Tim Alpha

1044 Kata
Bu Yanti bukanlah Bu Yanti. Itulah kenapa Bu Yanti yang biasanya galak, tiba-tiba berubah jadi baik seperti sekarang. Orang bisa saja berubah, tapi gak ada yang namanya berubah secepat kilat, seperti sifat Bu Yanti yang galaknya sudah melegenda di sekolah ini. Sudah jadi rahasia umum sejak jaman Bu Yanti mengajar disini alias tiga puluh tahun yang lalu. Duduk di kantin, gosip seputar perubahan Bu Yanti masih jadi topik utama. Sambil makan semangkok bakso, aku mempertajam telinga buat mendengar murid di sekolah ini membicarakan Bu Yanti. “Jangan-jangan Bu Yanti lagi jatuh cinta.” Tebakan pertama muncul dari cewek yang duduk berempat sama temannya. “Atau sudah melewati masa menopause?” Dugaan kedua. “Atau jangan-jangan kemasukan hantu? Kalian masih ingat kan soal anak-anak pramuka yang kesurupan waktu persami kemarin?” Dugaan ketiga adalah dugaan yang benar tapi sayang dimentahkan sama yang lainnya. “Honey. Cepat selesaikan makanmu! Kita ada briefing dengan anak-anak.” Steve yang duduk di depanku, entah sejak kapan bakso di mangkuknya sudah habis dan es kelapa muda pesanannya pun tinggal gelas kosong. Dengan cepat, aku melahap dua bola bakso dan setelah menelannya, langsung menenggak es jeruk untuk mendorong makanan masuk kerongkongan. Steve menyerahkan sapu tangan dan langsung ku sambar untuk mengelap bibirku. Kami berdiri, berjalan beriringan keluar dari kantin. Menyusuri koridor sekolah. Kebanyakan murid sudah pulang ke sekolah, sisanya sedang asyik ngobrol bersama teman-teman mereka.  “Menurutmu apakah arwah yang menyusupi badan Bu Yanti jahat?” Aku kok lebih suka sama Bu Yanti sekarang daripada Bu Yanti yang dulu. “Tidak ada arwah baik yang masih berkeliaran, apalagi sampai masuk ke dalam raga manusia.” Steve melirikku. “Steve, Bu Yanti yang sekarang baik. Apa gak sebaiknya dibiarin aja seperti ini?” Sekali lagi Steve melirikku. “Don’t use you’re feeling, when you’re on duty.”  Aku mengerucutkan bibir. Gak ngerti artinya. “Jangan gunakan perasaan dalam bertugas!” Steve tersenyum, aku mencibir. Steve masih saja suka mencampur bahasanya, padahal ia sudah tahu kalo gak semua kata-katanya bisa ku mengerti.  Aku menghadang jalan Steve, ia memicingkan mata. Bergeser ke kanan, aku ke kanan. Bergeser ke kiri, aku ke kiri. Steve menghela napas, melangkah maju dan membuatku melangkah mundur. “Steve ... lebih baik kita biarkan seperti ini sampai kita lulus. Aku yakin Bu Yanti yang ini membuat suasana sekolah aman dan damai,” “Tidak bisa. Kita tidak boleh egois. Jiwa Bu Yanti harus segera dikembalikan.” Steve merangkulku, kami kembali melangkah. “Hanya satu bulan. Setelah itu, kita kembalikan jiwa kepala sekolah kesayangan kita.” Aku nyengir, lumayan kan kalo bisa melalui masa ujian dengan sangat tenang tanpa teriakan Bu Yanti yang bisa bikin kuping panas. “Apa kamu Bunga yang ku cintai?” Steve membuatku kaget. “Apa maksudmu?” Kok bisa-bisanya Steve mempertanyakan soal diriku yang asli dan sudah dipatenkan di kelurahan. “Sudahlah. Kita harus cepat ke kantor!” Steve bungkam. Steve merangkul pundakku, mengajakku berjalan lebih cepat. Bu Yanti baru saja keluar dari ruangannya, spontan aku melepas rangkulan Steve tapi Steve malah menahan lengannya. Berjalan melewati Bu Yanti, aku hanya bisa cengengesan. Untung Bu Yanti yang ini baik, coba kalo Bu Yanti yang asli. Pasti dia bakal berteriak. “STEVE-BUNGA.” Tuh kan, bahkan suaranya saja seperti nyata. “Bunga.” Suara Bu Yanti menghentikan langkah. Aku melepas rangkulan Steve dan memutar badan. “Ya Bu...” Aku menunggu beberapa lama tapi Bu Yanti bergeming. Aku memandang sorot matanya, ada sorot kesedihan yang tampak jelas disana.  Sebuah penglihatan muncul di kepalaku, sesuatu yang sangat mencekam. Berhubungan dengan arwah itu. Aku rasa sebelum mengeluarkan arwah itu, ada baiknya aku menyelidiki apa motif di balik masuknya arwah itu ke dalam badan Bu Yanti. “Segera pulang ke rumah dan jangan lupa belajar!” Bu Yanti tersenyum. “Iya, Bu.” Aku memutar badan, tapi Steve masih memandang Bu Yanti dengan tatapan tajam. Aku menarik Steve, dengan kesal Steve melangkah menjauh. Sampai di depan gerbang, Steve kembali memutar badan. Aku menarik tangannya menjauh dari sekolah. “Kenapa Steve?”  “Hati-hati dengan para arwah! Mereka bisa memainkan perasaanmu.” Steve menatapku tajam. Aku memicingkan mata. Aku murid Ki Mengkis, dukun paling sakti di kampung ini. Bukan sekali dua kali aku berurusan dengan arwah penasaran seperti yang ada di dalam badan Bu Yanti. “Steve....” Aku mau menceritakan penglihatan yang baru saja ku dapat. Tapi melihat Steve sekarang, aku mengurungkan niat. “Ada apa?”  “Gak ada apa-apa. Ayo cepat! Aku gak mau item kena panas.” Aku menarik tangan Steve, mengajaknya jalan lebih cepat. *** Di kantor demon hunter, Steve memperkenalkanku ke seluruh anggota tim yang ada lima orang termasuk aku dan Steve. Tiga yang lain adalah Ilham, Slamet dan Restu. Tiga-tiganya sekarang masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya.  Ilham, cowok kurus memakai kacamata. Tampangnya culun dengan kemeja kotak-kotak yang dikancing rapi. Slamet, cowok berkulit sawo matang tapi manis sekali. Tingginya hampir sama dengan Steve tapi lebih kurus dari Steve. Restu, cowok paling ganteng setelah Steve di tim ini. Memakai kaos berkerah warna biru dan celana jins. “Kenalkan. Dia anggota baru kita. Bunga Lestari Johnson.” Steve memperkenalkanku kepada mereka. Aku bersalaman dengan mereka, setelah beberapa kali kami berbicara. Kami menuju sebuah ruangan yang ada di belakang kantor. Steve menarik kursi untukku, aku duduk di sebelahnya. Restu, Ilham dan Slamet duduk di hadapan kami. “Tugas kita cukup mudah. Kita hanya harus meringkusnya tanpa menimbulkan kecurigaan.” Steve benar-benar berbeda. Ia memberi kesan pemimpin yang kuat. Sesaat aku terpesona tapi aku seperti melihat sosok lain sekarang. “Apakah kita menangkapnya tanpa mengetahui alasan kenapa dia masuk ke raga manusia?” tanyaku. “Tentu saja.” Restu menjawab dengan singkat. “Kita tidak perlu berinteraksi dengan mereka atau kita bisa masuk dalam masalah besar,” kata Slamet. Sejenak aku terdiam, tapi aku masih yakin kalo arwah di dalam raga Bu Yanti adalah seseorang yang butuh pertolongan. “Tapi seharusnya kita tahu alasannya kenapa arwah itu masuk ke raga Bu Yanti.” Steve menoleh, memandangku dengan tatapan tajamnya. “Honey. Jangan sampai kamu terpengaruh oleh mereka! Setan paling pintar mempengaruhi manusia,” “Mereka arwah. Bukan setan. Dulu mereka juga manusia sebelum jiwa mereka berpisah dari raganya.” Aku memandang Steve lalu ketiga temanku yang lain. Mereka seperti penonton adu mulut antara aku dan Steve.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN