Babak Baru

1715 Kata
Punggung Steve bersandar pada pegangan sofa dengan dua kaki ditekuk, ia sedang membaca buku. Aku duduk di tepi lainnya, menikmati cuaca panas dengan makan buah semangka yang segar. Rumah sepi sekali karena Mommy dan Patty jalan-jalan ke Surabaya sementara Daddy dan Mas Martin entah kemana. Hanya aku dan Steve di rumah tapi Steve dari sibuk dengan bacaannya. Aku masih gak menyangka kalo Steve seorang kapten di tim utama di POLIKHUSTRAL. Bukannya aku meremehkan Steve hanya saja aku masih heran seorang Steve, Steve bule super gaje yang setiap hari otaknya dipenuhi kemesuman bisa jadi kapten dalam sebuah tim.  Aku memandangnya dengan tawa gak jelas. “Ada apa ini?” Otakku gak bisa mencerna masalah ini. Sekali lagi aku mempertanyakan kemampuan Steve dalam memimpin sebuah tim. Steve mengangkat kepala. Ia tersenyum sebelum kembali tenggelam dengan bukunya. Aku melongo, sejak kapan Steve membaca buku apalagi selama ini? Biasanya dia tukang recok yang mengerecokiku saat aku membaca buku pelajaran. Aku menggigit buah semangka dengan mata masih ke Steve. “Kamu membaca buku?” Aku gak bisa gak bertanya ini. Steve membalik buku untuk melihat cover yang berjudul lost spirit. “Ya, aku membaca buku.” Steve kembali membaca bukunya dengan sangat serius. Jangan-jangan dia demam lagi, tapi apa orang demam efeknya jadi suka baca buku macam Steve?  Aku mengangkat seiris semangka untuk ku tawarkan ke Steve. “Apa kamu mau semangka? Seger banget, Steve.”  “Habiskan saja kalo kamu mau.” Tuh kan, Steve aneh. Aku langsung menggigitnya sampe sisa kulitnya. “Aku mau mandi ah. Gerah banget...” Aku berdiri, biasanya Steve langsung semangat tapi kali ini dia masih duduk manis di tempatnya. “Steve, aku mau mandi.” Aku berusaha mencari perhatiannya tapi Steve cuma melirikku, aku heran banget sama sikapnya. Benar-benar bukan Steve yang selama ini ku kenal. “Kamu ingin mandi bersamaku? Baiklah.” Steve menutup bukunya, ia berdiri dan merangkul pundakku. Menggiringku keluar ruang keluarga tapi gak banyak bicara. Aku mengulurkan tangan di keningnya, gak panas. Lalu apa yang salah dari Steve?  Berjalan menaiki tangga, aku masih heran dengan ketenangan Steve. Bukannya aku senang dengan Steve yang biasanya ceria dan banyak menyusahkan, tapi Steve yang sekarang seperti bukan Steve suamiku. “Kenapa?” Steve memandangku, ia tersenyum manis sekali. Aku menutup mata, menguatkan indra dengan kemampuan kanuragan yang ku punya, agar bisa menemukan jin yang ada di dalam badan Steve tapi pas aku buka mata, Steve adalah Steve. Dia gak kerasukan. Aku menggeleng pelan, membuang pikiran aneh yang baru saja lewat. Sampai di atas, tiba-tiba Steve mendorongku sampai punggungku menyentuh dinding. Ia mengurungku dengan badannya yang semakin atletis. Tatapannya menusuk, jenis tatapan yang bukan seperti tatapan Steve. Gak tahu kenapa, aku merasa Steve hari ini lain banget, gak seperti Steve yang biasanya. “Ada apa?” Steve menunggu, aku menggeleng. “Gak papa.” Meskipun sebenarnya aku merasa ada apa-apa. Steve menunduk, ia mencari bibirku dan gak lama kemudian kami terlibat ciuman yang penuh tuntutan. Jenis ciuman yang beda dari Steve biasanya tapi tetap sama memabukkan. Aduh aku kok jadi senewen begini, pokoknya aku ciumannya sama suami walau dia agak beda tapi gak papa deh.  *** Aku menyiapkan buku pelajaran buat sekolah besok. Di meja belajar, ada fotoku dan Steve di dalam pigora berukuran lima R. Steve punya tawa lebar yang selalu memesona, tapi beberapa hari ini tawa itu seperti menghilang. Steve berdiri di sebelahku, ia juga menyiapkan buku pelajaran buat besok. Aku menelengkan kepala, jangan-jangan ada yang salah dari Steve. Apa efek keracunan makanan bisa bikin orang lebih pendiam? Atau cowok juga mengalami siklus semacam PMS juga seperti cewek? “Steve apa kamu baik-baik saja?” Jangan-jangan memang ada siklus semacam PMS macam cewek ini. “Dari tadi kamu aneh. Kamu kenapa?” Steve meletakkan tasnya, ia memandangku dengan mata teduhnya tapi sejak kapan Steve punya mata teduh? “Aku gak papa. Kamu yang aneh. Apa kamu PMS?”  Mata Steve membulat lalu ia tersenyum. “PMS? Aku laki-laki dan laki-laki tidak PMS.” Steve berdehem, tapi ia masih menahan tawa. “Makanya itu, Cuma PMS yang bikin alasan anehmu itu masuk akal,” “Laki-laki PMS tidak masuk akal, Bunga.” Steve mengacak-acak rambutku lalu melenggang menuju ranjang. Ia mengatur bantal lalu bebaring dengan punggung bersandar pada bantal. Aku mengikutinya, ku singkap selimut lalu masuk ke dalamnya. Steve mengambil buku yang tadi siang ia baca. Duduk bersila di depannya, menelengkan kepala aku memerhatikan keseriusan seorang Steve membaca bukunya. “Apa yang tadi masih kurang puas?” Steve melirikku sebelum kembali ke bukunya. Mukaku panas, harusnya Steve gak boleh bertanya soal itu kepadaku. Walaupun kami suami istri tapi malu kalo bahas terang-terangan soal itu dan aku bukannya gak puas soal yang tadi tapi Steve benar-benar bikin aku keheranan sama semua hal yang lain dari biasanya termasuk urusan penting suami istri. “Bunga. Aku ingin bertanya tentang hal serius?” Aku mengangkat dua alis, apa soal serius ini tentang kepuasan di atas ranjang? Aku memang masih kaku soal itu. Namanya juga pengantin baru tapi apa hal itu harus dibahas juga?  “Apa yang kamu pikirkan?” Steve menutup bukunya dan meletakkannya di atas nakas. “Apa yang ingin kamu tanyakan?” Aku berusaha konsentrasi meski masih mencari-cari jawaban yang paling pas buat menjawab pertanyaan Steve nanti. “Seberapa kenal kamu ke Bu Yanti?”  Mulutku terbuka, ku pikir dia tanya soal hal m***m eh ternyata dia bertanya soal Bu Yanti. Aku menggeleng beberapa kali, membuyarkan pikiran yang sempet negatif. Steve menunggu jawaban, tatapannya intens dengan sorot mata yang tajam. Bukan jenis sorot mata Steve yang selama ini ku kenal. “Honey...” Steve menyadarkanku. Aku menerawang, mengingat-ingat soal Bu Yanti. “Gak terlalu dekat juga sih. Tapi Bu Yanti itu guru super galak. Dulu gak segalak itu tapi sejak suaminya meninggal, Bu Yanti jadi seperti itu. Kenapa?”  Steve menghela napas, ia kembali mengambil buku dan kembali membukanya. Aku kembali berbaring di sisi Steve, kembali memandangnya heran. Steve selama ini gak pernah baca buku, Steve orang yang pandai membuang waktu tapi sejak dari kantor demon hunter, Steve jadi serius seperti Steve sekarang. “Apa kamu masih ingin dilayani, Nyonya?” Steve melirikku, aku gak ngerti pertanyaannya tapi tentu saja aku ingin dilayani jadi aku menjawabnya dengan mengangguk. Steve meletakkan bukunya kembali dan langsung mengurungku dalam dekapannya. Ia menyurukkan kepala ke leherku. “Katanya mau melayaniku...” Aku berusaha menepisnya. “Makanya, sekarang aku layani.” Ciuman Steve bikin aku kegelian. “Steve aku haus. Katanya mau melayaniku. Ambilin air minum gih,” Steve menatapku beberapa detik. “Apa kamu tidak tahu makna pelayanan antar suami istri?” Steve membuat aku bingung. “Kamu itu ngomong apa sih Steve?” Kali ini ia seperti kebingungan tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “Aku lupa aku menikahi remaja lugu.” Steve menggumam tapi dua kakinya menjejak lantai. “Memangnya kamu pikir kamu menikahi siapa? Nenek-nenek?” Aku bersungut-sungut. Steve kembali dengan segelas air, aku langsung meneguk isinya dan mengembalikan gelas yang kosong. Steve meletakkan gelas ke atas meja dan kembali berbaring di sebelahku. “Sebaiknya kita tidur. Besok kita mulai sibuk dengan tugas kita.” Steve menarik selimut sampai dadanya. Aku menoleh, tuh kan Steve aneh. Steve yang biasanya pasti minta apa yang ia sebutkan tadi? Soal pelayanan, tapi Steve yang ini malah sibuk dengan tugas. “Kenapa?” Steve berbaring miring menghadapku. “Apa kamu tadi salah makan, Steve?” Aku benar-benar penasaran dibuatnya. “Aku ... tidak. Kenapa?” Steve menatapku dengan satu alis terangkat. Aku menggeser badan biar lebih dekat kepadanya, memeriksa kepalanya kalo-kalo tadi habis terbentur. “Gak ada bekas luka,” gumamku. “Kamu ini kenapa?” Steve mendorongku. Steve yang biasanya, malah biasanya langsung menarikku begitu kami sedikit lebih dekat seperti sekarang, lalu mengurungku di bawah badannya. “Gak ada apa-apa. Ayo tidur!” Aku langsung berbalik, males memandang Steve yang aneh. Steve memeluk pinggangku, bikin senyumku mengembang. Seenggaknya, Steve setiap malam selalu tidur dengan posisi seperti ini. *** Aku duduk di tapi meja makan sambil memandangi Steve yang gaya makannya sangat ... sopan. Gak terburu-buru seperti biasanya. Tapi semua keluarga Johnson gak menangkap keanehan pada Steve sepertiku. “Ingat Steve. Jangan buat masalah seperti waktu kamu dan Bunga melakukan penangkapan demon seperti kemarin. Cukup sulit meredam kecurigaan warga kampung, setelah apa yang kalian lakukan kemarin.” Daddy memandang kami berdua dengan serius. Meski pun ia melakukannya sambil melahap nasi goreng. Makanan paling enak di keluarga ini, padahal di rumah Ki Mengkis, nasi goreng hadir kalo ada nasi sisa. “Memangnya ada masalah waktu menangkap jin botol?” Aku penasaran. Steve tersenyum, ia gak menjawab pertanyaanku. Daddy meneguk segelas jus jeruk lalu mengusap bibirnya dan pergi begitu saja, mendekati Mommy yang lagi beres-beres dapur. “Masalah besar, Bunga.” Celetukan Mas Martin bikin aku kaget tapi Steve menggenggam tanganku erat, bikin aku menoleh dan memandang senyumnya. Di sepanjang perjalanan, Steve bikin aku keki karena dia memilih diam dan gak menjawab pertanyaanku. Aku jadi sebel setengah mati, jadi aku memilih jalan di depannya. Biasanya Steve bakal mengejar dan merangkul pundakku tapi kali ini Steve membiarkan aku jalan sendiri. Aku menoleh, Steve masih jalan di belakangku. Dengan sangat tenang, gak ada senyum lebar khas Steve, sebagai gantinya Steve tersenyum kepadaku. Aku menghadiahinya cibiran. Aku memutar badan, sebal sejak kemarin gaya Steve berbeda dari biasanya. “Steve. Kamu sebenarnya kenapa sih?” Aku menahan langkahnya, baru deh si Steve merangkulku dan mengajakku kembali jalan ke sekolah. “Tidak ada apa-apa. Bunga, i love you.” Steve melepas rangkulannya, kami sudah dekat sekolah, beberapa teman memandang kami dengan lirikan maut mereka. Aku geleng-geleng kepala, mungkin saja Steve habis kejedot dan yang terluka otaknya jadi dia seaneh ini. Aku berjalan beriringan dengan Steve, ia merapikan anak rambutku dan menyisipkannya di belakang telinga. Senyum kembali dihadiahkan kepadaku, bukan cengir kuda super konyol Steve yang selalu bikin aku gemas setiap melihatnya. Sampai di depan gerbang sekolah, Bu Yanti berdiri sambil tersenyum menyapa murid-murid yang datang. Steve menghentikan langkahnya, ia memandang Bu Yanti beberapa lama. Bu Yanti juga menatap kami dengan senyum mengembang. Aku menarik tangan Steve dan mengajaknya masuk gerbang. “Selamat pagi Bunga ... Steve.” Bu Yanti tersenyum indah sekali, beda banget sama Bu Yanti yang dulu jarang tersenyum. Kami berdua berdiri tepat di depan Bu Yanti yang masih memandang kami dengan senyum ramahnya. Tentu saja begitu, karena Bu Yanti bukan Bu Yanti yang sesungguhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN