Aku berada di dalam kamar mandi sekolah, membersihkan toilet jongkok yang super kotor. Menyikat dengan karbol yang baunya sangat menyengat sampai ingin muntah rasanya. Ku siram air segayung buat bersihin busa karbol. Setelah bersih, aku berpindah membersihkan kamar mandi yang lain yang baunya jauh lebih parah dari kamar mandi tadi.
Ini semua kulakukan demi bisa ikutan UNAS, Bu Yanti memberi syarat aku dan Steve membersihkan kamar mandi setiap hari sepulang sekolah sampai hari UNAS tiba. Sementara Bu Yanti melarang kami mengatakan status pernikahan kami ke semua teman-teman dan membiarkan masalah ini dianggap sebagai gosip semata.
Meski jengkel tapi dengan terpaksa aku menurut, daripada aku dan Steve gak lulus SMA terus mau jadi apa kami?
Sambil menyikat bak mandi, aku menyeka air mata. Sejak kemarin aku sial sekali dan semoga ini adalah puncak dari kesialanku.
Aku menyikat tepi toilet jongkok sambil menahan sebal, Steve benar-benar kembali bikin jengkel setengah mati. Ku siram lubang toilet dengan air segayung lalu kusiram pake karbol dan mulai menyikat lubang toilet sambil menahan napas selama mungkin.
Itu anak kenapa engga ngerti sih, harusnya mulutnya gak seember itu. Kenapa dia dengan gampangnya bilang kalo aku dan dia sudah menikah. Bikin tema-teman sekolah heboh dan akhirnya berita itu sampe ke telinga Bu Yanti.
Aku menoleh, memandang Steve yang asyik ngelus-ngelus ujung wastafel sambil bercermin. Mengangkat kerah baju sambil memainkan dua alisnya.
“Steve. Apa yang kamu lakuin? Kerja yang bener dong.” Bikin jengkel aja.
Steve tersenyum, ia mencium udara bikin aku geli dengan tingkahnya. Tapi meskipun sering menyebalkan tapi Steve memang ganteng tapi tetap aja aku pengen menyikat wajahnya.
Aku mengerucutkan bibir, lalu menyiram Steve dengan segayung air. Steve menghindar, ia tertawa riang karena merasa menang. Sekali lagi aku mengambil segayung air dari bak mandi, lalu menyiramkannya tapi lagi-lagi gak mengenai Steve. Aku mengambil air lagi, kali ini aku mendekatinya dan menyiram kakinya dengan segayung air. Bikin basah sepatunya tapi sekaligus bikin aku puas sudah bikin dia basah.
“Jangan marah Honey. Nanti pulang sekolah aku pijit ... plus-plus.” Steve memainkan dua alisnya.
“Ogah!” teriakku.
Aku memutar badan, Steve memelukku dari belakang. Aku menyikut perutnya lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
***
Aku berada di depan kamar mandi, badan capek semua setelah membersihkan empat kamar mandi sendirian. Aku mengangkat kedua tangan, menggeliat buat melemaskan otot. Cowok memakai jaket abu-abu berdiri di belakang pohon mangga, menatap ke arahku. Ku hentikan perenggangan otot, menatapnya lekat sambil menelengkan kepala.
Tuh orang ngapain buntutin aku? Dia cowok yang aneh, apa dia menyukaiku? Aku geleng-geleng kepala. Sekarang aku sudah punya Steve dan gak boleh melirik cowok lain.
“Ada apa?” Steve berdiri di sebelahku, ikut memandang ke arah pohon mangga.
Aku menggeleng pelan, memutar badan ke kiri lalu melangkahkan kaki. Berjalan di koridor sekolah sambil memijat bahu yang sakit karena membersihkan kamar mandi yang baunya ampun-ampun dan kotornya gak kebayang dah.
“Capek ya? Ayo cepat pulang! Kita pijit-pijitan di kamar.” Aku menginjak kaki kiri Steve, enak saja main ngajak pijat-pijat. Paling juga aku yang bakal disuruh mijitin dia dan ujung-ujungnya bikin kewanitaanku sakit lagi.
“Aku mau pulang ke rumah Ki Mengkis,” ujarku.
“Buat apa? Kan baru kemarin kita ke rumahnya,” tanya Steve.
“Pokoknya aku mau kesana.” Aku meredam amarah, jengkel begitu saja.
“Nanti sore saja. Sekarang pulang terus pijit-pijitan,” kata Steve.
Aku melotot ke arah Steve, bikin dia diam seribu bahasa. Dengan marah, aku melangkah lebar-lebar hingga gak sengaja aku menabrak seseorang sampai badan kami sama-sama mendarat di atas lantai. Aku memandang cowok di depanku, cowok yang sama yang tadi memerhatikanku di belakang pohon mangga.
“Maaf,” ucapku.
“Tidak apa-apa,” katanya.
Aku memandangnya lekat, wajahnya pucat dan bibirnya agak hitam, mungkin dia lagi sakit. Sepasang matanya hitam pekat dan kosong. Seperti ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Matanya kelam sekelam malam, gak ada sinar kehidupan sama sekali.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.
Aku masih di posisi yang sama, tapi segera mengalihkan perhatianku. Cowok ini kalo semakin diperhatikan malah bikin bulu kudukku berdiri, seperti ada arwah penasaran hinggap di dalam tubuhnya dan ku rasa memang ada jin di dalam badannya.
“Aku nggak papa. Sekali lagi aku minta maaf,” ucapku. Aku berusaha gak nyampurin urusannya, wajar jika ada manusia yang di dalam badannya ada jin. Aku sebagai asisten dukun, gak boleh asal bertindak sebelum orang itu sendiri yang memintanya. Ini sudah jadi peraturan Ki Mengkis.
Cowok itu membantuku berdiri, aku mengibaskan rok buat bersihin dari debu. Kami berdiri berhadapan lalu kembali bersitatap dengannya. Matanya benar-benar bikin aku penasaran.
“Honey.” Steve datang dan langsung merangkulku. Cowok itu memandang Steve beberapa saat lalu beranjak pergi. Aku menoleh, memandang punggungnya sampai dia menghilang setelah berbelok masuk ke gudang.
“Jangan bilang kalo kamu suka sama dia?” Steve bikin aku melotot ke arahnya.
“Kamu ini ngomong apa?” tanyaku.
“Kamu istriku. Kita sudah menikah, kamu ingat?” Steve cemburu rupanya.
Aku menghela napas berat, kembali menyusuri koridor sekolah menuju halaman depan.
“Kamu tak boleh memandang pria lain lama-lama.” Steve masih melakukan aksinya.
“Matanya aneh,” gumamku.
“What?” Steve berdiri di depanku, dua tangannya di kedua pundakku dan tatapannya tajam.
“Biasa aja kali Steve ... aku cuma merasa aneh aja sama itu orang. Kayak bukan manusia. Atau dia punya kemampuan kayak kita?” Aku memandang mata Steve lekat-lekat. Mata Steve berwarna biru keabu-abuan dan ada daya tarik aneh kalo aku memandang matanya lekat. Ku bandingkan dengan tatapan pria itu. Mata Steve meski terasa kelam tapi ada sinar kehidupan sementara mata cowok itu...
“Ayo pulang Steve.” Mungkin aku sok merasa punya kemampuan indra keenam jadi pikiranku melantur kemana-mana.
“Pulang ke rumah kita?” tanyanya.
“Ke rumah Ki Mengkis,” sinisku.
Steve lemas, aku tahu pikiran Steve kemana. Dia kan udah kayak perangko dan aku amplopnya. Jadi pengennya nempel terus kemana-mana dan kalo di kamar, aduh kenapa pikiranku jadi geser lagi ya?
***
Berdiri di teras rumah Ki Mengkis, beliau melarangku pulang ke rumahnya padahal ada banyak pasien yang sedang antri minta ditolong olehnya.
Air mata kembali merebak, gak menyangka kalo KI Mengkis jadi berubah sejak aku dan Steve menikah.
“Ki Mengkis butuh aku buat jadi asisten.” Aku berusaha meyakinkan Ki Mengkis.
“Tapi kamu sekarang demon hunter. Kamu bukan lagi asistenku,” ucapnya.
“Tapi Ki...” Ki Mengkis bikin mulutku terpaku.
“Selesaikan tugas terakhirmu dan setelah itu, kamu mulai bertugas bersama demon hunter lainnya
.” Ki Mengkis menyerahkan botol ajaib dan kendi. Ia masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
Aku mencebik, lalu menangis. Gak kuasa menahan rasa sakit yang ditimbulkan karena diusir oleh pria yang ku anggap Bapak sendiri. Steve menenangkanku, memelukku dan membiarkanku menangis di pundaknya.
***
Malam telah larut, aku berbaring di atas ranjang. Males melakukan apapun. Inginnya bergelung semalaman, jadi ku putuskan besok baru melakukan perburuan jin terakhir.
Steve menggosok rambut setengah basahnya sambil tersenyum melihatku, dia hanya memakai celana pendek dan membiarkan badan bagian atasnya telanjang.
Steve duduk di sebelahku, mencium kening, pipi dan bibirku. Ku akui, aku jadi dewasa sebelum waktunya kalo berdekatan dengan Steve terutama setelah kami menyelesaikan malam pertama. Bikin aku yang tadinya malas langsung punya semangat meskipun semangat itu hanya berhubungan dengan Steve.
Steve lagi-lagi membuaiku dalam ciuman yang memabukkan, biar dia menyebalkan tapi kalo soal sentuhan dia sangat menyenangkan. Sebesar apapun kemarahanku, kalo dia sudah menciumku, marahku langsung lenyap begitu saja. Padahal tadi siang aku sudah bertekad gak mau berdekatan sama Steve tapi ya sudahlah, kan Steve suamiku.
Saat kami asyik berciuman, tiba-tiba suara benda jatuh membuatku melepas ciumannya. Aku melongok ke sumber suara tapi Steve menarik kepalaku, mengajakku kembali berciuman. Aku menolak dan kembali melongok ke arah lantai.
Botol ajaib sedang menyala dan berputar-putar di atas lantai, bikin aku dan Steve berpandangan. Steve menghela napas berat, sepertinya bocah sableng ini lagi males melakukan penangkapan tapi aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya.
***
Botol ajaib menunjuk ke arah sekolah, aku dan Steve berdiri di depan bangunan memanjang yang kini halamannya dihiasi tenda-tenda anak pramuka yang lagi PERSAMI. Hengky berdiri dengan dua tangan dilipat, memakai baju seragam pramuka lengkap dengan atributnya. Pandangannya kemari, ia mendekat dengan langkah yang kini gak bikin hatiku deg-degan.
“Ngapain kesini?” tanyanya.
“Ada jin disini,” jawab Steve.
“Apa?” Hengky gak percaya.
Aku menunjuk botol yang masih menyala terang, Hengky menatapnya gak percaya tapi kemudian ia menghela napas.
“Disini gak ada jin selain penunggu sekolah ini,” kata Hengky.
“Kamu menyanggahku?” Steve memicingkan mata ke Hengky.
Beberapa lama Steve menatap Hengky tajam hingga akhirnya Hengky menyerah.
“Lakukan dan jangan berisik! Aku gak mau anak-anak takut karena kalian,” ucapnya.
Hengky memutar badan, Steve mencekal lengan Hengky sebelum ia melangkah. “Lepaskan temanku!” Mata Steve tiba-tiba berkilat, bikin aku melongo dengan apa yang aku lihat.
“Steve...” Aku memandang Steve dan Hengky bergantian.
Steve mencengkeram kerah baju Hengky, bikin aku kaget sama tindakan Steve. Sebenarnya kenapa sih Steve kok jadi berubah begini, apa masih ada hubungannya sama soal aku punya perasaan sama Hengky?
Steve melepaskan cengkeramannya sambil mendorong badan Hengky sampai hampir terjungkal. Sebuah cahaya bola merah keluar dari tangan kanan Steve kemudian cahaya bola itu dilempar ke arah Hengky, bikin Hengky terjungkal di atas tanah.
“STEVE!” teriakku sekuat tenaga.
Steve terus menyerang Hengky, bikin suasana yang tadinya tenang tiba-tiba rame. Anak-anak pramuka memerhatikan ulah Steve dan aku berusaha menarik Steve agar gak menyerang Hengky tapi kenyataannya Steve malah menepisku.
Aku kembali berusaha menarik Steve tapi sekali lagi Steve menepisku. Aku melotot, menarik pundaknya sampai ia berbalik memandangku. “Dia bukan Hengky,” katanya.
“Terus dia siapa?” tanyaku.
“Dia ... digerakkan seseorang,” kata Steve.
“APA?”