terkejut dengan pernyataan Andy hanya terdiam tanpa menjawab.
"Gak perlu kamu jawab sekarang kok Tin. Nanti saja kalau di rasa kamu sudah mantab dengan jawabanmu kamu boleh jawab pernyataanku. Aku tidak memaksamu untuk menjawab sekarang kok Tin" ucap Andy sambil tersenyum tipis.
"Iya mas, saya hanya terkejut saja. Seorang mas Andy boss besar yang kaya raya menyukai saya yang hanya seorang pembantu. Tapi saya hargai pernyataan mas. Kalau boleh saya jujur, saya sebenarnya juga sudah menyukai mas Andy sejak lama. Saya mengenal mas Andy dari bu Marni. Dan membuat saya penasaran dengan mas Andy. Setelah saya mengenal mas Andy yang sebenarnya, ternyata mas Andy orangnya baik dan membuat saya semakin kagum dengan mas Andy" ucap Tini sambil tersenyum malu.
"Ja_ jadi kamu nerima aku Tin ?".
Tini hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Yess...Terimakasih tin,terimakasih" ucap Andy melonjak kegirangan yang di lihat oleh semua pengunjung malam itu.
"Gak apa apa lah ku coba saja membuka lembaran dengan mas Andy. Dan mungkin dengan saya berhubungan dengan mas Andy bisa membuat saya lebih leluasa dengan mas Tono. Jadi hubungan saya dengan mas Andy bisa menutupi kedok saya" gumam Tini dalam hati sambil tersenyum memperhatikan tingkah Andy.
Selang beberapa waktu, makanan yang mereka pesan pun datang.Mereka menikmati makanan yang di sajikan malam itu.
"Enak tidak Tin makanannya ?".
"Enak mas, tidak mungkin juga makanan dari resto se mewah ini tidak enak" ucap Tini terkekeh.
"Iya juga sih" kekeh Andy sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
Malam pun semakin larut, Tini mengajak Andy untuk pulang. Akhirnya mereka berdua pun pulang. Mobil yang di kendarai Andy melaju dengan kecepatan sedang. Hanya musik yang bersuara malam itu membuat Tini mengantuk dan tertidur. Tidak terasa perjalanan yang mereka tempuh, mereka sudah sampai di rumah bu Marni. Andy membangunkan Tini dengan sangan hati hati. Andy menepuk lembut tangan Tini dan memanggil namanya.
"Tin... Tini... Tin... Bangun Tin sudah sampai" ucap Andy membangunkan Tini.
"Eeeehh... Sudah sampai mas ? saya ketiduran ya mas, maaf ya mas".
"Iya Tin,kayaknya kamu kekenyangan" kekeh Andy.
"Yasudah mas saya pamit dulu. Terimakasih buat malam ini ya mas. Mas Andy mampir dulu atau langsung pulang ?".
"Aku langsung pulang saja, tidak enak sudah malam juga".
"Yasudah mas hati hati" ucap Tini sembari turun dari mobil.
Andy berpamitan dengan Tini. Mobil Andy pun pergi meninggalkan rumah bu Marni. Sepeninggalan Andy Tini masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu lalu menuju ke kamarnya untuk istirahat karena dia besok harus bangun pagi sekali untuk bekerja kembali.
****
Sang fajar mulai menampakkan diri pagi itu. Tini yang sudah bangun sejak shubuh itu, seperti biasa mengerjakan apa saja yang sudah menjadi kerjaan nya. Mulai dari menyapu rumah, mengepel, cuci baju, seterika, sudah ia kerjakan. Tinggal menunggu bu Marni bangun dia akan membantu bu Marni untuk memasak.Dia di sana tidak memasak karena dari dulu pak Heri suami bu Marni lebih suka masakan istrinya daripada masakan pembantunya, dan kebetulan Tini juga tidak pandai dalam hal memasak. Tini yang sudah beres mengerjakan pekerjaan nya itu mengistirahatkan tubuhnya sambil menikmati teh di kebun belakang milik pak Heri sembari menunggu sang majikan bangun.
Tak lama kemudian bu Marni yang sudah bangun mencari Tini untuk mengajaknya berbelanja.
"Tin... Tini... kamu dimana Tin".
Teriakan bu Marni membuyarkan lamunan Tini.
"Dalem bu, saya disini" jawab Tini sadar dari lamunan nya.
"Ngapaen kamu di situ Tin ? ayo ikut ibu belanja. Enaknya masak apa ya Tin ?" tanya bu Marni bingung.
"Lah ibu pengen nya masak apa ?".
"Aku nanya kok balik nanya sih Tin" ucap bu Marni kesal.
"Coba ibu tanya ke bapak, siapa tahu bapak kepingin di masakin sesuatu sama ibu".
"Yasudah saya tanya bapak dulu, kamu catat apa saja yang akan di beli nanti ya Tin".
"Njih bu".
Bu Marni pun berlalu meninggalkan Tini di dapur menuju kamar tempat beliau dan pak Heri tidur.
"Pak... Pak... Mau di masakin apa pak ?" tanya bu Marni sambil membangunkan pak Heri.
"Apa saja bu yang penting enak".
"Yasudah gak usah masak aja sekalian" ucap bu Marni sambil memancungkan bibirnya.
"Yasudah masak ayam kecap spesial kesukaanku saja bu".
"Oke pak, ibu belanja dulu sama Tini ya".
"Oh iya bu sama belikan camilan, soalnya nanti rencana bapak mau panen mangga kebun belakang dan nanti kayaknya pakdhe Tono bakalan kesini bantuin bapak".
"Iya pak, nanti ibu belikan".
Bu Marni pun pergi ke pasar dengan Tini.Sesampainya di pasar Bu Marni segera membeli apa saja yang ia butuhkan.Tini yang mendampingi bu Marni hanya dapat membantu membawa belanjaan bu Marni dan berjalan mengekor.
Bersambung.........