Semua Terungkap

1759 Kata
Sekolah heboh sekali, anak-anak pramuka ribut menceritakan keganjilan yang mereka alami. Aku dan Steve berjalan melintasi taman dimana anak-anak pramuka berkumpul sambil bercerita dengan begitu bersemangat. “Jangan-jangan di sekolah ini ada hantunya,” celetuk salah seorang dari mereka. Aku tersenyum, memandang Sari dan Rukmini yang ikut bergabung dengan mereka. Keduanya berdiri di dekat Sekar yang sedang memandangku tak suka. Steve merangkul pundakku, berjalan sambil menikmati pemandangan kebun mangga yang ada di sebelah sekolah. “Akhirnya semua selesai dengan baik,” katanya. Aku tersenyum, ikut memandang mangga yang masih sangat muda, pasti enak kalo dimakan sambil santai-santai. Aduh memandangnya saja sudah bikin aku ngeces pengen mengambil buah itu. “Honey...” Steve membangunkan lamunanku. “Ya...” Aku memandangnya lekat, bingung dia tadi ngomong apa. “Apa kamu...” Steve menggantung ucapannya, tapi aku yakin arah pembicaraannya gak jauh-jauh dari kata hamil. “Enggaklah, orang kita baru ngelakuin sekali dan baru tiga hari yang lalu kok,” sanggahku. Steve menerawang lalu menganggukkan kepala. “You might be pregnant,” gumamnya. “Kamu ngomong apa Steve. Selalu bahasa inggrisan, udah tahu bahasa inggrisku Cuma yes no yes no aja,” gerutuku. “Tapi bisa jadi kamu hamil,” katanya. “Enak saja. Aku gak mau hamil dulu. Aku mau jadi sekretaris dulu. Pokoknya mulai sekarang gak ada main-mainan.” Aku menepis lengannya, berjalan sambil menahan jengkel. “Kamu kenapa sih Hon. Sejak kemarin kok uring-uringan terus. Jangan-jangan...” Steve kembali menggantung ucapannya. “APA?” Aku memutar badan, berdiri berhadapan dengan Steve dengan jarak hanya beberapa centi saja. “Enggak. Ayo kita masuk!” Steve kembali merangkul pundakku, menggiringku masuk ke dalam kelas. *** Di dalam kelas, kehebohan anak-anak pramuka sudah menular. Semua heboh menceritakan kisah tentang arwah penasaran yang sedang membalas dendam. Aku gak tahu cerita ini karangan siapa tapi yang pasti karena kisah itu, beberapa anak mendekatiku. Menunggu konfirmasi dariku. Rina memandangku tanpa berkedip. Duduk di bangku yang seharusnya jadi tempat Steve. “Aku yakin kamu tahu segalanya,” katanya. Udin, cowok paling ceria di kelas ini duduk di atas meja yang ada di depanku. “Ayo, cerita. Katanya kamu bisa lihat hantu,” pintanya. “Tentu saja disini ada hantu. Dimanapun tempatnya pasti ada hantu. Bahkan di kelas ini juga ada hantu,” ucapku. “Di kelas ini?” Ana duduk di bangku tepat di depanku. Ia melotot gak percaya sama ceritaku. Aku menganggukkan kepala dan kisah soal hantu perhantuan berlanjut sampai Bu Yanti masuk ke dalam kelas. Membuat anak-anak kembali ke tempatnya, termasuk Steve. “I’m happy,” bisiknya. “Happy kenapa?” tanyaku penuh selidik tapi Steve hanya mengedikkan bahu dan ia membuka ransel buat mengambil buku. Steve merogoh saku celana, mengeluarkan buah mangga muda yang getahnya masih bercucuran. Celana seragamnya jadi kotor kena getah tapi mangga muda ini terlalu sayang buat dilewatkan jadi ... aku menunduk, menyembunyikan kepala lalu menggigit mangga itu. Enaknya... “Ibu yakin kalian sedang ribut soal kejadian yang dialami anak-anak pramuka semalam.” Bu Yanti membuka pembicaraan, aku yakin akan sangat panjang dan lama dan sangat membosankan. “Ibu tahu ini terdengar tak masuk akal tapi Ibu yakin semua itu tidak benar. Anak-anak itu hanya mimpi yang dianggap nyata, jadi kita sudahi pembicaraan tak penting ini.” Tapi aku salah, Bu Yanti hanya berbicara sedikit saja, gak seperti biasanya. *** Pulang sekolah, aku dan Steve seperti biasa langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan kamar mandi. Aku mengisi ember dengan air dan menyemprotkan karbol di bak mandi. “Anak-anak. Kalian tidak perlu melakukan ini semua. Tugas kalian belajar untuk menghadapi UNAS.” Suara Bu Yanti bikin aku melongok keluar dari kamar mandi. Bu Yanti berdiri di depan pintu sambil tersenyum, ini orang tadi pagi makan apa sih kok sampai berubah dari penyihir jadi peri. Hush, aku gak boleh ngatain guruku kayak gitu, ntar kualat. “Tapi Bu...” sanggahku. “Sudahlah, kalian berdua sebaiknya cepat pulang dan belajar! Jangan pacaran terus, ingat beberapa hari lagi UNAS,” kata Bu Yanti. Aku dan Steve berdiri dan bersitatap, meski merasa heran tapi aku melaksanakan perintah Bu Yanti. Aku meletakkan sikat dan ember di sudut kamar mandi lalu keluar dan berdiri berhadapan dengan guru yang berbadan subur ini. “Ibu tahu hubungan kalian seperti apa. Meski sangat disayangkan tapi Ibu ingin kalian lulus sekolah dan Steve, Ibu harap kamu kuliah dan bisa bekerja dengan sukses demi istri dan anak-anakmu kelak,” kata Bu Yanti. Tuhkan Bu Yanti jadi aneh banget... “Bunga...” Bu Yanti bikin aku berkedip, kaget karena sedari tadi aku melamun. “I ... iya Bu. Terima kasih atas pengertian Bu Yanti. Maafkan kami karena sudah mengecewakan Ibu tapi saya menikah bukan karena hamil duluan. Itu semua karena saya dan Steve pacaran dan orangtua kami berpendapat lebih baik kami dinikahkan sebelum...” Bu Yanti tersenyum sambil manggut-manggut, senyumnya bikin aku heran sekali karena Bu Yanti bukan tipe orang yang murah senyum. Tapi mungkin kepalanya abis kejatuhan mangga makanya jadi aneh begini. “Sudah Ibu katakan. Ibu mengerti, sekarang kalian cepat pulang dan jangan mengecewakan Ibu.” Bu Yanti memutar badan, ia meninggalkan aku dan Steve dengan wajah terbengong-bengong. “Apa kamu tak merasa dia aneh, Honey?” tanya Steve. “Ku rasa Bu Yanti abis kejatuhan mangga sampe benjol. Jadi wajar kalo tiba-tiba orangnya berubah begitu,” ucapku. “Mungkin saja.” Steve menggandeng tanganku, berjalan melalui pintu belakang sekolah. Jajaran pohon mangga menyapa, memandang buah mangga muda bikin air liurku kembali mengumpul, jadi pengen mangga muda lagi ini. “Steve. Kamu bisa manjat pohon kan?” tanyaku. Steve memandangku dengan dua alis terangkat. “Sure...” katanya. Gak pake nunggu lama, Steve langsung manjat pohon. Aku senang sekali, gak sabar pengen menikmati segarnya buah asam yang membuatku jadi ketagihan. “Sedang ngapain kalian?” suara seseorang membuatku kaget. Aku memutar badan, melihat Hengky bersama Sekar yang menggelayut manja di lengan Hengky. Aku memandang tajam ke arah Sekar, dia benar-benar cewek bermuka dua. Di dekat Hengky sok kecakepan padahal sudah jelas dia suka sama Steve. “Honey, ini mangganya.” Steve menyerahkan mangga mengkal sebesar kepalan tangannya. Tapi melihat Sekar, aku jadi males makan mangga. Aku ingin marah sama dia karena sudah mempermainkan Hengky. “Kalo kamu gak suka Hengky. Jangan mempermainkannya! Aku gak suka,” cerocosku. Hengky membelalak kaget, Steve menatapku ngeri dan Sekar melotot kepadaku. “Kenapa? Cemburu?” tanya Sekar. Cemburu gundulmu, aku sudah punya Steve buat apa aku cemburu. Aku hanya gak suka temanku jadi permainan cewek sok populer ini. “Aku gak suka kamu mempermainkan temanku,” akuku. “Semua orang tahu kamu dulu suka sama Hengky. Bagaimana kalo kita tuker pasangan?” Wah si Sekar membuat darahku naik ini. “Enak saja. Aku itu cintanya sama Steve. Dia sudah bikin aku klepek-klepek sama dia. Dulu memang aku suka sama Hengky tapi itu dulu, sekarang udah engga,” sewotku. Sekar tersenyum, aku jengkel dengannya karena sudah berani-beraninya meledekku. Aku menggandeng tangan Steve erat, memang hanya dia saja yang bisa melakukannya? “Honey, aku yakin kamu hamil. Kamu ... beda,” celetuk Steve. “Ya ampun Steve. Aku gak hamil. Kita baru melakukannya sekali. Mana mungkin melakukan sekali langsung membuatku hamil,” ungkapku. “Kalian sudah pernah....” Kali ini Hengky terkejut. Aku memandang Hengky lekat, perasaan yang dulu pernah kurasakan kepadanya sudah pergi entah kemana. Perasaan yang kupendam selama hampir tiga tahun ini lenyap digantikan oleh Steve. “We just married. Like i said to you,” kata Steve. “Wow. Ku pikir kamu...” Hengky menggantung ucapannya, menatapku beberapa lama. “Itu kisah lama Hengky. Sekarang aku sudah punya Steve.” Aku menatap Steve, ia mengecup keningku. “I love her and she loves me. We are best couple,” kata Steve. “Jadi kalian beneran sudah menikah?” Sekar masih gak percaya ini. Aku menganggukkan kepala, memandang Sekar dengan rasa bangga. Steve yang super ganteng dan kece adalah suamiku tercinta. Dia memilihku, cewek yang berkulit item, dekil dan bergigi kelinci serta rambut yang suka ku kuncir dua menjadi istrinya. “Padahal dulu aku juga punya perasaan ke kamu, Bunga. Hanya saja...” Hengky menggantung ucapannya. “Benarkah?” tanyaku penasaran. “Ya, itulah sebabnya aku suka berlama-lama di kantin sekolah. Semua itu demi melihatmu yang suka duduk dengan Jambrong di bawah pohon beringin.” Rahasia yang baru kini aku ketahui tapi sayang semua sudah terlambat. Jadi selama ini kami hanya saling melihat dari kejauhan. “Kenapa kamu gak pernah mendekatiku?” tanyaku penasaran. “Karena...” “Karena dia tak mau dicap sama anehnya denganmu Honey. Cintanya tak tulus. Berbeda dengan cintaku padamu,” sahut Steve. Aku tersenyum, Steve benar. Kalo Hengky memang benar-benar menyukaiku dengan tulus, sudah tentu dia akan berusaha mengejarku. Bukannya memendam rasa hanya karena takut dianggap aneh oleh teman-teman yang lain. “Doakan aku dan Steve selalu bahagia. Aku pun mendoakan kalian semoga berjodoh seperti kami berdua,” ucapku. Hengky tersenyum, ia menganggukkan kepala. Aku pun ikut tersenyum, senang karena sudah gak ada dusta diantara kami bertiga. “Apa kalian beneran sudah menikah?” tanya Sekar sekali lagi. *** Hari-hari menjadi seperti sedia kala, tenang dan damai. Kecuali soal Steve yang masih bersikukuh kalo aku sedang hamil. Steve yang super edan juga menceritakan masalah ini kepada semua keluarga. Aku jadi gak enak sama mereka karena ternyata menurut hasil tes pack, aku gak hamil. Duduk di ruang makan, di hari yang sangat indah ini. Aku menunjukkan hasil tes itu kepada Mommy dan Daddy. Daddy tenang-tenang saja tapi Mommy terlihat kecewa. Aku menyikut lengan Steve, kesal karena mulutnya ember sekali. Suka mengumbar kisah kami ke depan keluarganya. “Ya sudah, kalian bisa usaha lagi,” desah Mommy. “Mereka masih muda, Mom. Biarkan mereka menghabiskan masa muda mereka sebelum harus disibukkan dengan bayi,” hibur Daddy. “Aku kan masih ingin jadi sekretaris Mommy.” Aku pun berusaha menghibur Mommy. “No Honey. Kurasa kamu tak bisa jadi sekretaris,” sanggah Steve. “kenapa?” tanyaku. “Karena kamu sudah resmi menjadi anggota demon hunter. Kamu anak buah kesayanganku Honey...” “Apa?” “Mulai malam ini, kamu akan dilatih di kesatuan POLIKHUSTRAL. Atau kami biasa menyebutnya DEMON HUNTER,” kata Mas Martin yang tiba-tiba nongol. Aku melongo, ku pikir polikhustral itu gak ada tapi ternyata... Dan malam ini aku akan dilatih khusus di bawah komando detasemen polisi khusus makhluk astral. Dimana Steve adalah ketua tim alpha dan Mas Martin adalah ketua tim beta sementara aku harus melalui berbagai macam pelatihan sebelum dinyatakan masuk ke dalam tim alpha atau pun tim beta tapi Steve memaksaku untuk masuk tim alpha dan itu artinya aku harus mendapat nilai lima tertinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN