Awalnya kupikir Hengky sebel karena ia tahu aku dan Steve menikah tapi kata Steve, Hengky sedang dirasuki jin. Menjadikannya seperti orang lain. Steve menyerang Hengky secara membabi buta, bikin aku berusaha menahan Steve agar Hengky gak semakin terluka parah. Aku gak mau sewaktu mereka sadar nanti mengeluh kesakitan.
“SERANG!” Teriakan seorang cowok membuatku mengangkat kepala.
Gak tahu sejak kapan anak-anak pramuka sudah berdiri bergerombol di depan kami berdua. Aku tercengang, terpaku dan kaget melihat mereka menatapku dan Steve dengan tatapan kosong tapi wajah mereka dihiasi senyum seringai yang menakutkan ... termasuk Hengky.
“Steve...” Aku mundur beberapa langkah, Steve mencekal lenganku dan mengajakku berlari.
Aku dan Steve berlari sekuat tenaga, melintasi koridor sekolah yang gelap tapi beberapa penunggu sekolah sedang berdiri memerhatikan kami. Sesekali aku menoleh, menatap anak-anak pramuka yang mengejar kami berdua.
Aku dan Steve bersembunyi di gudang belakang sekolah. Steve mengunci pintu lalu ia mengangkat bangku dan meja buat penghalang pintu.
“Sebenarnya ada apa ini?” tanyaku penasaran.
Rukmini muncul dengan cara gak terduga. Ia duduk dengan dua kaki bersila di atas meja yang dipakai buat penghalang. “Jin itu bernama Ifrit. Jin yang sangat kuat. Dia bisa ngendaliin manusia,” terangnya.
Aku gak percaya kalo ada jin sekuat itu, bisa ngendaliin manusia. Rasanya ini mustahil.
“Kamu kan tadi sudah lihat.” Rukmini menoleh ke arah jendela.
Suara derap langkah mendekat bikin aku memandang Steve, derap langkah itu semakin keras dan akhirnya berhenti berganti dengan suara gedoran di pintu. “Buka pintunya!” teriak seorang cowok.
“Bagaimana ini Steve?” Steve menahan meja agar pintu gak sampai terbuka.
Pintu terus digedor dan didorong, aku dan Steve menahan meja sekuat tenaga. Rukmini juga ikutan menahan meja tapi kekuatan kami gak seimbang hingga akhirnya meja terdorong mundur dan pintu membuat kami bertiga terjerembab.
Beberapa anak pramuka berjalan pelan masuk ke dalam ruangan, gerakan mereka kaku seperti zombie di film-film. Muka mereka berhias senyum seringai menakutkan, bikin aku menelan ludah dengan susah payah.
Aku mundur terus, terdesak oleh mereka yang terus saja maju. Bisa saja aku menggunakan kemampuan bela diri atau ajian apapun tapi aku takut melukai mereka.
“Berhenti!” Suara seseorang menghentikan mereka.
Anak-anak pramuka membelah menjadi dua, membuat sebuah jalan kecil di hadapanku dan cowok memakai jaket abu-abu yang ku lihat sejak tadi pagi kini berdiri di tengah pintu.
“Jadi kamu...” Steve menggantung ucapannya.
“Kamu mengganggu bangsaku,” ucap cowok itu.
“Apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Seharusnya kalian berbagi tempat dengan bangsa kami,” ucapnya lagi.
“Kalian yang mengganggu bangsaku. Kita sudah berbagi. Tak seharusnya kamu mengganggu wilayah kami,” ucap Steve.
Aku gak tahu ini sebenarnya ada apa, Steve yang selama ini ku kenal sebagai cowok periang jadi sangat serius dan keren banget. Gak seperti Steve yang biasanya selebor banget.
“Kalian manusia, memanfaatkan kelemahan kami demi nafsu kalian lalu dengan seenaknya membuang kami tanpa belas kasih,” kata cowok itu.
“Kami lebih mulia, tak seharusnya kamu mengganggu manusia,” kata Steve.
“Mengganggu? Kalianlah yang mengganggu kami. Menjadikan kami b***k nafsu kalian,” kata cowok itu.
“Kamu pikir kamu siapa? p*****r?” tanyaku, dibalas lirikan aneh dari Steve.
“Kalian sudah sepatutnya binasa,” kata cowok itu.
“Apa kamu bilang?” Dia pikir dia siapa?
Wah, cowok macam dia seharusnya dikirim ke neraka. Aku menyingsingkan lengan baju. Gak usah banyak omong kalo menghadapi manusia macam dia. Lebih baik digasak saja dan dibuang ke sumur belakang sekolah.
“Honey. Dia jin ifrit,” kata Steve.
“Apa?” Aku menoleh, memandang Steve gak percaya kalo cowok ganteng yang tadi pagi sempet gak sengaja kutabrak ala iklan ternyata jin.
“Lebih baik kamu bersembunyi. Biarkan aku yang menghadapi,” bisik Steve.
Ya ampun, hanya karena dia cowok bukan berarti dia kuat. Steve meremehkanku, dia sekuat apa? Orang selama ini kerjaannya cuma bersembunyi sewaktu aku bertarung dengan para jin.
“Trust me,” ucap Steve.
“Aku gak ngerti bahasamu Steve.” Gak pake nunggu lagi, aku keluarin jurus andalanku, ajian qulhu geni dan langsung kulemparkan ke arah pipit, ciprit atau siapalah namanya.
“SERANG!” perintah cowok itu.
Anak-anak pramuka beraksi, mereka terus memojokkanku dengan langkah kaku mereka. Dua tangan terulur, siap buat mencekik leherku.
Steve menepis tangan anak-anak tapi tangan anak-anak lain menarik kaosnya dari belakang. Dua cewek mendekatiku dengan tangan terulur, salah satu cewek itu gak lain adalah Sekar yang kini pandangannya kosong dan wajahnya pucat.
Aku menepis tangan kedua cewek itu, tapi dua cowok tiba-tiba mengurungku dan terus mendesakku. Aku hanya bisa menepis dan gak tega melawan, bikin aku semakin mundur teratur.
Aku dan Steve akhirnya terpojok, kali ini kami berdua terkepung di tengah-tengah zombie yang gak lain anak-anak pramuka yang sedang terhipnotis. Aku memasang kuda-kuda, Steve ada di belakangku.
“Biar aku yang urus!” Jambrong yang selama ini terkurung di pohon beringin tiba-tiba berdiri di sebelahku.
“Kamu kok bisa lepas?” tanyaku penasaran.
“Aku yang melepasnya.” Mas Martin berdiri di tengah pintu.
“Mas Martin,” lirihku.
“Urus saja jin sialan itu. Urusan disini, serahkan padanya.” Mas Martin menggerakkan dagunya ke arah Jambrong. Jambrong mendengus tapi dia melihat Mas Martin melotot, Jambrong langsung menundukkan kepala.
Bukan hanya Jambrong, tapi Sari dan Rukmini juga ikut melawan. Anak-anak pramuka kembali bergerak, menyempit, semakin mengepung kami. Badan Jambrong tiba-tiba membesar lalu ia meniup udara ke arah anak-anak pramuka dan membuat anak-anak itu mundur.
“Sekarang pergilah,” kata Jambrong.
Aku dan Steve segera berlari, anak-anak pramuka mengejar tapi dihalangi oleh tiga penunggu sekolah yang sangat kusayangi. Mereka duel layaknya seorang pejuang dan semoga mereka gak menyakiti anak-anak itu.
Sampai di depan ruang kepala sekolah, aku dan Steve berhenti. Steve mengeluarkan botol ajaib yang ia simpan di dalam tas dan melemparnya ke atas lantai. “Jaman sudah modern, masih saja mengurung setan ke dalam botol,” keluhnya.
“Kalo bukan botol terus dimasukkan kemana?” tanyaku seweot.
Steve mengeluarkan handphone dan memamerkannya kepadaku. Memperlihatkan hantu bertanduk dua yang sedang terkurung di dalam sebuah ruangan. Aku mencibir, tentu saja dia punya alat-alat canggih, orang luar negeri gitu.
Botol menunjuk ke kanan, ke arah ruang kepala sekolah tapi gak lama kemudian ia berputar-putar lagi lalu berdiri tegak, mulut botol jelas menunjuk ke atas bikin aku dan Steve mendongak dan tiba-tiba cowok yang gak lain jin ifrit melompat dan menyerang Steve.
“Kamu mengkhianatiku.” Aku menoleh, memandang Hengky berjalan dengan langkah terseok dengan tatapan menyeramkan.
“Hengky. Bangun!” Semoga Hengky bisa menguasai dirinya lagi.
“Ku pikir kamu menyukaiku tapi ternyata kamu malah menikahinya.” Hengky terus maju, bikin aku terus mundur.
Aku memandang Steve yang sedang berduel seru dengan jin ifrit, gak nyangka banget kalo Steve yang selama ini kacau ternyata bisa sehebat itu.
“Tatap aku!” Hengky bikin aku sebal, ini bocah kalo gak dihipnotis ifrit pasti sudah ku tendang pantatnya tapi sayangnya Hengky gak bersalah jadi aku harus mengalah.
Tiba-tiba Hengky memukul mukaku dengan keras, bikin aku kaget karena dia bisa seberani itu. Ah, tentu saja kan dia dihipnotis. Tapi aku gak boleh melukainya, Hengky kembali menyerang, memukul secara bertubi-tubi tapi aku hanya mengelak serangannya.
Hengky memukul lalu menendang, aku menangkis lalu menghindar. Ia hendak memukul mukaku tapi aku menunduk. Tiba-tiba tendangan keras mengenai dadaku, bikin aku jatuh tersungkur. Sakit belum reda, Hengky kembali menendang tapi aku berguling-guling buat menghindari serentetan serangannya.
Aku msu berdiri, tapi segerombolan anak pramuka sudah ada di depanku. Senyum mereka lebar dan menakutkan, gak lama kemudian mereka menyerangku sementara aku masih bertahan buat gak nyakiti mereka.
“STEVE...” Aku berteriak, berharap Steve menolongku.
“HONEY...” Steve berteriak, ia melempar badan anak-anak pramuka hingga sampai padaku dan membantuku berdiri.
Steve membawaku lari, berusaha menjauhi anak-anak pramuka yang kini mengejar kami.
Aku dan Steve masuk ke dalam ruang kelas, Steve memelukku dan mencium keningku. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Aku baik. Hanya saja, kamu kenapa nyakitin mereka?” tanyaku.
“What?” Steve membelalak.
“Mereka gak salah. Mereka digerakin, jadi gak seharusnya kamu menyakiti mereka,” pekikku.
“Wait in minute. Itukah alasannya kamu gak melawan Hengky?” tanyanya.
“Tentu saja...”
Belum sampai Steve berbicara, anak-anak itu sudah menerobos masuk ke dalam kelas. Steve mendorong mereka, bikin mereka jatuh telentang. “Jangan buang waktu, ayo kejar ifrit sialan itu.” Steve berlari keluar, aku mengikutinya dari belakang.
Aku benar-benar jadi oon ini, justru Steve yang kini terlihat hebat. Kami berjalan di koridor sekolah, mencari keberadaan ifrit yang entah dimana. Setiap kelas kami periksa tapi pada kenyataannya ifrit seperti hilang ditelan bumi.
Tiba-tiba ada lima anak pramuka menghadang jalan, Steve gak buang waktu langsung menyerang mereka. Steve benar-benar gak punya hati, dia kok bisa setega itu menyakiti teman-teman yang gak bersalah.
“Steve jangan sakiti ... aduh.” Sakit dan kaget tiba-tiba ku rasakan, aku menoleh. Ternyata Sekar sedang menjambak rambutku.
“Jangan sakiti kami,” katanya.
“Nah kalo bocah g****k sepertimu, aku tega.” Aku meraih rambutnya, menarik sekuat tenaga lalu menyikut muka sok cantiknya. Sekar yang selama ini kemayu, setelah digerakkan ifrit menjadi cewek kuat. Ia melakukan serangan bak seorang pesilat terkenal tapi aku gak mau kalah oleh bocah yang selama ini udah mempermainkan hati Hengky dan juga ingin merebut Steve.
Selama duel dengan Sekar, ku lihat ifrit lagi berdiri di atas pohon beringin, menatap kami seperti seseorang yang gak berguna. Bikin aku semakin marah karenanya. Aku melakukan jurus pamungkas, Kulempar badan Sekar sampai badannya menabrak dinding.
