TUYUL MILENIAL BAGIAN 2

1161 Kata
Peter mengikuti mobil angkutan yang membawa orang-orang itu tepat di belakang mereka. Aku bisa melihat mereka duduk tegak dan diam tanpa ada komunikasi sama yang lainnya. Kan aneh sekali, kok bisa begitu. Paling nggak, beberapa diantara mereka bergerak, entah tertawa, bercanda, pukul-pukulan, tending-tendangan pokoknya nggak diam kayak patung. Awalnya kupikir dengan mobil angkutan mereka nggak mungkin pergi jauh, tapi rupanya aku salah. Mobil itu masuk ke jalan tol yang ke arah Malang. “Mau kemana sebenarnya mereka?” tanyaku heran. “Kemanapun mereka, kita harus terus membuntutinya,” ujar Peter sambil terus memandang ke depan. Mobil keluar dari tol Pandaan lalu menuju sebuah gang yang nggak terlalu kecil nggak terlalu besar pula. Jalannya berliku-liku dan melewati pematang sawah. Pokoknya kayak kembali ke ndeso. Setelah perjalanan yang lumayan jauh, berliku-liku dan jalan yang nggak enak dilewati, akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang jelek seperti ditinggalkan bertahun-tahun. Catnya saja mengelupas dan Sebagian lumutan. Jendela yang harusnya berbahan kaca, hanya ditutupi dengan kayu triplek. Mereka keluar dari angkutan bergantian berjarak satu meter setiap orang. Masuk ke rumah tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri apalagi sambil ngobrol sama teman. Semua membawa tas besar, ada yang ransel, ada yang bawa tote bag bahkan tas kresek hitam pun ada. Waktu menunjuk angka tiga sore dan matahari sudah mendekati ujung dimana nggak lama lagi akan tenggelam. Aku berada sekitar lima meter dari rumah yang dikelilingi pagar tembok lumutan setinggi setengah meter. Dengan mobil yang berada di pinggir kebun pisang yang nggak akan terlihat dari jalan kecuali sudah dekat. Kami merasa pasti bisa terus mengawasi mereka dengan aman. “Honey!” Tiba-tiba saja, Peter melepaskan sabuk pengaman lalu mencium bibirku dengan sangat rakus. Aku heran karena lagi serius mengamati mereka tiba-tiba dia mencium bahkan menarik dan memelukku dengan erat. “Apa-apaan sih, Peter. Kalau kepingin nanti pas di rumah saja,” ujarku diantara ciuman kami. Tapi Peter nggak peduli, malah dia memasukkan tangannya ke dadaku dan meremasnya. Aku jadi kehilangan kontrol. Aku pun membalas ciumannya dan memeluknya erat. Tiba-tiba seseorang mengetuk jendela yang membuat kami menyudahi pergulatan fisik yang hampir saja kelewatan batas. “Apa yang sedang kalian lakukan disini?” tanya lelaki yang memiliki wajah lumayan manis. Bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan bibir yang tebal. “Oh, maafkan kami. Kami sedang melakukan perjalanan tapi di tengah jalan, kami ingin … anda pasti tahulah namanya orang pacarana kan inginnya….” Peter mengusap bibirnya yang ada bekas lisptikku. Rupanya Peter menyadari kalau ada orang yang mendekati kami, padahal aku yang fokus malah nggak menyadari keberadaannya. “Jangan lakukan disini. Disana ada hotel melati. Lebih baik lanjutkan saja disana. Apa kalian nggak takut kesambet begituan disini,” ujar pria itu sambil memandang kancing blusku yang lepas. “Baik, Pak. Terimakasih informasinya,” ujar Peter lalu segera memacu kendaraannya. “Wah, dia tahu aja kalau kita disitu,” ujarku sambil menoleh ke belakang. Pria itu masih memandang kami sambil melangkah menuju rumah yang sama dengan orang-orang tadi. *** “Kamu beneran mau check in ke hotel melati itu?” tanyaku heran karena Peter beneran parkir di halaman hotel. “Lebih baik kita istirahat dulu. Nanti malam kita bergerak lagi,” ujarnya sambil melepaskan sabuk pengaman lalu keluar mobil. Aku mengekor saja di belakangnya dan berdiri di sampingnya saat ia menyewa sebuah kamar yang paling bagus. Meskipun aku kecewa karena kamarnya nggak bagus-bagus amat. Tapi lumayan kalau hanya untuk melepaskan lelah sesaat. Atau nggak. Tiba-tiba Peter mendorongku sampai aku jatuh terduduk. Ia melepaskan kancing kemeja dan membuangnya begitu saja. Ia juga melepaskan gesper dan melepaskan kancing celana lalu menurunkan resleting. Astaga, ternyata ia melanjutkan apa yang sudah kami awali di tempat itu. *** Badanku rasanya remuk setelah melayani dua orang meskipun dalam satu badan. Steve dan Peter pasti muncul bergantian kalau kami sedang ena-ena. Kalau godaannya nggak berat, pasti aku sudah menolak berhubungan badan apalagi saat kami melakukan tugas seperti ini. Aku mengurut tengkuk dan melemaskan urat-uratku yang kaku. Peter mendekatiku dan memijat tengkukku dengan gerakan yang sangat nyaman. Sebuah service yang menyenangkan setelah kami bergulat di atas ranjang. “Thanks, Honey. Kamu sudah memuaskan kami seperti biasanya,” ujarnya membuatku senang. “Aku senang bisa melayani kalian berdua. Tapi sekarang saatnya kita melakukan tugas!” ujarku. Aku langsung berdiri daripada bertahan dan malah Peter kecil yang berdiri lagi, aku yang bakal susah. Kami check out dan membawa mobil kami dengan lampu yang sengaja dimatikan. Satu-satunya penuntun kami untuk menuju ke tempat itu adalah sinar bulan purnama. Rumah tadi ada di tengah-tengah pematang sawah dan dekat dengan kebun pisang. Meski malam, aku bisa melihat kuntilanak, wewe gombel dan pocong berada di pinggir jalan. Bahkan beberapa dari mereka melambaikan tangan untuk menghentikan kami. Dikira kami ini angkutan umum khusus hantu apa. Tengkukku terasa nggak enak dan dingin, membuatku mengurutnya dan kemudian aku menoleh. Sesosok perempuan berambut panjang sedang duduk di baris belakang. Aku membuat ajian yang membuatku bisa mengeluarkan bola api kuning, tapi Peter menahan tanganku dan bola api yang baru terbentuk segera menghilang. “Jangan membuat masalah. Ingat prioritas kita,” ujarnya membuatku merasa bersalah. Mobil berhenti lebih jauh dari yang tadi siang. Aku turun dari mobil dan berjalan diantara para hantu yang lagi mencoba untuk eksis. Ajegile, banyak bener hantu di tempat ini. Udah tempatnya serem, ditambah keberadaan mereka yang bikin tambah serem aja. “Kenapa di tempat ini banyak banget hantunya,” gumamku di dekat telinga Peter. “Karena kita di tengah sawah dan mungkin dekat kuburan,” jawab Peter yang bikin aku keki. Bukan itu maksudku, tapi hantu-hantu disini terlalu banyak. Bahkan meskipun di tengah sawah seperti ini, tetap terasa janggal banget. “Busyet dah, kaget aku!” seruku waktu tiba-tiba tuyul muncul di depanku. Tingginya hanya setengah meter, sedang mendongak dan aku yakin sedang menyeringai. Tuyul itu berlari menuju rumah tadi dan ternyata ada banyak tuyul lain yang sedang masuk ke sana. Aku jadi semakin heran kenapa terlalu banyak penampakan di tempat ini. Peter menarik tanganku dna mengajakku berjalan cepat menuju belakang rumah untuk bersembunyi. Dua orang keluar berada di depan rumah sambil membuat menyorot jalanan dengan senter. Ada perempuan berambut panjang berada di belakang dua orang itu. Sepertinya mereka saling kenal. Aku dan Peter berada di belakang tembok dan terus mengawasi pergerakan mereka, hingga tiba-tiba hantu perempuan itu menunjuk ke arah kami sambil berteriak dan mengeluarkan suara yang sangat menyeramkan. Sontak aku mengeluarkan ajian untuk memberangus tuh hantu yang sudah bikin kami ketahuan. Hantu itu terbakar lalu menghilang, tapi efek yang ditimbulkan adalah dua orang itu jati tahu persembunyian kami. Aku dan Peter berlari kencang menjauhi rumah melalui jalan setapak yang ada di tengah sawah. “Hai!” teriak salah satu orang itu. Aku mengikuti Peter masuk ke kebun pisang. Agak sulit melewati kebun karena pohon-pohonnya terlalu rapat, tapi sekaligus membuat mereka juga kesulitan mengejar kami. Namun tiba-tiba aku terjerembab dan jatuh ke dalam sebuah lubang yang cukup dalam. Jatuh ke atas sesuatu yang empuk namun bau sekali. Sesuatu bergerak di atas tanganku, membuatku hendak menjerit panik tapi Peter membungkam mulutku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN