Aku memasuki rumah baru, semenjak nama belakangku ditambahi dengan nama Johnson. Aku resmi menjadi salah satu penghuni rumah keluarga Johnson, meninggalkan Ki Mengkis sendirian.
Sebenarnya sangat berat hati, karena selama dua tahun ini sudah terbiasa dengan kehidupanku bersama Ki Mengkis. Tapi Ki Mengkis sendiri lebih suka aku tinggal dengan keluarga Johnson dan memilih hidup sendiri bersama para jin peliharaannya.
Duduk di tepi ranjang, di dalam kamar Steve yang kini juga kamarku. Aku menangis sesenggukan karena harus terpisah dari pria yang sudah seperti Bapak sendiri. Rasanya terlalu cepat dan gak sesuai dengan khayalanku dulu. Aku ingin jadi sekretaris dan bisa menyenangkan hati Ki Mengkis, membahagiakannya di hari tua nanti tapi belum lulus sekolah saja aku sudah menikah duluan.
“Ayolah, Hon. Rumah kita masih satu kampung. Beberapa gang dari sini.” Steve mendekatiku, ia berusaha menghiburku.
“Tapi tetap saja Steve. Rasanya berat ninggalin Ki Mengkis seperti ini,” ungkapku.
Aku menyeka air mata dan ingus pake sapu tangan putih milik Steve hingga menimbulkan suara khas lalu kembali menitikkan air mata. “Padahal aku sudah bayangin bakal jadi sekretaris dan jadi kebanggaannya Ki Mengkis.” Kembali kuusap air mata.
“Kamu bisa jadi sekretaris seperti yang kamu inginkan,’ katanya.
Tapi mengingat apa yang kami lakukan semalam, aku takut hamil dan punya anak lalu perutku melar, badanku gak seksi lagi dan gagal jadi sekretaris. “Kenapa semalam aku mau-mau aja begituan sama kamu Steve,” sesalku. Aku menangis keras.
“Wajarkan Honey. Kita suami istri,” katanya.
Harusnya aku gak mau-mau aja dikawinin sama Steve. Harusnya aku mikir dua kali, enggak, harusnya aku mikir berkali-kali sebelum mau dinikahi Steve. Tapi kenyataannya, dengan begitu gampang aku terbawa suasana apalagi saat tahu Bapak memberi wasiat untuk menikahkan aku jika aku ketahuan pacaran. Rasa malu yang begitu besar bikin aku gak menolak waktu dinikahkan dengan Steve dan semalam karena terbawa suasana, akhirnya Steve mengambil haknya sebagai suami.
“Bagaimana kalo Bu Yanti tahu terus dia menyuruhku keluar?” Sesal memang terletak di belakang. Padahal UNAS sebentar lagi dilaksanakan. Kalo aku dikeluarkan dari sekolah karena status pernikahanku maka semuanya musnah sudah.
“Huaa, aku gak rela...” Tangisku makin pecah jadinya.
***
Duduk di ruang makan bersama seluruh keluarga baru, aku melirik Steve tajam. Aku sedang melakukan aksi pemaksaan agar Steve gak bilang kalo kami sudah menikah. Steve tersenyum lalu kembali menikmati sarapannya. Sarapan ala orang barat, roti isi daging dan segelas s**u.
“Aku mana kenyang kalo makan beginian,” gerutuku.
Aku menangkup roti lalu menggigitnya, menikmati rasa makanan yang biasanya jadi cemilan tapi disini jadi makanan utama. Setelah menghabiskan gigitan terakhir, aku segera minum segelas s**u sampai tandas.
“Itu s**u kehamilan Hon. Siapa tahu ada anak dalam rahimmu,” kata Steve.
Susu yang masih memenuhi mulutku muncrat seketika. Membasahi badan Mas Martin yang kebetulan duduk di depanku. Bikin Patty ngakak dan Mommy melotot ke Patty sementara Daddy hanya geleng-geleng kepala.
Ini bocah sableng kok malah mikir punya anak, kerja aja belum. Terus kalo punya anak, dia nanti makan apa?
“Sinting kamu Steve,” celetukku.
Aku jadi baper banget, pengen nangis ini. Aku bangkit, mengambil tas ransel dan memakainya. Steve mau merangkul pundakku, tapi dengan cepat aku menepis lengannya. Melangkahkan kaki sambil menahan rasa sakit di area kewanitaanku.
“Ki Mengkis...” rintihku.
***
Di sekolah, seperti biasa aku jalan dengan Steve. Langkahku pelan sambil menahan sakit setiap kali kaki diayunkan. Malam pertama semalam, menyisakan perih hati dan perih kaki. Baper lagi deh akunya.
“Come on, Honey. Don’t be sad! Atau kita main di pojokan?” Steve super sinting, bikin aku mengangkat tangan ingin meninju muka gantengnya.
“Kenapa kamu kemarin mau-maunya dinikahin? Apa kamu gak mikir apa-apa?” tanyaku penasaran.
Bibir Steve melengkung ke bawah, ia sedang berpikir keras. Beberapa lama kedua matanya menerawang hingga ia kembali memandangku sambil tersenyum. “Enggak,” jawabnya singkat. Bikin aku menghela napas berat.
Berada di depan kelas, tanpa sengaja pundakku ditabrak seseorang pake jaket dengan penutup kepala. Bikin badanku terhuyung dan bisa jatuh andai Steve gak menahannya.
“Hei you!” Steve marah, ia mau mengejar orang itu tapi kutahan lengannya.
“Dia tak bisa dimaafkan,” kata Steve.
“Udah biarin, mungkin dia lagi tergesa-gesa,” ucapku.
Steve menghela napas berat, kami sama-sama menoleh buat melihat punggung cowok yang memakai jaket abu-abu yang kini menghilang setelah berbelok ke tikungan.
Aku menarik tangan Steve masuk ke dalam kelas, seperti biasa cewek-cewek kelas memandangku sambil berbisik-bisik.
“Aku yakin, dia sudah gak perawan,” kata Mutiara, cewek yang duduk di bangku paling depan berhadapan dengan meja guru.
“Lihat aja jalannya. Idih, diam-diam ternyata dia cewek murahan,” kata Rita, cewek yang duduk di belakang Mutiara.
Aku jadi semakin baper, aku melepas tangan Steve dan memilih berlari keluar kelas. Gak mengindahkan rasa perih setiap kaki melangkah. Yang kuinginkan adalah pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini. Tapi nyatanya tempat yang ku tuju adalah pohon beringin dimana Jambrong sedang duduk diam sambil merenung di atas pohon.
Aku menekuk kedua kaki, memeluknya erat sambil menahan isak tangis. Gak ku sangka, hal yang sederhana semalam merubah seluruh kehidupanku. Mulai berpisah dari Ki Mengkis, beradaptasi dengan keluarga baru, mendengar nyinyiran paling negatif dari teman-teman dan tentu saja perubahan status, dari lajang jadi istri seorang pelajar. Dan bisa jadi bulan depan aku hamil dan punya anak dari cowok pengangguran macam Steve.
“Aku bodoh, aku bodoh...” rintihku.
“Kata Sari, kamu semalam merid ya Neng?” Jambrong datang di waktu yang tepat. Pertanyaannya bikin hatiku yang galau semakin galau jadinya.
“Gosip dari mana?” tanyaku.
“Si Kusna. Kuntilanak pohon sana yang cerita,” kata Jambrong.
Aku menoleh, memandang Jambrong yang lagi berwujud cowok gendut andalannya. Jambrong menatapku dengan dua alis terangkat, menunggu jawaban dariku.
“Jambrong. Apa yang harus aku lakukan?” Kembali aku berderai air mata. Jambrong mengelus puncak kepalaku.
“Sama Steve mah enak, Neng. Dia pemburu hebat. Sari yang cerita, katanya Steve pemburu yang sangat ditakuti hantu di seantero negerinya sana.” Jambrong bikin aku terbelalak.
“Jadi kamu dan Sari tahu kalo Steve itu pemburu hantu. Tapi kenapa kamu gak pernah cerita?” tanyaku.
“Aku yang melarangnya.” Steve tahu-tahu ada di sebelahku, berdiri sambil menyuruh Jambrong pergi. Melihat Steve, Jambrong ketakutan. Bikin aku melotot ke Steve karena dia menakuti temanku.
Aku membuang muka, lagi males melihat Steve yang sudah bohong. Kenapa gak sejak pertama dia bilang kalo dia bisa menangkap hantu. Kenapa dia menutupi jati dirinya dariku dan kenapa aku jatuh cinta lalu menikah dengannya.
Air mata kembali luruh, meski sudah ku hapus tetap saja air mata kembali tumpah. Steve memberiku sapu tangan putih, aku menerimanya lalu menghapus air mata beserta ingus yang ikut bercucuran.
“Kenapa kamu bohong Steve?” Aku berusaha menahan isak tangis yang ikutan keluar.
“Because...”
“Jangan pake bahasa Inggris. Aku males mikirin artinya,” selaku. Steve menunduk, ia lagi menahan tawanya, bikin aku makin sebal. Aku memandangnya sengit, pipiku menggembung dan bibirku maju sekian detik.
Steve masih berusaha meredam tawanya sendiri. “Karena awalnya aku sedang ingin merekrut anggota demon hunter,” kata Steve.
“Buat apa? Lagian kok tahu kalo aku bisa menangkap hantu?” tanyaku.
“Awalnya aku akan merekrutmu dan mengajarimu caranya. Tapi kesalahanmu kemarin membuatku tak perlu melakukannya. Aku hanya perlu melihat caramu menaklukkan hantu dan kamu sangat hebat Honey.” Steve mengangkat tangannya buat merangkul pundakku, tapi segera aku menepisnya.
“Jadi kamu suka aku karena aku bisa menangkap hantu? Kamu aneh sekali. Seandainya aku tahu kamu seaneh aku, aku gak bakal mau deket-deket sama kamu,” sewotku.
Kali ini Steve tertawa keras, bikin aku makin manyun. Ini bocah sableng dikasih tahu kok malah ngakak gak jelas. Hadew, parah ini.
“Kamu itu penipu Steve. Sudah berapa kali kamu menipuku? Harusnya aku tetap ngejar Hengky bukannya kepentok cinta bule gaje macam kamu,” sengitku. Makin ngakak dia.
“Sorry Honey. Kamu selalu menggemaskan setiap kamu marah seperti ini,” kata Steve.
Aku membuang muka, ku lihat cowok yang memakai jaket abu-abu dan memakai kupluk dari jaket itu sedang mengintip kami tapi waktu aku memandangnya, ia pergi begitu saja. Mungkin hanya perasaanku saja.
“Kenapa aku mau-maunya dikawinin bocah edan macam kamu. Kalo setahun aku gak ketularan edan, berarti mukjizat itu ada,” ucapku, ngasal.
“Kamu ini bicara apa? Honey, kita bolos yuk! Cek in hotel gimana?” Steve sableng dah.
“Kamu gak denger apa yang dikatain teman-teman? Kupingku panas dan hatiku sakit banget waktu denger mereka ngatain aku macem-macem,” curhatku.
“Mereka takkan pernah melakukannya lagi,” celetuk Steve. Sangat mencurigakan, bikin aku memicingkan mata kepadanya.
“I told them everything,” kata Steve.
Told itu verb duanya tell yang artinya menerangkan sesuatu yang telah terjadi dan tell artinya mengatakan dan itu artinya ... “STEVE ... SINTING,” teriakku.
Aku berusaha meraih badan Steve tapi Steve sudah bangun duluan, ia tertawa kegirangan bikin aku ingin menangkap dan menggigit kupingnya. Ia berlari memutari beringin, aku mengejarnya meski artinya aku harus menahan rasa sakit lagi. Tapi sekarang, menghajar Steve adalah keharusan jadi aku terus mengejarnya.
Steve berada di belakang Jambrong yang lagi makan ciki. Aku berusaha menggapai Steve, tapi dia bersembunyi di belakang Jambrong. “Jambrong, pergi kamu!” perintahku.
“Sorry Neng, aku lebih takut sama dia,” kata Jambrong. Menyebalkan.
Aku kembali berusaha menangkap Steve tapi usahaku berhenti sewaktu cowok yang memakai jaket abu-abu dan kepalanya tertutup kupluk jaket sedang berada di belakang Steve.
“Maaf, Bu Yanti memanggil kalian di kantor,” kata pria itu.
Aku memandang Steve, Jambrong mengedikkan bahu lalu ia menghilang. Pria itu memutar badan, aku berjalan di belakang pria itu sambil bertanya-tanya, tentang apalagi yang jadi masalah sampai Bu Yanti memanggil kami ke kantornya.
“Steve, jangan-jangan dia tahu soal pernikahan kita?” bisikku ke Steve.