Aku memandang sebuah gedung yang selama ini ku pikir adalah gedung yang sudah gak kepake. Letaknya ada di dekat alun-alun kota, berada di jajaran kantor dinas-dinas pemerintahan. Gedung peninggalan jaman Belanda yang sempat dipake oleh dinas sosial tapi sudah lama ditinggalkan semenjak dinas tersebut pindah ke gedung baru. Konon gedung ini masuk dalam daftar tempat terangker di kota ini.
Gedung berlantai satu, beratap tinggi khas dan bercat hijau yang sudah mengelupas di sana sini. Halaman luar ditumbuhi rumput yang sudah cukup tinggi, menambah daya keangkeran tempat ini. Dua pohon beringin ada di sebelah kiri gedung, di depan ada jajaran pohon palem dan di belakang ada beberapa pohon buah-buahan. Ku lihat ada pohon mangga, pohon jambu dan pohon sawo. Dari depan, gedung ini benar-benar tampak lusuh dan gak terawat.
Benar-benar susah dipercaya kalo gedung ini masih digunakan dan yang menggunakan gedung ini adalah detasemen khusus makhluk astral.
Dua orang memakai seragam berupa kaos berwarna putih bertuliskan turn back demon melintas. Mereka memandangku sekilas sebelum masuk ke dalam gedung itu.
Steve menarik lenganku, mengajakku masuk ke dalam gedung ini. Sebelum masuk, sesosok hitam berperawakan tinggi besar memandangku dengan sepasang mata besar dan merahnya. Ia berdiri, kepalanya menembus atap tapi kemudian ia menundukkan kepala, menatapku lekat.
“Hai Jimmy,” sapa Steve.
Jimmy, si genderuwo ini memandang Steve dengan penuh hormat. “Halo Kapten Steve. dia...” Jimmy menggerakkan dagunya kepadaku.
“Anggota baru dan istriku,” kata Steve.
Aku tersenyum, bangga karena disebut sebagai istri oleh Steve. Sosok itu mendengus, memandangku dengan bibir dowernya yang lagi manyun lalu menghilang begitu saja.
“Dia satpam disini,” terang Steve.
Steve mengajakku masuk ke dalam, ruangan pertama terlihat sangat gak menarik, seperti ruangan yang lama ditinggalkan. Ada satu set kursi tamu yang berdebu tebal, membuat siapa saja menyangka bahwa gedung ini benar-benar gedung kosong gak berpenghuni.
Steve membuka sebuah pintu dengan yang gagangnya sudah berkarat. Saat aku masuk ke dalamnya, aku kembali terkejut karena ruangan ini sangat ramai sekali. Baik manusia dan hantu yang sedang diikat tangannya, semua tumpah ruah disini.
Beberapa orang sibuk berjalan dengan berkas di tangan mereka. Beberapa lagi sedang duduk di depan meja kerja dan di hadapan mereka ada hantu, kuntilanak, pocong bahkan tuyul pun ada.
Beberapa orang yang sedang melintas memerhatikanku sekilas. Mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Gak ada satupun yang lagi duduk bengong.
“Welcome to detasemen demon hunter,” sapa seorang wanita yang memakai pakaian kerja.
Wanita setengah baya yang rambutnya digelung ke atas. Memakai kacamata tebal tapi pas dengan wajahnya. Ia mengangguk ke Steve lalu gak lama kemudian wanita itu berlalu.
Steve tersenyum, ia menarik tanganku menuju ke sebuah ruangan yang cukup luas dengan kursi-kursi berjajar. Ruangannya adem karena ada AC yang sedang menyala, menempel di dinding di sebelah pintu.
Daddy dan seorang polisi sibuk berbicara, begitu seriusnya sampai mereka gak menyadari kedatanganku.
"Hai Dad," sapa Steve.
Daddy menoleh, bersama polisi gaek yang kini memerhatikanku. Daddy bangkit dari kursinya, ia mendekatiku dan merangkulku untuk mengajakku mendekati polisi itu. “Dia Bunga, asisten Ki Mengkis dan penangkap hantu yang sangat saya rekomendasikan,” kata Daddy. Memperkenalkanku pada polisi itu.
“Aku sudah melihat video yang dikirim Steve. Luar biasa sekali. Sungguh aku tak menyangka ada pemburu hantu yang sangat hebat dari negeri kita ini,” kata polisi itu.
Aku memerhatikan polisi yang wajahnya dihiasi senyum penuh keramahan. Sesaat aku diam, bingung mau bicara apa. Maklum, ini kali pertama aku berbicara dengan orang penting.
"Kamu adalah penerus kami yang sudah renta ini." Polisi satu ini merendah sekali, sudah jelas orangnya masih gagah, eh kok bilangnya sudah renta.
“Saya gak ada apa-apanya Pak. Ki Mengkis, guru saya jauh lebih baik dari saya,” balasku.
Polisi itu tertawa terbahak-bahak. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arahku. “Aku Subagyo. Komandan polikhustral atau anak sontoloyo ini sering menyebutnya demon hunter,” kata Pak Subagyo.
Aku menjabat tangannya. “Saya Bunga. Bunga Lestari bukan Bunga Citra Lestari.” Aku ikutan memperkenalkan diri.
Pak Subagyo kembali tersenyum, namaku memang sering disama-samakan dengan penyanyi terkenal yang wajahnya sering muncul di televisi. Daripada orang membandingkanku dengan artis itu, mending aku kasih duluan deh.
“Saya menaruh harapan besar padamu Bunga. Polikhustral ini digagas oleh keturunan keluarga Johnson. Itulah kenapa Steve, Martin dan dia bisa masuk dalam lembaga kita.” Pak Subagyo melirik Daddy.
Aku manggut-manggut saja, gak ngerti kenapa Pak Subagyo mengatakannya.
"Banyak orang-orang kita yang menanyakan kenapa bule bisa masuk ke lembaga resmi kita tapi ini lembaga khusus, karena itulah ada pengecualian disana-sini," ungkap Pak Subagyo.
Aku cuma ber-oh ia, gak paham maksud omongannya Pak Subagyo itu apa.
“Kakek dari kakekku memang hebat. Dia membuat sumpah yang tak bisa dilanggar oleh pemimpin polikhustral di era manapun,” kata Daddy.
“Apa maksudnya?” tanyaku jadi sangat penasaran.
“Polikhustral sudah ada lebih dari seratus tahun yang lalu. Hanya saja, seperti yang diamanatkan oleh Mr. Johnson selaku pendiri polikhustral. Lembaga ini harus dirahasiakan keberadaannya agar orang Indonesia tetap maju dan tidak terpaku pada kepercayaan roh-roh halus dan semacamnya,” terang Pak Subagyo.
“Tapi kenyataannya kan...” Ucapanku belum selesai tapi Pak Subagyo sudah menyelanya.
“Hanya kita yang tahu betul hal itu. Orang lain tidak perlu tahu kenyataannya.” Pak Subagyo bangkit dari tempat duduknya.
Pak Subagyo menepuk pundakku. “Bapak ucapkan selamat datang di polisi khusus makhluk astral. Selanjutnya, Bapak ingin kamu bersungguh-sungguh dalam bekerja,” pesannya.
“Jadi saya langsung diterima Pak? Gak pake buat surat lamaran kerja?” tanyaku.
Pak Subagyo terheran-heran lalu tertawa terbahak-bahak. “Kamu ini keluarga Johnson. Keluarga Johnson langsung bisa masuk polikhustral tanpa membuat ... lamaran kerja,” ucapnya.
Aku jadi malu sendiri karena sudah menanyakan hal yang sebenarnya gak seharusnya kutanyakan.
***
Berada di dalam satu ruangan dengan demon hunter lainnya, mereka menatapku dengan tatapan aneh. Sejak aku masuk bersama Steve dan Daddy, puluhan demon hunter langsung duduk rapi di tempat mereka.
"Perkenalkan, dia Bunga Lestari Johnson. Dia anggota baru kita." Daddy memintaku mendekatinya.
Berdiri di depan puluhan orang yang kini memerhatikanku, membuatku merasa gugup.
"Perkenalkan dirimu sekali lagi," bisik Daddy.
Daddy dan Steve meninggalkanku sendiri. Aku kembali memandang orang-orang di depanku. Mereka duduk diam, terpaku. Bikin aku menelan ludah susah payah.
"Kenalkan, namaku ... Bunga Lestari Johnson. Aku ... iatrinya Steve Johnson. Keturunan dari..."
"Hentikan bualanmu sekarang juga." Seorang cewek memakai kaos warna hitam dan celana hitam ketat berdiri, ia mendekatiku dengan mulut yang gak berhenti-henti mengunyah.
Berdiri berhadapan sama cewek yang gayanya kayak laki-laki sama sekali gak bikin aku merasa takut. Aku menoleh, memandang yang lainnya. Mereka menatap kami berdua, seolah menunggu sesuatu.
"Aku ingin mengetahui sampai mana kemampuanmu. Jangan-jangan kamu bisa disini karena pengaruh keluarga Johnson," ungkapnya.
Wah ini bocah, kenal juga engga udah main nantang aja.
Ruangan yang tadinya lengang, tiba-tiba jadi rame. Semua pada bertepuk tangan sambil berseru. "Tanding. Tanding. Tanding."
Cewek yang bahkan belum kuketahui namanya kegirangan. Dua tangannya diayun meminta agar teman-temannya semakin berteriak penuh semangat.
***
Disinilah aku kini berdiri, di sebuah arena permainan yang berupa sebuah ruangan gelap dan baunya gak sedep banget. Aku berdiri di tengah-tengah ruangan. Angin berhembus entah darimana dan suara-suara burung mencicit yang sebenarnya suara kuntilanak tertawa.
Tugasku adalah menangkap kuntilanak itu dengan cepat, lebih cepat dari Sonya, nama cewek yang tadi menantangku.
"Aku gak akan kalah darimu anak kecil." Kuntilanak sedang berdiri di pojokan dinding sebelah kanan ruangan.
Menangani setan macam begini mah gampang, aku mengeluarkan ajian qulhu geni dan gak banyak bicara aku langsung melemparkan ajianku ke arah sumber suara.
"Ah sialan..." teriak si kuntilanak.
Lalu suasana hening sesaat, tapi kemudian hawa di ruangan ini berbeda. Aku sadar pasti ada seseorang disini tapi tanpa mengetahui ciri khas, misalnya suara atau bau-bauan. Aku gak bisa menebak jenis setannya.
Tiba-tiba, bola cahaya merah menyala dan mendekat kepadaku, aku spontan menghindarinya. Cahaya bola merah terus menyerangku. Aku berkali-kali menghindar tapi pada akhirnya bola cahaya merah mengenai dadaku. Rasanya sakit luar biasa. Bikin aku menggosok dadaku berkali-kali buat mengurangi rasa sakitnya.
Bola cahaya merah kembali mendekat, menyerangku membabi buta. Akumemperhatikan dari mana arah bola cahaya itu berasal lalu gak pake lama, aku melempar bola cahaya kuning andalanku dan tepat mengenai seseorang.
"Sakit," rintihnya.
Aku mendecih, lawanku ternyata seorang cewek yang lumayan. Aku tersenyum, sumber suara itu membuatku tahu dimana posisi tepatnya cewek itu. Aku mendekatinya, aku yakin cewek ini gak lain adalah kuntilanak yang tadi.
Seandainya aku punya air kendi yang bisa merubah jin menjadi asap dan kumasukkan ke dalam botol tapi berhubung gak ada maka aku bisa menghabisinya dengan ajian pembakar setan.
Aku membaca ajian yang belum pernah kupraktekkan sebelumnya. Sambil menutup mata dan ku fokuskan pikiranku buat mengumpulkan semua tenaga di tangan kanan. Rasa panas kurasakan di telapak tangan hingga akhirnya aku sudah merasa siap buat menghabisinya. Segala macam setan, jin atau arwah gentayangan harus dimusnahkan maka aku harus...
"Hentikan!” Suara seorang cowok membuat konsentrasiku buyar. Ajian yang sudah siap dilempar, lenyap sudah.
Aku membuka kedua mata dan saat kulihat seseorang yang sedang terbaring lemah di depanku, membuatku kaget sekali. "Loalah Mbak..." Ternyata cewek yang menyerangku gak lain dan gak bukan adalah Sonya.
"Bunga. Apa yang kamu lakukan?" Steve mendekatiku, menatapku gak percaya.
"Sebenarnya tadi..."
"Dia mengincar kedudukanku sebagai ketua tim, Kapten." Sonya mengadu domba ini, dusta sekali dia.
"Aku gak begitu. Enak saja," elakku.
Tapi gak ada yang percaya sama ucapanku, hingga akhirnya Steve yang gak lain atasanku malah mengadu kekuatanku dengan Sonya.
Sial tujuh belas itu bocah. Tadi sok manis menyebutku sebagai istri eh sekarang dia jadi sok serius. Awas saja entar kalo pulang ya...
Aku dan Sonya berada di tengah ring tinju dengan semua anggota demon hunter termasuk Steve, Mas Martin bahkan Daddy pun ikut menonton pertandingan gak jelas ini. Aku gak tahu kenapa mereka ingin melihatku bertanding tapi ya sudah, aku jabanin deh.
Sonya petarung handal, dia bisa mengeluarkan ajian yang membuatku kesulitan tapi bukan murid Ki Mengkis kalo gak bisa mengalahkan cewek bernama Sonya.
Aku dan Sonya terus melakukan baku hantam. Saling menyerang dan saling berusaha memenangkan pertarungan ini. Lelah dan perih ku rasakan, luka yang kudapat selama bertarung dengan cewek cakep yang ngalah-ngalahin muka cakepnya artis dangdut masa kini.
Sonya pun gak jauh beda denganku, napasnya berat, terengah-engah. Luka membiru menghiasi sudut bibir kanannya. Rambutnya sudah lepe, basah keringat tapi semangatnya terus membara membuatku harus terus bertahan.
Aku dan Sonya bersiap kembali baku hantam tapi Daddy menghentikannya. Ia naik ke atas ring, memanggil Mas Martin dan Steve agar ikut bersamanya.
"Pertandingan kalian dirubah. Kalian ku tugaskan untuk melakukan penangkapan jin yang sudah membuat onar dan mengadu domba warga satu dengan yang lain," ujar Daddy.
"Steve dan Martin akan mengawasi kalian berdua dan siapapun yang menang nantinya, akan menjadi pemenang pertama dan akan bergabung dengan tim alpha," ucap Daddy.
Sonya manggut-manggut penuh semangat, aku gak tahu sehebat apa dia tapi aku gak akan bisa dikalahkan olehnya. Aku gak mau diledek seperti tadi.
"Dimana setan itu berada?" tanyaku.
"Setan itu menjelma sebagai kepala sekolah di SMA Cinta Kasih,"
Aku menoleh, memandang Daddy heran dan terbengong-bengong. Sekolah SMA Cinta Kasih adalah sekolahku dan kepala sekolah yang dimaksud itu gak lain adalah...