Aku mengeluarkan ajian, melempar ifrit dengan cahaya bola kuning. Ifrit menyerang tiba-tiba. Ia memukul wajahku sampai rasanya kliyengan, pusing bukan main. Aku menguatkan diriku sendiri dengan ajian yang selama ini sudah kupelajari dan kini aku melakukan adu kekuatan dengan ifrit dengan seluruh kekuatan dan kemampuan yang kumiliki.
“Aku mengampunimu. Kamu yang melepasku,” kata Ifrit di tengah seranganku yang membabi buta.
“Itu kesalahan dan aku gak mau membuat kesalahan lagi.” Aku kembali melempar cahaya bola kuning.
“Sayang sekali.” Ifrit kembali menyerang, menyerangku dengan telapak tangannya yang bersinar merah menyala seperti api.
Tangan menyala itu menyentuh dadaku, rasa panas yang sangat teramat ku rasakan membakar kulit hingga masuk ke dalam tulang dan juga jantungku. Badanku merosot, tangan kananku menekan d**a. Berusaha menahan rasa sakit yang terus menyiksa.
“BUNGA...” teriak Steve.
Semua serasa bergerak lambat, aku menoleh, memandang Steve yang berlari ke arahku tapi dihalangi oleh teman-teman yang
“Niat ingsun ngalowong, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu marang jiwo insun, lebur kaya dene banyu.” Aku terus merapal ajian biar badanku kembali kuat.
Rasa sakit yang luar biasa menyiksa perlahan berkurang dan akhirnya lenyap. Aku gak akan pernah mengampuni jin yang memainkan teman-temanku. Tubuhku tiba-tiba terasa sangat ringan, aku bangun dan menatap tajam ke arah jin ifrit. Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam lalu membuka mata.
Anak-anak pramuka kembali mengepungku, tak terkecuali Hengky.. Jambrong, Sari dan Rukmini maju. Mereka bertarung melawan anak-anak yang gak bersalah, bikin amarahku semakin memuncak.
Aku terus melangkah maju, anak-anak yang mau menghalangiku ditarik Jambrong, Sari dan Rukmini sehingga aku bisa jalan tanpa gangguan. Aku mengeluarkan ajian qulhu geni. Dengan cepat kulemparkan ke arah cowok itu tapi sayangnya meleset.
Aku terus menyerang membabi buta. Cowok itu bisa menghilang ke kanan dan ke kiri. Mas Martin datang menolong, ia juga ikut menyerang dengan menggunakan segala kekuatannya.
Steve juga akhirnya membantu, ia mengeluarkan ajiannya. Kami bahu membahu hingga akhirnya jin ifrit terpojok di bawah pohon beringin. Steve dan Mas Martin menguncinya dengan kekuatan tak kasat mata. Hingga jin ifrit seolah terikat.
Jambrong, Sari dan Rukmini masih berusaha buat menahan anak-anak pramuka yang masih di bawah kendali jin ifrit. Steve memberiku kode buat mengambil sesuatu ke dalam tas ranselnya. Aku segera membuka ransel dan mengambil kendi dan botol air mineral yang menyala sangat terang.
Aku mengulum air kendi lalu mendekati ifrit yang kini masih menatapku dengan sombongnya. Bahkan seringai di bibirnya masih saja tampak. “Beraninya keroyokan,” ujarnya.
Gak usah banyak ngomong jin ... Aku langsung menyemburnya dengan air kendi. Ia berteriak keras, badannya tiba-tiba menyala seperti api yang keluar dari gunung berkawah. Badannya perlahan berubah menjadi asap, lalu asap itu masuk ke dalam botol yang kini dipegang Steve.
Anak-anak pramuka yang tadi ingin menyerang kami tiba-tiba ambruk secara bersamaan.
Akhirnya jin terakhir sudah terkurung di dalam botol. Aku bisa bernapas lega. Steve mendekatiku, ia memelukku dan mencium keningku. Ia tersenyum lalu kembali memelukku.
“Kamu lulus, Honey. Sekarang, kamu adalah anggota demon hunter. Tugas kita adalah menangkap arwah penasaran dari bumi kita tercinta,” katanya.
Steve merangkulku, mengajakku keluar dari sekolah yang telah bikin kami harus melukai teman-teman kami sendiri. Gak ngerti deh apa yang mereka pikirkan saat bangun nanti.